Beranda / Romansa / Wanita Rahasia Billionaire / BAB 2 - PESAN MENYAKITKAN

Share

BAB 2 - PESAN MENYAKITKAN

Penulis: Blezzia
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-02 01:05:29

Tiga pesan yang masuk secara bersamaan itu membuat Rania membeku. Matanya memindai huruf demi huruf yang tertera di layar. Tangan Rania yang memegang ponsel itu pun gemetar dengan hebatnya sedangkan napasnya tercekat di tenggorokan dan dadanya terasa sesak.

Kembali dia membaca pesan itu dan tidak ada yang berubah. Tulisannya masih sama.

Apa yang terjadi? Mengapa Zack mengatakan itu?

Rasa pusing mendera kepalanya dan Rania merasa sulit bernapas. Jari-jarinya yang bergetar pun bergerak cepat di atas keyboard ponsel, memanggil nomor Zack.

Tidak aktif.

Rania men-dial nomor pria itu sekali lagi, tapi suara operator di seberang panggilan terus mengulang kalimat yang sama. Hingga akhirnya Rania pun beralih menghubungi Huges.

Cukup lama telepon itu baru tersambung.

“Halo, Mr. Andreas. Apa Zack ada bersamamu?” sapa Rania buru-buru. Dia tidak ingin membuang waktu. Dirinya harus memastikan sendiri apakah Zack betul-betul mengatakan pesan semenyakitkan itu padanya. “Aku tidak bisa menghubungi Zack. Apa kau tahu dia ada di mana?”

“Tentu saja. Mr. Lawson sedang berdiskusi dengan kolega dari Dubai. Sebaiknya Anda tidak mengganggu Mr. Lawson saat ini, Nona Camerry.”

Dada Rania naik turun. Matanya pun mulai berkabut. “Aku hanya ingin memastikan mengenai pesan yang kau sampaikan. Apa Zack benar-benar mengatakan itu?”

“Tentu saja. Saya adalah sekretaris pribadi beliau. Tugas saya menyampaikan apa yang Mr. Lawson katakana, dan beliau mengatakan tidak ada waktu untuk mengurusi kehamilan Anda. Kuharap Anda mengerti, Nona Camerry.”

Jantung Rania seperti berhenti berdetak. Seolah ada ribuan jarum panas yang tiba-tiba merajam tubuhnya tanpa henti. Dia tidak pernah membayangkan Zack akan mengatakan hal seperti itu.

“Berikan ponselmu padanya. Aku harus bicara dengan Zack!”

“Nona Camerry.” Suara Huges berkali-kali lipat lebih dingin dari biasanya, membuat Rania terdiam seketika. “Saya sudah bilang, Mr. Lawson tidak ingin diganggu. Dia menyampaikannya sendiri. Jika Anda masih ingin menjadi wanita simpanannya, gugurkan janin itu dan bersikaplah seperti tidak pernah terjadi apa pun.”

Perkataan Huges bagaikan tamparan yang menyakitkan bagi Rania, membuatnya mematung hingga telepon itu pada akhirnya ditutup secara sepihak dari seberang sambungan. Mata gadis itu hanya bisa menatap kosong pada dinding polos di hadapan. Sungguh, dia tidak mampu mencerna apa yang baru saja Huges sampaikan.

Bagaimana bisa lelaki yang memeluknya sepanjang malam mengatakan hal sekejam itu? Ini darah dagingnya sendiri. Anak dari hasil percintaan mereka selama ini.

“Tidak. Kau tidak bisa menyuruhku mengugurkannya, Zack. Ini anak kita. Kau tidak boleh melakukannya!”

…….

Rania duduk semalaman di sofa menunggu Zack pulang. Tatapan matanya kosong pada layar televisi yang menyala di hadapan.

Sampai pagi menjelang, Zack tidak juga pulang. Berkali-kali Rania memandang nanar pintu apartemen yang tidak dibuka sejak semalam. Perasaannya kacau. Pikirannya terus berperang, mengulang-ulang semua perkataan Huges di telepon.

“CEO Moon Light Hotel, Zack Lawson akan melangsungkan pertunangan dengan Amanda Harlot, seorang influencer ternama. Dikabarkan mereka sudah menjalin hubungan selama setahun dan berencana akan menikah pada awal musim semi tahun ini.”

