LOGINIsadora Montreval Héritière unique du plus redouté empire clandestin de France, Isadora Montreval a grandi dans un monde où le silence est loi et l’amour, une arme. Derrière les façades de marbre et les salons dorés, elle a appris à cacher ses émotions, obéir sans faillir et survivre sans jamais fléchir. Éduquée pour gouverner, surveillée pour ne jamais s’échapper, Isadora sait depuis l’enfance que sa vie n’est pas un choix, mais un héritage. Pourtant, sous sa maîtrise apparente brûle un désir secret : disparaître. Partir loin des ombres familiales, voyager sans escorte, créer quelque chose de simple et de vrai — une pâtisserie à son nom, et non celui d’un empire criminel. Un rêve discret, presque interdit. Mais dans le monde de la mafia, les rêves sont des failles. Un mariage arrangé vient refermer la cage autour d’elle, la condamnant à renoncer à toute liberté pour devenir l’épouse parfaite d’un homme qu’elle n’a jamais choisi. ⸻ Luca Moretti Héritier de la mafia italienne, Luca Moretti n’a jamais appris à négocier ses désirs : il prend, impose, écrase. Le pouvoir est sa langue maternelle, la violence son héritage. Là où il passe, le monde s’incline — ou se brise. Quand il rencontre Isadora, bien avant que les alliances soient scellées, il comprend immédiatement : elle n’est pas fragile. Elle est verrouillée. Derrière son calme glacial, il devine la résistance, la volonté contenue, la femme capable de le défier sans un mot. Il la veut. Il peut lui offrir le luxe, la protection, un royaume entier… mais jamais ce qu’elle désire vraiment. Car une seule chose est immuable : Isadora Montreval lui appartient désormais.
View MoreJuned menatap kosong selembar surat PHK di atas meja kayu yang mulai kusam. Bayangan wajah istrinya dan suara Desi yang penuh nyinyir kembali melintas di benaknya.
Denting notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya pada sebuah pesan gambar dari temannya. Matanya membelalak melihat foto Desi yang sedang mendorong troli belanja bersama Andre di sebuah minimarket. Rahang Juned mengeras. Sudah enam bulan istrinya bekerja di Jakarta. Namun, ia tak menyangka kalau foto itu diterima. Foto yang dikirimkan supir di rumah majikan istrinya membuatnya naik pitam. Jari Juned bergetar saat meneruskan foto tersebut ke nomor W******p istrinya untuk meminta penjelasan. Ia menunggu dengan perasaan tidak keruan sampai status pesan tersebut berubah menjadi biru. "Ini maksudnya apa, Des?" tanya Juned melalui pesan singkat. Tak butuh waktu lama, balasan dari Desi muncul dengan nada yang sangat ketus dan seolah tanpa dosa. "Apa sih! Aku diajak belanja doang buat keperluan nyonya!" balas Desi di layar ponsel. Juned memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya karena dikhianati seperti ini. Ia segera membalas pesan itu untuk mengingatkan statusnya sebagai suami yang sah. "Tapi Des, aku ini kan suamimu," balas Juned lagi. “Andre mantan kamu, kan?” Desi tak menjawab. “Sejak kapan Andre di Jakarta?” Desi tidak berhenti menyerang, ia justru mengirimkan balasan yang jauh lebih menyakitkan hati Juned. “Bukan urusan kamu! Aku disini tuh kerja! Gausah pikir aneh-aneh!” "Kamu nggak becus nyari duit! Segala kena PHK! Bikin malu aku aja!" bentak Desi lewat pesan tersebut. “Masih mending aku kerja di Jakarta!” “Mau makan darimana kalau gak ada duitnya!” Juned melempar ponselnya ke kasur dan memilih untuk mengakhiri perdebatan yang hanya menguras emosinya itu. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar bisa berpikir lebih jernih. "Sabar, Juned. Pasti ada jalan lain," batinnya sambil menyalakan keran air. Baru saja selesai berpakaian, ponsel Juned kembali berdering nyaring menampilkan temannya di layar. Teman senasibnya. "Ned, gue ada lowongan jadi supir di Jakarta. Lu kan bisa nyetir, mau nggak?" tanya Wahyu dari seberang telepon. Mendengar tawaran itu, semangat Juned yang sempat padam kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Juned tersenyum girang, pasalnya ia memang butuh uang. Meskipun belum memiliki anak dengan Desi, bukankah ia juga harus membahagiakan istrinya segera? Belum lagi hatinya kian tak tenang istrinya tak pulang-pulang. Bisa sekalian jemput istrinya pulang kan di Jakarta? Benar. Juned mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa seolah baru saja mendapatkan napas baru di tengah himpitan masalah. Ia merasa tawaran kerja ini adalah jawaban tuhan setelah istrinya sendiri mencampakkannya begitu saja. "Akhirnya ada jalan keluar juga," gumam Juned sambil mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas. Juned memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ranselnya dengan gerakan cepat. Tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat