/ Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 5 – Rindu pada Dunia Luar

공유

Bab 5 – Rindu pada Dunia Luar

작가: Chouw
last update 최신 업데이트: 2026-01-19 06:40:23

❄️❄️❄️

Sejak malam itu, kata-kata Bill bergaung di kepala Ayundria.

Carilah langit di luar hutan ini.

Ia duduk di ambang jendela menara, menatap langit pagi yang ditutupi kabut tebal Hutan Kesunyian. Suara burung-burung asing terdengar samar, tapi langit di atas sana selalu sama—biru pucat yang tak pernah berubah.

Ayundria menghela napas. Jari-jarinya menyentuh kaca jendela, seolah mencoba meraih sesuatu yang lebih jauh. “Dunia luar…” bisiknya. “Apakah benar-benar ada sesuatu di balik hutan ini?”

Hari-hari berlalu, tapi rasa penasaran itu tak pernah padam. Justru semakin kuat. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan: arah angin yang membawa aroma asing, suara samar seperti nyanyian di kejauhan, bahkan bayangan cahaya merah senja yang kadang menembus celah pepohonan.

“Kalau semua orang yang masuk ke hutan ini tak pernah kembali…” gumamnya pelan, “bagaimana bisa Bill sampai di sini?”

Pertanyaan itu menusuk batinnya, mengusik setiap kali ia mencoba melupakan.

Lyla, yang biasanya peka terhadap perubahan anak itu, kini makin sering menatapnya lama-lama, seolah ingin membaca pikirannya. “Ayundria,” katanya suatu sore, “kau terlihat gelisah. Apa yang ada di pikiranmu?”

Ayundria menelan ludah. “Tidak… tidak ada, Bu.”

Tapi senyumnya yang dipaksakan tak mampu menyembunyikan sorot matanya yang penuh rasa ingin tahu.

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai tumbuh. Bukan hanya rasa penasaran—tapi kerinduan yang ia sendiri tak bisa jelaskan.

Kerinduan pada dunia yang bahkan belum pernah ia lihat.

Sore itu, Ayundria duduk di ruang utama menara, mencoba membaca buku-buku tua yang selalu diberikan Lyla untuk mengisi harinya. Tapi kalimat-kalimat di halaman tak lagi tertangkap jelas di kepalanya. Setiap huruf seperti menari, membentuk kata lain: langit… dunia luar… Bill.

“Kenapa kau tidak serius membaca?” suara Lyla memecah lamunannya.

Ayundria terlonjak, buru-buru menutup buku itu. “Aku—aku hanya lelah.”

Lyla menatapnya dengan sorot tajam, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan jatuh, hanya suara api di perapian yang terdengar berderak pelan.

“Ayundria,” kata Lyla akhirnya, nada suaranya datar tapi tegas. “Sejak pria itu muncul… kau berubah.”

Ayundria membeku. Jantungnya berdegup kencang.

“Aku hanya… penasaran, Bu,” jawabnya, suara kecil. “Bagaimana dia bisa sampai ke sini, padahal kau bilang tak ada yang bisa keluar-masuk Hutan Kesunyian?”

Lyla tak langsung menjawab. Tangannya terlipat di pangkuan, wajahnya bagai patung yang dingin. Hanya matanya yang bergerak, menatap tajam seakan hendak mengukur isi hati Ayundria.

“Beberapa hal lebih baik tidak kau ketahui,” ucap Lyla akhirnya.

“Tapi—”

“Tidak ada tapi.” Nada Lyla kini tegas, bagai cambuk. “Dunia luar tidak seperti yang kau bayangkan. Itu tempat penuh kebohongan, pengkhianatan, dan bahaya yang tak bisa kau bayangkan. Kau aman di sini, Ayundria. Bersamaku.”

Ayundria menggigit bibirnya, berusaha menahan perasaan yang meletup di dadanya. “Tapi… aku tidak ingin hanya aman. Aku ingin tahu. Aku ingin melihat…” suaranya melemah, “…aku ingin hidup.”

