Share

Bab 337

Author: Jayden Carter
Cesar tampak seperti disambar petir, sementara sekelompok orang Komite Bela Diri juga ikut terperangah.

Bukannya Margo adalah Raja Tinju yang temperamental? Kenapa malah terlihat ketakutan? Mana aura ahli yang katanya hebat? Mana wibawanya?

Arlo yang merasa heran pun menatap Margo. "Kamu kenal aku?"

Margo tersenyum manis. "Waktu keluar dari rumah Keluarga Kardinegara, aku yang mengantarmu pakai mobil."

Cesar tampak murung. "Kak Margo, maksudmu apa?"

Margo cepat-cepat menegaskan, takut Arlo salah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
sri indrayati
cincin ini yg jadi incaran keluarga sriwandi kah?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 844

    Saat Isyana masih berbicara, Nirmala sudah melayang pergi.Dia berdiri terpaku di depan pintu, tatapannya kosong. Di matanya terlintas secercah harapan yang bahkan dia sendiri tak bisa menjelaskannya. Benarkah Arlo akan datang? Jika mereka bertemu lagi, apa kalimat pertama yang harus dia ucapkan?....Sebelum meninggalkan Kota Naldern, Arlo sengaja menemui Victor dan berjanji akan lebih dulu pergi ke Kota Maia untuk menemui Isyana.Bagas juga secara khusus menelepon Arlo, memberi tahu tentang sikap aneh Dewa Militer. Arlo tahu, dengan adanya tenggat tiga bulan dari Dewa Militer, tidak ada pihak yang berani secara terang-terangan menyentuh orang-orang di sekitarnya.Karena tidak ada yang berani memprovokasi seorang "pembunuh" yang sudah dipojokkan ke jalan buntu!Tidak ada yang percaya Arlo bisa mengalahkan Dewa Perang Utara. Menurut mereka, Arlo sudah pasti akan dipenjara selama sepuluh tahun.Namun, Arlo sendiri tidak merasa itu adalah jalan buntu. Toh Dewa Perang Utara belum mencapai

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 843

    Wajah Nirmala yang sempat terkejut itu segera berubah menjadi senyuman jahil. "Pria sampah seperti itu memang harus diberi pelajaran!""Begini saja, nanti kalau dia datang, kita tanamkan serangga sejiwa. Setelah itu, dia bakal jadi nurut banget sama kamu.""Atau nggak, kita beri serangga pelahap hati. Setiap hari siksa dia selama dua jam, biar dia rasakan gimana rasanya saat hati dimakan ribuan semut!""Kalau masih belum puas, aku bantu lempar dia ke Lembah Sepuluh Ribu Naga, biar dia ketakutan setengah mati!""Kamu ini 'kan sudah mendapat berkah dari dewa, semua yang kubilang tadi bisa kamu lakukan dengan mudah. Kamu nggak mau coba?"Isyana menatap Nirmala sambil tertawa getir. Hari itu di rumah Keluarga Kardinegara, saat melihat Arlo melangkah maju, Isyana baru sadar betapa bodohnya dirinya di masa lalu. Perasaannya campur aduk, bahkan muncul keinginan untuk menghindar.Dia pergi ke Yubras dengan alasan berwisata, padahal sebenarnya seperti mengasingkan diri dalam keputusasaan.Belak

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 842

    Arlo mengembuskan kembali seberkas energi murni, meniup balik asap racun itu. Kemudian, dengan energi di tangannya, dia kembali mengincar pusat energi Nirmala.Bayangan hitam memelesat dari rambut Nirmala. Dua serangga terbang seperti dikendalikan, langsung menuju kedua mata Arlo, bahkan sepenuhnya mengabaikan pelindung energi di depan tubuhnya.Dalam sekejap, pertarungan hidup dan mati terjadi di antara mereka.Ayah dan anak dari Keluarga Wiyoko sampai terpana melihatnya. Mereka cukup memahami teknik sihir.Biasanya seorang praktisi bisa memelihara satu atau dua jenis serangga saja sudah tergolong hebat, sementara serangga roh hanya bisa satu.Namun, wanita di depan mereka ini langsung mengeluarkan tiga jenis serangga roh. Betapa mengerikannya wanita ini, hanya mereka yang benar-benar paham yang bisa menyadarinya.Keduanya langsung waspada seperti sedang menghadapi musuh besar. Namun, mereka melihat Arlo justru menekan Nirmala di setiap langkah, membuat mereka semakin terkejut!"Sudah