untuk istrinya sebelum benar-benar meninggalkan rumah kontrakan mereka. "Aku mau kerja ke Jakarta," tulis Juned singkat di layar ponselnya. “Tunggu aku bawa kamu pulang.” Ia langsung menyampirkan tas ke bahu dan berjalan menuju jalan raya tanpa mempedulikan apakah pesannya akan dibalas atau tidak. Tekadnya sudah bulat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses meski baru saja dihina oleh istrinya sendiri. “Akan aku buktikan, Desi." gumam Juned sambil menaiki bus jurusan kota. Setelah perjalanan memakan waktu seharian, bus akhirnya berhenti di terminal kota yang tampak sangat ramai dan bising. Juned segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor calon majikannya yang diberikan oleh temannya. "Selamat malam, Bu. saya Juned yang ingin bekerja menjadi supir. Apa saya bisa datang malam ini atau tunggu besok pagi saja?" tanya Juned dengan nada bicara yang sangat sopan. Di seberang telepon, suara seorang wanita terdengar memberikan jawaban yang membuat hati Juned merasa sedikit lega. Ternyata calon majikannya tidak keberatan jika ia langsung datang ke lokasi pada malam itu juga. "Datang saja malam ini, saya ada di rumah kok," jawab suara wanita tersebut dari balik telepon. Juned langsung mencari pengemudi ojek yang sedang mangkal di pinggir terminal untuk mengantarnya sesuai alamat. Ia merasa sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai hidup barunya di kota besar ini. "Pak, ke alamat ini ya. Tolong agak cepat sedikit," ucap Juned sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan peta lokasi. Juned berdiri mematung di depan gerbang tinggi yang menjulang, menatap bangunan megah di hadapannya dengan rasa tidak percaya. Ia menekan bel di samping pagar beberapa kali hingga seorang wanita muncul dari balik pintu utama. "Kamu Juned ya? Silahkan masuk," ucap wanita itu seraya membukakan pagar. Juned terpana melihat sosok di depannya yang mengenakan daster tipis mewah dengan lekuk tubuh yang sangat jelas terlihat. Ia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugupnya namun tetap melangkah mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Juned memejamkan matanya, ingat dirimu Juned! Wanita itu berjalan dengan anggun membelakangi Juned, membiarkan aroma parfumnya memenuhi ruangan yang mereka lewati. Ia sesekali menoleh sedikit untuk memastikan supir barunya itu tidak tertinggal jauh di belakang. "Dari kampung jam berapa, Ned?" tanya Wanita itu tanpa menghentikan langkahnya. Juned berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar sambil matanya tetap tertuju pada pinggul Wanita itu yang bergoyang pelan. "Dari jam sembilan, Nyonya," jawab Juned dengan nada bicara yang sopan. "Hmmm.. Jauh juga ya." Jawab Wanita itu sambil menoleh ke arah Juned. Mereka tiba di ruang tamu luas yang diisi dengan perabotan mahal. Wanita itu mempersilahkan Juned untuk duduk di salah satu sofa empuk sementara ia sendiri mengambil posisi tepat di hadapan Juned. "Silakan duduk," ucap Ratna sambil menyilangkan kakinya dengan santai. Juned segera meletakkan tas ranselnya di lantai dan duduk dengan posisi yang sangat kaku di ujung sofa. "Baik, Nyonya. Terima kasih," sahut Juned pelan. "Nama saya Ratna, saya pemilik rumah ini," ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang tenang. Juned mengangguk sambil berusaha menjaga pandangannya agar tetap sopan meski daster tipis itu terus mengalihkan fokusnya. "Tugasmu di sini antar jemput saya dan anak saya, Maudy," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Di rumah ini hanya ada saya dan Maudy, anak saya. Mbak bebersih rumah dan masak cuma di siang hari. Tugasmu disini antar jemput kami dan melayani semua kebutuhan kami," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Jadi, kamu harus memastikan kalau tubuhmu selalu dalam kondisi bugar dan ... kuat."— Luca Moretti —Cinq secondes de silence absolu suffisent pour que je sente tous les regards converger vers moi comme des projecteurs braqués sur un condamné. La tension dans la pièce devient palpable, électrique.Je lève lentement les yeux de mon assiette, ma fourchette suspendue en l’air.— Quoi ?Le mot sort plus agressif que je ne l’aurais voulu.— On va faire comme si de rien n’était ? lance Marco sans détour, brisant le silence avec la subtilité d’un marteau sur du verre.— Quel problème, exactement ?Mon ton est tranchant comme une lame, plus sec que je ne l’avais prévu. Je sens mes épaules se raidir malgré moi.— Je ne sais pas, répond Val, sa voix dégoulinant d’un sarcasme venimeux. Peut-être le fait que tu te maries avec une fille qui n’en a absolument aucune envie ? Une petite broutille, vraiment.Mon sang ne fait qu’un tour. Une chaleur furieuse monte le long de ma nuque.
