Share

CEO Miskin

Author: Gummy_Smile
last update publish date: 2026-07-08 23:22:48

Malam itu, hawa dingin sisa hujan sore tadi masih menggantung di udara, membuat suasana di teras rumah kaca terasa jauh lebih intim. Setelah kepergian Vincent, lampu-lampu taman yang kuning temaram menyala, menciptakan bayangan siluet pepohonan yang menari di dinding kayu rumah mereka.

Elian masih duduk di meja kayu itu, namun kini ia tidak lagi menatap ke arah jalanan atau memikirkan beban hukum. Matanya terkunci pada Vior yang sedang membereskan sisa cangkir teh. Gerakan gadis itu lembut, pen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Mencari Titik Lemah

    Dukungan yang mengalir melalui media sosial ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada dugaan Elian. Selama dua hari berikutnya, jumlah pesanan justru meningkat. Banyak pelanggan lama sengaja mengunggah foto tanaman yang mereka beli dari Surya Flora Nusantara disertai cerita tentang kualitas bibit dan pelayanan yang mereka terima. Beberapa bahkan menulis bahwa mereka akan tetap membeli dari pembibitan itu apa pun yang terjadi. Melihat semua itu, semangat para pegawai kembali bangkit. Mereka bekerja sambil tersenyum, seolah ingin membuktikan bahwa tempat kecil itu tidak akan mudah dikalahkan.Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari.Rio yang baru kembali dari mengantar pesanan masuk ke ruang administrasi dengan wajah kusut. Kemejanya basah oleh keringat, sementara tangannya masih menggenggam surat jalan."Pak Elian, tadi ada masalah."Elian yang sedang memeriksa laporan penjualan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?""Jalan utama menuju pembibitan mulai ditutu

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Melawan Badai

    "Kalau kita memang harus menghadapi badai, kita akan menghadapinya bersama."Kalimat Elian masih terngiang di benak Vior ketika keesokan harinya seluruh pegawai berkumpul di halaman depan pembibitan. Biasanya pertemuan pagi hanya berlangsung beberapa menit untuk membagi tugas, tetapi kali ini suasananya berbeda. Semua orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.Elian berdiri di depan mereka tanpa mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap tenang, meski semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan langkah berikutnya."Ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucapnya sambil memandang satu per satu wajah para pegawai. "Beberapa hari terakhir ada perusahaan properti yang berusaha membeli Surya Flora Nusantara. Kalian mungkin akan melihat aktivitas pembangunan di sekitar pembibitan ini. Aku tidak ingin kalian mendengar kabar itu dari orang lain, jadi lebih baik aku yang menjelaskannya langsung."

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Bukan Sekedar Aset

    "Aku tidak akan menyerahkan tempat ini begitu saja."Ucapan Elian membuat suasana di ruang kantor menjadi hening. Vior menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu, pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Elian yang dulu mudah terbakar emosi ketika menghadapi lawan bisnis. Setelah kehilangan segalanya, Elian berubah menjadi jauh lebih tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terlihat lebih berbahaya.Pak Hadi meletakkan secangkir kopi di hadapan Elian sebelum duduk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Selama itu pula saya melihat banyak orang datang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tempat ini. Almarhum Pak Surya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, 'Selama tanah ini masih bisa ditanami, saya tidak akan menjualnya.'"Elian tersenyum tipis. "Sepertinya aku mulai mengerti alasan Kakek.""Beliau pernah berkata bahwa tanah ini bukan sekadar aset. Tempat ini memberi makan puluhan keluarga."Belum sempat percakapan mere

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Amplop Misterius

    "Mas, coba lihat ini."Suara Vior membuat Elian mengalihkan perhatiannya dari tumpukan bibit yang sedang ia rapikan. Wanita itu berjalan tergesa-gesa dari ruang administrasi sambil membawa sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Wajahnya tidak sepenuhnya panik, tetapi jelas menyimpan kebingungan."Ada apa?""Kurir tadi mengantar surat ini. Katanya harus diberikan langsung kepadamu."Elian menerima amplop tersebut. Tidak ada logo perusahaan maupun nama pengirim. Hanya tertulis namanya dengan huruf cetak yang rapi. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak.Ia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar surat dan beberapa lembar foto.Senyum di wajah Elian perlahan menghilang."Ada apa, Mas?" tanya Vior yang mulai ikut cemas.Elian tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan salah satu foto kepada istrinya.Vior membelalak.Foto itu memperlihatkan beberapa pria berpakaian formal sedang berdiri di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan Surya Flo

