Masuk❄️❄️❄️
Sejak malam itu, kata-kata Bill bergaung di kepala Ayundria. Carilah langit di luar hutan ini. Ia duduk di ambang jendela menara, menatap langit pagi yang ditutupi kabut tebal Hutan Kesunyian. Suara burung-burung asing terdengar samar, tapi langit di atas sana selalu sama—biru pucat yang tak pernah berubah. Ayundria menghela napas. Jari-jarinya menyentuh kaca jendela, seolah mencoba meraih sesuatu yang lebih jauh. “Dunia luar…” bisiknya. “Apakah benar-benar ada sesuatu di balik hutan ini?” Hari-hari berlalu, tapi rasa penasaran itu tak pernah padam. Justru semakin kuat. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan: arah angin yang membawa aroma asing, suara samar seperti nyanyian di kejauhan, bahkan bayangan cahaya merah senja yang kadang menembus celah pepohonan. “Kalau semua orang yang masuk ke hutan ini tak pernah kembali…” gumamnya pelan, “bagaimana bisa Bill sampai di sini?” Pertanyaan itu menusuk batinnya, mengusik setiap kali ia mencoba melupakan. Lyla, yang biasanya peka terhadap perubahan anak itu, kini makin sering menatapnya lama-lama, seolah ingin membaca pikirannya. “Ayundria,” katanya suatu sore, “kau terlihat gelisah. Apa yang ada di pikiranmu?” Ayundria menelan ludah. “Tidak… tidak ada, Bu.” Tapi senyumnya yang dipaksakan tak mampu menyembunyikan sorot matanya yang penuh rasa ingin tahu. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai tumbuh. Bukan hanya rasa penasaran—tapi kerinduan yang ia sendiri tak bisa jelaskan. Kerinduan pada dunia yang bahkan belum pernah ia lihat. Sore itu, Ayundria duduk di ruang utama menara, mencoba membaca buku-buku tua yang selalu diberikan Lyla untuk mengisi harinya. Tapi kalimat-kalimat di halaman tak lagi tertangkap jelas di kepalanya. Setiap huruf seperti menari, membentuk kata lain: langit… dunia luar… Bill. “Kenapa kau tidak serius membaca?” suara Lyla memecah lamunannya. Ayundria terlonjak, buru-buru menutup buku itu. “Aku—aku hanya lelah.” Lyla menatapnya dengan sorot tajam, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan jatuh, hanya suara api di perapian yang terdengar berderak pelan. “Ayundria,” kata Lyla akhirnya, nada suaranya datar tapi tegas. “Sejak pria itu muncul… kau berubah.” Ayundria membeku. Jantungnya berdegup kencang. “Aku hanya… penasaran, Bu,” jawabnya, suara kecil. “Bagaimana dia bisa sampai ke sini, padahal kau bilang tak ada yang bisa keluar-masuk Hutan Kesunyian?” Lyla tak langsung menjawab. Tangannya terlipat di pangkuan, wajahnya bagai patung yang dingin. Hanya matanya yang bergerak, menatap tajam seakan hendak mengukur isi hati Ayundria. “Beberapa hal lebih baik tidak kau ketahui,” ucap Lyla akhirnya. “Tapi—” “Tidak ada tapi.” Nada Lyla kini tegas, bagai cambuk. “Dunia luar tidak seperti yang kau bayangkan. Itu tempat penuh kebohongan, pengkhianatan, dan bahaya yang tak bisa kau bayangkan. Kau aman di sini, Ayundria. Bersamaku.” Ayundria menggigit bibirnya, berusaha menahan perasaan yang meletup di dadanya. “Tapi… aku tidak ingin hanya aman. Aku ingin tahu. Aku ingin melihat…” suaranya melemah, “…aku ingin hidup.” Lyla berdiri mendadak, kursinya berderit keras. Bayangan tubuhnya menjulang, wajahnya muram. “Cukup!” Ayundria menunduk, air mata menumpuk di pelupuk matanya. Tapi di dalam hatinya, api kecil telah menyala. Kata-kata Lyla, alih-alih memadamkan rasa ingin tahunya, justru membuatnya semakin berkobar. ❄️❄️❄️ Malam turun cepat di Hutan Kesunyian. Ayundria berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit batu, telinganya masih mendengar gema kata-kata Lyla sore