Home / Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 4 – Kisah Dari Mulut Petualang

Share

Bab 4 – Kisah Dari Mulut Petualang

Author: Chouw
last update Last Updated: 2026-01-18 22:42:41

❄️❄️❄️

Langit sore di Hutan Kesunyian mendadak bergemuruh. Petir menyambar, bukan ke tanah, melainkan melintas seperti ular cahaya di antara pepohonan raksasa. Ayundria yang tengah menatap keluar jendela menara terperanjat—bukan hanya karena kilat itu, tapi karena di dalam nyala biru keperakan, ia melihat sosok berlarian di atas dahan-dahan pohon tinggi, seolah petir itu sendiri menuntunnya.

Sosok itu melompat, mendarat dengan ringan di halaman menara, dikelilingi kilatan kecil yang masih menari di udara. Ayundria menahan napas, matanya membesar.

Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah pria itu dengan jelas. Rambutnya perak pucat, mata biru berkilau seperti langit badai. Jubah panjangnya berkibar, dan tongkat kayu dengan inti kristal hitam-biru tergenggam di tangannya.

“Jadi ini menara yang katanya tak bisa ditembus.” Suaranya dalam, sedikit sinis, tapi ada nada kagum di baliknya.

Ayundria mundur setengah langkah. “Siapa kau?”

Pria itu tersenyum samar, menunduk hormat dengan gaya khas seorang pengelana. “Namaku Bill. Hanya seorang petualang yang tersesat di hutan.”

Petir kecil berkilat di ujung jarinya saat ia menjentikkan tangan, lalu menghilang begitu saja. Ayundria tertegun.

Bill menatapnya penuh selidik, lalu bergumam seolah pada dirinya sendiri, “Jadi benar, kau ada di sini.”

Sebelum Ayundria sempat bertanya apa maksudnya, suara pintu batu berat dari dalam menara berderak terbuka. Lyla muncul, wajahnya dingin bagai es, tatapan matanya menusuk Bill.

“Bill.” Namanya dilontarkan seperti kutukan.

Ayundria tersentak, ini pertama kalinya ia mendengar ibunya menyebut nama orang asing dengan nada sedingin itu.

Bill hanya tersenyum tipis, meski sorot matanya tegang. “Sudah lama, Lyla.”

Ayundria menoleh bingung dari satu ke yang lain, merasakan ketegangan pekat di udara. “Kalian… saling mengenal?”

Lyla mendekat, berdiri di antara Ayundria dan Bill. “Masuk, Ayundria. Orang ini bukan tamu yang pantas untukmu.”

Bill terkekeh lirih, tapi matanya tetap menatap Ayundria. “Atau mungkin justru akulah orang yang kau tunggu selama ini.”

Langit kembali bergetar, seolah menyahut kata-katanya.

❄️❄️❄️

Pintu batu berat menutup kencang, seakan menyegel udara di dalam ruangan. Ayundria berdiri canggung di sisi ibunya, matanya terpaku pada sosok pria asing yang kini berdiri di ruang utama. Kilatan petir tipis masih menari di sekitar ujung jubahnya, membuatnya tampak seperti baru saja keluar dari badai.

Bill menepuk-nepuk bahunya, seolah mencoba mengibas sisa listrik yang menempel. “Ah, selalu ada masalah kalau masuk rumah orang lewat petir. Rambut bisa berdiri, baju gosong, bahkan kadang-kadang… sepatu hilang sebelah.” Ia menoleh ke kakinya, lalu mendesah lega. “Syukurlah, kali ini lengkap.”

Ayundria menahan tawa, tapi segera menutup mulutnya begitu menyadari tatapan Lyla yang sedingin es.

Bill melangkah ringan, seolah ruangan itu miliknya. Ia berputar, meneliti rak-rak penuh buku tua, botol ramuan, ukiran kuno di dinding. “Hmm… tidak berubah sama sekali. Masih bau ramuan cacing tanah campur jamur busuk. Nostalgia.”

Lyla mendesis pelan, “Keluar, Bill.”

