MasukSejak dulu suara Zack memang selalu tajam dan dingin, tapi baru kali ini Rania mendengar nada yang seperti itu. Seolah lelaki itu sedang menegaskan bahwa Rania dan kehamilannya hanyalah seperti serangga pengganggu yang akan menghadang langkahnya.
Rania merekam ekspresi serta sorot mata tajam lelaki itu di kepala. Betapa pun dadanya terasa sangat sesak seperti ditimpa batu ratusan ton, dia tetap memberanikan diri. Dia menarik napas untuk menegarkan bahu. Biar bagaimana pun, anak yang sedang dia kandung adalah anak Zack.“Aku hamil.” Dilemparkannya fakta itu meskipun Zack sudah mendengarnya dari mulut Huges.“Lalu?” Satu alis Zack terangkat tidak peduli.“Dan kau bertunangan dengan perempuan lain.” Remuk redam hati Rania mendapati ekspresi dingin di wajah rupawan dari lelaki yang sangat dia sayangi di hadapan.“Katakan dengan singkat dan padat, Rania. Kau tahu aku sangat sibuk,” tekan Zack, acuh.“Kau pasti tahu kaitan kedua berita itu!” jawab Rania, kesulitan menelan saliva akibat sesak menahan tangisan.“Lalu apa yang akan kau lakukan? Mau menuntutku? Kenapa tidak kau gugurkan kandungan itu?” Mata tajam Zack menghunjam perut Rania, seolah-olah apa yang ada di dalamnya adalah kesalahan yang harus diperbaiki.Lagi-lagi dada Rania terasa nyeri mendengar perkataan dingin lelaki di hadapan. “Aku tidak tahu kau seberengsek ini, Zack,” gumam Rania dengan bibir bergetar dan suara lemah.Napas gadis itu mulai tersengal. Dia membalas tatapan Zack dengan nanar.“Apa?” Rahang tajam itu mengeras. Lelaki itu bangkit dari duduknya lalu melangkah perlahan mendekati Rania.“Aku sudah mengatakannya tadi, kau berengsek,” ulang Rania, dengan ekspresi sama seperti ucapan pertama.“Aku membelikan pil pencegah hamil, apa yang kau lakukan dengan obat-obat itu sampai kau bisa hamil? Jelas-jelas kesalahan ada padamu, Rania. Jangan melimpahkannya padaku! Bahkan kau datang tanpa rasa malu ke sini lalu menuntutku! Seharusnya kau tahu, aku tidak suka wanita yang serakah.”Rania terkesiap dengan kedua tangan menyentuh bibir. Seketika, sekujur tubuhnya gemetar. Rasa pedih, kecewa, amarah dan terhina melebur di hati.Inikah wajah asli Zack yang sebenarnya? Mengapa baru sekarang dia melihatnya?“Ini anakmu! Darah dagingmu!”“Dengar, Rania Camerry. Kau mungkin berpikir bisa memanfaatkan janin itu untuk menjebak dan menguasaiku, tapi kau salah. Aku tidak butuh anak yang menjadi alat untuk keserakahan ibunya.”Bibir pucat Rania bergetar. “Jadi kau menganggapku begitu selama ini? Lalu untuk apa kau menjadikanku kekasihmu?” Mata itu menunduk nanar, berkaca-kaca dan siap menumpahkan tangis.“Jangan salah paham, Rania. Kau bukan kekasihku, kau hanya simpanan yang kupelihara sampai aku bosan.”Simpanan.Seketika hati Rania remuk redam. Dadanya terasa begitu nyeri tersayat-sayat.Segitu hinakah arti dirinya bagi Zack?“Keluar! Aku punya banyak kerjaan.” Tunjuk Zack Lawson pada pintu sembari menatap tajam wanita di hadapannya. “Pergilah selagi aku bisa mengontrol emosiku.”Rania mengigit bibir. Tak membiarkan setetes pun air matanya jatuh di hadapan seorang Zack Lawson. Lelaki itu sudah menghinanya seperti sampah, tidak pantas disodorkan air mata.