LOGIN"Kenapa kamu ada di sini?" Heidi menatap Arlo dengan wajah penuh kejutan.Arlo mengangguk memberi salam, "Aku datang sama teman untuk melihat-lihat Kuil Dewa Sihir!""Melihat Kuil Dewa Sihir? Sepertinya kamu bahkan nggak tahu apa itu Kuil Dewa Sihir, ya?" Paula memutar matanya.Begitu melihat Paula, ekspresi Nirkasa sedikit berubah. Dia tampak ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya memilih diam. Paula seolah teringat sesuatu, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum mengejek, "Jangan-jangan kamu mau masuk ke Kuil Dewa Sihir?""Kalau iya, kenapa?" Arlo menatap Paula dengan senyum tipis.Heidi bertanya dengan penasaran, "Paula, Kuil Dewa Sihir itu apa?"Paula mengangkat kepala dan berkata kepada Nirkasa, "Aku juga mau ajak temanku untuk lihat-lihat!" Jelas sekali dia kenal dengan Nirkasa.Nirkasa ragu sejenak, lalu seperti agak terpaksa mengangguk, "Kamu dan temanmu hanya boleh melihat dari jauh, nggak boleh mendekat!""Aku tahu!" Paula menjulurkan lidah, lalu menarik Heidi berjalan le
Arlo mengangguk. "Aku juga nggak berniat menipu kakakmu!"Dalam hati dia menambahkan, 'Aku nggak tertarik sama wanita yang lebih tua!'"Heh, sebagai sesama pria, jangan kira aku nggak bisa melihat trikmu! Pura-pura tarik ulur seperti itu, kakakku mungkin nggak sadar, tapi kamu nggak bisa menipuku!"Nirkasa sekarang sangat curiga bahwa Arlo datang sebagai pria yang ingin menumpang hidup demi tanaman spiritual! Beberapa tanaman spiritual yang dibutuhkan dalam dunia bela diri memang hanya tumbuh di wilayah Maia.Dulu pernah ada pria dari luar yang berniat mendekati wanita Suku Sihir demi mencuri tanaman spiritual. Sekarang kakaknya menyuruhnya membawa Arlo ke sekitar Lembah Sepuluh Ribu Naga, pasti juga karena dia mengincar tanaman spiritual.Melihat wajah Nirkasa yang penuh keyakinan, Arlo tahu percuma menjelaskan. Dia pun langsung mengganti topik, "Di suku kalian, ada berapa grandmaster tingkat tenaga transformasi?"Mendengar itu, Nirkasa langsung tampak bangga, "Ibuku, kakak senior uta
"Pfftt ...." Nirmala hampir tersedak air liurnya.Pria yang benar-benar pendendam!Tatapan Nirkasa berkilat dingin karena marah, "Oh ya? Kakakku adalah grandmaster tingkat tenaga transformasi. Kamu ini siapa sampai berani bicara seperti itu? Kamu menghina dia atau menghina aliran kami?""Master Arlo? Orang luar seperti kalian memang cuma pintar buat julukan seperti itu. Menurutku kamu juga bukan orang baik!""Ah, kakak? Eh ...." Wajah Arlo langsung menggelap. Sial, dia benar-benar salah paham.Semua gara-gara terlalu lama di kota dan terlalu sering bertemu anak-anak bangsawan bodoh, sampai dia mengira orang sombong ini adalah pengejar atau kekasih Nirmala! Wanita licik itu tadi sengaja diam untuk menyesatkannya!Nirmala tertawa terbahak-bahak. 'Biar saja, siapa suruh sok pintar.'Sudut bibirnya berkedut, dia tertawa sampai meneteskan air mata sambil menunjuk Arlo. "Laki-laki memang nggak pernah dewasa!"Melihat Nirmala sama sekali tidak marah, Nirkasa semakin tidak puas."Nirkasa, kamu
Meskipun bukan niat buruk, setidaknya pasti ada tujuan lain."Jadi kamu dengan antusias memancingku datang ke wilayah Maia memakai umpan tanaman spiritual, murni karena baik hati ingin memberiku tanaman spiritual?" Arlo tersenyum setengah mengejek.Nirmala mengusap dagunya lalu berkata, "Mungkin karena ingin berbisnis denganmu?""Lebih baik sekalian bilang kamu ingin punya anak denganku!" Arlo mendecakkan bibir."Kamu nggak percaya sama aku?""Menurutmu?""Kalau begitu, menurutmu apa tujuanku menipumu datang ke wilayah Maia? Menipumu jadi menantu matrilokal? Atau benar-benar punya anak denganmu?" Nirmala tertawa sambil menggoda.Saat itu, seorang pria berpakaian khas suku Maia berjalan mendekat. Usianya tampak sekitar 20-an, dengan sorot mata penuh kesombongan.Begitu mendekat, dia langsung menilai Arlo dari atas sampai bawah beberapa kali lalu bertanya kepada Nirmala, "Siapa dia?""Arlo. Teman yang kudapat waktu keluar kali ini!" jawab Nirmala sambil tersenyum."Teman?!"Pria itu meng
