MasukHeidi membelalakkan mata. Paula sebelumnya bilang dia besar di Desa Guting.Paula berjalan ke depan Aidan, mendekat, lalu berbisik sesuatu. Ekspresi Aidan langsung berubah. Dia kemudian menunjuk Arlo. "Anggap kamu lagi beruntung! Kita pergi!"Semua orang terdiam, hendak pergi, tetapi Arlo melangkah maju dan mengadang jalan Aidan."Kalian ini nggak dengar atau nggak paham?" tanya Arlo.Semua orang tertegun. Arlo langsung menampar. Plak! Aidan terjatuh ke tanah.Paula pun tercengang. Orang ini benar-benar tidak takut mati?Sekelompok preman langsung menyerbu Arlo. Namun, hanya dalam beberapa detik, semua preman sudah tergeletak di tanah. Tak seorang pun sempat melihat jelas gerakannya.Heidi menatap pemandangan itu dengan tak percaya, lalu menutup mulutnya. Cara dia memandang Arlo kini bercampur dengan kekaguman.Di mata Paula, kilatan kaget sempat muncul, lalu berubah menjadi senyuman mengejek. Ini wilayah Suku Maia, apa hebatnya cuma bisa berkelahi? Orang luar yang bodoh ini benar-bena
Arlo turun dari mobil dengan santai. Sekelompok orang langsung mengepungnya. Namun, ekspresinya tetap tenang. Orang biasa pasti sudah gemetaran menghadapi situasi seperti ini, tetapi dia sama sekali tidak menunjukkan rasa gugup.Orang-orang itu juga bukan preman bodoh. Mereka tidak langsung menyerang, melainkan menatap pemimpin mereka, Aidan.Aidan mengangkat dagu ke arah Arlo. "Kamu ini sebenarnya siapa? Sudah berani menyinggung orangku, masih nggak mau kasih penjelasan?"Arlo tersenyum. "Kamu mau penjelasan seperti apa?""Orangku cuma minta kamu kasih tempat duduk, tapi kamu malah lempar dia dari mobil sampai babak belur. Paling nggak kamu harus minta maaf dan bayar biaya pengobatan, 'kan?" kata Aidan sambil menunjuk Gorou."Oh, biaya pengobatan? Kalian maunya berapa?" tanya Arlo sambil mengelus dagunya.Gorou langsung maju dengan wajah pongah. "Satu miliar! Kamu juga harus berlutut dan bersujud! Kalau nggak, jangan harap kamu bisa keluar dari pegunungan ini!"Arlo mengangguk pelan,
Mobil terus melaju untuk beberapa saat.Arlo yang tadinya memejamkan mata untuk beristirahat, tiba-tiba membuka mata. Dia mendengar suara mesin mobil off-road yang semakin mendekat.Detik berikutnya, sebuah jip tiba-tiba memotong dan menghentikan bus, lalu tujuh hingga delapan kendaraan serupa menyusul dari belakang.Dari mobil-mobil itu turun sekelompok pria kekar. Mereka membawa parang, tongkat bisbol, dan senjata lain, mengelilingi bus sambil berteriak-teriak.Di antara mereka, ada Gorou yang sebelumnya ditendang Arlo keluar."Siapa tadi yang nendang aku? Keluar sekarang!" Gorou kembali bertingkah sombong. Dia berdiri di bawah bus sambil memaki.Saat ini, bus sudah memasuki daerah pegunungan. Tidak ada desa, tidak ada toko di sekitar.Suasana di dalam bus langsung kacau. Heidi tampak panik. Dia hanya mahasiswa biasa, ini pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini.Dia menggenggam lengan Paula sambil berkata, "Paula, gimana ini? Kamu tadi bilang orang Suku Maia itu paling gan
Paula sama sekali tidak panik. Dia hanya memelototi Gorou, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.Gorou bukan hanya tidak marah, malah terlihat semakin bersemangat. Dengan tidak sabar, dia kembali membentak Arlo, "Nggak dengar kata-kataku? Minggir sana!""Maksudmu aku harus berdiri di samping, lalu kamu duduk di tempatku?" tanya Arlo sambil mengerutkan kening."Sudah tahu masih nanya? Sok banget sih! Kalau nggak mau berdiri, ya turun saja, tunggu mobil berikutnya! Aku juga nggak melarang!" maki Gorou dengan arogan.Penumpang lain di sekitar hanya diam, bahkan ada yang memalingkan wajah, tidak berani melihat. Jelas sekali, Gorou sudah terbiasa bertindak semena-mena. Mana ada orang biasa yang berani menantangnya?"Dik, kasih saja tempatmu ke Kak Gorou!" Sopir melirik dari kaca spion dan tak bisa menahan diri untuk membujuknya.Wajah Arlo sempat menunjukkan rasa tidak senang. Kalau tidak ada kursi dan yang datang adalah ibu hamil atau orang tua, tentu dia akan mengalah. Namun, ini cum
