Share

Bab 1

Author: Kom Komala
last update publish date: 2026-02-14 11:41:35

“Ayu, Ayu!”

Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya.

Sejak pagi buta itu seperti biasa Ayu sudah sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Setelah shalat subuh, tangannya tidak berhenti menghadapi setiap pekerjaan di rumah. Kakinya yang ikut lelah pun seringkali terasa pegal. Sesekali membuatnya duduk untuk menenangkan syaraf tubuhnya yang digempur pekerjaan rumah tangga setelah menikah dengan Beni.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasa lapar dalam perutnya sudah lama melanda. Keringat bercucuran tiada henti meski pagi sekali dia sudah mandi. Bagaimana tidak, rumah besar mertuanya itu sangat membuat dia lelah selama tiga tahun ini.

Ayu kadang mengeluh dan menghujat dirinya. Kenapa dia meloloskan takdir menikah dibanding harus menerima pekerjaan, dulu itu. Yang nyatanya, dia benar-benar menjadi ibu rumah tangga tanpa memiliki penghasilan apapun. Setiap detiknya, Ayu hanya disibukkan dengan pekerjaan rumah.

“Yuuu! Ayuuu!”

Lagi, suara teriakan memanggil namanya semakin terdengar begitu keras.

“Iya, Mbak?”

Ayu bergegas begitu cepat menaiki tangga. Kompor yang di atasnya terdapat panci berisi sup ayam, dia tinggalkan dengan tergesa-gesa. Hanya dikecilkan apinya, karena berpikir dia dipanggil tak akan lama.

“Ayu, tolong buatin susu buat bayiku, tapi susunya di bawah. Yang ini abis. Ambilin cepet!” Suara Mayang–kakak iparnya itu begitu sarkas penuh dengan suruhan. Tidak ada lemah lembutnya, atau meminta maaf terlebih dulu. Hanya saja bagi Ayu sudah biasa. Santapan tiap hari jika harus membuatkan susu untuk ponakannya.

“Baik, Mbak.” Ayu segera kembali lagi ke bawah. Selama berlari kecil, dia masih teringat dengan masakan yang sejak tadi belum matang. Tapi, menurut Ayu hanya membawa persediaan susu di laci itu hanya sebentar. Tidak akan memakan waktu lama.

Arkh, kenapa juga Mayang tidak menyimpan banyak kaleng susu formula itu di dalam kamar saja? Kenapa harus merepotkan orang dengan dia simpan di lemari dapur? Kadang Ayu juga kesal, tapi itu terjadi terus berulang kali selama beberapa bulan ini.

Ayu menghampiri lemari yang biasa untuk menyimpan persediaan susu bayi kakak iparnya. Kosong, tidak ada apa-apa di sana. Di sebelahnya juga sama, tidak ada kaleng susu terlihat. Apa di tempat lain?

Arkh, Ayu sudah mencari ke sana ke mari. Tapi dia tidak menemukannya. Cepat-cepat dia pun lari ke lantai dua untuk menanyakan hal itu pada Mayang. Jangan-jangan ibu dua anak itu sudah pikun.

Ayu sudah tiba lagi di kamar. Tentu saja masih dengan kain lap di pundak kanan menemani daster lusuhnya.

“Mbak, Mbak simpan susunya di mana? Aku gak nemuin, Mbak?” tanya Ayu cepat. Kasihan juga dia melihat bayi di box yang sudah terlihat menangis.

Bukannya ikut mencari atau menenangkan bayi, Mayang malah asyik bercermin dengan semua kebutuhan makeup-nya.

“Ya di bawah seperti biasa. Perasaan masih ada satu kaleng lagi. Kamu coba cari yang bener deh!” Acuh tak acuh sambil memakai krim wajah Mayang menjawabnya. Benar-benar membuat kesabaran Ayu habis, tapi dia masih bisa tahan.

“Sudah, Mbak. Nggak ada sama sekali. Di lemari semuanya aku cari. Di laci-laci, nggak ada,” jelas Ayu lagi. Memang benar tidak ada kan?

