LOGIN
Shintya membusungkan dadanya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya di depan Ayu. "Heh, Ayu! Kamu jangan berlagak sombong ya! Mas Beni tidak akan membusuk di penjara seperti yang kamu mau! Aku punya banyak kenalan orang penting!"Ayu menaikkan satu alisnya, tampak terhibur. "Oh ya? Coba sebutkan, siapa yang mau menolong seorang penipu investasi bodong dengan kerugian ratusan juta?""Aku punya teman seorang pengacara hebat di kota ini! Aku juga kenal dengan beberapa pejabat yang bisa mengatur masalah ini!" seru Shintya dengan nada menantang, menggenggam ponselnya erat-erat. "Aku akan menghubungi mereka sekarang juga! Mas Beni pasti akan bebas besok pagi, catat kata-kataku!"Mendengar bualan besar itu, Ayu tidak bisa lagi menahan tawa. Suara kekehannya yang renyah menggema di ruangan yang tegang itu, terdengar sangat meremehkan hingga membuat telinga Shintya merah padam."Silakan, Shintya. Hubungi saja semua teman hebatmu itu," ucap Ayu setelah tawanya mereda, menatap Shintya de
Beni merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping. Di dekapannya, tubuh Purnamasari terasa begitu berat dan dingin, sementara dua petugas polisi melangkah makin mendekat dengan tatapan tanpa kompromi.Bagaimana dengan adik bungsunya yang sedang kuliah di luar sana? Bagaimana dengan biayanya? Bagaimana kalau dia tahu ini? Semburan keringat dingin membasahi seluruh punggung Beni, membuatnya gemetar hebat."Pak, tolong mengerti! Ibu saya pingsan! Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" ratap Beni, suaranya melengking panik, mencoba memohon belas kasihan.Pak RT yang berdiri di belakang polisi menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. "Beni, urusan medis ibumu akan diurus oleh ambulans yang sudah saya panggilkan lewat warga di luar. Tapi kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Laporan dari para korban sudah lengkap.""Tapi saya tidak bersalah, Pak RT! Ini pasti salah paham! Seseorang sengaja menjebak saya!" teriak Beni histeris. Dia berusaha berdiri,
Sekelompok orang penagih utang itu satu persatu pergi setelah memberikan ancaman terakhir yang begitu mengerikan. Suara deru mesin motor mereka perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruang tamu. Di tengah ruangan yang kini terasa begitu lapang sekaligus menghimpit, Beni dan juga ibunya yang jahat tercengang dan syok berat. Bahu mereka merosot, seolah seluruh sendi pertahanan tubuh telah diloloskan paksa. Beni menatap lantai marmer dengan pandangan kosong, napasnya memburu pendek-pendek. Otaknya yang biasa dipenuhi kelicikan kini mendadak buntu, tidak mampu memproses rentetan petaka yang datang beruntun. Dia benar-benar tidak menyangka Mayang punya utang besar, bahkan sampai hati menggadaikan sertifikat rumah pusaka mereka. Pun dengan ibunya. Purnamasari masih terduduk di lantai, jemarinya meraba dada yang terasa seperti dihantam godam besar. Mulutnya menganga tanpa suara, hanya air mata yang terus mengalir deras, membasahi keriput di pipinya yang kini sep
Ketukan keras yang menggema di pintu jati itu tidak hanya menggetarkan kayu, tetapi juga meruntuhkan ketenangan di dalam rumah Purnamasari. Di ambang pintu, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam. Bersama mereka juga datang dua pria berpakaian rapi. Memakai jas warna hitam. Wajah mereka sangar, dihiasi guratan tegas dan tatapan mata yang dingin tanpa keramahan sedikit pun.”Cepat katakan di mana si Mayang?” gertak pria yang wajahnya memiliki bekas sayatan luka.Beni langsung memasang badan, mencoba melindungi ibunya. "Kalian siapa? Ada urusan apa datang ke rumah kami dengan cara tidak sopan?"Pria barusan yang tangannya juga bertato itu terkekeh sinis, sementara temannya yang berkepala plontos mengeluarkan selembar kertas dari balik jaketnya. "Kami tidak ada urusan denganmu, Anak Muda. Kami ke sini untuk mencari Mayang. Dia punya urusan besar yang belum selesai dengan bos kami.""Mayang? Anak saya tidak ada di rumah. Dia sedang menginap di rumah ibu mertu
Ayu mencondongkan badannya ke depan, berbisik tepat di depan wajah suaminya yang sudah pucat pasi. "Itu adalah akta kelahiran dan hasil tes DNA. Bukti bahwa kamu sudah memiliki seorang anak yang berusia 5 bulan dari perempuan itu. Selamat, Beni, kebohonganmu selesai hari ini."Sinar matahari sore yang mulai meredup menyelinap masuk melalui celah jendela ruang tamu, menyinari debu-debu yang beterbangan. Suasana di dalam ruangan itu jauh lebih kelabu daripada langit di luar. Di atas meja kayu jati yang mengilap, selembar kertas hasil tes DNA tergeletak tak berdaya, seolah menjadi hakim yang memvonis hancurnya sebuah kepercayaan.Ayu berdiri mematung. Matanya sembap, namun air mata yang sempat menggenang kini tertahan oleh rasa sesak yang luar biasa. Ia baru saja menuntaskan tugasnya sebagai "detektif" untuk membuktikan kecurigaannya selama ini. Hasilnya telak. Beni, pria yang ia cintai dan ia nikahi, memang memiliki seorang anak dari wanita lain."Jadi, ini buktinya? Kamu mau pamer s
(Flashback) Matahari sore menembus jendela kaca besar di ruang tamu rumah baru Hadi. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di atas meja kopi marmer yang masih bersih. Ayu bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana kemarin kedua orang tuanya, Hadi dan Yazmin, melangkah masuk ke kamarnya dengan wajah hancur. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa badai yang memporak-perandakan seluruh dunianya."Ayu, anakku," suara ketukan pintu imajiner dalam kepala Ayu terdengar begitu nyata, berganti dengan bayangan wajah ayahnya, Hadi, yang mengeras menahan amarah yang meledak-ledak. Hadi melemparkan sebuah map cokelat tebal ke atas kasur. "Buka itu. Lihat sendiri apa yang dilakukan laki-laki bajingan yang kamu sebut suami selama ini!"Yazmin langsung memeluknya erat, menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahan hingga membasahi bahu Ayu. "Ibu tidak menyangka, Ayu. Beni yang tampak begitu santun di depan kita, tega melakukan ini di belakangmu. Ibu punya semua buktinya."Ayu memeja







