Share

Hilang Akal

Author: Auphi
last update Last Updated: 2025-11-18 13:00:01

Tamparan itu berhenti. Wang Kun menatap nanar. Sejurus kemudian, terbahak-bahak seolah sudah mendengar hal paling lucu di dunia.

"Suamimu? Kau kira bajingan itu layak bersaing denganku?"

"Kenapa tidak?" Ming Lan mengumpulkan segenap keberanian. Dia akan berbicara sebanyak mungkin untuk mengulur waktu. "Kalau bukan karena keluargamu, kau bukanlah apa-apa."

"Apa katamu?! Kau sedang menghina keluarga Wang-ku?"

"Bukan keluarga Wang, tetapi kau. Pantas saja tuan Wang kesal. Putra sepertimu sungguh tak bisa diharapkan."

Wajah Wang Kun menggelap. Pegangannya di leher Ming Lan makin kuat. Suaranya pelan, nyaris berbisik. "Jadi... karena itu kau berubah pikiran?"

"Apa maksud anda? Berubah pikiran apanya?"

"Jangan munafik! Bukankah kau yang lebih dulu mengirim undangan padaku? Dasar perempuan hina!"

Sadarlah Ming Lan ada sosok di belakang layar yang merencanakan segalanya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Tak Perlu Izinmu

    Mana mungkin Ming Wei tak tahu isi kepala nyonya tua. Orang ini adalah ibu kandungnya. Walau tak senang, dia hanya bisa tersenyum manis. "Secara umur, Lin Yue yang cocok tetapi... saya agak kurang suka dengan sifatnya." Hao Mei langsung mencibir. Memangnya calon menantu sebagus apa yang layak untuk Changming? Memangnya tangga kediaman keluarga Wang lebih tinggi dari pada Chu? "Apakah kakak ipar sudah punya calon yang tepat? Seorang xianzhu (putri daerah), mungkin?" Sindiran Hao Mei membuat wajah Ming Wei merah padam. Dari awal memang tak suka dengan ipar satu ini. Lidahnya tajam, etikanya minim. Tetapi karena masih ada tujuan yang harus dicapai, Ming Wei menelan kekesalannya. "Adik ipar mengejekku? Menantu perempuan tak perlu terlalu hebat. Seperti nona Shu Yi saja sudah cukup." Hao Mei nyaris tersedak air teh yang sedang diminumnya. Setelah bisa menguasai diri, dia mengusap mulut dengan ser

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Berbesan

    Ketika sampai di xiangfu, hal pertama yang dilakukan Ming Lan adalah meminta Xiaoting memeriksa kesehatan Ming Hao. Hal pertama yang dilakukannya adalah melihat denyut nadi. "Apakah anda sering merasa kepanasan atau kedinginan yang ekstrim secara tiba-tiba?" tanyanya memastikan dugaan. "Benar. Awalnya hanya sekali dalam beberapa bulan. Belakangan jadi semakin sering.""Pernah mual tanpa penyebab yang jelas?"Ming Hao berpikir keras. "Sepertinya dua bulan lalu saya pernah mual dan muntah padahal tidak memakan sesuatu yang reaktif."Xiaoting mencatat semua hasil pengamatannya sebelum memberi jawaban pada Ming Lan. "Furen, sepertinya shaoye terkena racun dengan efek lambat. Racun ini akan merusak organ dalam pelan-pelan hingga penderitanya jadi lemah dan kurus."Rasa marah membuat Ming Lan tanpa sadar mencengkeram pegangan kursi hingga kukunya tergores. Betapa kejam orang-orang ini melukai adiknya yang tidak bersalah.