— Isadora Montreval — — Oh merde ! s’exclame Ophélie, la bouche pleine d’éclair.Ses yeux s’écarquillent tandis que je lui raconte les derniers jours. Elle pose sa pâtisserie et se penche vers moi, suspendue à mes lèvres.— Je sais, c’est dingue. Du coup, je vais peut-être me marier…Elle s’étouffe avec sa bouchée.— J’ai besoin de limonade ! halète-t-elle en se frappant la poitrine.Je lui tends un verre qu’elle vide d’un trait, les larmes aux yeux.— Tu es sûre que ton père acceptera ? demande-t-elle d’une voix étranglée, le regard débordant de compassion.J’acquiesce. Elle grimpe aussitôt sur le lit et me serre fort dans ses bras.— Tout le monde pense que j’en fais des tonnes, que je suis têtue, mais ce n’est pas ça…Ma voix se brise. Ophélie m’embrasse le front.— Je sais, ma chérie.— Je ne peux pas me marier. Pas comme ça. Si je deviens la femme d’un ma
— Luca Moretti —— Tout ce que je dis, c’est que tu pourrais tomber sur bien pire qu’elle. Considère-toi chanceux.Je lève brusquement les yeux vers mon crétin de frère et lui lance violemment mon téléphone à la figure. Il l’esquive avec agilité et me regarde d’un air profondément indigné, comme si j’avais commis un crime de lèse-majesté.— Marco a parfaitement raison, tu sais. Pour une fois dans sa vie pathétique.Je tourne sèchement la tête. Ma sœur aînée Valentina est nonchalamment affalée sur le canapé en cuir de mon bureau personnel, passant une main distraite dans ses longs cheveux sombres avec une élégance étudiée.— Je croyais sincèrement que tu serais de mon côté dans cette affaire. Tu as pourtant dit textuellement que tu préférerais mourir dans d’atroces souffrances plutôt que de te marier un jour.L’incrédulité totale perce dangereusement dans ma voix tendue.— Oh, je le pensais vraiment à l’époque. Du fond du cœur.Val agite négligemment la main.— Je dis simplement que to
— Isadora Montreval —Je me plante devant le miroir en pied et scrute impitoyablement ma tenue sous tous les angles. Premier jour officiel en tant que poney d’exposition de mon père. Quelle promotion. J’ai décidé de jouer la carte de la sécurité avec quelque chose de chic mais professionnel — une robe ajustée noire qui épouse mes courbes sans être vulgaire, des escarpins qui ajoutent juste assez de hauteur pour paraître confiante. Il aura probablement une crise cardiaque en me voyant habillée comme ça, mais franchement ? Tant pis pour lui. C’est lui qui m’a mise dans cette situation abominable.Je pense que ça dit clairement “femme d’affaires sexy qui ne se laisse pas marcher sur les pieds, alors ne m’embête pas”.J’ignore résolument la petite voix narquoise dans ma tête et lisse ma robe une dernière fois, vérifiant chaque pli, chaque détail. Je me penche pour embrasser Duchess sur le sommet de sa tête soyeuse.— Souhaite-moi bonne chance, ma belle. J’en aurai besoin.Elle ronronne co






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.