tadi: “Dunia luar penuh kebohongan.” Tapi pikirannya justru dipenuhi sosok lain. Rambut perak. Mata biru. Senyum setengah sinis, setengah jenaka. Bill. Seakan menjawab lamunannya, suara ketukan pelan terdengar di jendela menara. Tok. Tok. Ayundria terlonjak, menoleh. Dan di balik kaca… sepasang mata biru berkilau menyala dalam gelap. “A-astaga!” Ayundria menahan jeritan, buru-buru membuka jendela. “Kau gila? Bagaimana kalau Ibu—” “—menyulapku jadi kodok?” Bill menyeringai, memanjat masuk dengan gerakan ringan. Begitu kakinya menyentuh lantai, petir kecil crack! menyambar dari ujung jubahnya. “Tenang saja, aku lebih tampan daripada seekor kodok.” Ayundria menatapnya setengah panik, setengah geli. “Kau tidak boleh ada di sini!” Bill mengedip. “Dan itulah alasan aku harus ada di sini.” Dia menjentikkan jarinya, dan dari udara kosong muncullah apel merah segar. “Kau pernah makan ini?” tanyanya, menyodorkan buah itu. “Maksudmu… apel? Tentu saja aku pernah.” Bill pura-pura terkejut, memegang dadanya. “Oh syukurlah! Kukira Lyla hanya memberimu bubur sayur dan cerita dongeng setiap hari.” Ayundria terkekeh kecil meski mencoba menahan. “Kau keterlaluan.” “Bukan keterlaluan, tapi jujur,” Bill menekankan, sambil menggigit apel dengan suara renyah. “Kau tahu, dunia luar jauh lebih luas daripada menara ini. Ada pasar dengan ribuan lampu, gunung es yang bernyanyi saat malam, laut biru yang bisa menelan matahari. Kau tidak ingin melihatnya?” Ayundria terdiam. Kata-kata Bill menyalakan bayangan dalam pikirannya—dunia luas yang selama ini hanya ada di buku-buku Lyla. Bill bersandar ke dinding, matanya tajam tapi penuh semangat. “Hutan ini disebut Hutan Kesunyian. Orang bilang, siapa pun yang masuk tak akan pernah kembali. Tapi aku sudah keluar-masuk tiga kali. Jadi jelas, rumor itu bohong.” “Tiga kali?” Ayundria memicingkan mata curiga. “Kau berbohong.” Bill terkekeh, mengangkat bahu. “Oke, mungkin dua kali setengah. Yang setengah itu aku hampir mati dikejar naga. Tapi hei—setidaknya aku masih punya wajah tampan ini.” Ayundria tidak bisa menahan tawa kali ini. Tawanya pecah, jernih, meski buru-buru ia tutup mulut dengan kedua tangannya. “Kau sungguh… gila.” Bill tersenyum puas, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. Suaranya menurun, lebih serius. “Mungkin. Tapi terkadang kau butuh sedikit kegilaan… untuk bisa benar-benar hidup.” Ayundria terpaku. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia harapkan. Suasana hening sesaat. Hanya ada tatapan—mata biru Bill yang berkilau, seolah menyimpan rahasia, dan mata Ayundria yang bergetar antara takut dan rindu akan sesuatu yang belum pernah ia alami. ❄️❄️❄️ Malam semakin pekat. Api unggun kecil yang dibuat Bill di halaman menara berkerlap-kerlip, memantulkan wajah Ayundria yang penuh tawa. Bill baru saja menirukan suara burung hantu dengan cara konyol—sampai Ayundria terpingkal, memeluk perutnya sendiri. “Aku… aku bahkan tidak tahu burung hantu bisa terdengar seaneh itu!” Ayundria terisak di antara tawanya. Bill mengangkat alis, berpura-pura tersinggung. “Hei, aku menghabiskan seratus lima puluh tahun hidupku untuk menirukan suara binatang! Itu bakat terpendam, bukan lelucon.” Ayundria hampir terjatuh dari bangku batu karena tawa, dan Bill—dengan refleks secepat kilat—menahan bahunya. Sejenak, tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang aneh—sebuah kehangatan yang belum pernah Ayundria rasakan sebelumnya. Namun saat itu juga, suasana berubah. Dari balik dinding menara, terdengar langkah kaki pelan. Berat. Mantap. Teratur. Wajah Bill