Desa Guting adalah pedesaan Maia tempat berkumpulnya Suku Meta dan Suku Merda. Mereka menyukai rok putih dan pakaian warna-warni, sulaman yang indah serta perhiasan perak yang memukau.Rumah panggung tempat tinggal, menara bergaya pagoda beratap rapat, serta jembatan beratap dengan banyak bentang, semuanya membuat para pendatang tenggelam dalam pesona khas wilayah Maia.Terlebih lagi dengan ditemani seorang wanita cantik dari suku Maia, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat membuat banyak orang iri.Namun, ekspresi Arlo malah tampak dingin. Tanpa memedulikan suasana, dia bertanya, "Kenapa Isyana bisa terlibat dengan santa Suku Sihir kalian?""Kalau kalian mau memanfaatkan dia untuk sesuatu, jangan salahkan aku kalau aku bertindak kasar!"Arlo cukup memahami Suku Sihir. Dalam Kitab Surgawi Pengobatan Abadi, ada catatan tentang jalan sihir. Catatan tentang teknik sihir juga sangat rinci.Hampir semua orang Maia memercayai ilmu sihir, tetapi Suku Sihir hanya terbatas pada orang Maia
"Aku lagi di wilayahmu dan diadang seseorang bernama Pranata. Mau kamu urus atau nggak? Kalau nggak, aku penggal saja semua kepala mereka!" Setelah berkata begitu, Arlo langsung menutup telepon.Semua orang saling memandang. Orang ini masih saja berpura-pura? Memenggal kepala? Mereka bukan preman kelas teri yang bisa ditakut-takuti dengan kata-kata seperti itu!Namun, sebelum orang-orang selesai berpikir, ponsel Pranata sudah berdering. Pranata mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat layar, tubuhnya langsung kaku. Setelah mengangkat, dia hanya mengangguk-angguk dengan canggung, lalu perlahan menutup telepon."Maaf, Master Arlo. Aku nggak mengenalimu ....""Ayah, kamu ...." Aidan baru hendak protes, tetapi langsung ditampar oleh Pranata."Berlutut dan minta maaf pada Master Arlo!" Pranata lalu melangkah ke depan Gorou dan menamparnya dua kali. "Berlutut! Kalau hari ini Master Arlo nggak memaafkan kalian, aku sendiri yang akan lempar kalian ke Lembah Sepuluh Ribu Naga!"Semua orang terpan
Begitu datang, Arman langsung menyapa Renata dan Victor, "Paman, Bibi, jangan panik! Aku akan bantu kalian!"Victor yang memang mengenal keduanya pun bertanya, "Kalian kenapa bisa datang ke sini?"Lidya merapikan rambutnya sambil menjawab, "Isyana merasa cemas setelah menerima telepon dari Bibi, tap
Arlo sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Sheila di tempat ini.Sheila mengenakan kemeja putih sederhana dan celana pensil. Lekuk tubuhnya yang proporsional membuat penampilannya terlihat lebih tegas dan profesional. Tidak terlihat lagi sisi manjanya, melainkan tampak semakin berwibawa."
Bagi pihak rumah sakit, semuanya harus menunggu hasil laboratorium untuk bisa dipastikan.Lagi pula, Arlo ini pernah sakit jiwa. Kalau sampai tersebar kabar bahwa seorang bekas pasien gangguan jiwa memberi pengobatan di rumah sakit, reputasi rumah sakit bisa hancur.Arlo menyipitkan mata. "Jadi maks
Menghidupkan orang mati? Merebut nyawa dari malaikat maut?Kalau benar ada tabib seperti itu, bukankah orang itu sudah seperti dewa? Bahkan mereka yang menjabat sebagai pejabat tinggi pun pasti akan berusaha keras untuk mendekati dan menyanjung orang seperti itu.Maulana menggeleng sambil tersenyum,







