MasukDi sebuah pembukaan hutan yang dikelilingi oleh reruntuhan kuil kuno, Larasmaya Renjana terdesak mundur hingga punggungnya menabrak pilar batu yang dingin.
Wajah gadis itu pucat pasi, kotor oleh jelaga dan debu. Jubah hijau murid alkimianya yang dulu anggun kini sobek di sana-sini, menampakkan kulit yang tergores ranting. Napasnya memburu, dan di tangannya, sebilah pedang pendek bergetar hebat.
Di hadapannya, lima orang pria berdiri melingkar, menyeringai seperti serigala yang mengepung domba yang terluka.
Mereka bukan murid Sekte Wana Jagad. Mereka mengenakan pakaian kulit binatang yang kasar, dengan kalung terbuat dari telinga manusia yang dikeringkan.
Mereka adalah Pemburu Bayangan.
Kelompok bandit kultivator yang terkenal kejam, yang hidup dengan merampok dan membunuh murid-murid sekte di hutan ini.
"Manis sekali ..." ujar pemimpin bandit itu, seorang pria botak dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya. Ia menjilat bibirnya yang pecah-pecah. "Sudah tiga bulan kami mengintai di sekitar sini, memungut sisa-sisa mayat. Tidak kusangka di hari terakhir, kami justru menemukan bunga segar yang tertinggal."
Larasmaya menggertakkan gigi, mencoba menyalakan sisa Qi di tubuhnya, namun meridiannya sudah kosong melompong. Ia telah bertahan hidup di hutan neraka ini sendirian selama tiga bulan, menolak untuk pulang, menolak untuk percaya bahwa Aksara sudah mati. Ia mencari mayat pemuda itu di dasar jurang, di gua-gua, di setiap sudut hutan, hingga tenaganya habis dan rombongan sekte meninggalkannya.
Dan inilah akhirnya. Mati di tangan sampah masyarakat, tanpa pernah menemukan jasad sahabatnya.
"Jangan mendekat!" teriak Larasmaya, suaranya serak. "Aku adalah murid inti Sekte Wana Jagad! Jika kalian menyentuhku, Tetua Sekte tidak akan melepaskan kalian!"
Para bandit itu tertawa terbahak-bahak.
"Tetua Sekte?" cibir si Botak. "Kekasihmu yang tampan itu, si Darius, sudah lari terbirit-birit saat melihat kami datang lima menit yang lalu. Dia meninggalkanmu sebagai umpan, Nona Manis. Tidak ada yang akan datang menolongmu."
Hati Larasmaya runtuh.
Darius tadi ada di sini, mencoba menyeretnya pulang paksa. Tapi begitu bandit-bandit ini muncul dengan aura tingkat menengah, Darius langsung menggunakan jimat pelariannya, meninggalkan Larasmaya sendirian.
Air mata menetes di pipi Larasmaya. Aksara ... maafkan aku. Aku bahkan tidak bisa membawa pulang tulang-belulangmu.
"Habisi dia, tapi jangan bunuh," perintah si Botak pada anak buahnya. "Kita akan bersenang-senang dulu sebelum menjualnya ke pasar budak."
Salah satu bandit, yang memegang kapak berkarat, melompat maju dengan nafsu membunuh. "Sini kau, Cantik!"
Larasmaya memejamkan mata, mengarahkan pedang pendeknya ke lehernya sendiri. Lebih baik mati daripada dinodai. Tetapi, sebelum bilah pedang itu menyentuh kulit lehernya, langit di atas mereka runtuh.
BBOOOOOOMMM!
Sebuah benda hitam jatuh dari langit dengan kecepatan meteor, menghantam tanah tepat di antara Larasmaya dan bandit pembawa kapak.
Tanah meledak. Gelombang kejut yang mengerikan melemparkan bandit itu ke belakang, membuatnya berguling-guling di tanah. Debu dan batu beterbangan, menutupi pandangan.
Kesunyian mencekam turun seketika.
Para bandit itu terbatuk-batuk, mengibas debu. Si Botak menyipitkan mata. "Apa itu? Jimat peledak?"
Perlahan, debu mulai menipis.
Di tengah kawah kecil yang baru terbentuk, sesosok manusia berdiri tegak. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang seperti dipahat dari batu granit, penuh dengan bekas luka yang mengerikan. Wajahnya tertutup topeng kayu hitam yang menangis darah. Rambut hitam panjangnya berkibar liar ditiup angin panas.