Lyla berdiri mendadak, kursinya berderit keras. Bayangan tubuhnya menjulang, wajahnya muram.

“Cukup!”

Ayundria menunduk, air mata menumpuk di pelupuk matanya. Tapi di dalam hatinya, api kecil telah menyala. Kata-kata Lyla, alih-alih memadamkan rasa ingin tahunya, justru membuatnya semakin berkobar.

❄️❄️❄️

Malam turun cepat di Hutan Kesunyian. Ayundria berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit batu, telinganya masih mendengar gema kata-kata Lyla sore tadi: “Dunia luar penuh kebohongan.”

Tapi pikirannya justru dipenuhi sosok lain. Rambut perak. Mata biru. Senyum setengah sinis, setengah jenaka.

Bill.

Seakan menjawab lamunannya, suara ketukan pelan terdengar di jendela menara. Tok. Tok.

Ayundria terlonjak, menoleh. Dan di balik kaca… sepasang mata biru berkilau menyala dalam gelap.

“A-astaga!” Ayundria menahan jeritan, buru-buru membuka jendela. “Kau gila? Bagaimana kalau Ibu—”

“—menyulapku jadi kodok?” Bill menyeringai, memanjat masuk dengan gerakan ringan. Begitu kakinya menyentuh lantai, petir kecil crack! menyambar dari ujung jubahnya. “Tenang saja, aku lebih tampan daripada seekor kodok.”

Ayundria menatapnya setengah panik, setengah geli. “Kau tidak boleh ada di sini!”

Bill mengedip. “Dan itulah alasan aku harus ada di sini.”

Dia menjentikkan jarinya, dan dari udara kosong muncullah apel merah segar. “Kau pernah makan ini?” tanyanya, menyodorkan buah itu.

“Maksudmu… apel? Tentu saja aku pernah.”

Bill pura-pura terkejut, memegang dadanya. “Oh syukurlah! Kukira Lyla hanya memberimu bubur sayur dan cerita dongeng setiap hari.”

Ayundria terkekeh kecil meski mencoba menahan. “Kau keterlaluan.”

“Bukan keterlaluan, tapi jujur,” Bill menekankan, sambil menggigit apel dengan suara renyah. “Kau tahu, dunia luar jauh lebih luas daripada menara ini. Ada pasar dengan ribuan lampu, gunung es yang bernyanyi saat malam, laut biru yang bisa menelan matahari. Kau tidak ingin melihatnya?”

Ayundria terdiam. Kata-kata Bill menyalakan bayangan dalam pikirannya—dunia luas yang selama ini hanya ada di buku-buku Lyla.

Bill bersandar ke dinding, matanya tajam tapi penuh semangat. “Hutan ini disebut Hutan Kesunyian. Orang bilang, siapa pun yang masuk tak akan pernah kembali. Tapi aku sudah keluar-masuk tiga kali. Jadi jelas, rumor itu bohong.”

“Tiga kali?” Ayundria memicingkan mata curiga. “Kau berbohong.”

Bill terkekeh, mengangkat bahu. “Oke, mungkin dua kali setengah. Yang setengah itu aku hampir mati dikejar naga. Tapi hei—setidaknya aku masih punya wajah tampan ini.”

Ayundria tidak bisa menahan tawa kali ini. Tawanya pecah, jernih, meski buru-buru ia tutup mulut dengan kedua tangannya. “Kau sungguh… gila.”

Bill tersenyum puas, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. Suaranya menurun, lebih serius. “Mungkin. Tapi terkadang kau butuh sedikit kegilaan… untuk bisa benar-benar hidup.”

Ayundria terpaku. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia harapkan.

Suasana hening sesaat. Hanya ada tatapan—mata biru Bill yang berkilau, seolah menyimpan rahasia, dan mata Ayundria yang bergetar antara takut dan rindu akan sesuatu yang belum pernah ia alami.