Seketika Mayang pun menghentikan aktivitas mengurus wajahnya. Dia melirik Ayu sekilas lalu menjawab, “oh iya, jangan-jangan itu kaleng persediaan terakhir ya? Maksudnya ini yang di kamar, yang kosong. Aduh, aku lupa.”

Ayu benar-benar geram mendengarnya. Bisa-bisanya dengan sangat enteng Mayang bilang lupa. Apalagi dia tidak menghiraukan suara bayinya yang sudah menangis sejak beberapa menit lalu.

Ayu hanya bisa menggelengkan kepala. Dia langsung mendekat ke tempat tidur bayi berniat untuk menggendong si kecil yang kasihan itu. Tapi Mayang langsung melarang.

“Gak usah dipangku. Nanti kebiasaan. Biarin aja. Mending kamu tolong beliin susu, ya? Dua kaleng dulu aja!” pinta Mayang pada Ayu. Gerakan Ayu pun terhenti seketika.

“Tapi, Mbak, ini masih pagi. Minimarket terdekat belum buka. Toko di depan juga entah ada apa nggak susu yang buat Gavin.” Ayu menyangkal bukan karena tidak ingin. Tapi itu memang kebenarannya.

“Ya ampun, Ayu, tolong kamu usahain dong. Kok ngeluh gitu? Kita ini keluarga, perhitungan banget?”

“Bukan perhitungan, Mbak. Tapi ….”

“Apa? Apa?”

“Ya sudah, aku beliin, Mbak. Uangnya, Mbak?” Ayu meminta.

“Pakai uang kamu dulu, ya? Mas Andi belum transfer soalnya. Aku ada uang pas-pasan buat bayar paket yang akan datang siang ini. Entah kalau pagi ini juga datangnya. Gak mungkin gak dibayar kan?”

“Hah, tapi, aku gak ada uang, Mbak!”

“Eh, bohong banget sih? Minta ke suami kamu, cuma paling berapa dua kaleng itu. Gak nyampe 800 ribu.”

Cuma?

Dalam hati Ayu begitu kesal dan geram. Bagaimana bisa Mayang menyuruh sambil meminjam uangnya? Apalagi dia bilang cuma 800 ribu? Apa dia pikir uang bisa diambil di depan pohon?

Suara Bayi Gavin masih terus terdengar. Sepertinya bayi mungil itu sangat kelaparan. Padahal Mayang bisa memberi buah hatinya itu ASI eksklusif sejak lahir. Hanya karena tak ingin payudaranya turun lagi seperti menyusui anak pertama, dia memutuskan untuk memberikan anak keduanya susu formula. Sampai-sampai ya sekarang ASI alaminya sudah tidak keluar karena tidak pernah diberikan pada bayinya.

“Mbak, pakai saja uang untuk paket Mbak. Susu Gavin lebih penting, Mbak.” Ayu coba protes. Namun, alih-alih Mayang sadar, perempuan yang sudah berusia 35 tahun itu malah marah-marah.

“Heh, Ayu! Kenapa kamu perhitungan banget sih? Inget ya, kamu di rumah ini numpang. Ini rumah ibuku. Kamu enak duduk manis di rumah ini gegara nikah sama Beni. Kalau nggak, kamu nggak akan enak di sini. Ketimbang minta pinjam segitu aja kok rewel banget sih? Apa kamu udah bosan jadi adik iparku, hah?”

Deg

Ayu benar-benar terkejut bukan main. Meski bukan hal baru, tapi kalimat di akhir membuat Ayu begitu syok. Suara lantang Mayang itu pun sampai membuat Purnamasari, ibunya Mayang dan Beni menghampiri ke kamar Mayang.

“Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik banget sih?” Purnamasari terlihat kesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kalian Hina Miskin   32 Kenapa Besanku Yang Miskin Ada di Rumah besar itu?

