เข้าสู่ระบบ“Ayu, Ayu!”
Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya. Sejak pagi buta itu seperti biasa Ayu sudah sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Setelah shalat subuh, tangannya tidak berhenti menghadapi setiap pekerjaan di rumah. Kakinya yang ikut lelah pun seringkali terasa pegal. Sesekali membuatnya duduk untuk menenangkan syaraf tubuhnya yang digempur pekerjaan rumah tangga setelah menikah dengan Beni. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasa lapar dalam perutnya sudah lama melanda. Keringat bercucuran tiada henti meski pagi sekali dia sudah mandi. Bagaimana tidak, rumah besar mertuanya itu sangat membuat dia lelah selama tiga tahun ini. Ayu kadang mengeluh dan menghujat dirinya. Kenapa dia meloloskan takdir menikah dibanding harus menerima pekerjaan, dulu itu. Yang nyatanya, dia benar-benar menjadi ibu rumah tangga tanpa memiliki penghasilan apapun. Setiap detiknya, Ayu hanya disibukkan dengan pekerjaan rumah. “Yuuu! Ayuuu!” Lagi, suara teriakan memanggil namanya semakin terdengar begitu keras. “Iya, Mbak?” Ayu bergegas begitu cepat menaiki tangga. Kompor yang di atasnya terdapat panci berisi sup ayam, dia tinggalkan dengan tergesa-gesa. Hanya dikecilkan apinya, karena berpikir dia dipanggil tak akan lama. “Ayu, tolong buatin susu buat bayiku, tapi susunya di bawah. Yang ini abis. Ambilin cepet!” Suara Mayang–kakak iparnya itu begitu sarkas penuh dengan suruhan. Tidak ada lemah lembutnya, atau meminta maaf terlebih dulu. Hanya saja bagi Ayu sudah biasa. Santapan tiap hari jika harus membuatkan susu untuk ponakannya. “Baik, Mbak.” Ayu segera kembali lagi ke bawah. Selama berlari kecil, dia masih teringat dengan masakan yang sejak tadi belum matang. Tapi, menurut Ayu hanya membawa persediaan susu di laci itu hanya sebentar. Tidak akan memakan waktu lama. Arkh, kenapa juga Mayang tidak menyimpan banyak kaleng susu formula itu di dalam kamar saja? Kenapa harus merepotkan orang dengan dia simpan di lemari dapur? Kadang Ayu juga kesal, tapi itu terjadi terus berulang kali selama beberapa bulan ini. Ayu menghampiri lemari yang biasa untuk menyimpan persediaan susu bayi kakak iparnya. Kosong, tidak ada apa-apa di sana. Di sebelahnya juga sama, tidak ada kaleng susu terlihat. Apa di tempat lain? Arkh, Ayu sudah mencari ke sana ke mari. Tapi dia tidak menemukannya. Cepat-cepat dia pun lari ke lantai dua untuk menanyakan hal itu pada Mayang. Jangan-jangan ibu dua anak itu sudah pikun. Ayu sudah tiba lagi di kamar. Tentu saja masih dengan kain lap di pundak kanan menemani daster lusuhnya. “Mbak, Mbak simpan susunya di mana? Aku gak nemuin, Mbak?” tanya Ayu cepat. Kasihan juga dia melihat bayi di box yang sudah terlihat menangis. Bukannya ikut mencari atau menenangkan bayi, Mayang malah asyik bercermin dengan semua kebutuhan makeup-nya. “Ya di bawah seperti biasa. Perasaan masih ada satu kaleng lagi. Kamu coba cari yang bener deh!” Acuh tak acuh sambil memakai krim wajah Mayang menjawabnya. Benar-benar membuat kesabaran Ayu habis, tapi dia masih bisa tahan. “Sudah, Mbak. Nggak ada sama sekali. Di lemari semuanya aku cari. Di laci-laci, nggak ada,” jelas Ayu lagi. Memang benar tidak ada kan? Seketika Mayang pun menghentikan aktivitas mengurus wajahnya. Dia melirik Ayu sekilas lalu menjawab, “oh iya, jangan-jangan itu kaleng persediaan terakhir ya? Maksudnya ini yang di kamar, yang kosong. Aduh, aku lupa.” Ayu benar-benar geram mendengarnya. Bisa-bisanya dengan sangat enteng