“Aku tidak pernah menuntutmu, Zack. Kau yang datang padaku dan memintaku menjadi kekasihmu, dan kau juga yang membuangku dengan tega. Laki-laki sepertimu tidak pantas ….”Rasa-rasanya Rania tidak sanggup melanjutkan bahwa Zack sama sekali tidak pantas mendapatkan dirinya.Dia tatap wajah angkuh itu sekali lagi sebelum memutar tubuh dan berlari keluar dari ruangan luas namun terasa sesak bagi mereka berdua.Hati Rania hancur berkeping-keping. Rasa pedih merajam dada. Dia tidak pernah membayangkan Zack akan melemparkan semua kalimat-kalimat menyayat tersebut padanya. Dengan sisa-sisa tenaga dan perasaan yang rapuh, Rania berlari menyusuri koridor yang sepi dan dingin, keluar dari hotel sembari diikuti oleh tatapan para staf yang memandanginya aneh.Di sepanjang perjalanan melewati trotoar, di tengah-tengah pusat bisnis Kota Manhattan, yang Rania lihat hanya berita tentang pertunangan Zack bersama seorang perempuan bernama Amanda Harlot di layar besar pada dinding gedung pencakar langit.Orang-orang membicarakan pertunangan mereka di sepanjang jalan, seolah Tuhan sedang menyuruhnya untuk tahu diri, karena dirinya bukan siapa-siapa.“Jangan salah paham, Rania. Kau bukan kekasihku, kau hanya simpanan yang kupelihara sampai aku bosan.”Bagi Zack, Rania hanyalah simpanan yang bahkan tidak sebanding dengan Amanda. Wanita itu adalah putri tunggal dari kolega perusahaannya sekaligus seorang influencer ternama. Mereka sangat serasi di mata publik.Entah sudah kali keberapa Rania mengusap air mata yang terus jatuh tanpa berhenti itu. Rasanya luar biasa sesak. Dia sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk saat mengizinkan Huges memberitahukan kehamilannya kepada Zack.Namun, ini adalah yang terburuk dari semua yang terburuk. Kemungkinan yang tidak pernah dia bayangkan bahwa Zack akan menyuruhnya menggugurkan kandungan dengan cara yang sangat kejam.Ponselnya terus bergetar di dalam tas sejak satu menit yang lalu, tetapi Rania begitu malas mengangkatnya. Dia takut, Zack ataupun Huges menghubungi.Tanpa melihat siapa yang menghubungi, Rania pun menggeser tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu di telinga dengan diam.“Halo? Kau di mana? Aku berada di depan apartemenmu, kau bilang kemarin ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan. Bagaimana hasilnya? Apa kau baik-baik saja?”Rania tercekat saat mendengar suara yang begitu familiar.Jennie, satu-satunya sahabat yang Rania punya.“Aku membawakanmu sup untuk sarapan, karena aku yakin si Lawson tidak akan peduli dan akan meneruskan cumbuannya pada pekerjaan. Si gila kerja itu bisa membunuhmu perlahan-lahan jika hubungan kalian terus seperti ini.”Rania menggigit bibir. Tak ingin isaknya terdengar, meski air mata itu terus berjatuhan tanpa henti.“Halo, Nia? Kau baik-baik saja?”“Hm?” Rania membekap mulut begitu suaranya terdengar parau.“Ada apa, Rania? Kau ada di apartemenmu atau tidak? Aku sudah ada di lobi. Jika kau malas untuk turun dari ranjang, aku sendiri yang akan naik ke unitmu.” Suara itu terdengar sedikit cemas.“Aku … aku baik-baik saja.” Lagi-lagi Rania tak mampu menyembunyikan suara parau dan tarikan napas berbeda.Dia berdehem berkali-kali, namun tetap saja tidak bisa membohongi diri di hadapan sahabatnya.“Kau tidak baik-baik saja! Demi Tuhan, Aku mengenalmu dengan baik, Rania. Kau berbohong. Apa Lawson menyakitimu? Katakan padaku kau ada di mana sekarang!”Rania membiarkan beberapa bulir air mata jatuh membasahi ujung sepatu. Dengan wajah sedikit tertunduk, dia berbisik, “Dekat Moon Light Hotel.”“Sialan, aku akan segera ke sana. Tunggu aku dan jangan bergerak!”…….Jennie sampai cukup cepat. Buru-buru dia keluar mobil dan berlari menghampiri Rania yang berdiri dengan pandangan kosong di tepi jalan. Diraihnya kedua bahu Rania.