“Keluar?” Bill terkekeh, mengangkat alisnya. “Baru saja masuk kok langsung diusir? Kau ini tuan rumah yang paling tidak ramah seantero daratan, Lyla. Atau masih marah karena aku pernah—” ia berhenti, lalu melirik Ayundria dengan senyum nakal. “Eh, itu rahasia orang dewasa.”

“Bill!” Suara Lyla meledak dingin, membuat udara di sekitarnya terasa beku.

Ayundria makin bingung. Antara takut, penasaran, dan… geli mendengar cara bicara Bill yang enteng meski jelas sedang diancam.

Bill menoleh ke Ayundria, mengedipkan sebelah mata. “Jangan khawatir. Aku bukan pencuri, bukan perampok, dan jelas bukan tabib yang gagal. Aku hanya petualang yang… suka kebetulan tersesat di tempat menarik.”

Ayundria memberanikan diri bertanya, “Kau… sudah pernah ke sini?”

Bill pura-pura berpikir serius, mengusap dagunya. “Pernah… atau mungkin cuma dengar cerita. Kadang sulit membedakan, setelah—” ia menatap Ayundria lekat-lekat, lalu mengangkat bahu santai, “dua ratus tahun berkelana.”

Ayundria nyaris terbatuk. “Dua… ratus tahun?!”

Lyla langsung menyela, nada tajam. “Dia hanya suka melebih-lebihkan.”

“Melebih-lebihkan? Aku?” Bill tertawa kecil, lalu mengangkat telapak tangannya. Sekejap, kilat biru kecil menyambar dari ujung jarinya ke langit-langit, menimbulkan suara crack! yang menggema. “Kalau usiaku tak sepanjang itu, mana mungkin aku bisa mengendalikan petir sebaik ini? Anak-anak muda paling cuma bisa bikin percikan.”

Ayundria melangkah maju setengah, matanya berbinar antara terpesona dan waspada. “Jadi… kau penyihir?”

Bill menunduk, menatapnya dengan senyum hangat bercampur misteri. “Penyihir, pengembara, pemakan sup jamur andal… sebut saja apa yang kau suka. Tapi yang jelas, aku di sini karena sesuatu. Karena kau.”

Ruangan mendadak hening. Ayundria terdiam, jantungnya berdentum.

Lyla melangkah cepat ke depan, berdiri tegak di antara mereka. “Cukup! Kau tak punya hak bicara dengannya.”

Bill mendesah dramatis, mengangkat tangan seolah menyerah. “Seperti biasa, Lyla yang menentukan siapa boleh bicara, siapa tidak. Padahal… bukankah anak ini berhak tahu, siapa dirinya? Dan kenapa hutan ini disebut Hutan Kesunyian?”

Ayundria menoleh cepat pada ibunya. “Ibu… maksudnya apa? Hutan ini… ada hubungannya denganku?”

Lyla menggertakkan giginya, tatapannya menusuk Bill seperti pisau. “Jangan dengarkan dia, Ayundria.”

Bill terkekeh, kali ini suaranya rendah, tapi tetap dengan nada santai khas pengelana liar. “Ah, Lyla. Selalu pandai menyembunyikan kebenaran. Tapi…” ia menoleh pada Ayundria, matanya bersinar penuh rahasia, “kau akan tahu, cepat atau lambat. Karena hutan ini menyimpan kisah yang jauh lebih besar dari sekadar menara dan pagar tak terlihat.”

Bill menjatuhkan diri ke kursi kayu di ruang tamu menara, duduk seenaknya seakan tempat itu sudah lama jadi rumahnya. Kakinya terangkat ke meja batu, membuat Lyla mendesis kesal, tapi ia tidak peduli.

“Aku akan ceritakan sesuatu, Ayundria,” katanya dengan nada penuh rahasia. Ia mencondongkan badan, lalu menepuk-nepuk meja seolah sedang membuka peta tak terlihat. “Hutan ini… orang-orang menyebutnya Hutan Kesunyian. Dan bukan tanpa alasan.”

Ayundria menelan ludah, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takut pada tatapan ibunya. “Kenapa… dinamakan begitu?”