    Suasana di teras rumah megah itu mendadak senyap begitu derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan malam. Purnamasari tidak lagi mengetuk, melainkan langsung menerobos melewati gerbang yang kebetulan terbuka karena mobil sedan mewah tadi hendak melintas keluar. Dengan napas memburu dan wajah yang merah padam oleh amarah, dia menunjuk tepat ke arah wajah Ayu yang masih berdiri tenang di samping pria paruh baya itu.​"Oh, jadi begini kelakuan kamu di belakang Beni, Ayu!" pekik Purnamasari, suaranya melengking membelah malam. "Dasar tidak tahu diri! Jadi pembantu di rumah orang kaya saja gayanya sudah seperti nyonya besar!"​Ayu sama sekali tidak bergeming; dia hanya melipat tangan di dada dengan tatapan dingin. Pria paruh baya di sebelahnya—yang tak lain adalah ayah kandung Ayu—serta seorang wanita anggun yang baru keluar dari pintu utama, yang merupakan ibu Ayu, juga hanya terdiam menyaksikan amukan itu. Keheningan mereka justru membuat Purnamasari semakin merasa di atas

  • Yang Kalian Hina Miskin   31 Minta Pertolongan Pada Orang Asing

    “Aduh, Bu Purnamasari, jangan bawa-bawa keluarga saya lagi, deh! Masalah di rumah saya sendiri saja sudah bikin kepala mau pecah!” Suara Bu Dewi di seberang telepon terdengar melengking tinggi, penuh dengan nada frustrasi yang tidak berusaha disembunyikan. ​“Tapi, Bu Dewi, ini masalah hidup dan mati Beni! Siapa lagi yang bisa saya mintai tolong?” Purnamasari memelas, air matanya menetes bebas merusak sisa bedak di pipinya. ​“Jujur ya, Bu, hidup saya sekarang ini sudah susah! Jangankan buat bayar pengacara hebat untuk Beni, buat makan sehari-hari saja saya harus putar otak! Ditambah lagi si Andi dan Mayang, utang mereka di mana-mana! Debt collector bolak-balik datang ke rumah sampai saya malu sama tetangga! Jadi tolong, jangan bebani saya dengan urusan Beni!” ​Klik.​Sambungan telepon diputus sepihak. Purnamasari terpaku menatap layar ponselnya yang menggelap. Dadanya kembang kempis menahan rasa sesak yang kian menghimpit. Penolakan mentah-mentah dari besannya itu bagai tamparan

  • Yang Kalian Hina Miskin   30 Minta Pertolongan (

    ​Shintya membusungkan dadanya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya di depan Ayu. "Heh, Ayu! Kamu jangan berlagak sombong ya! Mas Beni tidak akan membusuk di penjara seperti yang kamu mau! Aku punya banyak kenalan orang penting!"​Ayu menaikkan satu alisnya, tampak terhibur. "Oh ya? Coba sebutkan, siapa yang mau menolong seorang penipu investasi bodong dengan kerugian ratusan juta?"​"Aku punya teman seorang pengacara hebat di kota ini! Aku juga kenal dengan beberapa pejabat yang bisa mengatur masalah ini!" seru Shintya dengan nada menantang, menggenggam ponselnya erat-erat. "Aku akan menghubungi mereka sekarang juga! Mas Beni pasti akan bebas besok pagi, catat kata-kataku!"​Mendengar bualan besar itu, Ayu tidak bisa lagi menahan tawa. Suara kekehannya yang renyah menggema di ruangan yang tegang itu, terdengar sangat meremehkan hingga membuat telinga Shintya merah padam.​"Silakan, Shintya. Hubungi saja semua teman hebatmu itu," ucap Ayu setelah tawanya mereda, menatap Shintya de

  • Yang Kalian Hina Miskin   29 Tidak Bisa Mengelak (

    Beni merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping. Di dekapannya, tubuh Purnamasari terasa begitu berat dan dingin, sementara dua petugas polisi melangkah makin mendekat dengan tatapan tanpa kompromi.Bagaimana dengan adik bungsunya yang sedang kuliah di luar sana? Bagaimana dengan biayanya? Bagaimana kalau dia tahu ini? Semburan keringat dingin membasahi seluruh punggung Beni, membuatnya gemetar hebat.​"Pak, tolong mengerti! Ibu saya pingsan! Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" ratap Beni, suaranya melengking panik, mencoba memohon belas kasihan.​Pak RT yang berdiri di belakang polisi menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. "Beni, urusan medis ibumu akan diurus oleh ambulans yang sudah saya panggilkan lewat warga di luar. Tapi kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Laporan dari para korban sudah lengkap."​"Tapi saya tidak bersalah, Pak RT! Ini pasti salah paham! Seseorang sengaja menjebak saya!" teriak Beni histeris. Dia berusaha berdiri,