Aura yang dipancarkannya bukan Qi kultivasi biasa. Itu adalah aura kematian yang pekat, dingin, dan purba.
Larasmaya menurunkan pedangnya, matanya terbelalak menatap punggung sosok itu. Punggung yang terasa asing, namun entah mengapa memberikan rasa aman yang membuat air matanya semakin deras.
Si Botak mundur selangkah, instingnya berteriak bahaya. "Siapa kau?! Jangan ikut campur urusan Pemburu Bayangan!"
Sosok bertopeng itu tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatap si Botak dari balik lubang mata topeng yang gelap.
"Bunuh dia!" teriak si Botak panik.
Empat bandit serentak menyerang. Pedang, tombak, dan kapak yang dialiri Qi melayang dari berbagai arah, membidik titik vital sosok itu.
Aksara tidak bergerak. Ia tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis.
TRANG! CLANG! BUK!
Senjata-senjata itu menghantam kulit telanjang Aksara.
Mata para bandit itu melotot keluar.
Pedang baja itu tidak membelah kulit. Tombak itu tidak menembus daging. Sebaliknya, suara logam beradu dengan logam terdengar nyaring. Di kulit Aksara, hanya muncul garis putih tipis yang hilang dalam sekejap.
"Sutra Darah Langit ..." suara Aksara terdengar berat dan terubah bentuknya dari balik topeng, seperti geraman binatang buas. "... tidak akan terluka oleh sampah."
Sebelum mereka sadar dari keterkejutan, Aksara bergerak.
Tangannya bergerak begitu cepat hingga hanya terlihat sebagai kabur bayangan. Ia mencengkeram leher bandit pembawa tombak.
KRAK!
Satu remasan ringan. Leher bandit itu patah seperti ranting kering. Tubuhnya jatuh layu ke tanah.
Tiga bandit lainnya berteriak horor, mencoba menarik senjata mereka. Tapi Aksara sudah berada di hadapan mereka.
Ia meninju dada bandit kedua.
Dada bandit itu amblas ke dalam. Tulang rusuknya hancur berkeping-keping, menembus paru-paru dan jantung. Tubuhnya terlempar sepuluh meter ke belakang, menabrak pohon hingga pohon itu tumbang.
Ini bukan pertarungan tapi pembantaian.
"Monster! Dia monster!" teriak bandit ketiga, menjatuhkan pedangnya dan lari.
Aksara tidak mengejar. Ia hanya memungut sebuah batu kerikil dari tanah dengan kakinya, lalu menendangnya santai.
WUSH!
Batu kerikil itu melesat lebih cepat dari anak panah, menembus kepala bandit yang sedang berlari itu, meledakkan tengkoraknya seperti semangka busuk.
Kini tinggal si Botak. Pemimpin bandit itu jatuh terduduk, kakinya gemetar hebat hingga air kencing membasahi celananya. Ia adalah kultivator tingkat menengah, tapi di hadapan monster fisik ini, teknik sihirnya terasa tidak berguna.
Aksara berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya membuat tanah bergetar pelan.
"Ampun ... Tuan ... Ampun ..." racau si Botak. "Saya ... saya hanya ..."
Aksara berhenti tepat di depan wajah si Botak. Ia menunduk, topeng iblisnya hanya berjarak satu jengkal dari wajah bandit itu.
"Tiga bulan lalu ..." bisik Aksara. "Kalian juga memburu orang yang lemah, bukan?"
"A-apa?"
Aksara mencengkeram kepala si Botak dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria dewasa itu ke udara seolah ia seringan kapas.
"Dunia ini tidak butuh sampah sepertimu," desis Aksara.
Tanpa belas kasih, Aksara meremas tangannya. Jeritan si Botak terpotong seketika saat kegelapan abadi menjemputnya.
Aksara melempar mayat itu ke samping, lalu berdiri diam di tengah tumpukan mayat. Darah membasahi tangannya, menetes ke tanah. Napasnya berat, berusaha menekan naluri naga yang berteriak meminta lebih banyak pembunuhan.
Tenang, batinnya. Laras ada di sini. Jangan menakutinya.
Perlahan, Aksara memutar tubuhnya.
Larasmaya masih berdiri di sana, menempel pada pilar batu. Tubuhnya gemetar hebat. Matanya menatap Aksara dengan campuran rasa takjub dan teror yang mendalam. Dia baru saja melihat kebrutalan yang melampaui batas kemanusiaan.
