LOGINMobil mewah Elian melaju membelah jalanan kota yang mulai basah diguyur sisa hujan. Suasana di dalam kabin terasa kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Elian, yang biasanya selalu tenang dan terukur dalam segala hal, sesekali melepaskan tawa renyah yang terasa sangat asing di telinganya sendiri.
"Aktingmu bagus sekali, Vior! Aku hampir percaya kau benar-benar wanita penggoda yang tidak tahu malu," ucap Elian di sela tawanya, matanya sesekali melirik Vior yang duduk canggung di sampingnya. Vior hanya menunduk dalam, wajahnya terasa panas. Ia masih merasakan sensasi gaun ketat yang sangat tidak familiar bagi kulitnya, ditambah lagi cara ia harus memamerkan bagian tubuhnya yang biasanya ia sembunyikan rapat-rapat. Ia mencoba menarik bagian dada gaunnya ke atas dengan kikuk. "Oh, maafkan aku. Aku lupa kau merasa tidak nyaman dengan pakaian itu," Elian tiba-tiba menginjak rem, meminggirkan mobilnya ke bahu jalan yang sepi. Suasana mendadak hening. Elian melepas jasnya, bermaksud menyampirkannya kembali ke bahu Vior. Namun, saat tangannya bergerak, pandangannya terkunci pada belahan dada yang menyembul dari balik gaun ketat tersebut. Kulit Vior yang putih bersih tampak begitu kontras dengan warna merah marun gaun itu. Ada sesuatu yang 'empuk' dan menggiurkan, sebuah pemandangan yang membuat saraf Elian tegang seketika. Tenggorokannya mendadak kering, dan napasnya terasa tertahan di kerongkongan. "Pak?" suara lembut Vior menyadarkan Elian dari lamunan liar yang sempat menyergapnya. Elian berdehem keras, menyembunyikan ketertegunannya dengan gerakan cepat menyampirkan jas ke tubuh Vior. "Ya... ya, maaf. Kau sebaiknya segera pulang dan mengganti pakaian itu. Aku tidak ingin orang lain melihatmu seperti ini," gumamnya, suaranya sedikit parau. Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang sarat akan ketegangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ketika mereka sampai di depan gang sempit menuju kamar kos Vior, Elian mematikan mesin mobil. "Besok, aku akan menjemputmu lebih awal. Kita harus menjaga sandiwara ini tetap konsisten, Vior," ucap Elian tanpa menatap mata Vior. "Tentu, Pak. Terima kasih untuk... segalanya hari ini," jawab Vior singkat sebelum melangkah turun dengan perasaan campur aduk. Keesokan harinya, saat matahari berada tepat di atas kepala, kantor Elian tampak sibuk seperti biasa. Elian baru saja berangkat untuk sebuah rapat penting di luar kota, meninggalkan Vior yang sedang berkutat dengan tumpukan dokumen di ruang administrasinya. Namun, ketenangan itu terusik saat seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak sangat mahal dan auranya yang mendominasi muncul di depan mejanya. Nyonya Saraswati. Tanpa basa-basi, wanita itu memerintahkan Vior untuk mengikutinya. Vior tidak punya pilihan. Ia pun masuk ke dalam mobil mewah milik Nyonya Saraswati dan dibawa menuju sebuah restoran eksklusif di seberang hotel tempat mereka bertemu semalam. Di restoran itu, Vior sengaja tetap melakukan perannya. Ia makan dengan suara mengecap yang nyaring, benar-benar tidak mengikuti etika makan fine dining yang seharusnya. Ia melihat Nyonya Saraswati menahan amarah setiap kali suara 'cap, cap' itu terdengar. "Jujur, Vior. Saya tidak suka denganmu," ucap Nyonya Saraswati dingin, meletakkan segelas kristal berisi air putih. "Kau kasar, tidak tahu aturan, dan sama sekali tidak mencerminkan kelas yang seharusnya dimiliki oleh pendamping hidup Elian." Vior menelan ludah. Ia bersiap untuk skenario klasik: amplop berisi uang tunai agar dirinya pergi. "Tapi, Nyonya... saya dan Elian saling mencintai. Tidak ada yang bisa mengubah itu," selanya dengan nada yang ia buat sengaja terdengar menantang namun rapuh. Nyonya Saraswati menghela napas panjang, matanya menatap Vior dengan tajam. "Saya tidak tahu kalau sifatmu setidak sopan ini, karena sebelumnya saya hanya pernah melihatmu sekilas di kantor. Aku menduga Elian hanya sedang mencoba memberontak padaku dengan memilihmu." Vior terdiam, menatap wanita di depannya dengan penuh antisipasi. "Saya akan melatihmu," lanjut Nyonya Saraswati tenang. Vior terbelalak. "Ya? Maksud Nyonya?" "Aku tidak bisa membiarkan putraku menikahi wanita yang bahkan tidak tahu cara memegang garpu dengan benar. Jika Elian benar-benar bersikeras memilihmu, maka aku akan memastikan kau memiliki kualitas yang layak. Aku akan melatih tata krama, cara berpakaian, hingga bagaimana kau harus bersikap di depan publik agar kau benar-benar layak menjadi menantu keluarga Elian." Vior terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka ini. Ia mengira akan dimaki atau diusir, bukan justru 'dijadikan proyek' untuk dibentuk sesuai keinginan Nyonya Saraswati. "Mulai besok, setiap sore setelah jam kerja, kau akan datang ke rumahku. Kita akan mulai dengan pelajaran etika bicara dan sejarah keluarga. Jangan berpikir kau bisa melarikan diri, Vior. Jika kau menolak, aku akan memastikan karirmu di perusahaan Elian berakhir saat ini juga," ancam Nyonya Saraswati dengan suara yang tetap anggun namun mematikan. Setelah Nyonya Saraswati pergi, Vior duduk terpaku di restoran itu. Ini adalah perkembangan yang gila. Rencana awalnya hanya ingin membuat Rio cemburu dan membalas dendam atas pengkhianatannya. Sekarang, ia justru terjebak dalam permainan yang lebih besar. Ia harus menjalani hidup sebagai wanita 'tidak tahu diri' di depan Elian, namun sekaligus harus bertransformasi menjadi wanita 'berkelas' di depan sang calon ibu mertua yang ternyata sangat manipulatif. Vior meremas tasnya. Ia tahu ia tidak bisa mundur. Jika ia bisa memenangkan hati Nyonya Saraswati, bukankah itu berarti ia bisa memiliki kontrol penuh atas Elian? Dan mungkin, setelah itu, ia benar-benar bisa menyingkirkan Rio dari kehidupannya selamanya. Namun, di balik semua perhitungan itu, sebuah pertanyaan muncul di kepala Vior. Apakah Elian tahu bahwa ibunya memiliki rencana 'pelatihan' ini? Dan apakah Elian akan tetap mendukungnya, atau justru ia akan merasa terganggu jika Vior benar-benar berubah menjadi wanita yang diinginkan oleh ibunya?Vior mendongak, menatap mata Elian yang kini berkabut oleh gairah dan emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Pria yang selama ini dingin dan penuh perhitungan itu kini terlihat begitu manusiawi, begitu haus akan dirinya. Saat bibir Elian mulai menelusuri leher jenjangnya dengan sentuhan lembut, Vior merasakan desiran halus yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Setiap ciuman Elian terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kewarasannya.Elian melingkarkan lengannya dengan posesif di pinggang Vior, merebahkan gadis itu perlahan ke atas sofa yang empuk. Ia menciumi setiap inci kulit Vior, menciptakan jejak kehangatan yang membuat Vior merasa seolah ia adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini. "Saya sudah sadar dari dulu, kalau kamu itu... cantik sekali, Vior," bisik Elian di sela ciumannya. Suaranya serak, penuh dengan kekaguman yang tulus. Vior, yang masih terpaku oleh luapan emosi setelah tangisannya tadi, hanya bisa pasrah. Di bawah tatapan Elian, ia merasa tidak lagi menj
Kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi arena gladiator yang mencekam. Rio, yang saat itu sedang memamerkan video saat ia menampar Vior pada rekan kerjanya—tentu dengan bumbu kebohongan tentang Vior—sama sekali tidak menyadari badai yang sedang datang. Pintu ruangannya terbuka dengan dentuman keras, membentur dinding dengan suara yang membuat seisi ruangan melonjak kaget. Elian berdiri di sana, matanya merah padam, napasnya memburu seperti predator yang baru saja mencium bau darah.Sebelum Rio sempat berdiri, Elian sudah mencengkeram kerah kemejanya dan menyeret pria itu hingga tubuhnya terlempar dari kursi kerja. Tanpa peringatan, Elian mendaratkan tamparan telak yang membuat wajah Rio tertoleh keras. Suara hantaman telapak tangan di kulit itu terdengar sangat menyakitkan, membuat karyawan lain berteriak histeris. Rio terhuyung, matanya nanar, mencoba mencerna apa yang terjadi. Namun, Elian tidak memberi kesempatan bagi Rio untuk bertanya. Ia kembali menerjang, memukulka
