Share

Bab 2

Author: Kom Komala
last update publish date: 2026-02-14 11:41:53

“Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik?” Purnamasari terlihat kesal. Wajah yang tak lagi muda itu memperlihatkan kerutan di dahinya.

“Ini si Ayu, nih. Susu Gavin habis, aku suruh dia beliin, malah gak mau. Alasan aja.” Enteng sekali Mayang mengucapkannya. Seakan tak ada rasa bersalah bicara pada ibunya tentang Ayu.

“Apa? Kok gitu sih, Yu?” Purnamasari mengernyit menatap Ayu.

“Bukan itunya, Ma, tapi Mbak Mayang mau pinjam uangnya juga dari Ayu. Ayu mana ada? Mana harus dua kaleng. Katanya sekitar delapan ratus ribuan. Ayu kan gak ada uang, Ma.” Ayu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga. Dia pun tak berani menatap ibu mertuanya yang sudah terlihat menyalahkan.

“Alesan aja, Ma. Uang dari Beni ke dia kan pasti besar. Gaji Beni di kantor itu gede. Ngeles aja. Pelit banget! Padahal mana pernah aku minta uang atau pinjam ke si Ayu.” Alih-alih meredam, Mayang malah makin membuat suasana panas.

“Bukan gitu, Mbak. Aku ….”

Belum juga Ayu menjelaskan lagi, Purnamasari sudah nyerobot.

“Ayu, kamu anggap apa mbakmu ini, hah? Mayang itu kakaknya Beni. Jadi kamu harus manut dan sayang dong sama dia? Apalagi itu susu buat ponakan kamu lho! Kok kamu gak mau pinjemin uang yang cuma segitu?”

“Iya, Ma. Mas Andi transfernya kan awal bulan. Sekitar lima hari lagi. Aku udah gak ada uang.” Mayang langsung beralasan lagi. Delikan matanya begitu bengis ke arah Ayu.

“Mbak ….”

“Ayu, kamu jangan ngelak terus. Kok bisa kamu di sini cuma numpang tidur sama makan, diminta tolong pinjem aja gak mau? Duit segitu Beni pasti ada. Dan kamu pasti pegang, kan?’’ seru Purnamasari lagi. Selalu saja Ayu yang dipermasalahkan.

“Jujur Ayu gak ada uang segitu, Ma. Semuanya kan udah dibelikan kebutuhan dapur. Kemarin bayar listrik sama air. Sisa cuma dua ratus ribu pun ini buat kebutuhan lainnya, Ma,” ungkap Ayu.

“Bohong! Pasti kamu masih punya uang banyak kan? Kamu tahu kan, gaji Beni itu belasan juta? Jadi istri makanya musti bisa irit dong! Jangan apa-apa belanja dan habisin uang aja. Giliran diminta bantu saudara, malah banyak alasan.”

Ayu benar-benar terpukul atas perkataan yang dilontarkan oleh ibu mertua dan juga kakak iparnya. Padahal mereka juga tahu uang Beni meskipun besar itu masuknya ke lubang mana. Tentu saja uang gaji suaminya itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan seisi rumah.

Ayu menunduk lesu. Sebenarnya dia tidak terima atas perkataan yang dilebih-lebihkan itu. Tapi mau bagaimana, dia belum bisa melawan. Seperti yang sudah-sudah, pada akhirnya dialah yang salah. Apalagi Beni juga seringnya berpihak kepada keluarga sendiri.

“Inget ya, pokoknya kalau sampai anakku nangis lama dan kelaparan, itu semua gara-gara kamu. Kalau kamu nggak mau pinjemin uang, itu artinya kamu mau anak aku kenapa-kenapa.”

“Lagian kenapa juga kamu nggak periksa stok susu? Emangnya kamu udah nggak ada uang banget?” Purnamasari bertanya kepada putri keduanya, Mayang. Karena sebelum Mayang masih ada lagi anak Purnamasari yang paling besar. Mayang pun balik kesal pada ibunya.

“Lah kok mama jadi tanya ke aku sih? Gaji Mas Andi itu untuk mencukupi aku sama dua anak itu Mama tahu dong perlu berapa?” ungkap Mayang.

“Ah, ya sudah, sudah. Cepet, kamu beliin susu buat Gavin!” pinta Purnamasari.

“Tapi uangnya, Ma?”

“Kamu mintalah sama Beni! Dia belum berangkat kerja kan? Kalau mama kan mana ada uang? Kamu tahu, adik iparmu kan masih kuliah.”

Sebenarnya Ayu ingin marah-marah. Kenapa pada akhirnya selalu dia yang disalahkan. Memang juga ini adalah keputusan konyolnya dulu yang mau-mau saja diajak nikah. Meskipun sudah Beni jelaskan bahwa setelah menikah mereka akan tinggal bersama. Tidak pernah menyangka pernikahan Ayu akan seperti ini. Dia berharap bertemu dengan keluarga cemara tapi malah hidup seperti dalam neraka. Padahal kalau lulus kuliah kerja dulu, mungkin tidak separah ini.

Ayu yang sudah berkaca-kaca pun kini hanya menunduk dan pergi. Dia berlari ke arah kamarnya untuk meminta uang kepada suami.

Ah iya tapi sebelum itu dia teringat masakan yang belum matang. Ayu berlari dulu ke dapur untuk mematikan api di kompor. Sepertinya sop ayam yang dia masak terlalu lunak. Tapi setidaknya sudah matang dan tidak gosong. Ayu pun segera meninggalkannya dan kini kembali ke kamar untuk menemui suaminya.

Setibanya di kamar Ayu masih melihat Beni yang tertidur pulas. Dia juga heran kenapa pukul 06.30 suaminya belum juga bangun. Padahal dia harus sudah siap-siap untuk pergi ke kantor.

Ayu menyibak gorden agar cahaya matahari menyelinap lewat jendela. Semoga saja Beni langsung terbangun tanpa harus dia bangunkan.

Bukannya bangun dia malah membalikan arah tubuhnya untuk memunggungi jendela. Seakan dia enggan untuk terbangun di pagi yang begitu cerah itu.

“Mas, bangun, Mas. Ini sudah siang kamu harus kerja kan?” Terpaksa Ayu pun menyentuh pundak suaminya untuk membangunkan.

“Hari ini aku ambil libur. Pegal-pegal badanku sudah lembur 3 hari. Lagian kerjaan aku nggak numpuk. Aku udah bilang kemarin ke kantor.”

Ayu pun berusaha paham dengan alasan itu. Mungkin benar karena memang 3 hari ke belakang suaminya itu selalu lembur, pulang tengah malam.

Tapi ini ada keperluan lain yaitu tentang meminta uang untuk membeli susu Gavin. Ayu pun meloloskan niatnya agar dia bisa segera pergi untuk membeli.

“Oh gitu, Mas. Oh iya, Mas, tadi Mbak Mayang minta aku untuk beliin susu buat Gavin. Tapi katanya dia mau pinjem dulu uangnya. Aku kan Mana ada uang?”

“Hah?” Beni mengurungkan niat untuk menutup matanya kembali.

“Iya, Mas.” Ayu mengangguk dengan gelisah. Entahlah, apa Beni akan marah, atau …

“Ya pakai dulu lah uang yang aku kasih ke kamu.”

“Lah, kamu kasih uang aku cuman satu juta. Ya aku mana ada sisa banyak, Mas? Apalagi Mbak Mayang nyuruh aku beli dua kaleng yang harganya nyaris sampai 800.000. Aku nggak ada uang segitu.”

“Ish, apaan sih kamu pagi-pagi udah bangunin aku terus minta-minta uang? Masa Mbak Mayang nggak punya sih? Mas Andi kan rutin transfer ke dia tiap bulan? Jangan-jangan buat kebutuhan kamu ya?”

Astaghfirullah, Ayu benar-benar menghela nafas dengan sangat panjang. Alih-alih mendapatkan jawaban yang bisa menenangkannya tapi ini malah sama saja. Apalagi akhir-akhir ini Ayu tidak pernah dibela oleh Beni. Dia seakan membiarkan istrinya itu dicaci dimaki dan disuruh-suruh oleh keluarga di rumah itu. Dan untuk hal ini, dugaan Ayu sangat benar terjadi.

“Ya ampun Mas kok kamu jadi nyalahin aku dan nuduh gitu? Kalau kamu nggak percaya tanya sendiri sama Mbak Mayang. Aku diminta buat beli susu Gavin 2 kaleng yang harganya segitu. Ya terpaksa aku ke sini bangunin kamu. Tapi ya kalau nggak ada ya nggak apa-apa nanti aku bilangin paling aku juga yang dimarahin seperti biasa.” Ayu pun sudah terpancing kesal.

“Lho, lho, lho! Kok kamu suaranya ngambek gitu?” Beni membuka selimut di badannya.

“Aku harus gimana Mas? Aku bingung dan serba salah. Aku tadi dimarahin Mbak Mayang terus dimarahin sama mama kamu karena aku katanya nggak mau minjemin padahal aku itu nggak ada uang. Gaji kamu memang besar tapi nggak semuanya kamu kasih ke aku kan?’

“Apaan sih ngoceh? Berisik banget ya udah tuh ambil di dompet aku 800.000 beli susu buat Gavin. Bilangin sama Mbak Mayang yang waktu itu juga belum dia ganti. Yang dia pinjam 2 juta. Lagian kamu itu harusnya bantu kerja juga biar dapat pemasukan. Seisi rumah ini cuman ngandelin aku.”

“Hah? Pinjam dua juta?” Syok. Tapi Ayu hanya bisa mengatakan itu dalam hati.

Wanita yang sudah lusuh dengan keringat itu malas berdebat. Dalam hati dia sangat menggerutu kesal, bagaimana bisa bekerja sedangkan dari pagi sampai malam seisi rumah dia kerjakan sendiri. Padahal di rumah juga anak bungsu ada yang masih kuliah. Kalau misalnya pulang lebih awal dia juga tidak pernah mau bantu untuk beres-beres.

Ayu makan hati. Tapi dia juga harus memikirkan matang-matang bagaimana rumah tangganya ke depan. Dia juga tidak ingin marah-marah sampai memutuskan hal yang konyol.

Ah, sudahlah. Karena Ayu terlalu kasihan dengan Gavin dia pun segera pergi ke toko depan untuk membeli susu formula.

Tidak lama Ayu pun telah kembali. Benar saja, susu formula untuk Gavin harganya sampai delapan ratus ribu.

Selain dia dimintai pinjam uang Ayu juga disuruh untuk membuatkan susu Gavin seperti biasa. Sedangkan Mayang masih terus asik-asik menyemir wajahnya sampai kinclong.

“Ayu, siniiiii!”

Tiba-tiba saja setelah selesai menyiapkan susu untuk Gavin, suara Purnamasari terdengar berteriak dari lantai bawah. Tentu saja yang dipanggil tidak ada nama lain selain nama menantunya.

“Ayu, cepet sana! Biarin aku yang kasihin itu susu. Kamu pasti bikin salah sampai Mama teriak kayak gitu.”

Ayu pun sudah gemetar. Memang apa salah dia di pagi ini? Masak juga sudah beres. Ayu pun cepat-cepat menuruni tangga sambil terus berpikir apa sebenarnya yang harus dipermasalahkan.

“Iya, Ma?”

Ayu yang kilat sudah tiba dan langsung bertanya kepada Ibu mertuanya yang sudah sigap berdiri di dekat meja makan. Tatapannya sungguh tidak enak sekali. Tapi Ayu bingung kenapa dia harus ditatap seperti itu oleh ibu mertuanya? Memang apa yang salah? Semua makanan juga sudah dihidangkan, bukan? Nasi, lauk dan sayurnya? Buah juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kalian Hina Miskin   20 Bukan Menantu Baik-baik

    “Ayu!”Tubuh Ayu yang sedang santai menyantap makanan di meja itu seketika tersentak kaget. Suara pria menyebut nama dengan tangan kasar menarik bahu Ayu.“Ngapain kamu malam-malam di sini, hah? Mama bilang kamu keluar rumah tapi gak ngasih tahu mau ke mana. Lalu kamu malah marah-marah sama mama dan nyelonong begitu saja. Ternyata benar?” Pria itu langsung nyerocos tanpa membiarkan Ayu menjelaskan lebih dulu. Tentu saja itu Beni bukan pria lain manapun.“Mas?” Ayu yang terperanjat pun masih kaget dengan sosok suaminya yang sudah ada di tempat yang sama dengannya. Ayu tidak tahu kapan Beni datang menghampirinya ke sana. Terlihat sepertinya Beni datang seorang diri. Menghampiri meja yang sedang dipesan oleh keluarga Ayu, membuat Beni marah-marah. “Kamu keluar rumah tanpa seizin aku? Dan kamu di sini nemuin orang tua kamu?” Beni menatap wajah ayah dan ibunya Ayu.“Beni, apa kabar?” Ayahnya Ayu menyapa dengan hangat dan penuh kesopanan. “Kabar aku baik, Ayah. Ternyata benar kalian se

  • Yang Kalian Hina Miskin   19 Melepas Pada Orang Yang Salah

    Ayu masih gelisah dengan apa yang dikatakan oleh ibu kandungnya sendiri. Karena tadi katanya akan menyusul. Apa ibunya tahu di mana posisinya? Ayu diam sejenak di depan kafe yang disebut-sebut sering didatangi oleh suaminya. Tidak sampai 10 menit roda empat berwarna hitam mendatanginya. Posisi Ayu yang masih di atas motor pun terheran-heran. Dari dalam mobil bagus itu keluar orang yang tentu sangat Ayu kenali. Ayahnya, dia keluar dari pintu mobil depan di mana tempat duduk pengemudi sana.Disusul sang ibu yang ikut serta mendekat ke arah Ayu yang kini berdiri masih di dekat motornya.“Ayah, ibu?”Ayu teheran-heran dengan kedatangan kedua orang tuanya yang mengetahui posisi dirinya berada. Tapi lepas dari itu rasa rindu Ayu terhadap ayahnya lebih menggebu-gebu. Karena kemarin yang datang menemui hanya ibunya saja.“Nak,” sapa Ayah Ayu.“Ayah!” Dengan jawaban ceria dan manja Ayu merangkul tubuh ayahnya. Pelukan hangat cinta pertamanya dia rasakan setelah sekian lama. Ibunya Ayu terse

  • Yang Kalian Hina Miskin   18 Posisi Suamiku

    Hari ini Beni seperti biasa keluar rumah malam-malam. Yang katanya dia nongkrong sama teman-teman kerja di kafe biasa. Sejak Ayu menemukan struk belanjaan yang kemarin itu, membuatnya benar-benar tidak tidur nyenyak. Apalagi setelah tahu bahwa detail dari merek yang dibeli itu bukan untuk anaknya Mayang. Jadi Ayu yakin dia membelikan itu untuk orang lain. Hari ini sengaja meskipun debat dengan ibu mertua, Ayu tetap keluar rumah dengan alasan untuk pergi ke rumah ibunya yang baru. Padahal Ayu sengaja ingin membuntuti ke mana Beni sebenarnya pergi. “Kamu sekarang berani ya mau keluar jam segini?” Ibu mertua Ayu menatap tajam saat bicara.“Maaf, Ayu ada urusan, Ma. Dan semestinya ini nggak ada masalah. Karena aku selama ini nggak pernah keluar rumah jam segini. Jadi, kali ini Ayu minta izin.”Ayu yang sudah berdandan rapi menjawab pertanyaan Ibu mertuanya tanpa beban ataupun rasa bersalah. “Nah itu dia, kenapa kamu sekarang mau keluar rumah? Biasanya juga diam. Atau jangan-jangan kam

  • Yang Kalian Hina Miskin   17 Ternyata ...

    “Ayu, apa-apaan ini? Kenapa kamu lempar kertas-kertas ke muka aku?” Beni kesal atas kelakuan istrinya. Baru saja masuk, wajah sudah dilempar oleh kertas-kertas yang menurut Beni itu hanya sampah.Wajah Ayu terlihat begitu kesal ke arah suaminya. Sorot mata tajam penuh dengan ribuan pertanyaan itu belum juga reda.Tatapan itu membuat Beni mengerutkan dahinya. Perlahan Beni pun memungut satu persatu apa yang tadi berserakan di wajahnya. Niat marah itu kini berubah jadi risau. Setelah berhasil mengambil salah satunya, Beni pun melihat bahwa itu adalah sebuah struk belanjaan. Bukan hanya satu, tapi banyak. Dan itu membuat sepasang matanya melebar saking kaget.“Kenapa, Mas? Kaget ya? Mentang-mentang selama ini aku cuma diam aja dan gak pernah periksa apa-apa. Bagus tadi aku cek tas kerja kamu yang sudah sekian lama tak pernah aku sentuh. Karena kamu yang tidak memperbolehkan aku ikut campur.” Sinis Ayu mengucapkannya. Seperti perlahan emosinya mulai menyalakan api.Beni yang memasang waj

  • Yang Kalian Hina Miskin   16 Istri Durhaka

    “Iya, Ben. Mungkin otaknya juga udah diracuni sama ibunya. Tadi Ayu bilang nggak mau lagi bantu-bantu Mama di rumah ini. Dia katanya lebih baik kerja.” Cungur Purnamasari mengaung memfitnah.“Bener ngomong gitu kamu?” Beni pun melesatkan pandangannya ke arah Ayu dengan tajam. Pertanyaan itu lebih terlihat seperti sebuah ancaman.“Benar, Mas. Tapi tepatnya Bukan gitu.” Ayu pun kini berani bicara.“Lalu gimana?”Purnamasari sudah sinis saja ke arah menantunya. Seakan sudah mempersiapkan kata-kata yang akan terus menyudutkan Ayu. Kalau sampai nanti memang dia dikatakan aneh-aneh.“Kalimat Mama yang bilang aku bantu-bantu Mama di rumah ini itu bohong. Karena aku bukan membantu, tapi aku mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Mama sama Mbak Mayang sama sekali nggak pernah nyentuh pekerjaan apapun. Jadi, Mamah nggak tepat kalau sebut aku bantu-bantu di rumah ini!” Ayu dengan penuh penekanan dan hentakkan mengungkapkannya. Emosi itu seperti mengepulkan asap di kepala.“Heh, ngomong apa ka

  • Yang Kalian Hina Miskin   15 Jangan-Jangan Aku Tidak Berharga Di matamu?

    “Ibu kamu udah pulang?”Setelah kembali dari kepentingannya, Beni menanyakan mertuanya. Karena setelah melihat-lihat sekitar tidak dilihat ibunya Ayu ada di dalam rumah. “Tadi juga sudah, Mas. Ibu nggak lama.” Ayu menjawab dengan singkat.“Oh, terus gimana? Kedatangan ibu kamu ke sini sebenarnya mau apa? Apa benar dia mau pindah ke kota ini dan dekat sama kita?” Tiba-tiba saja Beni mempertanyakan hal yang tadi dikatakan oleh ibunya. Yang di mana tadi Purnamasari koar-koar bahwa besannya itu diusir dari kampung dan akan pindah ke kota ini.“Emang benar ibu sekeluarga mau pindah ke sini, Mas.”“Terus?” “Terus apanya?”“Apa mau pinjam uang ke kita?” Pertanyaan itu membuat hati Ayu terbakar. Dugaan Ayu benar, darah Purnamasari memang menetes pada putranya. Cara bicara, cara bertanya, dan cara memandang sesuatu itu tidak jauh berbeda.“Maksudnya kayak ibunya Mas Andi yang pinjem uang ke kamu sama ke Mama?” Ayu malah menyindir. Tapi memang itu disengaja. Karena didengar-dengar pertanyaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status