❄️❄️❄️

Malam semakin pekat. Api unggun kecil yang dibuat Bill di halaman menara berkerlap-kerlip, memantulkan wajah Ayundria yang penuh tawa. Bill baru saja menirukan suara burung hantu dengan cara konyol—sampai Ayundria terpingkal, memeluk perutnya sendiri.

“Aku… aku bahkan tidak tahu burung hantu bisa terdengar seaneh itu!” Ayundria terisak di antara tawanya.

Bill mengangkat alis, berpura-pura tersinggung. “Hei, aku menghabiskan seratus lima puluh tahun hidupku untuk menirukan suara binatang! Itu bakat terpendam, bukan lelucon.”

Ayundria hampir terjatuh dari bangku batu karena tawa, dan Bill—dengan refleks secepat kilat—menahan bahunya. Sejenak, tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang aneh—sebuah kehangatan yang belum pernah Ayundria rasakan sebelumnya.

Namun saat itu juga, suasana berubah.

Dari balik dinding menara, terdengar langkah kaki pelan. Berat. Mantap. Teratur.

Wajah Bill langsung berubah serius. Ia menekan jari ke bibirnya, memberi tanda agar Ayundria diam. Api unggun seketika padam begitu saja, seolah ditelan udara. Gelap menelan halaman.

Ayundria menahan napas, jantungnya berdentum keras di dadanya. Ia tahu betul langkah itu.

Lyla.

Bayangan tinggi Lyla tampak sekilas di jendela atas menara. Sorot matanya menelisik ke arah halaman, seperti bisa menembus kegelapan.

Bill merunduk, berbisik di telinga Ayundria dengan suara setipis desahan angin. “Kalau dia tahu aku di sini, kita berdua habis.”

Ayundria menggenggam rok tidurnya erat-erat, jari-jarinya gemetar. Sementara langkah Lyla makin dekat ke pintu batu.

Suara engsel berderit.

Pintu menara bergerak perlahan.

Bill menyeringai kecil—tegang, tapi liar. Ia menjentikkan jarinya. Sekejap, kilatan petir biru berdenyut di udara lalu lenyap, menyamarkan keberadaan mereka.

Ayundria menahan teriak, tubuhnya kaku.

Pintu menara terbuka sedikit. Cahaya lilin dari dalam menyapu halaman. Dan di ambang pintu, berdiri Lyla—mata hijau zamrudnya menajam, seperti sedang mencari sesuatu.

Ayundria menutup mulutnya rapat-rapat, takut suara napasnya terdengar. Bill masih jongkok di sampingnya, wajahnya separuh diterangi kilatan samar.

Lyla mengerlingkan mata ke halaman gelap itu.

Lalu ia berbisik, lirih tapi menusuk. “Aku tahu kau ada di sini.”

Pintu menara tertutup lagi dengan bunyi berat.

Ayundria hampir roboh karena lega. Bill hanya terkekeh pelan, meski sorot matanya tetap waspada.

“Sepertinya, rahasiamu bukan cuma satu, Ayundria.”

Ayundria masih menempel di dinding menara, tubuhnya bergetar. Bill berdiri pelan, menepuk celana panjangnya, wajahnya penuh guratan liar yang campur antara lega dan… kegembiraan.

“Nyaris ketahuan,” katanya sambil mengedip nakal. “Ketegangan itu membuatku semakin muda, kau tahu?”

Ayundria menatapnya tidak percaya. “Kau hampir membuatku mati ketakutan, Bill!”

Bill terkekeh, tapi kemudian wajahnya mendadak serius. Ia menatap ke arah pintu menara, lalu kembali ke Ayundria. “Kau harus tahu sesuatu… ibumu bukan siapa yang kau kira.”

Ayundria membeku. “Apa maksudmu?”

Bill mendekat, suaranya mengecil, hampir seperti bisikan. “Hutan ini bukan penjara, tapi benteng. Menara ini… bukan rumahmu, melainkan tempat persembunyian.”