Suara dari seorang penyiar memutus lamunan Rania. Dengan cepat kepalanya berpaling ke arah televisi yang menampilkan potret Zack tengah memeluk pinggang seorang wanita cantik di sebuah pesta.

“A-apa ini?” bisik Rania tidak percaya.

Matanya membulat begitu dia mengingat kapan Zack memakai stelan jas yang berada di potret. Jelas sekali, foto tersebut diambil sekitar empat hari yang lalu. Sebuah pesta jamuan di mana seorang Rania Camerry tidak akan bisa masuk tanpa Zack, dan sayangnya Zack bahkan tidak mengajaknya ke pesta ekslusive tersebut.

“Ini sebabnya kau tidak membawaku?” gumam Rania dengan suara bergetar dan pandangan kabur.

Lagi-lagi gadis malang itu tampak tercekat. Tarikan napasnya berubah cepat dan sekujur tubuhnya gemetar.

“Apa karena ini kau menyuruhku menggugurkan kandungan?” Seketika tangan Rania pun memegangi perutnya yang masih terlihat rata. “Kenapa kau lakukan ini, Zack? Kenapa?”

Mata yang sejak tadi memerah itu akhirnya menumpahkan tangis. Rasa terhina menyerang dada Rania.

Perkataan Huges yang menyebutnya ‘wanita simpanan’ semakin terngiang-ngiang. Hingga tanpa sadar, Rania pun menjerit keras sembari melempar bantal sofa ke arah televisi yang menayangkan potret kebersamaan Zack bersama seorang wanita bernama Amanda.

Selama ini dia sudah menuruti semua kemauan lelaki itu untuk merahasiakan hubungan mereka dari publik, tapi mengapa Zack malah membeberkan pertunangannya dengan perempuan lain.

Omong kosong macam apa ini!

Rania kembali menelepon Zack dan lagi-lagi ponselnya tidak aktif. Dia mengulang panggilan itu puluhan kali, tapi tidak ada hasil.

“Kau menyuruhku menggugurkan anak kita untuk bertunangan dengan perempuan lain?” Pekik Rania, mencengkeram erat ponselnya diikuti air mata yang meleleh di pipi dan kernyitan kemarahan di dahi.

Dia harus bicara dengan Zack!

Rania kembali ke kamar. Mengganti pakaian dan bersiap ke kantor. Wajah mungil itu masih sembab dan pucat. Hari masih pagi dan kantor masih sangat sepi, tapi Zack biasanya sudah ada di ruangannya di jam segini.

Tanpa peduli jika kepalanya terasa berat karena tidak tidur semalaman, Rania pun bergegas keluar dari apartemen mewah yang Zack berikan.

…..

Seperti yang Rania duga, hotel itu masih sangat sepi ketika dirinya datang. Para staf yang tinggal di paviliun belakang hotel masih berkeliaran untuk sekadar menghirup udara pagi atau berolahraga.

Dengan langkah cepat, Rania menuju ruangan CEO yang ada di lantai dua puluh dua. Kedatangannya disambut oleh pandangan datar Huges di meja sekretaris yang terletak tepat di depan ruangan Zack. Rania lekas melangkah hendak masuk ke ruangan, namun dengan cepat Huges menghadang di depan pintu.

“Anda tidak bisa masuk, Nona Camerry.”

Rania membalas tatapan pria itu dengan tajam. “Aku yakin belum ada klien sepagi ini, Tuan Andreas. Kumohon menyingkirlah, aku ingin bicara dengan Zack sekarang juga.”

Dagu tajam Huges terangkat sedikit. “Saya sudah bilang berulang kali. Mr. Lawson tidak ingin diganggu. Dia tidak ada waktu membicarakan kehami⸺ “

“Tidak ada waktu untuk kehamilanku, tapi punya banyak waktu untuk membeberkan pertunangannya dengan wanita lain?!” Rania yakin Zack bisa mendengar suaranya di dalam sana.

Huges tidak menyanggah wanita di hadapan. Raut wajah pria itu masih begitu kaku, seolah banyak hal yang harus dia sembunyikan.

Huges maju dua langkah, lalu membungkuk untuk menatap kedua mata Rania.

“Anda tahu bahwa dia tidak menginginkan bayi sejak awal. Jadi, percuma saja Anda menuntut. Anda hanya akan terluka.” Ia kembali mundur lalu menatap pintu besar di hadapannya. “Silahkan masuk, Nona Camerry. Kuharap Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan.”

Kedua kaki Rania gemetar saat Huges membukakan pintu dan pemandangan ruangan Zack menyerbu matanya seketika.

Dia melangkah dengan tatapan nanar dan suara yang tercekat. Dadanya berdenyut perih seperti ditusuk ribuan belati saat matanya mendapati Zack ada di sana. Duduk di meja kebesarannya sambil fokus pada layar laptop. Kedua siku maskulin lelaki itu bertumpu di atas meja dengan tangan menyatu di depan dada.

Zack hanya melirik Rania sekilas, lalu kembali pada pekerjaannya. Seolah menegaskan bahwa keberadaan wanita itu tidaklah penting untuknya.

“Aku ingin bicara.” Amarah dan kekecewaan menyatu di hati Rania. Dia ingin berteriak, namun tidak mampu menahan air mata yang mendesak ke pelupuk.

Zack mengangkat wajah, lalu menatap Rania tajam. “Bukankah sudah kuberikan pesan kemarin malam? Apa Huges kurang jelas memberitahukannya padamu?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
ShÌntà Rusman
kalo uda ke enakan hidup di suplay jadi da ga punya malu ama harga diri lagi, da jelas2 dibuang masih ngotot, knp ga pergi aja, urus anak sendiri, cari laki2 lain yg baik dan bertanggung jawab, laki2 ga cuma 1 doang mbak rania
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
dah pergi aja lah Rania ..jngn lupa bawa semua tabungan dan lain2 jngn SMpai km tingglnkn..itu kn dh milikm..jngn kek via gak bawa apa2..km bisa hidup bahagia mulai dr nol SM anakm kalo km punya bnyak uang
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 26 - ANGKAT KAKI DARI PULAU INI

    Zack menahan kedua tangan Rania, dan membawanya begitu dekat hingga jarak tidak lagi jadi prioritas. Begitu dekatnya, sampai-sampai Zack dapat merasakan tubuh Rania yang menggigil karena sapaan angin malam."Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini olehmu! Kau pria paling brengsek yang pernah kukenal. Oh, betapa bodohnya aku tiga tahun lalu!"Gadis itu tetap konsisten dengan amarahnya hingga dia memberontak hendak lepas. Akan tetapi, Zack tidak memberinya kesempatan. Pria itu terus memeganginya.Satu tangan pria itu mengunci kedua lengan Rania di dadanya, sementara satunya lagi pelan-pelan melingkar di pinggang mungil yang ukurannya bahkan sudah dia hapal dengan sangat baik.Sekilas mata Zack sedikit menyala. Dia tidak mengira gairahnya terpancing hanya dengan sikap berontak dari gadis keras kepala yang kini berada dalam genggamannya.Sekuat tenaga Zack mengendalikan diri di tengah-tengah pergulatan itu."Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau bahkan mencoba memanfaatkanku. Ji

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 25 - AKU MEMBENCIMU

    "Aku tidak mengira kau sangat menyukai laki-laki yang memiliki uang. Apa begini caramu menarik perhatian para laki-laki itu?" Suara Zack yang datang dari arah gelapnya jalanan pun mengejutkan Rania seketika. Wanita itu menarik tangannya cepat dari gagang pintu, dan seketika dia berbalik. Menghadap sumber suara yang kini berjalan mendekat. Tanpa sadar, Rania mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pintu. Kini, dia benar-benar terjebak antara sosok maskulin Zack Lawson dan pintu toko roti. "Apa kau benar-benar tidak ada pekerjaan hingga memata-mataiku?" ucap Rania di sela-sela geraman kesal. Tatapan yang wanita itu lemparkan pada pria di hadapannya benar-benar menusuk. Zack tersenyum sinis, langkah kakinya semakin mendekat, hingga jarak tak lagi ada di antara mereka. "Kau sangat tahu aku punya segudang pekerjaan, Rania. Tapi keberadaanmu di pulau ini benar-benar mengganggu pandanganku." Hanya dengan sentuhan ringan pada anak rambut Rania yang terkibas angin, Zack Law