Aksara ingin membuka topengnya. Ia ingin berlari memeluk gadis itu, mengatakan bahwa ia masih hidup, bahwa ia kembali.
Ia melangkah satu langkah mendekat.
Larasmaya tersentak mundur, mengangkat pedangnya dengan tangan gemetar. "J-jangan mendekat ... M-makhluk apa kau?"
Langkah Aksara terhenti. Rasa sakit yang tajam menusuk dadanya, lebih sakit daripada saat tulangnya dipatahkan di dalam jurang.
Dia takut.
Tentu saja dia takut. Lihat dirimu, Aksara. Kau berlumuran darah. Kau membunuh manusia seperti membunuh lalat. Kau bukan lagi "Aksara yang Manusiawi". Kau adalah monster.
Jika ia membuka topengnya sekarang, Laras mungkin akan melihat wajah Aksara, tapi dia tidak akan pernah lagi melihat sahabatnya yang polos. Dia akan melihat pembunuh.
Aksara menurunkan tangannya yang tadi hendak meraih topeng. Ia mengepalkan tinju di samping tubuhnya, menahan rasa perih di hatinya.
"Pulanglah," ucap Aksara, suaranya sengaja dibuat berat dan asing. "Hutan ini bukan tempat untuk domba."
Larasmaya tertegun. Suara itu ... nada bicaranya ... entah mengapa terasa familiar di telinganya. "Siapa ... siapa kau? Kenapa kau menolongku?"
Aksara tidak menjawab. Ia berbalik, memunggungi Larasmaya. Ia tidak sanggup menatap mata gadis itu lebih lama lagi tanpa hancur.
Namun, sebelum Aksara sempat melompat pergi, sebuah tawa angkuh terdengar dari balik pepohonan.
"Luar biasa! Sungguh luar biasa!"
Seorang pemuda berjubah putih bersih keluar dari persembunyiannya, diikuti oleh dua pengawal elit sekte. Di tangannya, sebuah kipas lipat bergoyang pelan.
Darius.
Laut Selatan biasanya merupakan jalur perdagangan yang paling aman di bawah perlindungan bendera Sekte Matahari Suci. Tidak ada bajak laut yang cukup gila untuk menyentuh kapal yang membawa lambang matahari emas di layarnya.Namun, malam ini, laut itu mati.Konvoi suplai raksasa yang terdiri dari dua puluh kapal kargo besar sedang berlayar menuju Kota Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal-kapal itu memuat ribuan ton Batu Roh, senjata, dan bahan obat yang dikirim dari wilayah pusat untuk memperkuat garis pertahanan Aliansi di selatan.Di atas kapal utama, Kapten Surya, seorang kultivator Inti Emas Awal berdiri di anjungan, menatap kabut tebal yang tiba-tiba turun menyelimuti armada."Kabut sialan," gerutu Kapten Surya. "Penyihir Cuaca! Usir kabut ini! Aku tidak bisa melihat ujung hidungku sendiri!"Seorang penyihir angin di dek mencoba merapal mantra. Namun, bukannya menipis, kabut itu justru semakin pekat. Dan warnanya berubah. Dari puti
Pertempuran di Arena Pusat Nusa Kencana tidak berlangsung lama. Itu bukan perang; itu adalah eksekusi massal.Lima puluh pengawal elit Jagal, para pembunuh bayaran veteran yang telah mencabut nyawa ratusan orang tumbang seperti gandum di hadapan sabit.Kabut ungu Larasmaya bergerak seperti makhluk hidup, menyusup ke dalam hidung dan telinga para pengawal. Mereka yang menghirupnya tidak mati seketika; mereka berhalusinasi, melihat teman sendiri sebagai monster, lalu saling tikam dalam kegilaan.Di tengah badai kekacauan itu, Aksara Linggar adalah pusat gravitasinya.Ia tidak menggunakan senjata. Ia tidak membutuhkannya. Tangan Kiri Asura-nya mencabut nyawa dari tubuh fisik musuh, sementara Cakar Naga Kanan-nya menghancurkan tulang dan baju zirah mereka.KRAK! SREET!Satu per satu pengawal jatuh. Darah membanjiri pasir arena, mengubahnya menjadi lumpur merah yang kental.Di balkon kehormatan, Si Jagal gemetar hebat. Gelas anggu
