ログイン
Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan, mungkin telinga Ayu hening.Tangisnya yang tertahan bukan karena takut terdengar. Hanya itu rasanya sangat pedih dan menyesakkan dada. Sehingga suara pun seperti tak ingin keluar dari mulutnya.Andai ada sosok ibunya di sana, dia bisa mencurah limpahkan rasa sakit hati itu. Tapi tidak mungkin kalau harus menelepon, pasti keluarganya di sana akan sangat sedih.“Semoga kamu disayang sama suami dan keluarga suamimu ya, Nak? Kita akan jauh. Jadi, Ibu gak bisa nengok kamu tiap hari. Tapi Ibu yakin, Beni adalah sosok suami yang sangat baik. Seperti ayah kamu. Keluarganya juga pasti baik semua. Meski tinggal satu rumah, kamu pasti akan bahagia.”Setelah menikah dulu dan memutuskan untuk ikut dengan
“Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya. “Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jelek banget. Dan itu overcook! Mau ada vitaminnya gimana, hah?”Deg!Purnamasari membentak Ayu dengan suara yang sangat keras. Dan benar saja itu perihal sop yang dikhawatirkan Ayu tadi. Memang Ayu juga menyadari dan tahu kalau sop itu kematangan. Tapi dia pikir tidak akan jadi masalah seperti ini.“Maaf, Ma. Tadi kan pas Ayu lagi masak Ayu dipanggil sama Mbak Mayang. Ayu sudah kecilin apinya tapi memang tadi di atas itu terlalu lama. Jadi mungkin kematangan.”Ayu menjelaskan dengan hati-hati. Seperti biasa dia menunduk takut dan gelisah. Sebenarnya ingin melawan dan menjelaskan seperti biasa saja tanpa ada ketakutan. Hanya saja sorot mata Purnamasari sudah membanting mental Ayu lebih dulu.“J
“Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik?” Purnamasari terlihat kesal. Wajah yang tak lagi muda itu memperlihatkan kerutan di dahinya.“Ini si Ayu, nih. Susu Gavin habis, aku suruh dia beliin, malah gak mau. Alasan aja.” Enteng sekali Mayang mengucapkannya. Seakan tak ada rasa bersalah bicara pada ibunya tentang Ayu.“Apa? Kok gitu sih, Yu?” Purnamasari mengernyit menatap Ayu.“Bukan itunya, Ma, tapi Mbak Mayang mau pinjam uangnya juga dari Ayu. Ayu mana ada? Mana harus dua kaleng. Katanya sekitar delapan ratus ribuan. Ayu kan gak ada uang, Ma.” Ayu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga. Dia pun tak berani menatap ibu mertuanya yang sudah terlihat menyalahkan.“Alesan aja, Ma. Uang dari Beni ke dia kan pasti besar. Gaji Beni di kantor itu gede. Ngeles aja. Pelit banget! Padahal mana pernah aku minta uang atau pinjam ke si Ayu.” Alih-alih meredam, Mayang malah makin membuat suasana panas.“Bukan gitu, Mbak. Aku ….”Belum juga Ayu menjelaskan lagi, Purnamasari sudah n
“Ayu, Ayu!”Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya.Sejak pagi buta itu seperti biasa Ayu sudah sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Setelah shalat subuh, tangannya tidak berhenti menghadapi setiap pekerjaan di rumah. Kakinya yang ikut lelah pun seringkali terasa pegal. Sesekali membuatnya duduk untuk menenangkan syaraf tubuhnya yang digempur pekerjaan rumah tangga setelah menikah dengan Beni.Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasa lapar dalam perutnya sudah lama melanda. Keringat bercucuran tiada henti meski pagi sekali dia sudah mandi. Bagaimana tidak, rumah besar mertuanya itu sangat membuat dia lelah selama tiga tahun ini.Ayu kadang mengeluh dan menghujat dirinya. Kenapa dia meloloskan takdir menikah dibanding harus menerima pekerjaan, dulu itu. Yang n
28 tahun silam***“Pikirkan lagi keputusan kamu untuk tinggal dengan suami miskinmu, Yasmin. Kalau kamu terus bersamanya, ayah terpaksa tidak akan memberikan kamu apapun! Ayah harap kamu dipanggil ke sini bisa paham maksud ayah.”Suara itu terdengar tegas dan berwibawa. Sayangnya, isinya adalah sebuah ancaman.Di rumah mewah nan megah seorang pria paruh baya berdiri tegap. Bukan sedang memantau karyawan kesiangan, melainkan menghakimi anak kandungnya sendiri.“Ayah, Mas Hadi orang yang sangat baik. Dia suamiku. Dia berpenghasilan kecil juga halal.”“Diam kamu, Yasmin. Ayah sudah malu dengan orang banyak atas pernikahan sembunyi-sembunyi kalian. Lihat kan? Pada akhirnya ada orang yang membocorkan, hingga di media heboh. Pernikahan anakku dilaksanakan seperti orang miskin. Kamu tahu siapa kita? Jamal Adi Bhaskara itu bukan orang sembarangan!”“Aku sangat bersyukur karena ayah bersedia menjadi wali di pernikahan kami, Ayah. Terima kasih, tapi Yasmin harus ikut suami Yasmin. Apalagi Mas







