MasukSiapa sangka gadis pendiam nan lembut itu berubah menjadi kejam dan keras. Kejadian memilukan yang menimpa sang ibu meninggalkan luka menganga dalam dada. Hatinya pilu membayangkan ibunya tak berdaya saat peristiwa itu. Tetangga yang sedang mencari kayu bakar di sekitar kebun karet menemukan jasad sang ibu dalam keadaan penuh luka tanpa busana. Kemaluannya penuh darah, matanya melotot lebar keatas, membuat siapa saja yang melihatnya tak sanggup menahan air mata. Ratih hanya bisa menangis sesenggukan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya tinggal bersama sang ibu, dan kini tinggal dirinya sendiri. Dendam menumpuk di dalam dadanya, kasus pemerkosaan yang terjadi seolah kasus biasa. Pihak berwenang tidak melanjutkan penyelidikan dan aparat desa diam-diam saja. "Ibu ..., para keparat itu akan kubuat sekarat." Kobaran api amarah menguasainya, membuatnya bertekad menghabisi para pelaku keji yang sedang berleha-leha.
Lihat lebih banyakSejak kejadian memilukan yang menimpa sang ibu, Ratih menjadi gadis pendiam dan dingin. Cahaya hidupnya meredup, hanya menanggapi segala hal dengan singkat.
Sungguh menyayat hati bila diingat, wanita cantik berlumuran darah tanpa busana tak bernyawa tergeletak begitu saja di kebun karet. Siapapun yang melihatnya akan ikut merasakan deritanya, lecet di seluruh badan, lebam dibeberapa bagian, dan paling pilu bagian kemaluannya robek seperti disayat benda tajam."Bu, Ratih bersumpah ..., para keparat itu akan kubuat sekarat," Lirih Ratih didepan makam sang ibu, tangannya mencengkram erat tanah basah, air matanya luruh tanpa aba.Orang-orang sudah pulang setelah pemakaman diselesaikan, tinggal Ratih yang seolah tak ingin beranjak meninggalkan. Langit mendung seperti ikut merasakan kemalangan, tak lama gerimis turun bagai tangisan.Ratih mendekat ke nisan dan menciumnya dalam, memaksakan senyum untuk sang ibu yang sudah di alam baka."Ratih akan sering berkunjung ke sini, ibu yang tenang di sana ya."Dengan berat hati kakinya melangkah, meninggalkan bunga mawar merah dan jejak. Berjalan dengan naungan awan hitam dan gerimis menuntunnya untuk cepat pulang.Sebelum sampai ke rumah Ratih pergi ke kantor polisi yang menangani kejadian rudapaksa ibunya, tak banyak yang ia dapat disana, para pelaku pandai bermain seolah sudah terbiasa melakukan.Sementara itu, pihak berwenang sedang berusaha keras untuk menyelesaikan kasus ini. Kecurigaan Ratih bertambah besar dengan salah satu barang bukti yang ditemukan. Ada celurit kecil dengan ukiran naga di gagangnya, ia seperti tidak asing dengan ukirannya.Mereka menemukan 7 sidik jari di tempat kejadian, 3 tersangka yang akan ditangkap ternyata masih satu desa membuat kepolisian mudah menangkapnya. Kehadiran 4 tersangka lain yang masih bebas membuat Ratih semakin marah dan bertekad untuk membalas dendam atas kematian ibunya.Dorongan emosional Ratih yang bergejolak menyulutkan api kemarahan di dalam dirinya. Dengan tekad yang bulat, dia bersumpah untuk membawa para pelaku kejahatan tersebut ke hadapan hukum, sehingga keadilan dapat terwujud bagi ibunya.Kalaupun hukum tidak sanggup memberikan keadilan, maka Ratih sendiri yang akan memberikan mereka hukuman. Akan ia buat neraka dunia untuk mereka, hingga kematian menjadi asa bagi mereka.Namun, apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Ratih berhasil memenuhi sumpahnya untuk membalas dendam? Atau apakah masih ada rahasia yang tersembunyi di balik pembunuhan ibunya?Saat ini ketiga gadis tengah bergerak sembunyi-sembunyi didekat tempat dapur sekolah. Mereka mendorong Ratih keluar dari tempat persembunyian saat melihat seorang wanita masuk membawa cangkir kosong. Ratih berdalih ingin meminta gula pasir pun diperbolehkan masuk untuk mengambil."Eh