“Ada apa, Rania? Apa yang terjadi?”Mata memerah dan sembab itu kembali berair ketika Rania memutuskan membalas tatapan cemas Jennie. Bibirnya terbuka pelan, bergetar dan nyaris tidak mengeluarkan suara.“Aku … hamil.”“Apa? Kau … hamil?”Lagi-lagi Rania membekap mulut untuk menahan gelombang emosi yang melanda. Rasa marah, kecewa, dan sedih yang amat sangat berpadu untuk membuatnya semakin berantakan.“Biar kutebak, Zack tidak menyambut janin ini dengan baik.” Jennie menunduk menatap perut Rania. “Lalu, dia malah bertunangan dengan wanita lain.” Kepala wanita itu mendongak, memandang tajam layar besar di dinding gedung pencakar langit yang berada tepat di hadapan mereka.“Kita ke tempatku. Laki-laki bajingan itu tidak pantas untuk air matamu yang terlalu berharga.”………Zack masih bersandar di tepi meja. Bersedekap angkuh dan menatap lurus pintu yang baru saja berdebum cukup keras itu. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal.Dia pikir Rania adalah wanita yang berbeda. Karena itu, Zack mengambil langkah besar dan memutuskan untuk mempersiapkan wanita itu menjadi kekasihnya.Sikap Rania yang tidak banyak menuntut dan begitu memuaskan di atas ranjang, begitu lugu dan lembut adalah apa yang membuatnya tertarik.Namun, selama ini dia salah sangka. Itu hanyalah topeng untuk menjebak dirinya. Rania tidak berbeda dari prempuan sampah lainnya yang pernah dia temui. Selalu memandang uang dan uang.“Beraninya dia menggunakan cara yang kotor untuk menjebakku!”Zack mengusap sebagian wajah. Dia nyaris tersulut emosi.Rasa kecewa yang luar biasa menyerangnya. Lebih daripada amarah, Zack sungguh tidak pernah memprediksi bahwa laporan yang dia dapatkan dari Huges adalah laporan kehamilan Rania.“Nona Camerry hamil.”Dua puluh empat jam yang lalu, Zack masih berkutat pada pekerjaannya ketika Huges datang dan memberikan laporan yang tidak pernah Zack bayangkan. Dia menghentikan aktivitas dan menatap Huges tajam.“Nona Camerry meminta Anda agar segera menikahinya.”Kening Zack mengernyit seketika. Kabar kehamilan Rania saja sudah mengagetkan, wanita itu malah minta dinikahi? Rania yang tidak pernah menuntut apa-apa itu menginginkan pernikahan?“Di mana wanita itu sekarang?” tanya Zack datar.“Sepertinya di klinik aborsi, Sir,” jawab Huges tenang, namun ada sedikit nada kecewa terselip di baliknya.Jantung Zack seolah berhenti berdetak saat itu juga. “Aborsi katamu?”Huges mengangguk dalam, “Jika Anda tidak ingin menikahinya, maka dia akan menggugurkan bayi itu.”Zack bangkit dari kursi kebesarannya. Tubuh jangkungnya menegak dengan mata menyipit tidak percaya.“Aku ingin bicara dengannya.” Zack hendak mengambil ponsel ketika Huges mengulurkan selembar kertas dengan cepat.“Ini bukti pendaftaran Nona Camerry di klinik aborsi. Dia meminta saya membuat janji dengan dokter secepatnya.”Zack mengambil bukti pendaftaran itu dan menemukan nama Rania sebagai pendaftar yang akan melakukan aborsi dalam dua hari ke depan. Rasa kecewa, amarah dan juga perasaan jijik menyatu di hati Zack.“Rania Camerry,” geramnya.Bisa-bisanya dia salah sangka dan mengira Rania adalah perempuan lugu yang tidak tertarik pada status dan harta.Rania adalah penipu ulung dan Zack sudah terjebak dalam tipuannya selama ini. Keluguan gadis itu sangat meyakinkan hingga memperdayanya begitu mudah.Dengan tangan meremas sisi-sisi kertas dalam genggaman, Zack mengatakan, “Sampaikan padanya. Gugurkan saja bayi itu, aku tidak peduli.”Zack tidak butuh bayi yang dijadikan sebagai alat keserakahan ibunya. Lagi pula siapa yang tahu bahwa anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Mungkin