  • Yang Kalian Hina Miskin   28 Hari Sial Untuk Keluarga Beni

    Sekelompok orang penagih utang itu satu persatu pergi setelah memberikan ancaman terakhir yang begitu mengerikan. Suara deru mesin motor mereka perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruang tamu. Di tengah ruangan yang kini terasa begitu lapang sekaligus menghimpit, Beni dan juga ibunya yang jahat tercengang dan syok berat. Bahu mereka merosot, seolah seluruh sendi pertahanan tubuh telah diloloskan paksa. ​Beni menatap lantai marmer dengan pandangan kosong, napasnya memburu pendek-pendek. Otaknya yang biasa dipenuhi kelicikan kini mendadak buntu, tidak mampu memproses rentetan petaka yang datang beruntun. Dia benar-benar tidak menyangka Mayang punya utang besar, bahkan sampai hati menggadaikan sertifikat rumah pusaka mereka. Pun dengan ibunya. Purnamasari masih terduduk di lantai, jemarinya meraba dada yang terasa seperti dihantam godam besar. Mulutnya menganga tanpa suara, hanya air mata yang terus mengalir deras, membasahi keriput di pipinya yang kini sep

  • Yang Kalian Hina Miskin   27 Keluarga Tukang Utang

    Ketukan keras yang menggema di pintu jati itu tidak hanya menggetarkan kayu, tetapi juga meruntuhkan ketenangan di dalam rumah Purnamasari. ​Di ambang pintu, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam. Bersama mereka juga datang dua pria berpakaian rapi. Memakai jas warna hitam. Wajah mereka sangar, dihiasi guratan tegas dan tatapan mata yang dingin tanpa keramahan sedikit pun.​”Cepat katakan di mana si Mayang?” gertak pria yang wajahnya memiliki bekas sayatan luka.​Beni langsung memasang badan, mencoba melindungi ibunya. "Kalian siapa? Ada urusan apa datang ke rumah kami dengan cara tidak sopan?"​Pria barusan yang tangannya juga bertato itu terkekeh sinis, sementara temannya yang berkepala plontos mengeluarkan selembar kertas dari balik jaketnya. "Kami tidak ada urusan denganmu, Anak Muda. Kami ke sini untuk mencari Mayang. Dia punya urusan besar yang belum selesai dengan bos kami."​"Mayang? Anak saya tidak ada di rumah. Dia sedang menginap di rumah ibu mertu

  • Yang Kalian Hina Miskin   18 Posisi Suamiku

    Hari ini Beni seperti biasa keluar rumah malam-malam. Yang katanya dia nongkrong sama teman-teman kerja di kafe biasa. Sejak Ayu menemukan struk belanjaan yang kemarin itu, membuatnya benar-benar tidak tidur nyenyak. Apalagi setelah tahu bahwa detail dari merek yang dibeli itu bukan untuk anaknya

  • Yang Kalian Hina Miskin   Apakah Akan Menepati Janji?

    “Ada apa, Beni? Kamu mau bicara apa? Mama gak mau kamu bicara yang aneh-aneh, ya? Awas aja.” Purnamasari sudah mengancam duluan. Dia harus mewanti-wanti agar tidak ada kata bahagia dari mulut Ayu. Matanya pun sinis ke arah istri dari anak lelakinya itu.“Apaan sih, Ben?” Mayang juga sama penasarann

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 5

    “Mama tampar Ayu lagi?” Pria yang baru hangat nafasnya datang itu adalah Beni. Dia sepertinya sudah kembali dari kantor. Padahal kalau hari-hari seperti biasanya dia belum pulang. “Ben, istri kamu yang kurang ajar. Mama cuma bilang sama istrimu kalau dia di sini membebani kamu. Tapi dia malah bawa-

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 4

    Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status