Bu, ini untuk siapa kalau boleh tahu?" tanya Ratih menunjuk nampan berisi secangkir kopi yang sedang ibu itu buat."Oh ini untuk siapa tadi namanya, Pak John. Pokoknya yang sedang berkunjung kesini." "Saya minta kopi sekalian boleh?" pinta Ratih beralibi."Oh iya boleh, itu di toples kaca dekat tempat gula."Ratih manggut-manggut saja, ia ambil toples gula dan mengambil beberapa sendok teh. Sambil melirik lirik ke si ibu tadi ia sok sibuk dengan kegiatannya sendiri.Setelah ibu-ibu itu pergi untuk mencari gelas lainnya di ruangan lain, Ratih bergegas menuangkan beberapa tetes cairan di botol yang ia bawa dan mengaduknya cepat."Lekas lah pulang ke neraka pria tua, Lucifer menunggumu di sana." Ratih bergu
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi, para murid seolah terhipnotis. Diam membisu dan bingung, hanya Ratih yang memperhatikan sekitar dengan penuh curiga.Sesi berdoa sudah selesai, ajaibnya para murid langsung tersadar dan bangun seolah tidak terjadi apa pun. Gina dan Reva juga seperti baru bangun dari tidur, pandangan mereka tampak bingung."Baiklah anak-anak silakan kembali ke kelas masing-masing dan melanjutkan pembelajaran!" Para murid langsung berhamburan keluar dari aula seperti robot menyisakan Ratih yang duduk tenang menunggu hingga sepi. Reva sedari tadi sudah mengeluh dan menggeret lengan Gina untuk keluar."Sabar, tunggu sepi," ucap Gina melepaskan tangan Reva dari lengannya.Reva mendengus lirih, netra gadis itu berkeliaran mencari kiranya kotak Snack yang masih utuh untuk dibawa pulang. Ketemu, di dekat pintu kamar mandi area duduk kelas 11 ada sekitar 5 kotak. Reva berlari ke arah situ yang kemudian di susul oleh Gina."Jangan!" teriak Ratih.Reva la
"Rat, nanti kau sibuk?" tanya Safar di perjalanan kembali ke kelas. Upacara baru saja selesai, para murid dibubarkan untuk mengambil buku dan alat tulis kemudian langsung di suruh ke aula sesuai barisan kelasnya.Gina dan Reva yang berjalan di sampingnya saling berbisik lirih untuk pamit duluan ke kelas yang di angguki Ratih."Ya, setelah mengembalikan motor mu aku akan bekerja."Safar mengulum senyumnya, "bekerja ya? Sampai jam berapa?" lanjutnya bertanya."Entah, ada apa memangnya?" "Hehe, aku hanya ingin meminta tolong untuk mengajariku. Aku tidak mau guru les yang ayah pilihkan, jadi aku mencarinya sendiri."Ratih menaikkan alisnya menatap heran Safar, mereka sudah hampir masuk kelas."Hm, guru les ya?" Safar mengangguk senang."Berapa bayarannya?""Berapapun yang kau minta," jawab Safar.Ratih menyeringai kecil, "haha satu juta setiap pertemuan?" guraunya membuat Safar mendelik."Kau sengaja membuatku bangkrut ya?" Ratih terkekeh geli. "Bercanda. Atur saja, aku bisa hanya hari
"Jika kau sudah masuk maka sulit untuk keluar, ini bukan bisnis biasa."Dean dan Ratih berada di ruangan pria itu, tadi Ratih sudah diberikan gambaran tentang pekerjaan yang akan ia lakoni. Terlihat kejam dan mengerikan, namun tetap Ratih iyakan. Apa yang dirinya dan Arthur tadi lakukan hanyalah contoh kecil."Ya, tentu aku paham mengenai hal itu." Dean tersenyum mendengarnya, ia serahkan sebuah pisau bercorak ular di gagangnya ke Ratih."Kau gesit untuk melawan dari jarak dekat, gunakan ini sebagai senjata." Ratih hanya menatap tanpa minat."Aku mempunyai senjata ku sendiri, simpan saja." Gadis itu menolak, menggeser kembali pisau yang Dean serahkan."Aku tau, simpan ini. Suatu saat akan berguna, ringan namun tajam. Kau bisa melihat kilatan itu bukan."Ratih tatap pisau itu dan mengambilnya, sebelum memasukkannya ke saku ia pasang dulu penutupnya. "Ya terimakasih, ada hal lain lagi?" tanya Ratih membuat Dean menyeringai."Kau harus belajar menggoda untuk mengelabuhi para pria nanti
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan