Beranda / Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 45 – Retakan Aetheris

Share

Bab 45 – Retakan Aetheris

Penulis: Chouw
last update Tanggal publikasi: 2026-02-22 10:37:31

Retakan di langit kota Lamina Solare melebar perlahan, seperti luka yang menganga di tubuh langit. Cahaya yang biasanya menari anggun kini patah, bergemuruh seperti air yang terjun yang jatuh ke jurang tak berujung.

Para tetua berdiri dari singgasana melayang mereka, wajah-wajah penuh wibawa kini berubah menjadi ketakutan. Bisikan asing terdengar lagi, lebih jelas, lebih menusuk.

“Kalian kira kegelapan berakhir hanya dengan runtuhnya seorang ratu? Tidak. Kami adalah napas yang lebih tua dari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Whispers of the Lost Princess    Epilog — Bisikan Putri yang Hilang

    Aethoria kembali bernapas. Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, langit tidak retak, tidak merah, tidak bergemuruh oleh raungan purba. Aurora yang dulu penuh amarah kini menari lembut, biru dan hijau, seolah menyapu luka yang ditinggalkan. Di istana yang runtuh setengahnya, para tetua dewan berdiri dalam kebisuan. Mereka menyaksikan retakan besar yang dulu membelah cakrawala kini tertutup oleh cahaya biru yang lembut. Tidak ada satu pun yang bersuara, karena mereka tahu, harga dari semua ini adalah sesuatu yang tak bisa mereka gantikan. Di desa-desa, orang-orang yang selamat menatap langit dengan air mata. Anak-anak yang dulu gemetar ketakutan kini berani berlari lagi, memegang tangan orang tua mereka. Dunia masih hancur, tapi dunia juga selamat. Di Arkai Bawah, tepat di tengah reruntuhan obelisk, sebuah cahaya kecil berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang tidak pernah mati. Tidak ada tubuh, tidak ada sosok, hanya cahaya. Namun setiap kali angin berhembus melewati rer

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 73 — Penjaga Abadi

    Sunyi. Tidak ada lagi raungan kosmik, tidak ada lagi dentuman retakan, dan yang paling menyedihkan, tidak ada lagi Bill di sisinya. Ayundria berdiri di tengah puing-puing Arkai Bawah, tubuhnya berlumuran darah dan debu, napasnya tersengal. Di sekelilingnya hanya ada reruntuhan obelisk, cahaya yang padam, dan sisa energi Bill yang masih bergetar samar di udara, seperti kilatan petir yang belum mau hilang. Di ujung sana, Seraphine sudah lama hilang. Kini, Bill pun ikut bersamanya. Ayundria memegang dada kirinya, seolah hendak memastikan jantungnya masih berdetak. Ia ingin menangis, tapi air mata sudah kering. Yang tersisa hanya perih yang menusuk hingga ke tulang. “Kenapa selalu mereka? Kenapa bukan aku?” bisiknya serak, hampir tak terdengar. Tapi suaranya langsung terpantul dari kegelapan, seolah dunia sendiri menjawab dengan kejam. “Karena kau kunci, Ayundria.” Ia menggenggam tanah yang hancur, jemarinya berdarah. Dalam diamnya, ia tahu satu hal bahwa semua pengorbanan itu akan

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 72 — Pengorbanan Terakhir

    Hening. Kosmos seakan menguap, hanya meninggalkan ruang kosong yang dipenuhi debu cahaya dan pecahan obelisk yang melayang-layang. Arkai yang dulu megah kini hanya bayangan patah, gunung-gunung runtuh jadi abu, sungai-sungai hilang, dan tanah bergema dengan jeritan jiwa yang tertinggal. Ayundria berdiri terhuyung, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan tangannya gemetar. Sisa es yang masih menempel di ujung jarinya retak perlahan, seakan tubuhnya menyerah untuk terus bertahan. Bill berdiri di sampingnya. Dadanya naik-turun kasar, pakaian compang-camping, darah mengalir deras dari bahunya. Namun matanya tetap menyala, keras kepala seperti baja. “Retakan itu masih ada.” suaranya parau, tapi penuh tekad. Mereka menoleh, dan di hadapan mereka, retakan kosmik masih terbuka. Lebih kecil, tapi berdenyut berbahaya. Seperti luka yang enggan sembuh. Dari celah itu, cahaya dan kegelapan bercampur, berputar, seolah ada sesuatu yang menunggu untuk keluar. Bayangan Archon sempat muncul sekilas,

