Share

17 Ternyata ...

Author: Kom Komala
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-06 23:34:14

“Ayu, apa-apaan ini? Kenapa kamu lempar kertas-kertas ke muka aku?”

Beni kesal atas kelakuan istrinya. Baru saja masuk, wajah sudah dilempar oleh kertas-kertas yang menurut Beni itu hanya sampah.

Wajah Ayu terlihat begitu kesal ke arah suaminya. Sorot mata tajam penuh dengan ribuan pertanyaan itu belum juga reda.

Tatapan itu membuat Beni mengerutkan dahinya. Perlahan Beni pun memungut satu persatu apa yang tadi berserakan di wajahnya. Niat marah itu kini berubah jadi risau. Setelah berhasil me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Yang Kalian Hina Miskin   25 Bukti

    (Flashback) Matahari sore menembus jendela kaca besar di ruang tamu rumah baru Hadi. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di atas meja kopi marmer yang masih bersih. Ayu bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana kemarin kedua orang tuanya, Hadi dan Yazmin, melangkah masuk ke kamarnya dengan wajah hancur. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa badai yang memporak-perandakan seluruh dunianya."Ayu, anakku," suara ketukan pintu imajiner dalam kepala Ayu terdengar begitu nyata, berganti dengan bayangan wajah ayahnya, Hadi, yang mengeras menahan amarah yang meledak-ledak. Hadi melemparkan sebuah map cokelat tebal ke atas kasur. "Buka itu. Lihat sendiri apa yang dilakukan laki-laki bajingan yang kamu sebut suami selama ini!"Yazmin langsung memeluknya erat, menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahan hingga membasahi bahu Ayu. "Ibu tidak menyangka, Ayu. Beni yang tampak begitu santun di depan kita, tega melakukan ini di belakangmu. Ibu punya semua buktinya."Ayu memeja

  • Yang Kalian Hina Miskin   24 Tidak takut dicerai?

    “Udah ngomongnya, Mas? Apa sekarang aku udah dapat giliran buat bicara?”Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayu tentu saja Beni dan ibunya sangat kaget bukan main. Sosoknya seperti bukan Ayu yang dulu. Sekarang saat dia bicara terlihat begitu mencekam dan menakutkan. Tapi, Beni tidak akan kalah. Itu pasti akal-akalan istrinya untuk bisa dibujuk dan dirayu.“Apa maksud kamu hah?” tanya Beni kesal.“Atau kamu masih mau bicara lagi?” Ayu menjawab lagi.Wajah Purnamasari sudah memberengut. Sudah pipi panas, kaki tersiram air panas, dia tidak bisa melancarkan niat untuk menampar Ayu habis-habisan. Semuanya malah gagal total.“Lihatlah, Ben? Istrimu itu udah benar-benar gila. Dia pasti keluar dari rumah dipengaruhi oleh orang-orang gak waras. Jadi baliknya kayak begini. Sok berwibawa gitu. Istri cuma numpang, juga!” pekik ibunya Beni yang terus ingin merendahkan menantunya.“Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu tampar Mama? Dan lihat, kakinya juga melepuh! Apa kamu mau aku laporin ke

  • Yang Kalian Hina Miskin   23 Beni Terkejut Dengan Sosok Ayu

    Ayu segera mengakhiri panggilan setelah ancaman dari suaminya terdengar begitu menakutkan. Tentu saja Beni dan ibunya yang berada di tempat berbeda pun tersenyum dengan puas penuh kemenangan. Mereka yakin Ayu akan kembali karena tidak akan tahan hidup di luar tanpa bantuan Beni. Di zaman serba mahal ini Mana mungkin Ayu bisa hidup sendiri. Cari pekerjaan sekarang susah, apalagi ekonomi keluarga Ayu juga sangat pas-pasan. Begitulah terus yang ada di pikiran mereka. “ Mama puas banget tahu dia tadi langsung tutup telepon. Pasti dia takut kalau dicariin sama kamu.” Purnamasari terkekeh. “ Hah, aku juga Memang berpikiran begitu. Mana mungkin perempuan itu berani pergi. Kita lihat saja dia pasti akan pulang merengek-rengek minta maaf. Tapi sekarang aku harus ke kantor, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Kalau dia pulang, mama tangani saja dia. Kita bikin dramanya nanti saat aku pulang kerja.” Beni tersenyum sumringah. Seperti terlihat bukan ada cinta untuk Ayu tapi malah ingin mem