saja Rania juga menipunya dan bermain-main dengan lelaki lain.Mereka memiliki banyak waktu terpisah, dan hal itu mungkin saja terjadi. Ditambah, fokus perhatiannya selalu habis tersita untuk pekerjaan, Zack selalu mengandalkan Huges untuk melaporkan setiap kegiatan Rania.Bahkan, beberapa kali Huges juga melaporkan bahwa Rania sering keluar-masuk apartemen saat dirinya sibuk meeting dan dinas keluar kota.Dia sudah menghabiskan waktu satu tahun untuk memanjakan wanita yang salah.Ingatan dua puluh empat jam yang lalu itu berakhir dengan berita pertunagannya dengan Amanda Harlot, putri tunggal dari pemilik XG Company, perusahaan mitra yang menjadi supplier untuk barang-barang perlengkapan Moon Light Hotel.Dari mana datangnya berita itu?Namun, Zack tidak terlalu peduli untuk menyangkal atau mengenyahkan berita omong kosong itu. Berita palsu itu sepertinya cukup berguna untuk mematahkan keserakahan Rania.Tidak bisa Zack pungkiri, bahwa Rania adalah wanita yang mampu mengimbanginya di atas ranjang dan dirinya membutuhkan wanita itu. Dia bisa saja memaafkan keserakahan Rania dan membuatnya kembali menjadi kekasih simpanan seperti dulu.Dengan syarat, wanita itu tidak menuntut apa-apa lagi.……………..“Dia menyuruhmu menggugurkan kandunganmu? Dengan perkataan kejam itu?” Jennie membelalak sejak tadi,Rania mengangguk. Lidahnya kelu dan dia tidak punya tenaga walaupun hanya membuka mulut.“Sialan! Berengsek! Tidak cukup dia menjadikanmu seperti wanita simpanan dan sekarang dia menyuruhmu menggugurkan kandungan? Dia malah bertunangan dengan perempuan lain! Dasar laki-laki bejat!”Rania juga tidak pernah menyangka Zack sanggup berkata seperti tadi dan memperlakukannya bagai wanita murahan.“Dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab!”Rania mengangguk lemah, menyetujui.Zack menyuruhnya menggugurkan kandungan dengan cara yang tidak pernah dirinya pikirkan, dan begitu cepat bertunangan dengan perempuan lain. Itu adalah perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab.“Tinggalkan saja dia. Zack Lawson tidak pantas untukmu, Rania. Kau terlalu berharga untuk menghabiskan waktumu bersama lelaki brengsek seperti dia.”Rania menghela napas dalam. Sebuah keraguan mencoba menggoyangkan hatinya yang telah rapuh, dan hal itu disadari oleh Jennie.“Coba telaah lagi. Apa dia pernah bilang jika dia mencintaimu?”Rania menggeleng lemah, karena Zack memang tidak pernah mengatakan kalimat cinta selama mereka bersama.“Tidak ‘kan? Rania, dengarkan aku. Dia memintamu menjadi kekasih simpanan alih-alih menjadikanmu kekasih yang sesungguhnya. Menidurimu setiap malam lalu memberimu barang-barang mewah. Saat kau hamil, dia bahkan menyuruhmu menggugurkan kandungan lalu dia sendiri akan bertunangan dengan perempuan lain. Aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk kembali dengan pria sebrengsek Zack Laswon.”Mata Rania kembali basah. Tangisnya semakin deras dan penuh kepedihan. Dia mungkin sudah tahu selama ini, tapi Rania enggan mengakui, bahwa hubungan mereka tidak memiliki masa depan.“Jika kau berpikiran untuk kembali padanya setelah ini, itu adalah pemikiran yang sangat bodoh, Rania. Dia sudah menyakitimu dan merendahkanmu habis-habisan.”Zack pernah dijodohkan beberapa kali tetapi pria itu menolak. Rania selalu bertanya kala itu mengapa dia selalu menolak perjodohan yang ditetapkan orang tuanya. Saat itu, Rania diam-diam berharap Zack akan mengatakan ‘untuk apa aku menerima perjodohan itu di saat aku sudah memilikimu, Rania’.Namun, Zack memberikan jawaban berbeda.