Saat Isyana masih berbicara, Nirmala sudah melayang pergi.Dia berdiri terpaku di depan pintu, tatapannya kosong. Di matanya terlintas secercah harapan yang bahkan dia sendiri tak bisa menjelaskannya. Benarkah Arlo akan datang? Jika mereka bertemu lagi, apa kalimat pertama yang harus dia ucapkan?....Sebelum meninggalkan Kota Naldern, Arlo sengaja menemui Victor dan berjanji akan lebih dulu pergi ke Kota Maia untuk menemui Isyana.Bagas juga secara khusus menelepon Arlo, memberi tahu tentang sikap aneh Dewa Militer. Arlo tahu, dengan adanya tenggat tiga bulan dari Dewa Militer, tidak ada pihak yang berani secara terang-terangan menyentuh orang-orang di sekitarnya.Karena tidak ada yang berani memprovokasi seorang "pembunuh" yang sudah dipojokkan ke jalan buntu!Tidak ada yang percaya Arlo bisa mengalahkan Dewa Perang Utara. Menurut mereka, Arlo sudah pasti akan dipenjara selama sepuluh tahun.Namun, Arlo sendiri tidak merasa itu adalah jalan buntu. Toh Dewa Perang Utara belum mencapai
Wajah Nirmala yang sempat terkejut itu segera berubah menjadi senyuman jahil. "Pria sampah seperti itu memang harus diberi pelajaran!""Begini saja, nanti kalau dia datang, kita tanamkan serangga sejiwa. Setelah itu, dia bakal jadi nurut banget sama kamu.""Atau nggak, kita beri serangga pelahap hati. Setiap hari siksa dia selama dua jam, biar dia rasakan gimana rasanya saat hati dimakan ribuan semut!""Kalau masih belum puas, aku bantu lempar dia ke Lembah Sepuluh Ribu Naga, biar dia ketakutan setengah mati!""Kamu ini 'kan sudah mendapat berkah dari dewa, semua yang kubilang tadi bisa kamu lakukan dengan mudah. Kamu nggak mau coba?"Isyana menatap Nirmala sambil tertawa getir. Hari itu di rumah Keluarga Kardinegara, saat melihat Arlo melangkah maju, Isyana baru sadar betapa bodohnya dirinya di masa lalu. Perasaannya campur aduk, bahkan muncul keinginan untuk menghindar.Dia pergi ke Yubras dengan alasan berwisata, padahal sebenarnya seperti mengasingkan diri dalam keputusasaan.Belak
Tak disangka, sosok ganas itu datang dan langsung menginjaknya sampai mati!Saat para perampok kejam itu masih bengong, Arlo sedang mengamati sekeliling.Di mana-mana ada bercak darah. Di sudut dinding tergeletak lebih dari sepuluh mayat, sedangkan di tembok terdapat banyak lubang peluru. Terlihat j
"Uang Keluarga Sriwandi, kekuasaan Keluarga Artika. Cukup dengan salah satu saja, seseorang sudah bisa berjalan seenaknya di Provinsi Hareast, apalagi kalau dua keluarga itu bersatu? Kamu kira bisnis barang antik ini murni cuma dikuasai Keluarga Sriwandi? Di dalamnya ada saham Keluarga Artika!""Kit
Di samping, Zaem langsung ikut berteriak lantang, "Melihat token raja bela diri sama dengan raja bela diri datang langsung! Masih nggak berlutut memberi hormat kepada pemegang token?"Sekelompok orang Komite Bela Diri Provinsi Orlanis pun berdiri kacau diterpa angin. Mereka sejak pagi menempuh perja
Omran mengepalkan tinjunya, menatap ring dengan mata tak berkedip.Wajah Faris memerah, seluruh tubuhnya tampak gelisah. Kalau Omran hancur, dia juga pasti ikut celaka!Sheila terlihat relatif tenang. Namun jika diperhatikan saksama, di balik sorot matanya tersimpan kegelisahan. "Entah kali ini dia







