LOGIN
Hari ini Beni seperti biasa keluar rumah malam-malam. Yang katanya dia nongkrong sama teman-teman kerja di kafe biasa. Sejak Ayu menemukan struk belanjaan yang kemarin itu, membuatnya benar-benar tidak tidur nyenyak. Apalagi setelah tahu bahwa detail dari merek yang dibeli itu bukan untuk anaknya Mayang. Jadi Ayu yakin dia membelikan itu untuk orang lain. Hari ini sengaja meskipun debat dengan ibu mertua, Ayu tetap keluar rumah dengan alasan untuk pergi ke rumah ibunya yang baru. Padahal Ayu sengaja ingin membuntuti ke mana Beni sebenarnya pergi. “Kamu sekarang berani ya mau keluar jam segini?” Ibu mertua Ayu menatap tajam saat bicara.“Maaf, Ayu ada urusan, Ma. Dan semestinya ini nggak ada masalah. Karena aku selama ini nggak pernah keluar rumah jam segini. Jadi, kali ini Ayu minta izin.”Ayu yang sudah berdandan rapi menjawab pertanyaan Ibu mertuanya tanpa beban ataupun rasa bersalah. “Nah itu dia, kenapa kamu sekarang mau keluar rumah? Biasanya juga diam. Atau jangan-jangan kam
“Ayu, apa-apaan ini? Kenapa kamu lempar kertas-kertas ke muka aku?” Beni kesal atas kelakuan istrinya. Baru saja masuk, wajah sudah dilempar oleh kertas-kertas yang menurut Beni itu hanya sampah.Wajah Ayu terlihat begitu kesal ke arah suaminya. Sorot mata tajam penuh dengan ribuan pertanyaan itu belum juga reda.Tatapan itu membuat Beni mengerutkan dahinya. Perlahan Beni pun memungut satu persatu apa yang tadi berserakan di wajahnya. Niat marah itu kini berubah jadi risau. Setelah berhasil mengambil salah satunya, Beni pun melihat bahwa itu adalah sebuah struk belanjaan. Bukan hanya satu, tapi banyak. Dan itu membuat sepasang matanya melebar saking kaget.“Kenapa, Mas? Kaget ya? Mentang-mentang selama ini aku cuma diam aja dan gak pernah periksa apa-apa. Bagus tadi aku cek tas kerja kamu yang sudah sekian lama tak pernah aku sentuh. Karena kamu yang tidak memperbolehkan aku ikut campur.” Sinis Ayu mengucapkannya. Seperti perlahan emosinya mulai menyalakan api.Beni yang memasang waj
“Iya, Ben. Mungkin otaknya juga udah diracuni sama ibunya. Tadi Ayu bilang nggak mau lagi bantu-bantu Mama di rumah ini. Dia katanya lebih baik kerja.” Cungur Purnamasari mengaung memfitnah.“Bener ngomong gitu kamu?” Beni pun melesatkan pandangannya ke arah Ayu dengan tajam. Pertanyaan itu lebih terlihat seperti sebuah ancaman.“Benar, Mas. Tapi tepatnya Bukan gitu.” Ayu pun kini berani bicara.“Lalu gimana?”Purnamasari sudah sinis saja ke arah menantunya. Seakan sudah mempersiapkan kata-kata yang akan terus menyudutkan Ayu. Kalau sampai nanti memang dia dikatakan aneh-aneh.“Kalimat Mama yang bilang aku bantu-bantu Mama di rumah ini itu bohong. Karena aku bukan membantu, tapi aku mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Mama sama Mbak Mayang sama sekali nggak pernah nyentuh pekerjaan apapun. Jadi, Mamah nggak tepat kalau sebut aku bantu-bantu di rumah ini!” Ayu dengan penuh penekanan dan hentakkan mengungkapkannya. Emosi itu seperti mengepulkan asap di kepala.“Heh, ngomong apa ka
