Share

ITU SANGAT...

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-06-05 21:57:19

Renjana melotot tak percaya, tubuhnya menegang hebat menerima serangan mendadak yang begitu intens.

Namun, kehangatan sentuhan tangan Naren yang kini menangkup tengkuknya, serta lumatan di bibirnya, membuat seluruh pertahanan Renjana runtuh dalam sekejap. Sentuhan itu terasa begitu lembut sekaligus menuntut, sebuah pelepasan yang teramat sulit untuk ia tolak lagi.

​Selama beberapa menit yang panjang, keduanya saling bertaut, saling menyesap dan berbagi napas yang kian memburu. Hingga akhir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   ADA YANG ANEH?

    ​"Mas, kenapa kamu mengatakan itu? Itu salah, itu fitnah! Bagaimana kalau nanti Oma, Mami, dan yang lainnya menonton?" tanya Renjana di dalam mobil setelah acara selesai. Renjana mendapat bayaran lebih setelah Andra mengatakan hal itu, karena menjadi tayangan perdana. ​Andra tidak menggubris. Ia sibuk melihat saldo Renjana yang semakin menggemuk. "Sudahlah, gapapa, Renjana. Bagus itu, toh kamu juga lagi program hamil sama Naren!" jawab Andra enteng, membuat Renjana menghela nafas panjang dan membuang wajah ke arah jendela. Ia merasa teramat kecewa dengan perlakuan Andra yang semakin semena-mena. ​"Tapi bagaimana kalau gagal?" tanya Renjana kembali menatap Andra. ​"Jangan khawatir, Naren subur. Makanya sering-seringlah minta sama dia selama kalian menjalani proses ini. Aku tak akan menyentuhmu, biarkan kamu fokus bersama Naren!" jelasnya, dan ucapan terakhir itu sukses membuat hati Renjana seolah diremas dengan kuat. ​"Mas, kamu enteng banget ngomongnya!" ​"Diam, Renjan

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HAMIL?

    "Wah, sepertinya bakal ada kejutan, nih, Sobat Ambyar!" sela sang host dengan senyum semringah. "Kejutannya apa? Jangan ke mana-mana, ya. Kita kembali lagi setelah jeda iklan!" Ucapan itu sontak memancing rasa penasaran para penonton. Tak sedikit yang terdengar mengeluh karena harus menunggu. Beberapa saat kemudian, acara pun memasuki jeda iklan. Selama siaran dihentikan sementara, seluruh kru, host, dan para bintang tamu memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sejenak, makan, atau minum sebelum kembali melanjutkan acara. ​"Minum dulu, Mbak," ucap seorang remaja perempuan menghampiri Renjana, menyerahkan roti dan sebotol minuman. ​ "Tunggu, Nak..." cegah Renjana saat gadis itu hendak pergi. "Iya, Kak?" "Kamu bekerja?" Gadis itu mengangguk pelan. "Lalu... kamu masih sekolah?" Perlahan, gadis itu menggeleng. Tatapannya jatuh ke lantai. "Kenapa, Sayang?" tanya Renjana dengan suara yang jauh lebih lembut. Ia bangkit, lalu menuntun gadis itu untuk duduk di kursi yang s

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   BINTANG TAMU

    ​Keesokan harinya benar saja, Renjana dituntut sudah harus sembuh oleh Andra. ​"Sayang, kamu kemana saja? Kenapa jarang ada di rumah akhir-akhir ini? Aku sakit, Mas, apa-apa serba sendirian," keluh Renjana saat pagi buta Andra baru pulang dengan keadaan yang sudah kusut masai. ​Mendengar itu, Andra mendelik tajam. "Jangan lebay, Renjana! Kamu gak apa-apa sendiri, ada pembantu yang ladenin kamu!" desisnya sambil fokus membuka semua bajunya, berencana ingin mandi. ​"Mas, tunggu... tunggu..." sela Renjana saat melihat leher Andra merah, ada beberapa bercak di sana. "Ada apa itu, Mas? Tanda ini lagi?" pekiknya sambil menyambar tangan Andra dengan cepat. ​Pria itu langsung tertegun, lalu detik kemudian ia menepis tangan Renjana dengan kasar. ​"Apasih, Renjana! Ini nih yang aku males dari kamu. Pulang kerja bukannya disambut, malah dicurigai mulu! Kamu mau aku pulang ke rumah Mami lagi dan mengadukan lagi kalau kamu udah fitnah aku?" ancamnya, membuat Renjana mengatupkan bibirny