Ayundria merasakan bulu kuduknya berdiri. Kata-kata itu menembus hatinya lebih dalam daripada petir yang menghantam langit.

Sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, langit di atas Hutan Kesunyian meledak dengan cahaya hijau pekat. Pohon-pohon raksasa bergetar, daun-daunnya berguguran seperti hujan. Suara seruan panjang terdengar dari kejauhan—nyaring, menusuk, bukan suara manusia.

Bill mendongak, wajahnya menegang. “Tidak mungkin… mereka menemukan jalan masuk?”

Ayundria menelan ludah. “Siapa… siapa maksudmu mereka?”

Bill menoleh padanya, mata birunya berkilat seperti badai yang siap meletus. Ia meraih tangan Ayundria dengan mantap.

“Pegang erat-erat, Ayundria. Malam ini, kau akan tahu mengapa Hutan Kesunyian dijauhi semua orang.”

Kilatan petir kembali melingkari tubuh Bill, menyambar tanah dan udara, sementara cahaya hijau semakin dekat, bagaikan lautan bayangan yang hendak menelan menara.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 61 — Wajah Di Balik Topeng

    Malam turun perlahan, menggantungkan cahaya bulan pucat di atas padang tandus. Api unggun menyala redup, tak lagi memberi rasa hangat, hanya cahaya samar yang mengusir kegelapan. Mereka duduk melingkar. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk menenangkan hati masing-masing setelah hari panjang yang dipenuhi luka. Torren mengasah kapaknya dengan gerakan lambat, suara gesekannya justru terdengar seperti bisikan, menyayat kesunyian. Kaelith menatap ke langit, matanya seperti mencari sesuatu yang tak bisa ia temukan. Seraphine sibuk menuliskan sesuatu di gulungan kecil, tangannya bergetar, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah mantra agar dirinya tidak runtuh. Eldric, berbeda dari mereka, duduk sedikit menjauh, menatap api dengan mata yang seakan tahu lebih banyak daripada yang ia ungkapkan. Dan di sisi lain, Ayundria duduk terdiam. Rambut putihnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah di sana masih terasa dingin dari sentuhan mata purba yang m

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 60 — Gema Takdir yang Ditunda

    Langit Aethoria retak. Suara gemuruh aneh merambat di udara, memantul di menara, membangunkan kota dari tidurnya. Burung-burung sihir yang biasa berputar di menara-menara keemasan jatuh ke tanah, sayap mereka terbakar oleh cahaya merah samar yang entah dari mana datangnya. Di ruang pertemuan tertinggi, Dewan Tetua Aethoria terkumpul tergesa-gesa. Para arkanis agung, jubah mereka berpendar dengan simbol rune yang bergerak liar, seolah dunia sendiri kehilangan keseimbangannya. “Ini bukan hanya retakan di Arkai,” ujar salah satu tetua dengan suara parau. “Ini gema yang menembus lapisan dunia.” “Menembus?” potong yang lain dengan nada marah. “Apa maksudmu, pintu itu sudah mulai terbuka?” Mereka saling pandang. Sunyi. Hanya dengungan kristal yang mengapung di tengah ruangan, menampilkan bayangan mengerikan, sebuah mata raksasa merah yang semalam menatap Arkai, kini tampak samar pula di langit Aethoria. Beberapa anggota dewan terjatuh berlutut, menutup wajah dengan tangan. Yang lain be

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 59 — Melawan Diri Sendiri

    Langit di atas obelisk memucat, aurora yang sebelumnya bergelora kini meredup, seperti tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tanah bergetar halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Kaelith menegakkan tubuhnya, jemari bersiap di atas busurnya. “Ada sesuatu. Kau merasakannya?” bisiknya, menoleh pada Seraphine. Seraphine mengangguk, wajahnya tegang. “Tidak hanya merasakan. Obelisk itu sedang memanggil.” Retakan di sekitar obelisk tiba-tiba menghitam, seperti tinta yang ditumpahkan ke atas batu. Dari celah-celah itu, asap kelam merembes keluar, melingkar-lingkar di udara sebelum menyatu menjadi siluet samar. Perlahan, bentuk itu menegas, menjelma sosok tinggi, kurus, matanya menyala redup, seolah dua bara yang hampir padam namun menatap jauh ke dalam jiwa mereka. Torren menggenggam kapaknya lebih erat, menahan gemetar. “Astaga! Itu bukan makhluk biasa.” Bill melangkah setengah ke depan, meski jelas tubuhnya masih lelah. “Bukan juga makhluk