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Pergi ke Kediaman Chu

    "Jangan menangis lagi. Aku mengerti kesulitanmu."Kata-kata putranya bikin nyonya tua naik pitam. "Kesulitan apa? Ketika Rui'er dan Su'er bisa memakai pakaian bagus, kenapa hanya bocah Ming Hao ini yang harus terlihat seperti pengemis."Nyonya Xu tak perlu menjawab. Cukup tertunduk dan memasang wajah menangis. Suaminya akan bertindak untuknya. "Sudahlah ibu, kenapa harus bertengkar di hari yang baik. Perdana menteri juga tak bilang apa-apa.""Benar nenek." Ming Su ikut nimbrung. "Kalau saya nanti berhasil jadi selir pendamping pangeran Rui (cefei), bukankah akan menambah dukungan pada kediaman Hua kita?"Nyonya tua mengamati cucunya yang cantik. Dengan wajah ini, Rui wangfei pun akan minder. Kalau Ming Su berhasil jadi selir pendamping, maka kekuatan perdana menteri tak ada apa-apanya. Tak mungkin kaisar lebih berpihak pada orang asing dibanding putra sendiri. Wajah nyonya tua jadi cerah. Menghabiskan uang lebih banyak untuk pa

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Saling Menyalahkan

    Usia Ming Rui lebih tua dari Ming Hao. Status ini, ditambah kenyataan bahwa ibunya diangkat jadi nyonya kedua, membuatnya tak pernah melewatkan kesempatan untuk merendahkan sang adik. Di depan umum saja begini, apa lagi di belakang pintu tertutup. "Lancang!" Seruan Ming Lan mengagetkan semua orang. "Berani menghina Ming Hao, apakah kau tahu latar belakangnya seperti apa?"Dengan kemarahan yang dingin, Ming Lan menatap semua orang satu persatu. "Dia masih keponakan keluarga Xie, juga ipar kandung perdana menteri. Dengan status ini, masih berani merendahkannya?"Karena hubungan keluarga Xie dan Hua tak akur lagi, semua orang hampir lupa bahwa nyonya pertama adalah putri tunggal keluarga Xie. Selain itu, baik Ming Lan mau pun Ming Hao tak pernah mencoba mendekat. Akibatnya, semua orang berpikir bahwa kedua anak nyonya Xie adalah piatu yang tak punya sandaran. Ming Rui yang sudah terlalu lama merendahkan dua bersaudara, tak pedul

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Hinaan

    Berjalan seraya bercerita dengan adiknya, Ming Lan pun sampai di aula dalam. Seluruh keluarga inti sudah menunggu dengan raut wajah yang tidak bisa dibilang baik. "Hanya karena berstatus Chu furen, berani membuat tetua menunggu?" Sapaan nyonya tua Hua dibalas Ming Lan dengan senyum yang tak mirip senyum. "Bukan hanya Chu furen, Nek. Gelar nyonya kehormatan juga."Wanita tua nyaris muntah darah. "Kalau hanya mau membuatku murka, lebih baik pulang saja.""Apa anda sedang mengusir istri perdana menteri?"Semua orang mendelik. Adipati Hua yang terkenal paling sabar pun jadi emosi. "Lan'er, beraninya bersikap kasar pada nenek. Jangan mentang-mentang menikah ke kediaman Chu, jadi sombong. Apapun yang terjadi, kau putri keluarga Hua."Diam-diam Ming Lan mencibir. Ayahnya berkata bahwa dia putri keluarga Hua tetapi tak pernah peduli akan hidup dan matinya. Hingga saat ini, mereka menyambutnya cuma karena mengharap kunjungan Fei Yang.

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Bersemangat

    Hari kedua imlek, Ming Lan bangun lebih awal. Dia hendak mengunjungi kediaman keluarga Hua. Biasanya berangkat sendiri sambil membawa berbagai hadiah menarik dengan harapan akan mendapat kasih sayang keluarga. Setelah l bangkit dari mimpi yang panjang, harapan ini sirna. Sekarang sadar sepenuhnya, keluarga Hua tak pernah menganggap dirinya atau Ming Hao sebagai kerabat. "Ibu, pagi-pagi begini mau berkemas kemana?" Teguran putrinya menyentak Ming Lan dari kesibukan. "Ibu mau ke rumah nenek luar.""Apakah kami perlu ikut?"Memikirkan respon keluarga yang dingin selama bertahun-tahun karena Fei Yang tak pernah menemaninya pulang, Ming Lan mengambil keputusan. "Tak usah. Cuaca dingin tak baik untuk kesehatan." Matanya yang jeli meneliti sesuatu dalam genggaman Jieyu. "Apa yang kau pegang?"Putrinya menyerahkan selembar brokat Yun yang indah, walau bukan dari kualitas terbaik. "Dari mana kau mendapatkannya?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status