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PERLAKUAN YANG BERBEDA

    ​"Enggak, kenapa aku jadi gini?" tanyanya pada diri sendiri, menatap atap langit dengan pandangan yang sulit ia jelaskan. ​"Ini salah. Apa yang aku lakukan tadi? Apa yang aku katakan tadi pada Naren?" ​"Apa tadi aku tersipu?" ucapnya lagi, terus memikirkan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan sejak tadi dalam tubuhnya. ​"Ah, ini salah!" teriaknya frustrasi dengan meraup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya itu. ​Ia menggigit bibirnya dengan kuat, sampai-sampai... "Aw..." pekik Renjana pelan. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya terlalu kuat karena terus memikirkan kejadian tadi. Belum sempat ia menenangkan diri, suara ketukan di pintu tiba-tiba memecah keheningan. Renjana sontak menoleh ke arah pintu. ​"Nyonya, buburnya sudah siap," teriak asisten di luar sana. ​Dikarenakan kamarnya kedap suara, ia langsung bangkit dan membuka pintu dari dalam. ​"Simpan saja di atas meja, Bi," ucap Renjana yang langsung mendapat anggukan dari sang asisten. ​Renjana mulai meny

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SENYUM MANIS DI BALIK TELEPON

    Sesampainya di mansion, Renjana justru disambut dengan suasana yang begitu sepi. Rumah seluas itu terasa hampa karena tak ada siapa pun. Tanpa sadar, Renjana mengembuskan napas panjang. ​Renjana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah yang terasa begitu lengang. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga tergopoh-gopoh menghampirinya dan dengan sigap mengambil tas yang masih dijinjingnya. ​ ​"Maaf Nyonya, saya tidak mendengar nyonya masuk," ucapnya hati-hati sambil terus menundukkan kepalanya, merasa sangat malu dan bersalah. ​Renjana hanya tersenyum simpul. ​"Gak apa-apa, tapi lain kali jangan gitu ya, takut ada tamu penting. Kamu kan ditugaskan di depan," tegurnya dengan secara sehalus mungkin. Asisten rumah tangga itu mengangguk hormat. Ia mempersilakan sang nyonya masuk ke kamar terlebih dahulu, lalu mengikuti di belakangnya. ​"Bi, tolong siapkan bubur ayam sama buah-buahan segar," titah Renjana pada sang asisten, yang langsung ditanggapi dengan angguk

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SIAPA NAREN SEBENARNYA?

    ​"Get well soon sahabat cantikku!" ​Renjana membaca caption itu, namun yang menjadi masalah bukan itu, tapi di sana foto itu benar-benar buruk dengan rambut yang diikat asal dan wajah sangat pucat tanpa polesan make up sama sekali. Renjana menghela napas, mematikan layarnya dan menyimpannya kembali ke atas meja. Naren yang memperhatikan itu tak berniat bertanya sama sekali, ia sibuk dengan mengunyah apel. ​Sementara itu di sisi lain, Selena menatap komentar-komentar dalam postingan dirinya bersama Renjana. "Sengaja banget dia foto sama Renjana dengan keadaan begitu biar dia dibilang cantik mungkin!" "Caper banget neng biar disebut cantik makanya jatuhin orang dengan foto begitu." " Sel, yakin kmu lebih cakep dari renjana?" "Kalau mendung ya mendung aja deh, Sel. Nggak usah kepedean." "Kelihatan banget takut kalah saingnya." ​Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang sama sekali Selena tak menyangka. ​"Kurang ajar, bukannya dapat pujian malah dapat hujatan!" gumamn

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   KERIBUTAN

    Renjana terus menatap tangkapan layar komentar yang sempat ia simpan tadi dengan pandangan bingung. Bahkan, sudah hampir satu jam sejak siaran langsungnya berakhir, Renjana masih bergeming di posisinya. ​Jarinya mencengkeram erat ponsel itu. Ia bimbang, haruskah ia menanyakan maksud dari komentar

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   KOMENTAR

    ​"Jangan ceritakan apa pun lagi, dan lupakan saja semuanya! Anggap itu tidak pernah terjadi," desis Renjana, menatap serius tepat ke manik mata sang koki. ​Kali ini, Naren tidak tinggal diam. Ia menggerakkan jemarinya, meremas tangan Renjana yang masih berada di bibirnya. Renjana langsung tersent

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PERHATIAN KECIL

    ​Renjana menatap layar ponselnya dengan cemas. Jari-jarinya tak berhenti menekan tombol panggil, mencoba menghubungi sang suami untuk kesekian kalinya. Kekhawatiran luar biasa menyergap dadanya. Bagaimana tidak? Sejak semalam hingga sepagi ini, suaminya sama sekali belum memberi kabar. ​"Kamu knap

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   MALU LUAR BIASA

    ​Karena nafsunya sudah jauh lebih besar daripada rasa takut, Naren akhirnya memilih untuk mengabaikan panggilan di luar pintu itu. Ia jauh lebih tertarik pada sang nyonya di hadapannya yang bergerak semakin beringas, menuntut pelepasan dengan goyangan pinggul yang memabukkan. ​Naren mencengk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status