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 24 - BIMBANG

    Rania tampak termenung di salah satu kursi setelah menutup tokonya. Cukup lama wanita itu berdiam di sana, dan pandangannya tampak kosong menghadap jalanan di depan pertokoan yang lampunya perlahan-lahan dimatikan.Malam tampaknya semakin larut, akan tetapi pikiran Rania masih berkelana pada penuturan Sofia sore tadi. Bawahannya itu menjelaskan secara rinci bagaimana Oliver diantar oleh salah satu pegawai dari hotel yang baru dibangun itu.Tanpa menanyakan identitas, Rania tahu siapa pegawai yang dimaksud.”Hhh ....” Dia menarik napas dalam-dalam. Batinnya tidak tenang. Peringatan dari Cintya membawa ingatan tiga tahun lalu. “Kupikir hidupku akan mudah di tempat ini. Mengapa takdir membawaku kembali padanya.”Tidak seharusnya Rania menyalahkan takdir, tetapi hanya itu satu-satunya yang bisa ia lakukan.Tidak mungkin dia pergi meninggalkan toko roti yang sudah dibangun dengan susah payah begitu saja. Lagi pula pria itu juga tidak berhak mengusiknya sejauh ini. Kelahiran Oliver juga tid

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 23 - KETEMU, OLIVER!

    Hari menjelang sore saat Mrs. Mallory datang ke toko dengan tergesa-gesa. Cukup lama wanita itu memandangi Rania dari ambang pintu.Ada gurat kegelisahan dari balik wajah paruh baya itu, membuat senyum Rania yang tadinya terkembang pun berbalik bertanya. Sementara matanya menyapu sekitar, mencari sosok balita yang biasanya berlari menerjang pintu.”Apa yang terjadi? Dimana Oliver?”Mrs. Mallory pun menggenggam tangan Rania erat. Matanya menunjukkan ketakutan yang cukup kentara.”Maafkan aku, tapi ... aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu.”Mendengar itu, jantung Rania berdesir seketika. Dan rasa takut itu pun menular dengan cepat.Kini, kedua wanita itu saling menggenggam tangan.“Katakan padauk, ada apa Mrs. Mallory? Apakah putraku baik-baik saja?”Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rania. Dia benar-benar tidak bisa menahan perasaan jika menyangkut anak semata wayangnya. Segala skenario mulai berputar di kepala. Melihat gelagat dari wanita tua di hadapan, segala

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 22 - BUKAN TUGAS MUDAH

    Zack keluar dari kamar pribadinya setelah memastikan anak balita yang bersamanya tadi tertidur pulas di atas ranjang. Dia mempercepat langkah menuju gedung kantor. Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok Huges yang masih setia menunggu kedatangannya di dekat lift. Langkah Zack melambat. Dia memperhatikan asisten lamanya dengan seksama. Entah mengapa, setiap memandang sosok Huges, Zack merasakan sesuatu yang janggal di hati. Ditepisnya rasa itu. Dan tatapannya lebih lekat, memandangi Huges yang berdiri mematung di dekat lift dengan tatapan kosong menghadap dinding. Tidak tahu apa yang sedang pria itu perhatikan ataupun pikirkan, Zack tidak cukup peduli untuk bertanya. Namun, begitu langkahnya semakin dekat, Huges pun menyadari kehadirannya. Pria itu sedikit berjingkat, terkejut. Namun Zack dapat melihat bagaimana ekspresi itu berubah cepat. Begitu lama mereka bekerja bersama, Zack tidak benar-benar mengenal Huges dengan baik. Selama ini dia hanya peduli d

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 21 - DADDY & MOMMY

    Zack Lawson terpaku, pada mata sebiru samudra yang terasa sangat familiar. Sesuatu seakan bergetar pelan di dada, namun dia sungguh tidak yakin. Dan ada rasa tercekat di pernapasan yang membuatnya kehilangan sedikit tenaga, nyaris menjatuhkan bola dalam genggaman. Untuk beberapa saat, udara di sekitar seakan menarik diri. Semilirnya menyisakan sesak. “Paman ... kembalikan bolaku.” Suara kecil yang terdengar sedikit ragu itu pun menarik sadar Zack dari perangkap rasa yang sulit ia mengerti. Seketika, tatapan Zack jatuh pada bola yang masih berada di antara kedua tangannya. Dan saat itulah dia sadar, dirinya tengah berhadapan dengan seorang anak balita tanpa pengawasan orang tua. Sebuah senyum lembut terlukis indah di paras rupawan seorang Zack Lawson yang langka. Tanpa bisa ditahan, tangan Zack mengelus pucuk kepala anak kecil tersebut. “Di mana orang tuamu?” tanya Zack, sembari menarik sisi celana sebelum berlutut, menyamakan pandangan dengan sepasang mata polos di hadapan. “Ap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status