Rasa panas yang menjalar di pipi Vior setelah tamparan keras Rio mendarat seolah membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak menyangka Rio akan bertindak sebrutal itu di depan umum. Setelah tamparan balasan itu, Vior tidak berteriak, ia tidak memaki; ia hanya terpaku sejenak, membiarkan rasa perih merambat hingga ke relung hatinya, sebelum akhirnya memutuskan untuk lari. Ia berlari dengan air mata yang membanjiri wajah, meninggalkan kafe yang riuh dengan bisik-bisik orang yang mulai merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.Sesampainya di kamar kosnya yang sempit, Vior ambruk di atas tempat tidur. Isak tangis yang tertahan selama berbulan-bulan akhirnya pecah. Rio selalu seperti itu. Pria itu memiliki pola yang mengerikan. kasar, manipulatif, lalu akan datang dengan wajah penuh penyesalan seolah dia adalah pria paling rapuh yang takut kehilangan. Namun, apa yang terjadi sore itu membuktikan bahwa topeng pria itu telah sepenuhnya hancur. Ia tidak peduli bahwa ia sudah memiliki Enzy, ia
Vior duduk terdiam di dalam mobil Elian, menatap kosong ke arah lampu jalan yang berbayang di balik kaca. Rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda. Setelah kejadian di mansion tadi, ia merasa telah melewati garis batas kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar karyawan yang membantu bosnya melakukan aksi balas dendam; ia merasa telah menjadi mainan yang diperebutkan dalam permainan kekuasaan yang kejam."Saya turun di depan saja, Pak," ucap Vior pelan, memecah keheningan yang mencekam di dalam kabin mobil.Elian meliriknya sekilas, rahangnya mengeras. "Saya antar kamu sampai depan rumah, Vior. Ini belum aman.""Tidak perlu, Pak," jawab Vior dengan suara sedikit bergetar. "Saya lanjut naik taksi saja. Dan... sepertinya, saya tidak bisa melanjutkan sandiwara ini lagi."Elian menginjak rem, mobil berhenti mendadak di pinggir jalan yang cukup ramai. Pria itu terdiam, tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menoleh, namun Vior bisa merasakan a
Vior duduk di atas sofa beludru yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kamar kosnya. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk tampil provokatif atau berani seperti malam sebelumnya. Tetapi otaknya tetap memikirkan cara untuk melakukan hal unik yang mungkin akan di benci oleh wanita paruh baya di depannya ini.Nyonya Saraswati duduk tegak di sofa seberang, menyesap teh dari cangkir porselen tipis dengan keanggunan yang intimidatif. Suasana hening, hanya suara denting sendok yang beradu dengan cangkir yang memecah ketegangan. Tiba-tiba, Nyonya Saraswati merogoh ponselnya, menekan sebuah kontak, dan menyalakan mode loudspeaker dengan sengaja."Elian? Kau sudah pulang?" suara wanita itu terdengar lembut, namun ada nada tuntutan yang kental. "Bagaimana meeting-mu? Kau tidak ingin mengunjungi Ibu hari ini? Kenapa betah sekali tinggal sendirian di apartemen sementara di sini Ibumu masih hidup dan merindukan putranya?"Vior menunduk dalam, jari-jemarinya gemetar saat memegang alat
"Ta-tapi Nyonya.." Vior terbata, tenggorokannya tercekat oleh rasa cemas yang mendadak muncul. Ia tidak menyangka permainan sandiwara ini akan menyeretnya ke dalam labirin yang begitu dalam dan menyesakkan. "Tidak ada kata tapi," potong Nyonya Saraswati dengan nada yang lembut namun mengancam, seperti sutra yang menyembunyikan silet tajam. "Bukankah kau mencintai Elian? Maka, jika kau ingin menikah dengannya, kau harus pantas bersanding dengannya. Dan untuk menjadi pantas, kau harus mengikuti aturan yang aku buat. Itu adalah harga yang harus kau bayar." Vior hanya bisa terdiam, membisu. Ia kembali ke kantor dengan langkah gontai, jiwanya terasa hampa. Sepanjang sore, pikirannya berkecamuk. Ia merindukan kehadiran Elian yang biasanya selalu menjadi tamengnya, namun pria itu masih terjebak dalam rapat maraton dengan klien-klien penting di luar kota. Vior merasa seperti pion yang tersesat di papan catur, sementara pemainnya sedang tidak ada di tempat. Keesokan harinya, suasana ka