Bill mengangkat satu alis, lalu tersenyum nakal. “Karena semua yang masuk, keluar tanpa suara. Alias… tidak keluar sama sekali.” Ia membuat gerakan whoosh! dengan tangannya, seolah orang yang masuk hutan disedot hilang.

Ayundria terbelalak, tapi Bill melanjutkan dengan nada jenaka, “Kecuali aku, tentu saja. Tapi itu cerita lain—dan melibatkan naga mabuk, tiga peri pemarah, dan jamur bercahaya yang rasanya mirip keju basi.”

Ayundria tidak bisa menahan tawa kecil, meski seketika menutup mulutnya saat Lyla menatapnya tajam.

Bill melanjutkan, matanya berkilau, suaranya berubah lebih dalam. “Hutan ini bukan sekadar pepohonan. Ia hidup. Pohon-pohon di sini mendengarkan, bayangannya mengintai. Mereka tahu siapa yang masuk. Mereka bisa menutup jalan, bahkan memutar waktu.”

Ia mencondongkan badan, berbisik konspiratif, “Pernah dengar cerita anak-anak yang masuk pagi-pagi, lalu keluar lagi saat matahari terbenam… tapi ternyata sepuluh tahun sudah berlalu di luar?”

Ayundria menahan napas, tubuhnya merinding—tapi Bill malah menyeringai, menepuk tangannya keras-keras. “Syukurlah aku masih tampan meski sudah dua ratus tahun! Bayangkan kalau aku keluar dengan janggut sepanjang ular naga—Ah! Tidak lucu rupanya?”

Ayundria menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menyembunyikan senyum geli.

“Bill!” Lyla akhirnya memotong, suaranya tajam. “Berhenti menakut-nakuti dia.”

“Tentu, tentu,” kata Bill sambil mengangkat tangan pura-pura menyerah, walau senyumnya tak luntur. Ia menoleh lagi pada Ayundria. “Tapi satu hal ini benar Ayundria, hutan ini bukan hanya benteng. Ia penjara. Dan kau—” ia menatapnya penuh arti, “kau adalah kuncinya.”

Ayundria terdiam, dadanya naik-turun. Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam hatinya.

Lyla melangkah cepat, berdiri di depan Ayundria, menatap Bill dengan amarah tertahan. “Cukup. Mulutmu selalu dipenuhi kebohongan.”

Bill bersandar ke kursi, tertawa kecil. “Atau kebenaran yang tidak pernah kau punya keberanian untuk ucapkan?”

Suasana mendadak mencekam. Suasana di ruang tamu menara kian tegang. Api unggun kecil yang biasanya hangat kini terasa seperti bara di bawah kulit.

Ayundria duduk diam, memandangi Bill. Ia bukan hanya sekadar asing baginya—ia seperti badai yang baru saja masuk ke dalam hidupnya. Suaranya, cara ia tertawa, bahkan tatapan matanya… ada sesuatu yang membuat dada Ayundria bergetar.

Bill menegakkan duduknya, menatap Ayundria dengan senyum setengah miring. “Kau tahu, Ayundria, aku sudah keliling dunia. Melihat gunung yang bisa bernyanyi, laut yang dipenuhi cahaya bintang, bahkan naga yang berdebat soal puisi.” Ia terkekeh, mengacak rambut peraknya sendiri. “Tapi… tidak ada yang seaneh gadis yang dikurung sendirian di menara, dikelilingi hutan yang menelan jiwa.”

“Bill,” Lyla berkata tajam, seperti cambuk. “Diam!”

Bill menoleh, mengangkat kedua tangannya seakan menyerah, tapi ekspresinya sama sekali tidak minta maaf. “Oh, baiklah. Kau memang pintar menjaga rahasia. Hanya saja…” ia menoleh lagi pada Ayundria, nada suaranya menurun, lirih tapi penuh daya tarik, “aku penasaran… apakah kau juga ingin tahu apa yang kau sembunyikan dari dirimu sendiri?”

Ayundria menelan ludah. “Apa… maksudmu?”

