LOGINArlo dan Cakra berjalan kembali bersama ke rumah Keluarga Hanafi.Cakra memasang senyum lebar sambil menyerahkan kontrak. "Pak Victor, silakan dilihat. Kalau nggak ada masalah, kita langsung tanda tangan."Victor membuka kontrak itu dengan perasaan gelisah. Renata dan Artha juga ikut mendekat untuk melihat.Beberapa menit kemudian, Victor menutup kontrak itu dan berkata dengan wajah serius, "Kontraknya memang nggak ada masalah. Hanya saja ....""Nggak ada hanya-hanya! Pak Victor tenang saja. Untung atau rugi, aku nggak akan banyak bicara!" kata Cakra sambil buru-buru menuliskan tanda tangannya.Victor menoleh ke arah Arlo, tangannya masih ragu untuk bergerak.Perbedaan terbesar antara Cakra dan Sandy adalah, Cakra dengan jelas menuliskan di dalam kontrak bahwa dia ikut menanamkan modal tetapi tidak ikut campur dalam pengelolaan. Poin itulah yang akhirnya menghapus keraguan terakhir Victor.Namun, sekarang yang lebih dia khawatirkan adalah, apakah kontrak ini termasuk hasil "tipu daya"
Cakra tertegun cukup lama, sebelum akhirnya berteriak marah ke arah punggung Sandy yang menjauh, "Apa yang aku incar? Selain Dokter Arlo, apa lagi yang layak aku incar di Keluarga Hanafi ini!"Begitu kalimat itu dilontarkan, ekspresi Keluarga Hanafi langsung menjadi canggung.Cakra tersenyum kaku lalu berkata, "Hehe, maksudku aku benar-benar tulus ingin bekerja sama dengan Keluarga Hanafi!" Penjelasan itu bukannya memperbaiki keadaan, malah membuat suasana semakin canggung.Mana mungkin Cakra tertarik pada klien seperti Keluarga Hanafi? Justru itu malah lebih aneh!Ingatan Victor tentang kemampuan medis Arlo masih berhenti pada apa yang dikatakan Isyana sebelumnya, bahwa Arlo hanya sedikit paham pengobatan dan hanya tahu satu atau dua resep rahasia.Apa hanya dengan itu bisa mengobati orang?Victor ragu sejenak, lalu bertanya, "Pak Cakra yakin Arlo benar-benar bisa menyembuhkan penyakit Bapak?"Melihat seluruh anggota Keluarga Hanafi memasang ekspresi ragu yang sama, Cakra bergumam dal
Arlo berpikir dengan cepat. Dengan gaya bertindaknya, masalah seperti yang melibatkan Keluarga Sriwandi ini pasti masih akan terjadi lagi di masa depan. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan kembali menyeret Keluarga Hanafi.Di seluruh Hareast, satu-satunya orang yang mampu membuat bisnis Keluarga Hanafi tidak lagi dibatasi siapa pun hanyalah Cakra."Baik! Aku beri kamu satu kesempatan!"Melihat sikap Arlo mulai melunak, Cakra hampir saja terharu sampai ingin menangis.Arlo menunjuk ke arah Wiranto sambil berkata, "Kamu kenal dia, 'kan?""Kenal, itu Wiranto, si nomor dua!" jawab Cakra sambil melirik Wiranto dengan sorot mata meremehkan.Wiranto memang cukup terkenal di dunia pengobatan herbal Hareast. Namun, itu tergantung dibandingkan dengan siapa. Dibandingkan orang lain, Wiranto adalah tokoh besar. Namun dibandingkan dengan Cakra, jelas belum ada apa-apanya.Karena itu, Cakra sama sekali tidak menganggap penting Wiranto.Arlo melanjutkan, "Pak Wiranto juga datang untuk membicarakan
Melihat Cakra memohon-mohon minta diselamatkan, semua orang di dalam ruangan langsung terdiam lama.Kenapa bisa jadi begini?Renata pun ikut terperangah. Dia terdorong mundur kembali ke ruang tamu oleh Cakra dan anak buahnya yang masuk berbondong-bondong.Sandy akhirnya bereaksi. Dia saling memandang dengan Wiranto dan firasat buruk langsung muncul."Pak Cakra, kenapa Bapak datang ke sini?"Baru saat itu Cakra menyadari bahwa Sandy juga ada di sana. "Kenapa aku datang? Kamu masih berani tanya?"Dia memaki dengan penuh amarah, "Kalau bukan karena kamu dan Vijay yang menghasutku dan menjelek-jelekkan Dokter Arlo, mana mungkin aku muter-muter sejauh ini? Penyakitku sudah lama disembuhkan oleh Dokter Arlo!"Kalau saja bukan karena masih ada orang lain di ruangan itu, Cakra sudah berniat menyuruh orang membereskan Sandy saat itu juga.Pagi ini saja, dia kembali kehilangan kesadaran dan bahkan sempat melukai diri sendiri. Hampir saja dia mati karena ulahnya sendiri.Sejak kompetisi besar pen
Wiranto pun memasang wajah tidak senang. Sambil menatap Arlo, dia mencibir dingin. "Anak muda, kamu tahu siapa aku?""Tiga puluh persen pasar obat tradisional di Hareast ada di tanganku. Usaha Keluarga Hanafi itu seberapa besar sih? Perlu aku incar?""Aku berani bilang, sekarang ini selain aku, nggak ada satu orang pun yang berani mengambil alih hasil perkebunan Keluarga Hanafi dengan harga pasar secara jangka panjang di seluruh Hareast. Percaya nggak?""Mau kerja sama atau nggak, terserah kalian. Aku malas buang-buang tenaga!"Arlo menatap mereka berdua dengan ekspresi setengah tersenyum. "Aku cuma menyampaikan pendapat pribadi. Kenapa reaksi kalian sebesar ini?"Tadinya Arlo hanya merasa bahwa kontrak yang diantarkan ke rumah ini mungkin menyimpan kejanggalan. Namun sekarang, dia hampir bisa memastikan bahwa di balik semua ini pasti ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan.Mutia sendiri sudah tertegun, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Pantas saja Kak Arlo seharian ini sama
Artha dan Renata sama-sama merasa bahwa masih ada orang yang datang menawarkan kerja sama dengan syarat sebaik itu di saat seperti ini, benar-benar seperti rezeki durian runtuh.Renata mendorong keras lengan suaminya. "Artha, Sandy datang untuk membantu kita. Selain Pak Wiranto, di mana lagi kamu bisa menemukan rekan kerja sama yang sebaik ini?""Sekali tanda tangan kontrak sepuluh tahun, itu artinya perkebunan kita nggak perlu pusing soal penjualan selama sepuluh tahun ke depan! Cuma minta 40 persen saham, tapi harganya di atas harga pasar. Apa lagi yang kamu pikirkan?"Artha juga ikut gelisah dan terus mendesak, "Kakak, jangan kebanyakan mikir! Pak Wiranto datang sendiri membawa kontrak seperti ini, itu karena dia menghargai Keluarga Hanafi."Namun, Victor tetap tidak tergerak dan masih tenggelam dalam pikirannya.Sandy melirik Victor dengan tenang, dalam hati tak bisa menahan diri untuk sedikit mengaguminya. Orang tua ini cukup waspada juga. Sayangnya, keadaan sudah memaksa. Bukan l