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 71 — Dua Jiwa yang Tersisa

    Keheningan merayapi gua setelah cahaya emas Seraphine padam. Retakan masih berdentum samar, tapi suaranya seperti jauh, seakan ikut merunduk oleh pengorbanan yang baru terjadi. Ayundria terduduk, bahunya bergetar. Air mata terus jatuh, menodai lantai batu yang dingin. Jemarinya masih terulur, seolah berusaha meraih cahaya yang sudah tidak ada. “Dia… dia seharusnya tidak…” Bill berdiri terpaku. Matanya kosong, wajahnya kaku, hanya sedikit gemetar di rahang. Api yang biasanya selalu menyala di dirinya kini padam. Ia menggenggam pedang patahnya, menekan erat hingga darah menetes dari genggamannya. “Kenapa selalu begitu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Satu per satu, mereka jatuh. Dan aku—aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.” Lalu di udara, sesuatu bergetar, seperti nada harpa yang dimainkan sekali lalu menghilang. Cahaya samar muncul, gema dari jiwa Seraphine yang belum sepenuhnya hilang. Ayundria menegakkan tubuhnya, matanya melebar. “Seraphine?” Senyum samar

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 70 — Rantai Jiwa

    Langit Arkai yang retak pecah serentak, seperti kaca raksasa yang dilemparkan palu dewa. Suara gemuruhnya tidak hanya terdengar, tapi juga terasa di dalam tulang. Cahaya merah menyembur keluar, membanjiri dunia bawah dengan semburat seperti darah yang tumpah. Dari celah itu, muncul sesuatu perlahan, berat, seakan setiap langkahnya menghancurkan fondasi dunia. Penjaga Segel Terakhir. Tubuhnya lebih tinggi dari menara Aethoria, kulitnya terbuat dari lempengan obsidian yang terus berganti bentuk, seperti gunung yang hidup. Di dadanya, sebuah lubang menganga, yang di dalamnya terlihat pusaran bintang mati, inti kosong yang berdenyut dengan cahaya ungu. Di punggungnya, enam tangan bayangan keluar-masuk, seakan realitas tidak mampu memutuskan berapa jumlahnya. Dan wajahnya tidak ada, hanya topeng datar, putih, dengan satu garis retakan di tengah, yang setiap detik bertambah panjang. “KUNCI… PINTU HARUS TERTUTUP.” Gelombang energi memukul gua, membuat batu-batu beterbangan, memaksa Ayu

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 69 — Nyanyian Akhir

    Asap masih menggantung di udara gua purba. Bau darah dan besi menempel di setiap tarikan napas. Reruntuhan batu memanas perlahan, diterangi cahaya samar dari retakan segel yang kini bercahaya merah. Ayundria berlutut, tangannya berlumuran debu dan darah. Ia tidak tahu mana milik dirinya dan mana milik orang lain. Di sebelahnya, Bill terengah-engah, satu tangannya menekan luka besar di bahu, satu lagi menggenggam pedangnya yang bergetar. Tak ada kata. Hanya tatapan kosong Seraphine yang penuh air mata. Torren yang sudah tidak bangun lagi, Kaelith yang tubuhnya perlahan larut dalam bayangan, dan Eldric yang tongkatnya retak di tengah, seolah ikut menyerah bersama pemiliknya. Namun bahkan di tengah kepedihan itu, mereka tahu tak ada waktu untuk meratap. Dunia tidak menunggu untuk sekedar menangisi kematian. Bill memaksa dirinya tertawa kecil, tapi suaranya malah terdengar seperti ratapan. “Yah… aku rasa pesta ini lebih brutal dari yang kuundang.” Tidak ada yang menjawab. Tapi justru

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 59 — Melawan Diri Sendiri

    Langit di atas obelisk memucat, aurora yang sebelumnya bergelora kini meredup, seperti tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tanah bergetar halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Kaelith menegakkan tubuhnya, jemari bersiap di atas busurnya. “Ada sesuat

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 58 — Bayangan Masa Lalu

    Cahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, rib

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 55 — Pintu yang Tidak Pernah Tidur

    Kabut tipis turun menutupi balkon kristal, sisa dari suara lonceng masih bergetar di udara. Tak seorang pun dari mereka bisa segera berbicara, hanya suara napas berat yang terdengar. Ayundria duduk terkulai di lantai, rambut putihnya menutupi wajah. Tangannya gemetar, seolah suara itu masih mengge

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 52 — Arkai, Dunia yang Tersembunyi

    Gerbang batu yang retak-retak itu akhirnya pecah, bukan dengan dentuman, melainkan dengan suara lirih seperti nyanyian seribu jiwa yang lama terkubur. Dari celahnya, cahaya berwarna keemasan melesat keluar, bukan silau, melainkan lembut seperti fajar yang menembus kabut. Angin yang keluar membawa a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status