“Ibu kamu udah pulang?”Setelah kembali dari kepentingannya, Beni menanyakan mertuanya. Karena setelah melihat-lihat sekitar tidak dilihat ibunya Ayu ada di dalam rumah. “Tadi juga sudah, Mas. Ibu nggak lama.” Ayu menjawab dengan singkat.“Oh, terus gimana? Kedatangan ibu kamu ke sini sebenarnya mau apa? Apa benar dia mau pindah ke kota ini dan dekat sama kita?” Tiba-tiba saja Beni mempertanyakan hal yang tadi dikatakan oleh ibunya. Yang di mana tadi Purnamasari koar-koar bahwa besannya itu diusir dari kampung dan akan pindah ke kota ini.“Emang benar ibu sekeluarga mau pindah ke sini, Mas.”“Terus?” “Terus apanya?”“Apa mau pinjam uang ke kita?” Pertanyaan itu membuat hati Ayu terbakar. Dugaan Ayu benar, darah Purnamasari memang menetes pada putranya. Cara bicara, cara bertanya, dan cara memandang sesuatu itu tidak jauh berbeda.“Maksudnya kayak ibunya Mas Andi yang pinjem uang ke kamu sama ke Mama?” Ayu malah menyindir. Tapi memang itu disengaja. Karena didengar-dengar pertanyaan
“Jaga bicaramu orang miskin yang sok kaya. Lahir dari kampung gak punya pekerjaan dan pengalaman apa-apa. Sok banget kamu bilang kayak barusan? Kamu bilang uang suami kamu gak seberapa?”Purnamasari menantang. Wajah dengan serbuk emosi itu semakin memerah memancarkan dendam. Tak rela putranya dihina, direndahkan, disepelekan.“Maaf, Ma. Ayu di sini berbakti sama Mas Beni. Artinya, berapapun uang yang Mas Beni kasih, harus Ayu cukupkan. Tapi, omongan Mama barusan, benar-benar hanya selalu menyepelekan aku. Seakan aku di sini hanya numpang tidur enak, cuma tumpang kaki dan gak ngapa-ngapain. Sedangkan Mama dan Mbak Mayang pasti sadar. Baju kalian yang nyuci sampai rapi lagi di lemari, apa perlu tukang laundry? Lalu piring dan gelas kotor yang sudah bersih lagi, apa perlu pembantu? Gak kan? Itu semua aku yang kerjain, Ma. Apa pantas aku disebut cuma numpang dan gak kerja? Coba Mama tanya ke tetangga yang punya pembantu. Berapa gaji mereka mengerjakan semua pekerjaan rumah. Coba tanya.”
Makanan yang memang terlihat sangat lezat itu kini sudah beralih lagi ke tangan Ayu. Mulut Mayang dan ibunya pun masih menganga tak percaya. Berani sekali Ayu merebutnya? Padahal selama ini jangankan melawan, balik bicara kasar pun tidak pernah.“Heh, beraninya kamu merebut makanan itu, Ayu? Gak sopan!” pekik Mayang dengan sarkas.“Jalang! Dasar gak tahu sopan santun! Orang miskin!” Purnamasari dengan penuh kekecewaan mengatakannya. Menuduh dan menunjuk batang hidung Atau dengan penuh emosi. Sama sekali tidak melambangkan bahwa dia adalah ibu mertua yang baik.“Lho, kenapa, Ma, Mbak? Bukankah kalian tidak suka dengan makanan ini? Jijik bukan?” Ayu geram. Dia tak rela bekal ibunya disantap tapi juga dihina-hina. Sudah cukup selama ini ditindas. Meski sebenarnya Ayu hanya ingin melihat mereka berubah. Nyatanya? Malah semakin keterlaluan.“Kamu berani bertingkah seperti ini karena ada ibumu kan, Ayu? Benar-benar gak tahu diri. Makanan sampah gitu aja sombong!” hardik ibu mertua. Kelopak