langsung berubah serius. Ia menekan jari ke bibirnya, memberi tanda agar Ayundria diam. Api unggun seketika padam begitu saja, seolah ditelan udara. Gelap menelan halaman. Ayundria menahan napas, jantungnya berdentum keras di dadanya. Ia tahu betul langkah itu. Lyla. Bayangan tinggi Lyla tampak sekilas di jendela atas menara. Sorot matanya menelisik ke arah halaman, seperti bisa menembus kegelapan. Bill merunduk, berbisik di telinga Ayundria dengan suara setipis desahan angin. “Kalau dia tahu aku di sini, kita berdua habis.” Ayundria menggenggam rok tidurnya erat-erat, jari-jarinya gemetar. Sementara langkah Lyla makin dekat ke pintu batu. Suara engsel berderit. Pintu menara bergerak perlahan. Bill menyeringai kecil—tegang, tapi liar. Ia menjentikkan jarinya. Sekejap, kilatan petir biru berdenyut di udara lalu lenyap, menyamarkan keberadaan mereka. Ayundria menahan teriak, tubuhnya kaku. Pintu menara terbuka sedikit. Cahaya lilin dari dalam menyapu halaman. Dan di ambang pintu, berdiri Lyla—mata hijau zamrudnya menajam, seperti sedang mencari sesuatu. Ayundria menutup mulutnya rapat-rapat, takut suara napasnya terdengar. Bill masih jongkok di sampingnya, wajahnya separuh diterangi kilatan samar. Lyla mengerlingkan mata ke halaman gelap itu. Lalu ia berbisik, lirih tapi menusuk. “Aku tahu kau ada di sini.” Pintu menara tertutup lagi dengan bunyi berat. Ayundria hampir roboh karena lega. Bill hanya terkekeh pelan, meski sorot matanya tetap waspada. “Sepertinya, rahasiamu bukan cuma satu, Ayundria.” Ayundria masih menempel di dinding menara, tubuhnya bergetar. Bill berdiri pelan, menepuk celana panjangnya, wajahnya penuh guratan liar yang campur antara lega dan… kegembiraan. “Nyaris ketahuan,” katanya sambil mengedip nakal. “Ketegangan itu membuatku semakin muda, kau tahu?” Ayundria menatapnya tidak percaya. “Kau hampir membuatku mati ketakutan, Bill!” Bill terkekeh, tapi kemudian wajahnya mendadak serius. Ia menatap ke arah pintu menara, lalu kembali ke Ayundria. “Kau harus tahu sesuatu… ibumu bukan siapa yang kau kira.” Ayundria membeku. “Apa maksudmu?” Bill mendekat, suaranya mengecil, hampir seperti bisikan. “Hutan ini bukan penjara, tapi benteng. Menara ini… bukan rumahmu, melainkan tempat persembunyian.” Ayundria merasakan bulu kuduknya berdiri. Kata-kata itu menembus hatinya lebih dalam daripada petir yang menghantam langit. Sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, langit di atas Hutan Kesunyian meledak dengan cahaya hijau pekat. Pohon-pohon raksasa bergetar, daun-daunnya berguguran seperti hujan. Suara seruan panjang terdengar dari kejauhan—nyaring, menusuk, bukan suara manusia. Bill mendongak, wajahnya menegang. “Tidak mungkin… mereka menemukan jalan masuk?” Ayundria menelan ludah. “Siapa… siapa maksudmu mereka?” Bill menoleh padanya, mata birunya berkilat seperti badai yang siap meletus. Ia meraih tangan Ayundria dengan mantap. “Pegang erat-erat, Ayundria. Malam ini, kau akan tahu mengapa Hutan Kesunyian dijauhi semua orang.” Kilatan petir kembali melingkari tubuh Bill, menyambar tanah dan udara, sementara cahaya hijau semakin dekat, bagaikan lautan bayangan yang hendak menelan menara.