  • Yang Kalian Hina Miskin   22 Kembali, atau bercerai resikonya

    Dering handphone berbunyi dengan begitu nyaring. Terkejut bukan main Beni saat itu. Dia melihat jam kecil di meja sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Waktu yang di mana dan seharusnya dia sudah tak ada lagi di atas kasur. “Hah, udah siang? Mana aku ada tugas kantor, pagi ini!” Bergegas Beni beranjak dari tempat tidurpp. Secepat kilat pergi ke kamar mandi membasuh muka tanpa membasuh badannya. Beni menyadari bahwa matahari sudah mulai meninggi. Beni langsung menuju lemari, mencari pakaian mana yang harus dia pakai hari ini. Di obrak-abrik sampai bajunya jadi berantakan. Karena biasanya Ayu yang menyiapkan segala rupa. Dan ya, Beni baru teringat. Sejak matanya terbuka dan terburu-buru pagi ini, dia belum melihat wajah istrinya. Dan kenapa pula Ayu tidak membangunkannya untuk pergi ke kantor? Apa marahnya semalam menjadikan wanita itu ingin balas dendam? “Dasar istri tidak tahu di untung. Pasti dia sengaja tidak membangunkanku pagi ini. Dan ini baju juga nggak dia siapkan. Ke mana wa

  • Yang Kalian Hina Miskin   21 Baiklah Kalau Begitu ...

    Pintu rumah keluarga Purnamasari terbuka dengan nada emosi. Dari luar muncul Beni dan juga Ayu yang baru saja kembali. Tentu saja hal itu disambut oleh Purnamasari yang sudah kesal sejak kepergian Ayu tadi. Seperti sengaja duduk menunggu kedatangan mereka.“Kamu sekarang sudah berani kurang ajar. Bahkan kamu tidak memberitahu aku dulu kalau kamu mau ketemu sama orang tua kamu itu.”Masuk ke dalam rumah Beni langsung marah-marah. Dia memaki Ayu yang juga pulang bersamanya secara terpaksa. Setelah kejadian di kafe tadi, Ayu dibawa pergi dari kedua orang tuanya. Tak ada basa-basi dari Beni pada mertua. Yang jelas, Beni ingin segera memarahi istrinya.Purnamasari segera berjalan cepat menyambut keduanya. Seperti sudah tersiapkan kata-kata apa yang harus dia semburkan pada menantunya.“Tuh kan mama bilang apa sama kamu! Istri kamu sekarang itu emang udah berani ngelawan. Dia tadi marah-marah sama Mama mau pergi. Bagus sekarang dia udah kamu bawa pulang!” sambar Purnamasari yang terlihat

  • Yang Kalian Hina Miskin   20 Bukan Menantu Baik-baik

    “Ayu!”Tubuh Ayu yang sedang santai menyantap makanan di meja itu seketika tersentak kaget. Suara pria menyebut nama dengan tangan kasar menarik bahu Ayu.“Ngapain kamu malam-malam di sini, hah? Mama bilang kamu keluar rumah tapi gak ngasih tahu mau ke mana. Lalu kamu malah marah-marah sama mama dan nyelonong begitu saja. Ternyata benar?” Pria itu langsung nyerocos tanpa membiarkan Ayu menjelaskan lebih dulu. Tentu saja itu Beni bukan pria lain manapun.“Mas?” Ayu yang terperanjat pun masih kaget dengan sosok suaminya yang sudah ada di tempat yang sama dengannya. Ayu tidak tahu kapan Beni datang menghampirinya ke sana. Terlihat sepertinya Beni datang seorang diri. Menghampiri meja yang sedang dipesan oleh keluarga Ayu, membuat Beni marah-marah. “Kamu keluar rumah tanpa seizin aku? Dan kamu di sini nemuin orang tua kamu?” Beni menatap wajah ayah dan ibunya Ayu.“Beni, apa kabar?” Ayahnya Ayu menyapa dengan hangat dan penuh kesopanan. “Kabar aku baik, Ayah. Ternyata benar kalian se

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status