Bill tersenyum nakal, lalu dengan gerakan iseng menjentikkan jarinya. Dari ujungnya, kilatan petir biru kecil muncul membentuk bunga mini yang bercahaya sebelum menghilang. “Kau pikir aku satu-satunya yang bisa melakukan hal ini?”

Ayundria terperanjat. Jantungnya berdentum.

Lyla melangkah cepat ke depan, berdiri di antara mereka. “Cukup, Bill! Jangan—”

“Tapi dia harus tahu,” sela Bill, nada suaranya mendadak serius. “Kau tidak bisa menyembunyikannya selamanya, Lyla. Kau tahu siapa dia sebenarnya.”

Ayundria memandang keduanya, hatinya diliputi kebingungan. “Ibu… apa maksudnya?”

Lyla membeku, wajahnya keras. “Dia hanya ingin mengacaukanmu, Ayundria. Jangan dengarkan.”

Bill tertawa kecil, memiringkan kepala. “Oh, manis sekali. Rahasia selalu terasa lebih berbahaya kalau dijaga terlalu rapat, bukan?” Ia lalu bersandar santai, menatap Ayundria dengan mata biru yang berkilau. “Cepat atau lambat, kau akan tahu. Entah dari mulutku… atau dari dunia yang menunggu di luar sana.”

Ayundria menggigit bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ragu. Lyla menatapnya, dan dalam sekilas pandangan itu Ayundria menangkap sesuatu—bukan hanya amarah, tapi juga ketakutan. Dan itu membuat rasa penasaran di dalam dirinya menyala semakin besar.

“Cukup sudah.” Suara Lyla bergema di ruangan, dingin dan mutlak. Tangannya terangkat, dan udara di sekitar bergetar seolah ada kekuatan tak kasatmata yang siap mendorong Bill pergi.

Bill hanya terkekeh, sama sekali tak gentar. “Ah, Lyla. Kau memang tak pernah berubah—selalu ingin mengendalikan segalanya.”

“Keluar.” Tatapan Lyla seperti pisau.

Bill berdiri, mengibaskan jubahnya dengan gaya dramatis, lalu berbalik seolah ingin pergi begitu saja. Namun sebelum melangkah, ia menoleh lagi pada Ayundria. Senyum liarnya muncul—nakal, penuh rahasia.

“Ayundria,” katanya pelan, tapi jelas. “Kalau kau ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya…” ia menjentikkan jarinya, membuat kilatan biru kecil menyambar udara dan meninggalkan aroma ozon. “…carilah langit di luar hutan ini. Di sanalah jawabannya menunggu.”

Ayundria terdiam, napasnya tercekat.

Bill menunduk singkat, lalu melangkah ke luar. Dan seketika, petir menyambar dari langit. Tubuhnya dikelilingi cahaya biru yang menyilaukan, dan dalam sekejap Splashh! ia lenyap, hanya meninggalkan bekas gosong di lantai dan bau hujan yang aneh.

Keheningan menyelimuti menara. Ayundria menoleh pada Lyla, mencari jawaban. Tapi Lyla hanya berdiri kaku, rahangnya mengeras, matanya menolak bertemu dengan tatapannya.

“Ibu…” suara Ayundria bergetar. “Apa maksudnya? Siapa aku sebenarnya? Dan siapa Bill?”

Lyla akhirnya menoleh. Ekspresinya dingin, namun Ayundria bisa melihat—ada ketakutan di balik mata itu.

“Dia bukan siapa-siapa,” jawab Lyla singkat, nyaris seperti bisikan. “Dan semakin cepat kau melupakan kata-katanya… semakin aman kau akan tetap hidup.”

Ayundria mematung. Kata-kata itu jauh dari menenangkan—justru menyalakan ribuan pertanyaan dalam dirinya.

Malam itu, meski berbaring di ranjangnya, Ayundria tidak bisa tidur. Kata-kata Bill terus berputar di kepalanya.

“Carilah langit di luar hutan ini.”