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 841

    Yukta terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku mengerti niat Master Arlo dan sangat mengaguminya. Tapi ada satu hal yang harus kuingatkan.""Kalau melakukan ini, Master akan menyinggung banyak pihak. Bukan hanya pengobatan barat, tetapi juga para pewaris pengobatan tradisional."Fellis tidak mengerti dan bertanya, "Kenapa begitu? Bukankah mereka justru mendapat keuntungan?"Yukta menjelaskan, "Bu Fellis mungkin belum tahu. Beberapa resep ini juga dimiliki oleh pihak lain, bahkan sudah dikembangkan. Tapi Master Arlo memberikan versi yang lebih baik."Sambil berbicara, dia mengambil dua lembar resep dari tumpukan yang diberikan Arlo. "Contohnya pil ini. Di pasaran sudah ada dan diproduksi oleh Sekte Vitalitas.""Resep yang diberikan Master Arlo hampir sama, tapi perbandingan dosisnya berbeda. Dari yang aku tahu tentang Master Arlo, efek obatnya kemungkinan akan lebih baik dari milik Sekte Vitalitas. Nantinya pasti akan terjadi persaingan ...."Fellis pun langsung mengerti. Di pasar obat, mema

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 840

    Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, sosok Dewa Militer sudah tidak terlihat lagi di dalam halaman kecil.Wajah Evaro sempat menunjukkan ketidakpuasan, tetapi dia tidak berani memperlihatkannya lagi. Dengan wajah muram, dia turun gunung bersama yang lain.Setibanya di pertengahan gunung, para tokoh besar itu akhirnya tak bisa menahan diri untuk berdiskusi."Apa maksud Dewa Militer? Bukankah ini sama saja melindungi Arlo selama tiga bulan? Apa orang yang punya bakat bela diri boleh bertindak sesuka hati?""Aneh sekali. Dulu juga ada anak muda berbakat luar biasa dalam bela diri, tapi Dewa Militer tetap menegakkan hukum dengan adil!""Apa istimewanya Arlo ini?""Bagas, apa maksudmu bicara seperti itu di depan Dewa Militer tadi?"Sepanjang waktu, Evaro tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia seolah-olah memiliki sedikit dugaan, lalu berkata dengan datar, "Karena Dewa Militer ingin melindunginya selama tiga bulan, kemungkinan ini berkaitan dengan urusan pengobatan Timur dan Barat yang pe

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 839

    Di luar ibu kota, di Gunung Jiroh.Sejak zaman dahulu, Gunung Jiroh yang bersebelahan dengan ibu kota, terhubung ke Asteria bagian barat dan gerbang luar di timur, juga telah lama dikenal sebagai benteng penting menuju ibu kota.Gunung ini tinggi dan terjal, menjulang menembus awan. Puncak demi puncak bertumpuk, hutan lebat membentang, jarang ada jejak manusia.Namun, di salah satu puncaknya, ada sebidang tanah yang telah dibersihkan, dibangun dua rumah beratap genteng dan sebidang kebun sayur, tampak seperti pekarangan rumah petani yang sangat biasa.Saat ini, di depan gerbang halaman berdiri tujuh atau delapan pria paruh baya. Jika ada anak bangsawan ibu kota di sini, mungkin bola matanya akan langsung copot karena terkejut.Dari tujuh atau delapan orang ini, siapa pun di antara mereka, cukup mengentakkan kaki saja sudah bisa mengguncang suatu daerah.Bahkan Bagas, sebagai pemimpin tertinggi militer di Provinsi Hareast, hanya bisa berdiri di bagian paling belakang."Evaro memohon ber

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 316

    "Kamu lihat Daniel, sopan, berwibawa, masih muda dan kaya. Keluarga Soraya saja menilai dia sebagai mitra kerja yang sangat cocok.""Dia mengundangmu ke jamuan, kamu nggak mau datang. Dia lalu mencari cara supaya kami semua bisa masuk. Barusan dia juga dengan inisiatif sendiri menawarkan membantu ke

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 319

    Daniel tertegun sejenak. Di dalam hatinya juga mulai muncul sedikit amarah. Dengan nada dingin dia berkata, "Aku Daniel dari Keluarga Pramono di ibu kota provinsi. Kamu nggak kenal aku, bukan berarti ayahmu juga nggak tahu."Daiyan langsung tertawa terbahak-bahak."Keluarga Pramono? Yang Keluarga Pr

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 324

    "Aku memang mau begitu. Aku nggak suka melihat Keluarga Hanafi. Alasan itu cukup nggak?""Tentu saja, aku juga bisa memberi kalian satu kesempatan. Sepuluh miliar untuk membeli kebun kalian yang menyedihkan itu. Bagaimana?"Victor sangat marah, suaranya tanpa sadar meninggi. "Jangan keterlaluan. Keb

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 315

    Victor juga merasa orang-orang itu sedang membicarakan Keluarga Pramono, dan tak henti-hentinya menghela napas kagum. Renata memandang Daniel dengan sorot mata khas ibu mertua menilai calon menantu. Semakin dilihat, semakin puas."Daniel, kamu benar-benar hebat. Begitu banyak orang ingin bekerja sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status