Mag-log in"Jangan gila, Naren!" rutuknya sambil melangkah lebih dulu meninggalkan Naren dengan wajah yang ditekuk masam. Naren yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh kecil. --- Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sang suami belum juga kunjung datang. Pikiran Renjana mulai berkelana ke mana-mana, membayangkan apa yang sedang suaminya lakukan bersama perempuan tadi sampai jam segini belum pulang, pikirnya resah. Setelah Naren dan Renjana pulang ke rumah, sampai saat ini Andra masih belum terlihat. Di tengah kegelisahannya, dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. "Halo, Renjana. Apa yang kamu katakan pada cucuku kemarin sampai-sampai ia mendadak menolak tinggal sementara di sini?!" serang Oma dari seberang sana sesaat setelah panggilan tersambung, bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyapa terlebih dahulu. Renjana memejamkan mata, menggenggam ponsel itu dengan erat. "Aku gak ngomong apa-apa, Oma. Hanya saja mungkin Mas An
Renjana menahan napas. Rasa kesal yang sedari tadi berusaha ia pendam akhirnya meluap, terlebih setelah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Ia tak lagi mampu membendung emosinya. Dengan sigap, Renjana membalikkan badan. Namun, Naren bergerak lebih cepat darinya. Pria itu segera meraih Renjana hingga tubuh perempuan tersebut terhuyung masuk ke dalam dekapannya. Dalam satu gerakan, Naren langsung menariknya turun ke bawah. Namun Renjana terus menolak, ia melawan dan berusaha melepaskan genggaman erat itu dari tangan Naren. Dengan wajah tanpa ekspresi, Naren langsung mengangkat dan membopongnya, melangkah tergesa-gesa sebelum orang-orang di sana menyadari keberadaan Renjana. Di tempat yang sepi, Naren langsung menurunkan Renjana. "Kamu apa-apaan sih, Naren?! Kenapa membawaku kesini? Aku ingin menghampiri suamiku, berhenti ikut campur terus!" desisnya kesal dengan napas yang terengah-engah. Bahkan tangan Renjana terangkat, menunjuk ke arah wajah Naren. Naren sama
Renjana kecil menggenggam secarik kertas kelulusan di sana. Senyum manis terkembang di wajahnya. "Kamu ingin melanjutkannya ke jenjang menengah atas?" tanya Nicholas yang selama ini sudah banyak membantu Renjana. Renjana kecil tertegun. Ia menggeleng dan menunduk, namun detik kemudian pria tua itu berkata, "Jangan khawatir, kamu tak sendirian. Ada aku di sini, aku adalah sahabat mendiang ayahmu." Perkataan itu sukses membuat Renjana tertegun kaget bukan main. "Jadi ini alasan Bapak..." Nicholas langsung mengangguk. "Dan ada sebuah amanat dari mendiang ayahmu yang dititipkan kepada saya.""Amanat?" ulang Renjana dengan dahi berkerut. Nicholas mengangguk. "Apa itu, Pak?" "Kami sudah sepakat sejak cucu saya lahir, kita akan menjodohkan kalian. Saya berpikir itu hanya candaan, tapi saat beliau meninggal, di sisa-sisa napas terakhirnya beliau berkata untuk menjodohkan kamu dengan cucu saya." Renjana terperangah."Jadi, jangan mengecewakan ayahmu di sana. Lagi pula, sa
Renjana mengangguk pelan lalu kembali mendongak dengan senyum yang dipaksakan. "Apa itu benar?" tanya pria itu seolah ragu dengan anggukan itu. "Kaaak... aku benar, Andra memperlakukanku dengan baik," selanya cepat. Pria yang baru saja Renjana panggil kakak itu tertegun, menatap dengan tatapan yang sulit dipercaya. "Jika suamimu memperlakukanmu dengan baik, lalu kenapa kamu kesini bersama orang lain, bukan dengan suamimu?" tanyanya lagi, berusaha meyakinkan. Renjana tersenyum manis. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, ia meraih tangan pria itu lalu meremasnya dengan lembut. "Kak, percayalah aku baik-baik saja... dan maaf aku baru bisa datang kesini setelah tiga tahun lamanya," ucapnya sendu. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang mendalam. Pria itu akhirnya mengangguk, berusaha percaya. "Aku janji akan membebaskanmu dari sini. Sabar ya, Kak, sedang aku usahakan. Bagaimana keadaan Kakak di sini?" Beberapa pertanyaan Renjana layangkan. Namun saat pria itu ingin