Hati Ayundria berdebar, penuh rasa takut bercampur harapan. Untuk pertama kalinya, menara yang dulu terasa aman kini lebih mirip penjara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Whispers of the Lost Princess    BAB 13 – Tarian di Atas Awan

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria berat tapi matanya terus menyala penuh rasa ingin tahu. Hutan di luar Kesunyian seperti dunia lain yang tak pernah ia bayangkan. Pohon-pohon menjulang setinggi menara dengan batang transparan, mengalirkan cahaya biru dari dalamnya, seperti urat nadi raksasa. Ratusan kunang-kunang sebesar kepalan tangan berputar dalam spiral di udara, membentuk pola yang berubah-ubah—kadang bunga, kadang naga, kadang wajah-wajah asing yang menatap Ayundria. Ia terkesiap, mundur setengah langkah. “Tenang saja,” kata Bill dengan nada sok tahu. “Itu cuma Spirit Glowflies. Mereka suka main sulap dengan cahaya. Kadang membentuk wajah mantan kekasihku juga. Sangat mengganggu.” Ayundria menatapnya tak percaya. “Kau punya mantan kekasih?” Bill menyeringai, petir kecil berloncatan di antara jarinya. “Sepuluh ribu tahun umurku, kau kira aku biara biksu? Tentu saja aku punya. Tapi mereka selalu berakhir membenciku, entah karena aku terlalu tampan, atau terlalu pintar, atau terlal

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 12 – Pertunjukan di Alam Liar

    ❄️❄️❄️ Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. “Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar. Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia. “Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!” Ayundria berkedip. “Apa?” Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan ra

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 11 – Dunia yang Membentang

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra. “Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.” Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.” Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.” Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.” Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 10 – Gerbang Dunia Luar

    ❄️❄️❄️ Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum. Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan. Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali…” Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.” “Hidan

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 9 – Keputusan di Balik Api

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian kembali hening. Bau tanah basah bercampur dengan asap tipis masih menggantung di udara. Bekas luka pertempuran jelas terlihat—batang-batang pohon hangus, tanah retak akibat sambaran petir, dan bongkahan es yang masih berdiri kaku memantulkan cahaya bulan pucat. Ayundria berdiri terengah-engah di tengah semua itu. Rambutnya berantakan, tangannya masih bergetar karena adrenalin yang belum surut. Ia menatap jejak kakinya sendiri di atas es yang retak, hampir tidak percaya bahwa dialah yang menciptakannya. Bill tergeletak di atas bongkahan batu, tangannya bersilang di belakang kepala, wajahnya penuh luka lebam tapi senyum liarnya tetap terpasang. “Hah! lama sekali aku tidak menari seindah ini,” gumamnya, suaranya ringan seolah pertarungan tadi hanya permainan. “Ayundria, kau punya bakat besar. Jangan bilang kau belum pernah latihan? Karena kalau iya, aku resmi iri.” Ayundria menoleh, ingin menjawab, tapi pandangannya terhenti pada sosok lain. Lyla. Ibunya berd

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 8 – Raja Bayangan

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian bergetar seolah bernapas. Akar-akar raksasa terangkat dari tanah, pepohonan berderak, dan dari kegelapan, sosok itu muncul sepenuhnya—Raja Bayangan. Tubuhnya menjulang, hitam legam, wajahnya samar seperti kabut pekat, namun sepasang mata merah menyala menatap Ayundria dan Bill. Nafasnya saja membuat udara bergetar, seolah dunia sedang dipaksa tunduk. Ayundria menelan ludah. “Kita… kita bisa mengalahkan itu?” Bill malah menyeringai, jubahnya masih berkilat tersambar sisa petir. “Oh, tentu saja. Kalau tidak bisa, kita mati keren, kan?” Ayundria melotot. “Kau gila!” “Gila itu relatif!” Bill menepuk pundaknya cepat, lalu menoleh ke Raja Bayangan. “Ayo, kita buat si raksasa murung ini menari!” Raja Bayangan meraung, suara yang membuat langit seolah retak. Bayangan pekat menjulur dari tubuhnya, membentuk tentakel hitam yang menyapu tanah. Bill berlari lebih dulu—tidak, menyambar. Kakinya menghantam tanah, tubuhnya berubah jadi kilatan biru yang melesat di antar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status