❄️❄️❄️ Langkah Ayundria berat tapi matanya terus menyala penuh rasa ingin tahu. Hutan di luar Kesunyian seperti dunia lain yang tak pernah ia bayangkan. Pohon-pohon menjulang setinggi menara dengan batang transparan, mengalirkan cahaya biru dari dalamnya, seperti urat nadi raksasa. Ratusan kunang-kunang sebesar kepalan tangan berputar dalam spiral di udara, membentuk pola yang berubah-ubah—kadang bunga, kadang naga, kadang wajah-wajah asing yang menatap Ayundria. Ia terkesiap, mundur setengah langkah. “Tenang saja,” kata Bill dengan nada sok tahu. “Itu cuma Spirit Glowflies. Mereka suka main sulap dengan cahaya. Kadang membentuk wajah mantan kekasihku juga. Sangat mengganggu.” Ayundria menatapnya tak percaya. “Kau punya mantan kekasih?” Bill menyeringai, petir kecil berloncatan di antara jarinya. “Sepuluh ribu tahun umurku, kau kira aku biara biksu? Tentu saja aku punya. Tapi mereka selalu berakhir membenciku, entah karena aku terlalu tampan, atau terlalu pintar, atau terlal
❄️❄️❄️ Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. “Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar. Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia. “Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!” Ayundria berkedip. “Apa?” Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan ra
❄️❄️❄️ Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra. “Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.” Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.” Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.” Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.” Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya
❄️❄️❄️ Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum. Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan. Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali…” Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.” “Hidan
❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian kembali hening. Bau tanah basah bercampur dengan asap tipis masih menggantung di udara. Bekas luka pertempuran jelas terlihat—batang-batang pohon hangus, tanah retak akibat sambaran petir, dan bongkahan es yang masih berdiri kaku memantulkan cahaya bulan pucat. Ayundria berdiri terengah-engah di tengah semua itu. Rambutnya berantakan, tangannya masih bergetar karena adrenalin yang belum surut. Ia menatap jejak kakinya sendiri di atas es yang retak, hampir tidak percaya bahwa dialah yang menciptakannya. Bill tergeletak di atas bongkahan batu, tangannya bersilang di belakang kepala, wajahnya penuh luka lebam tapi senyum liarnya tetap terpasang. “Hah! lama sekali aku tidak menari seindah ini,” gumamnya, suaranya ringan seolah pertarungan tadi hanya permainan. “Ayundria, kau punya bakat besar. Jangan bilang kau belum pernah latihan? Karena kalau iya, aku resmi iri.” Ayundria menoleh, ingin menjawab, tapi pandangannya terhenti pada sosok lain. Lyla. Ibunya berd
❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian bergetar seolah bernapas. Akar-akar raksasa terangkat dari tanah, pepohonan berderak, dan dari kegelapan, sosok itu muncul sepenuhnya—Raja Bayangan. Tubuhnya menjulang, hitam legam, wajahnya samar seperti kabut pekat, namun sepasang mata merah menyala menatap Ayundria dan Bill. Nafasnya saja membuat udara bergetar, seolah dunia sedang dipaksa tunduk. Ayundria menelan ludah. “Kita… kita bisa mengalahkan itu?” Bill malah menyeringai, jubahnya masih berkilat tersambar sisa petir. “Oh, tentu saja. Kalau tidak bisa, kita mati keren, kan?” Ayundria melotot. “Kau gila!” “Gila itu relatif!” Bill menepuk pundaknya cepat, lalu menoleh ke Raja Bayangan. “Ayo, kita buat si raksasa murung ini menari!” Raja Bayangan meraung, suara yang membuat langit seolah retak. Bayangan pekat menjulur dari tubuhnya, membentuk tentakel hitam yang menyapu tanah. Bill berlari lebih dulu—tidak, menyambar. Kakinya menghantam tanah, tubuhnya berubah jadi kilatan biru yang melesat di antar