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Salah Hitung

    Pagi itu Surya Flora Nusantara diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan ketika para pegawai mulai berdatangan. Sebagian langsung menuju rumah kaca untuk memeriksa bibit yang baru disemai, sementara yang lain sibuk menyiapkan pesanan yang harus dikirim sebelum siang. Suasana pembibitan kini jauh berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu. Tidak hanya semakin ramai karena jumlah pesanan yang meningkat, tetapi juga terasa lebih hangat karena hampir setiap hari terdengar tawa para pegawai.Elian berjalan menyusuri area pembibitan sambil membawa buku catatan kecil. Ia sesekali berhenti untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, bertanya kepada Pak Hadi mengenai proses perawatan, lalu mencatat hal-hal baru yang belum diketahuinya. Meski secara hukum ia sudah menjadi pemilik perusahaan, Elian tetap bersikeras mempelajari semuanya dari dasar. Sikap itu membuat para pegawai semakin menghormatinya. Mereka tidak lagi melihat Elian sebagai mantan CEO peru

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Bukan Lagi CEO

    Pagi berikutnya, Vior sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia melirik ke samping, mendapati Elian masih tertidur lelap dengan satu tangan masih melingkar di pinggangnya. Selama beberapa detik, Vior hanya memandang wajah suaminya. Dulu, pria itu selalu tidur dengan dahi berkerut, seolah bahkan saat terlelap pun masih memikirkan rapat dan laporan perusahaan. Kini, meski tubuhnya lebih lelah karena bekerja langsung di lapangan, wajahnya justru terlihat jauh lebih damai.Vior mengusap pelan rambut Elian yang mulai sedikit berantakan. "Selamat pagi, Pak Direktur Pembibitan," bisiknya sambil tersenyum.Elian mengerutkan hidung, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Vior sudah tersenyum di hadapannya, ia ikut tersenyum tanpa sadar."Jam berapa?""Baru setengah enam.""Kok sudah bangun?""Karena hari ini kita punya banyak pekerjaan."Elian menghela napas panjang, lalu kembali merebahkan kepalanya di bantal."Lima menit lagi."Vior terkekeh pelan."Dulu waktu masih

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Pelatihan yang Baru di mulai #9

    "Ta-tapi Nyonya.." Vior terbata, tenggorokannya tercekat oleh rasa cemas yang mendadak muncul. Ia tidak menyangka permainan sandiwara ini akan menyeretnya ke dalam labirin yang begitu dalam dan menyesakkan. "Tidak ada kata tapi," potong Nyonya Saraswati dengan nada yang lembut namun mengancam, sep

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Di Luar Rencana #8

    Mobil mewah Elian melaju membelah jalanan kota yang mulai basah diguyur sisa hujan. Suasana di dalam kabin terasa kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Elian, yang biasanya selalu tenang dan terukur dalam segala hal, sesekali melepaskan tawa renyah yang terasa sangat asing di telinganya sen

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Akting yang Sempurna #7

    "Nyonya Besar, Nyonya Saraswati... ada... ada masalah di luar," ucap pelayan itu terbata-bata, keringat dingin membasahi keningnya. Nyonya Saraswati mengabaikan pelayan itu dan beralih menatap putranya dengan tatapan tajam bak silet. "Elian, jelaskan. Apa-apaan ini? Kau membawa wanita murahan,

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Hari yang di Nanti #6

    ​Karpet merah di aula hotel bintang lima itu terasa seperti panggung catwalk pribadi bagi Vior. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya, atau lebih tepatnya, pada pria yang lengannya ia gandeng dengan begitu erat. Elian berjalan dengan keangkuhan seorang raja, dagunya terangkat, dan ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status