Dalam kegelapan tidur panjangnya, Aksara tidak bermimpi. Ia mengingat.Kesadarannya ditarik masuk ke dalam aliran darah Jantung Raja Naga yang baru saja ia tanam di dadanya. Darah itu bukan sekadar cairan kehidupan; itu adalah perpustakaan memori yang telah ada sejak dunia ini terbentuk.Aksara melihat zaman dahulu kala.Zaman di mana langit tidak berwarna biru, melainkan ungu keemasan. Zaman di mana manusia dan naga hidup berdampingan, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara.Manusia menunggangi naga untuk membelah awan. Naga mengajarkan manusia cara menyerap Qi alam semesta. Peradaban mereka begitu maju, begitu kuat, hingga kultivator pada masa itu tidak perlu memakan pil atau membunuh sesama untuk naik tingkat. Mereka hidup dalam harmoni.Kekuatan gabungan antara Kebijaksanaan Manusia dan Fisik Naga menciptakan entitas yang nyaris sempurna.Lalu, Aksara melihat Mereka.Langit terbelah. Bukan oleh petir, tap
Lorong menuju perut bumi itu ternyata tidak gelap gulita seperti yang Aksara bayangkan.Dinding-dindingnya terbuat dari tulang rusuk yang membatu, memancarkan cahaya merah temaram yang berdenyut seirama dengan suara DUM yang menggema dari kedalaman. Udara di sini panas, kering, dan berbau belerang purba.Setiap langkah yang diambil Aksara terasa semakin berat. Bukan karena gravitasi bumi, melainkan karena Tekanan Spiritual yang dipancarkan oleh sisa-sisa keberadaan Raja Naga di bawah sana. Tekanan itu menolak kehadiran makhluk hidup lain. Bagi manusia biasa, tekanan ini sudah cukup untuk menghancurkan pembuluh darah otak dalam radius satu mil.Aksara terengah-engah. Keringat membanjiri tubuhnya yang setengah bersisik. Lututnya gemetar, seolah memikul gunung di pundaknya."Kau merasakannya?" suara Naga Wiratama terdengar bergetar, penuh rasa hormat dan duka. "Ini adalah aura Baginda Raja Antaboga. Bahkan dalam kematiannya, be
Angin laut yang berhembus di Nusa Kencana membawa bau alkohol, keringat, dan darah yang mengering.Pulau itu tidak memiliki pemerintahan. Tidak ada bendera sekte yang berkibar. Yang ada hanyalah ribuan bangunan kayu yang ditumpuk sembarangan di atas tebing karang, saling sambung-menyambung dengan jembatan gantung yang rapuh. Kapal-kapal bajak laut, pedagang budak, dan buronan berlabuh berdesakan di pelabuhan yang kumuh.Di sinilah sampah dunia berkumpul. Di sinilah mereka yang dibuang oleh Aliansi menemukan rumah.Siang itu, kesibukan di pelabuhan terhenti sejenak.Sebuah perahu kecil merapat di dermaga utama. Tidak ada layar, tidak ada dayung. Rakit itu bergerak membelah ombak seolah ditarik oleh hantu air.Tiga sosok melangkah turun ke dermaga kayu yang berderit.Seorang pemuda dengan jubah hitam longgar yang menutupi satu lengannya. Wajahnya tertutup topeng kayu polos.Seorang wanita cantik dengan kulit pucat dan tato bunga hitam d
Kesadaran Aksara kembali dengan perlahan dari dasar laut yang gelap dan sunyi. Tidak tergesa, tidak menyakitkan, hanya pelan, seolah dunia memberinya waktu untuk bernapas kembali.Hal pertama yang menyentuhnya bukanlah suara, melainkan bau.Bukan bau darah. Bukan asap mesiu. Bukan racun yang menusuk paru-paru. Yang ada hanyalah garam, lumut basah, dan aroma herbal asing yang lembut dan menenangkan, hampir seperti janji bahwa ia masih hidup.Perlahan, Aksara membuka matanya.Cahaya biru yang lembut menyambut pandangannya. Ia tak lagi tergeletak di pantai berpasir kasar tempat kesadarannya terputus. Ia berada di dalam sebuah gua luas, sunyi dan megah.Dinding-dinding gua dipenuhi kristal biru berpendar, memancarkan cahaya alami yang dingin namun menenangkan. Kilauannya menari di permukaan batu, memantul ke langit-langit yang menjulang tinggi. Dari sana, tetes-tetes air jatuh perlahan, menciptakan irama halus saat menyentuh kolam-kolam kecil di lantai gua, seperti napas dunia yang masih