Mayang bilang lupa. Apalagi dia tidak menghiraukan suara bayinya yang sudah menangis sejak beberapa menit lalu. Ayu hanya bisa menggelengkan kepala. Dia langsung mendekat ke tempat tidur bayi berniat untuk menggendong si kecil yang kasihan itu. Tapi Mayang langsung melarang. “Gak usah dipangku. Nanti kebiasaan. Biarin aja. Mending kamu tolong beliin susu, ya? Dua kaleng dulu aja!” pinta Mayang pada Ayu. Gerakan Ayu pun terhenti seketika. “Tapi, Mbak, ini masih pagi. Minimarket terdekat belum buka. Toko di depan juga entah ada apa nggak susu yang buat Gavin.” Ayu menyangkal bukan karena tidak ingin. Tapi itu memang kebenarannya. “Ya ampun, Ayu, tolong kamu usahain dong. Kok ngeluh gitu? Kita ini keluarga, perhitungan banget?” “Bukan perhitungan, Mbak. Tapi ….” “Apa? Apa?” “Ya sudah, aku beliin, Mbak. Uangnya, Mbak?” Ayu meminta. “Pakai uang kamu dulu, ya? Mas Andi belum transfer soalnya. Aku ada uang pas-pasan buat bayar paket yang akan datang siang ini. Entah kalau pagi ini juga datangnya. Gak mungkin gak dibayar kan?” “Hah, tapi, aku gak ada uang, Mbak!” “Eh, bohong banget sih? Minta ke suami kamu, cuma paling berapa dua kaleng itu. Gak nyampe 800 ribu.” Cuma? Dalam hati Ayu begitu kesal dan geram. Bagaimana bisa Mayang menyuruh sambil meminjam uangnya? Apalagi dia bilang cuma 800 ribu? Apa dia pikir uang bisa diambil di depan pohon? Suara Bayi Gavin masih terus terdengar. Sepertinya bayi mungil itu sangat kelaparan. Padahal Mayang bisa memberi buah hatinya itu ASI eksklusif sejak lahir. Hanya karena tak ingin payudaranya turun lagi seperti menyusui anak pertama, dia memutuskan untuk memberikan anak keduanya susu formula. Sampai-sampai ya sekarang ASI alaminya sudah tidak keluar karena tidak pernah diberikan pada bayinya. “Mbak, pakai saja uang untuk paket Mbak. Susu Gavin lebih penting, Mbak.” Ayu coba protes. Namun, alih-alih Mayang sadar, perempuan yang sudah berusia 35 tahun itu malah marah-marah. “Heh, Ayu! Kenapa kamu perhitungan banget sih? Inget ya, kamu di rumah ini numpang. Ini rumah ibuku. Kamu enak duduk manis di rumah ini gegara nikah sama Beni. Kalau nggak, kamu nggak akan enak di sini. Ketimbang minta pinjam segitu aja kok rewel banget sih? Apa kamu udah bosan jadi adik iparku, hah?” Deg Ayu benar-benar terkejut bukan main. Meski bukan hal baru, tapi kalimat di akhir membuat Ayu begitu syok. Suara lantang Mayang itu pun sampai membuat Purnamasari, ibunya Mayang dan Beni menghampiri ke kamar Mayang. “Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik banget sih?” Purnamasari terlihat kesal.Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan, mungkin telinga Ayu hening.Tangisnya yang tertahan bukan karena takut terdengar. Hanya itu rasanya sangat pedih dan menyesakkan dada. Sehingga suara pun seperti tak ingin keluar dari mulutnya.Andai ada sosok ibunya di sana, dia bisa mencurah limpahkan rasa sakit hati itu. Tapi tidak mungkin kalau harus menelepon, pasti keluarganya di sana akan sangat sedih.“Semoga kamu disayang sama suami dan keluarga suamimu ya, Nak? Kita akan jauh. Jadi, Ibu gak bisa nengok kamu tiap hari. Tapi Ibu yakin, Beni adalah sosok suami yang sangat baik. Seperti ayah kamu. Keluarganya juga pasti baik semua. Meski tinggal satu rumah, kamu pasti akan bahagia.”Setelah menikah dulu dan memutuskan untuk ikut dengan
“Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya. “Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jelek banget. Dan itu overcook! Mau ada vitaminnya gimana, hah?”Deg!Purnamasari membentak Ayu dengan suara yang sangat keras. Dan benar saja itu perihal sop yang dikhawatirkan Ayu tadi. Memang Ayu juga menyadari dan tahu kalau sop itu kematangan. Tapi dia pikir tidak akan jadi masalah seperti ini.“Maaf, Ma. Tadi kan pas Ayu lagi masak Ayu dipanggil sama Mbak Mayang. Ayu sudah kecilin apinya tapi memang tadi di atas itu terlalu lama. Jadi mungkin kematangan.”Ayu menjelaskan dengan hati-hati. Seperti biasa dia menunduk takut dan gelisah. Sebenarnya ingin melawan dan menjelaskan seperti biasa saja tanpa ada ketakutan. Hanya saja sorot mata Purnamasari sudah membanting mental Ayu lebih dulu.“J
“Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik?” Purnamasari terlihat kesal. Wajah yang tak lagi muda itu memperlihatkan kerutan di dahinya.“Ini si Ayu, nih. Susu Gavin habis, aku suruh dia beliin, malah gak mau. Alasan aja.” Enteng sekali Mayang mengucapkannya. Seakan tak ada rasa bersalah bicara pada ibunya tentang Ayu.“Apa? Kok gitu sih, Yu?” Purnamasari mengernyit menatap Ayu.“Bukan itunya, Ma, tapi Mbak Mayang mau pinjam uangnya juga dari Ayu. Ayu mana ada? Mana harus dua kaleng. Katanya sekitar delapan ratus ribuan. Ayu kan gak ada uang, Ma.” Ayu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga. Dia pun tak berani menatap ibu mertuanya yang sudah terlihat menyalahkan.“Alesan aja, Ma. Uang dari Beni ke dia kan pasti besar. Gaji Beni di kantor itu gede. Ngeles aja. Pelit banget! Padahal mana pernah aku minta uang atau pinjam ke si Ayu.” Alih-alih meredam, Mayang malah makin membuat suasana panas.“Bukan gitu, Mbak. Aku ….”Belum juga Ayu menjelaskan lagi, Purnamasari sudah n
“Ayu, Ayu!”Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya.Sejak pagi buta itu seperti biasa Ayu sudah sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Setelah shalat subuh, tangannya tidak berhenti menghadapi setiap pekerjaan di rumah. Kakinya yang ikut lelah pun seringkali terasa pegal. Sesekali membuatnya duduk untuk menenangkan syaraf tubuhnya yang digempur pekerjaan rumah tangga setelah menikah dengan Beni.Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasa lapar dalam perutnya sudah lama melanda. Keringat bercucuran tiada henti meski pagi sekali dia sudah mandi. Bagaimana tidak, rumah besar mertuanya itu sangat membuat dia lelah selama tiga tahun ini.Ayu kadang mengeluh dan menghujat dirinya. Kenapa dia meloloskan takdir menikah dibanding harus menerima pekerjaan, dulu itu. Yang n
28 tahun silam***“Pikirkan lagi keputusan kamu untuk tinggal dengan suami miskinmu, Yasmin. Kalau kamu terus bersamanya, ayah terpaksa tidak akan memberikan kamu apapun! Ayah harap kamu dipanggil ke sini bisa paham maksud ayah.”Suara itu terdengar tegas dan berwibawa. Sayangnya, isinya adalah sebuah ancaman.Di rumah mewah nan megah seorang pria paruh baya berdiri tegap. Bukan sedang memantau karyawan kesiangan, melainkan menghakimi anak kandungnya sendiri.“Ayah, Mas Hadi orang yang sangat baik. Dia suamiku. Dia berpenghasilan kecil juga halal.”“Diam kamu, Yasmin. Ayah sudah malu dengan orang banyak atas pernikahan sembunyi-sembunyi kalian. Lihat kan? Pada akhirnya ada orang yang membocorkan, hingga di media heboh. Pernikahan anakku dilaksanakan seperti orang miskin. Kamu tahu siapa kita? Jamal Adi Bhaskara itu bukan orang sembarangan!”“Aku sangat bersyukur karena ayah bersedia menjadi wali di pernikahan kami, Ayah. Terima kasih, tapi Yasmin harus ikut suami Yasmin. Apalagi Mas