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 58 — Bayangan Masa Lalu

    Cahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, ribuan wajah yang pernah ia bunuh menatapnya tanpa suara. Tangannya bergetar, berusaha melepaskan kapaknya. Tapi ia tak bisa melepaskan kapak itu, seolah kapak lah yang memegang dirinya. “Apakah aku hanya mesin pembantai?” bisiknya. Tapi tiba-tiba suara lain menjawab dari dalam kepalanya, “Tanpa darah, kau bukan siapa-siapa.” Kaelith berada di perpustakaan tak berujung. Rak-rak buku menjulang ke langit tanpa batas, tapi setiap buku yang ia tarik berubah menjadi abu. Ia berlari, mencari satu kebenaran, tapi semakin ia mencarinya, semakin perpustakaan itu hancur. Tiba-tiba, ia menemukan satu buku utuh, namun di sampulnya hanya tertulis, satu kata yang membuat tubuhnya menegang. ‘Pengkhianat’.

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 57 — Api Unggun dan Jalan Menuju Gerbang

    Malam itu, setelah tubuh mereka dibalut ramuan dan mantra, kamp terasa lebih tenang. Api unggun kecil menyala, berbeda jauh dari api biru yang sempat padam saat malam serangan. Api ini biasa saja, tapi justru terasa lebih hangat dan manusiawi. Ayundria duduk di sisi api unggun, rambut putihnya tergerai acak, cahaya oranye membuatnya tampak lembut, meski bayangan di wajahnya tetap menyimpan lelah. Tangannya menggenggam kain bersih yang sudah basah dengan ramuan penyembuh. Bill duduk di seberang, punggungnya membungkuk, bajunya sudah setengah terbuka. Luka di bahu dan dadanya masih berdenyut, hitam di beberapa bagian bekas ia menyerap uap beracun semalam. Ia menyeringai kecil meski wajahnya pucat. “Kalau kau ragu-ragu begitu, Ayundria, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dengan… yah, paling tidak sedikit humor. Tapi mungkin lukaku malah makin parah.” Ayundria menatapnya tajam, tapi matanya berkaca-kaca. “Kau ini, bahkan saat hampir mati, masih bisa bercanda.” Ia menempelkan kain o

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 56 — Pertempuran dengan Bayangan

    Pecahan kaca runtuh, melahirkan musuh yang paling ditakuti, yaitu diri sendiri. Bayangan itu bukan sekadar tiruan, mereka adalah ketakutan, penyesalan, dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.Kaelith terpaku pada versi dirinya yang lemah, kurus, tubuhnya terikat rantai gelap. Bayangan itu berbisik dengan suara serak, “Kau tak pernah benar-benar bebas. Kau hanya boneka. Selamanya kau akan selalu menjadi boneka.”Seraphine menjerit ketika melihat bayangannya menginjak tubuh teman-temannya, matanya dingin tanpa belas kasih. Bayangan itu tertawa, “Kau selalu berpikir untuk menyelamatkan dunia?” bayangannya mendengus, “Kau bahkan tak bisa menyelamatkan satu orang pun.”Torren menghadapi versi dirinya tanpa senjata, tangan kosong yang terus mundur, penuh rasa takut. Bayangan itu melolong, “Tanpa kapakmu, kau bukan apa-apa! Kau hanyalah anak ketakutan yang bersembunyi di balik baja!”Bill menegakkan tubuhnya, berhadapan dengan bayangan kegelapan yang masih menyeringai. Kali ini, senyum B

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status