Setelah mengatakan itu, Andra langsung bangkit dari duduknya. "Aku akan pergi ke kantor Oma dulu!" ucapnya sambil berlalu pergi begitu saja, tak menunggu izin dari sang istri. Bertepatan dengan itu, ponsel Renjana berdering nyaring, pertanda ada telepon masuk. Tanpa menundanya lagi, Renjana langsung mengangkat panggilan itu, terlebih saat melihat siapa yang menelepon. "Halo, Ana?" Sambungan itu terdengar suara seorang pria. Naren yang masih duduk di sana dan belum beranjak pun langsung menoleh, menatap Renjana dengan datar dan mengintimidasi. "Ana?" gumamnya mengulang panggilan asing itu. Renjana menoleh sekilas ke arah Naren. Menyadari tatapan pria itu. "I...iya?" jawab Renjana namun pandangannya tertuju pada Naren. "Bagaimana kabarmu, Ana?" tanya orang itu.Renjana terdiam sesaat, lalu mengangguk lemah, meski ia tahu bahwa orang di seberang sana tidak akan bisa melihatnya. "Aku baik," ujar Renjana lirih. "Bisakah kita bertemu?" Perkataan itu semakin membuat wajah
"Sial, kamu mulai berani mengancamku. Awas aja!" desis Andra tepat di telinga Renjana. "Ayo pulang!" lanjutnya bengis. Di dalam mobil dengan dikendarai oleh Naren, Andra berhasil pulang akibat ancaman Renjana. Namun tanpa Renjana ketahui, Andra telah memikirkan sesuatu agar tak bisa Renjana kendalikan. Tatapan itu tajam menghunus ke arah Renjana yang sedang sibuk melihat ponsel, sibuk membaca dan membalas komentar-komentar positif yang penggemarnya layangkan. "Sudah berapa kali kalian melakukannya?" tanya Andra tiba-tiba membuka suara di keheningan dalam mobil itu. Renjana menghentikan aktivitas tangannya. Ia menoleh ke arah Andra dan menjawab, "Em, masalah itu...." "Jawab, Naren!" suara Andra menyela, sama sekali tak menoleh ke arah sang istri. Renjana mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menatap Naren dengan waswas. "Hanya sekali, Tuan belum memerintahkan lagi!" jawab Naren tenang. Renjana yang tadi sempat menahan napas, kini bisa menghela napas lega.
Renjana terus menatap tangkapan layar komentar yang sempat ia simpan tadi dengan pandangan bingung. Bahkan, sudah hampir satu jam sejak siaran langsungnya berakhir, Renjana masih bergeming di posisinya. Jarinya mencengkeram erat ponsel itu. Ia bimbang, haruskah ia menanyakan maksud dari komentar
"Jangan ceritakan apa pun lagi, dan lupakan saja semuanya! Anggap itu tidak pernah terjadi," desis Renjana, menatap serius tepat ke manik mata sang koki. Kali ini, Naren tidak tinggal diam. Ia menggerakkan jemarinya, meremas tangan Renjana yang masih berada di bibirnya. Renjana langsung tersent
Mata Renjana tak teralihkan. Ia terus menatap ke depan, memperhatikan bagaimana tubuh kekar itu bergerak dengan cekatan menyiapkan cake yang ia inginkan. Tanpa Renjana sadari, ia menopang dagu dengan kedua tangannya, menyunggingkan senyum tipis ke arah Naren. Mata belonya terus berkedip, mengamati
Renjana menatap layar ponselnya dengan cemas. Jari-jarinya tak berhenti menekan tombol panggil, mencoba menghubungi sang suami untuk kesekian kalinya. Kekhawatiran luar biasa menyergap dadanya. Bagaimana tidak? Sejak semalam hingga sepagi ini, suaminya sama sekali belum memberi kabar. "Kamu knap







