INICIAR SESIÓNAlize menatap wanita di hadapannya selama beberapa detik. Setelah semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, ia sama sekali tidak menyangka Gwen akan muncul di Kastil de Mably seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun Alize segera menyingkirkan pikirannya. Ia memberikan senyum sopan. “Tentu, Lady Gwen. Mari kita bicara di ruang kerja saya.” Gwen mengangguk. “Terima kasih, Yang Mulia.” Alize berbalik dan mulai berjalan. Greta segera mengikuti dari belakang, sementara pelayan yang mengantar Gwen menjaga jarak beberapa langkah. Begitu mereka tiba di ruang kerja, Alize mempersilakan Gwen duduk. “Greta, tolong bawakan teh untuk kami.” Greta yang selalu berdiri siaga bergerak. “Baik, Yang Mulia.” Si pelayan membungkuk lalu meninggalkan ruangan. Alize mengambil tempat di seberang Gwen. “Jadi, bagaimana kabarmu, Lady Gwen?” “Baik, Yang Mulia.” Jawaban itu terdengar terlalu singkat. Alize mengangkat alis sedikit. Gwen justru tersenyum tipis. “Saya m
Fran menggeleng. “Tidak ada yang jelas, Yang Mulia.” Alize mengerutkan kening. “Tidak sama sekali?” “Tidak.” Fran memainkan ujung celemeknya. “Kadang-kadang saya melihat sesuatu. Tempat, orang, atau benda. Tetapi semuanya seperti potongan mimpi. Saya tidak tahu mana yang benar-benar pernah terjadi dan mana yang hanya ada di kepala saya.” Alize terdiam sejenak. Ia ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa. Bahwa ia tidak perlu terburu-buru. Namun jauh di dalam hati, Alize sangat berharap Fran segera mengingat semuanya. Bukan hanya karena ia ingin memastikan identitas wanita itu. Tetapi karena semakin lama Fran berada di sisinya, semakin sulit bagi Alize menganggapnya sebagai orang asing. “Ada satu hal yang ingin kutanyakan.” Fran mengangkat wajah. “Silakan, Yang Mulia.” “Apakah kau pernah melihat keluargamu dalam ingatanmu?” Fran mengerutkan kening. “Tidak.” Alize masih mencoba. Nadanya hati-hati, karena ia tidak ingin terkesan mendesak. “Bahkan wajah ses
Alize menghela napas pelan. Ucapan Greta memang lancang. Bahkan terlalu lancang untuk seorang pelayan kepada majikannya. Namun Alize tahu perempuan itu tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangganya. Greta hanya mengatakan apa yang selama ini mungkin juga dipikirkan banyak orang di kastil. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. Dua hari. Hanya dua hari yang ia minta kepada Corentine. Dan ia bahkan belum tahu apa yang akan dilakukannya dengan waktu sebanyak itu. “Sudahlah,” ujar Alize akhirnya. “Bantu aku bersiap, Greta.” Pelayannya segera mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Alize memilih gaun pagi yang sederhana. Rambutnya disanggul rapi, lalu ia meminta sarapan diantarkan ke kamar. Tidak lama kemudian, beberapa pelayan membawa nampan berisi roti hangat, buah, telur, dan teh. Setelah pintu kembali tertutup, Alize duduk seorang diri di meja kecil dekat jendela. Ia mengambil garpu. Namun pikirannya masih tertinggal di tempat tidur semalam. Pada percakapannya de
“Lord Courcy?” Nama itu terdengar begitu asing di telinga Alize hingga ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadari siapa yang sedang dibicarakan. Lord Courcy. Cedric. Ia bahkan sudah berminggu-minggu tidak memikirkan pria itu. Alize menurunkan pandangan. Jemarinya bergerak pelan di atas permukaan buku yang tergeletak di pangkuannya, seolah sentuhan kecil itu bisa membantunya menyusun pikirannya. Ia tidak tahu kapan tepatnya kepercayaan kepada Cedric mulai menghilang. Mungkin sedikit demi sedikit. Setiap sikap mencurigakan. Setiap jawaban yang tidak masuk akal. Setiap kali ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Namun rasa percaya itu benar-benar padam pada hari Cedric mengikatnya dan menyekapnya di dalam lemari. Sejak saat itu, tidak ada lagi bagian dari dirinya yang menunggu pria itu kembali. Tidak ada kerinduan. Tidak ada harapan. Hanya pertanyaan tentang mengapa semua itu terjadi. “Bukan karena dia.” Alize akhirnya mengangkat wajah. Corentine
Alize tidak segera menjawab. Ia menunduk, menatap buku yang sudah tidak lagi ia baca. Ujung jarinya masih bertumpu pada sampulnya, tetapi pikirannya telah jauh meninggalkan halaman-halaman itu. Selama berhari-hari sejak kembali ke Kastil de Mably, ia terus memikirkan masa depannya bersama Corentine. Dulu, ia selalu membayangkan masa depan mereka memiliki batas yang jelas. Ada sebuah perjanjian. Ada sebuah penyelidikan yang harus mereka selesaikan. Dan setelah semuanya berakhir, mereka akan berpisah. Sesederhana itu. Atau setidaknya, dulu ia mengira demikian. Perlahan Alize mengangkat wajah. Corentine masih menatapnya. Pria itu tidak mendesak. Tidak pula mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya. Ia hanya menunggu. “Kau bilang kau rindu padaku di hari pertama aku datang,” ujar Alize akhirnya. Corentine mengangguk kecil. “Dan kau menjawab bahwa kau juga merindukanku,” ujarnya. Alize tersenyum samar. “Benar.” Ia m
“Apa maksud Anda?” Alize bertanya setelah beberapa saat. Nada suaranya tetap tenang, tetapi rasa ingin tahu membuat tubuhnya sedikit condong ke depan. “Maksud Anda kabar itu mungkin bohong? Lady Gwen sebenarnya tidak hendak menikah dengan Lord Ingham?” Lady Helena tersenyum tipis. “Bukan begitu.” Ia mengambil gelasnya, memutarnya perlahan di antara jemari sebelum menjawab. “Sudah menjadi rahasia umum bahwa Lord Cleremont pernah menginginkan Duke de Mably sebagai menantunya. Jika Gwen benar-benar hendak menikah dengan pria lain, berarti keluarga itu mungkin memang sedang membuka lembaran baru.” Alize mengangguk pelan. Tentu saja. Itu masuk akal. Namun Lady Helena belum selesai. “Tetapi Gwen selalu banyak akal sejak kecil.” Tatapannya bergeser kepada Corentine. “Dia bukan tipe wanita yang mudah menyerah. Bahkan setelah Yang Mulia menikah dengan Duke, dia masih berusaha mendekatinya.” Alize menurunkan pandangan ke piringnya. Ia tidak ingin menyangka
Kereta kuda bersimbol beruang perak dan mahkota melintasi pasar diiringi sepuluh pengawal berkuda yang berpencar rapi di sekelilingnya. Hal itu cukup menarik perhatian orang-orang, tetapi Alize tidak peduli. Benaknya penuh dengan isi percakapan dengan Larry dan Edith Hicks. Sebelum ia masuk keret
Corentine bahkan tidak sarapan pagi. Ia pergi lagi setelah memastikan Alize kembali ke dalam kastil. Setelah itu, ia bicara dengan Troy. Alize berharap Troy tidak dimarahi. “Tentu saja tidak.” Troy menyeringai padanya. Mereka hanya sarapan pagi berdua, karena Lady Julia rupanya sangat lelah akiba
“Lady Gwen,” suara Corentine terdengar tenang dari ambang pintu, “tampaknya kau terlalu sering mengatur istriku.” Ruangan langsung hening sesaat. Lady Gwen tampak sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang membuat Alize berjalan mondar-mandir dengan tiga buku di atas kepala. Namun seperti bia
Perasaan itu datang perlahan dan menetap. Sepanjang siang, Alize tidak benar-benar bisa menyingkirkannya. Seolah-olah semua orang diam-diam menyalahkannya. Bukan secara terang-terangan. Namun dari cara mereka bersikap. Bagaimana Troy bereaksi, dari bagaimana Corentine mengambil alih situasi, ba