“Terikat dengan seorang wanita lalu memiliki anak. Itu sangat merepotkan. Mereka akan menuntut waktuku dan menghabiskan uangku. Banyak wanita yang menginginkanku hanya karena memandang status dan kekayaan yang kumiliki, Rania.”Sekarang Rania yakin bahwa Zack tidak menginginkan anak ini. Jennie benar. Zack hanya butuh pelampiasan nafsu. Meski sejak dulu dia sudah tahu, tapi Rania masih mencoba menyangkal sebisanya. Berharap suatu saat nanti Zack akan menyadari bahwa dirinya wanita yang tulus.Namun, dia terlalu berharap sehingga lupa bahwa Zack adalah lelaki dingin yang tidak membutuhkan cinta. Pria itu masih terjebak dengan trauma masa lalu dengan wanita-wanita yang tidak tulus.Setelah mengusap air mata yang sejak tadi membasahi wajah, Rania menegakkan bahu dan kepalanya kembali.Dia tersenyum getir dengan bibir sedikit bergetar.Suaranya terdengar tegas saat menjawab, “Tidak. Aku tidak akan kembali padanya.”Zack menahan kedua tangan Rania, dan membawanya begitu dekat hingga jarak tidak lagi jadi prioritas. Begitu dekatnya, sampai-sampai Zack dapat merasakan tubuh Rania yang menggigil karena sapaan angin malam."Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini olehmu! Kau pria paling brengsek yang pernah kukenal. Oh, betapa bodohnya aku tiga tahun lalu!"Gadis itu tetap konsisten dengan amarahnya hingga dia memberontak hendak lepas. Akan tetapi, Zack tidak memberinya kesempatan. Pria itu terus memeganginya.Satu tangan pria itu mengunci kedua lengan Rania di dadanya, sementara satunya lagi pelan-pelan melingkar di pinggang mungil yang ukurannya bahkan sudah dia hapal dengan sangat baik.Sekilas mata Zack sedikit menyala. Dia tidak mengira gairahnya terpancing hanya dengan sikap berontak dari gadis keras kepala yang kini berada dalam genggamannya.Sekuat tenaga Zack mengendalikan diri di tengah-tengah pergulatan itu."Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau bahkan mencoba memanfaatkanku. Ji
"Aku tidak mengira kau sangat menyukai laki-laki yang memiliki uang. Apa begini caramu menarik perhatian para laki-laki itu?" Suara Zack yang datang dari arah gelapnya jalanan pun mengejutkan Rania seketika. Wanita itu menarik tangannya cepat dari gagang pintu, dan seketika dia berbalik. Menghadap sumber suara yang kini berjalan mendekat. Tanpa sadar, Rania mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pintu. Kini, dia benar-benar terjebak antara sosok maskulin Zack Lawson dan pintu toko roti. "Apa kau benar-benar tidak ada pekerjaan hingga memata-mataiku?" ucap Rania di sela-sela geraman kesal. Tatapan yang wanita itu lemparkan pada pria di hadapannya benar-benar menusuk. Zack tersenyum sinis, langkah kakinya semakin mendekat, hingga jarak tak lagi ada di antara mereka. "Kau sangat tahu aku punya segudang pekerjaan, Rania. Tapi keberadaanmu di pulau ini benar-benar mengganggu pandanganku." Hanya dengan sentuhan ringan pada anak rambut Rania yang terkibas angin, Zack Law
Rania tampak termenung di salah satu kursi setelah menutup tokonya. Cukup lama wanita itu berdiam di sana, dan pandangannya tampak kosong menghadap jalanan di depan pertokoan yang lampunya perlahan-lahan dimatikan.Malam tampaknya semakin larut, akan tetapi pikiran Rania masih berkelana pada penuturan Sofia sore tadi. Bawahannya itu menjelaskan secara rinci bagaimana Oliver diantar oleh salah satu pegawai dari hotel yang baru dibangun itu.Tanpa menanyakan identitas, Rania tahu siapa pegawai yang dimaksud.”Hhh ....” Dia menarik napas dalam-dalam. Batinnya tidak tenang. Peringatan dari Cintya membawa ingatan tiga tahun lalu. “Kupikir hidupku akan mudah di tempat ini. Mengapa takdir membawaku kembali padanya.”Tidak seharusnya Rania menyalahkan takdir, tetapi hanya itu satu-satunya yang bisa ia lakukan.Tidak mungkin dia pergi meninggalkan toko roti yang sudah dibangun dengan susah payah begitu saja. Lagi pula pria itu juga tidak berhak mengusiknya sejauh ini. Kelahiran Oliver juga tid
Hari menjelang sore saat Mrs. Mallory datang ke toko dengan tergesa-gesa. Cukup lama wanita itu memandangi Rania dari ambang pintu.Ada gurat kegelisahan dari balik wajah paruh baya itu, membuat senyum Rania yang tadinya terkembang pun berbalik bertanya. Sementara matanya menyapu sekitar, mencari sosok balita yang biasanya berlari menerjang pintu.”Apa yang terjadi? Dimana Oliver?”Mrs. Mallory pun menggenggam tangan Rania erat. Matanya menunjukkan ketakutan yang cukup kentara.”Maafkan aku, tapi ... aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu.”Mendengar itu, jantung Rania berdesir seketika. Dan rasa takut itu pun menular dengan cepat.Kini, kedua wanita itu saling menggenggam tangan.“Katakan padauk, ada apa Mrs. Mallory? Apakah putraku baik-baik saja?”Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rania. Dia benar-benar tidak bisa menahan perasaan jika menyangkut anak semata wayangnya. Segala skenario mulai berputar di kepala. Melihat gelagat dari wanita tua di hadapan, segala
Zack keluar dari kamar pribadinya setelah memastikan anak balita yang bersamanya tadi tertidur pulas di atas ranjang. Dia mempercepat langkah menuju gedung kantor. Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok Huges yang masih setia menunggu kedatangannya di dekat lift. Langkah Zack melambat. Dia memperhatikan asisten lamanya dengan seksama. Entah mengapa, setiap memandang sosok Huges, Zack merasakan sesuatu yang janggal di hati. Ditepisnya rasa itu. Dan tatapannya lebih lekat, memandangi Huges yang berdiri mematung di dekat lift dengan tatapan kosong menghadap dinding. Tidak tahu apa yang sedang pria itu perhatikan ataupun pikirkan, Zack tidak cukup peduli untuk bertanya. Namun, begitu langkahnya semakin dekat, Huges pun menyadari kehadirannya. Pria itu sedikit berjingkat, terkejut. Namun Zack dapat melihat bagaimana ekspresi itu berubah cepat. Begitu lama mereka bekerja bersama, Zack tidak benar-benar mengenal Huges dengan baik. Selama ini dia hanya peduli d
Zack Lawson terpaku, pada mata sebiru samudra yang terasa sangat familiar. Sesuatu seakan bergetar pelan di dada, namun dia sungguh tidak yakin. Dan ada rasa tercekat di pernapasan yang membuatnya kehilangan sedikit tenaga, nyaris menjatuhkan bola dalam genggaman. Untuk beberapa saat, udara di sekitar seakan menarik diri. Semilirnya menyisakan sesak. “Paman ... kembalikan bolaku.” Suara kecil yang terdengar sedikit ragu itu pun menarik sadar Zack dari perangkap rasa yang sulit ia mengerti. Seketika, tatapan Zack jatuh pada bola yang masih berada di antara kedua tangannya. Dan saat itulah dia sadar, dirinya tengah berhadapan dengan seorang anak balita tanpa pengawasan orang tua. Sebuah senyum lembut terlukis indah di paras rupawan seorang Zack Lawson yang langka. Tanpa bisa ditahan, tangan Zack mengelus pucuk kepala anak kecil tersebut. “Di mana orang tuamu?” tanya Zack, sembari menarik sisi celana sebelum berlutut, menyamakan pandangan dengan sepasang mata polos di hadapan. “Ap







