Share

Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku
Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku
Author: Ayuwine

TOPENG

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-05-25 17:13:46

Mata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand.

​Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan sempurna. Pria itu murah senyum dan tampaknya enggan melewatkan satu menit pun tanpa menyentuh Renjana, membuat wanita itu tersenyum manis.

Sama  sekali tidak kelihatan bahwa Renjana berada dalam tekanan.

“Jadi bisa disimpulkan kalau Kak Renjana ini idaman sekali ya,” ucap host yang memimpin wawancara. “Begitu, bukan, Kak Andra?”

Andra tersenyum. “Dia tidak sempurna, tapi dia sempurna untuk saya.”

“Manis sekali~” Host kembali berkomentar. "Kalian menikah sudah cukup lama, tapi apakah belum memikirkan soal momongan? Bukannya itu akan makin menyempurnakan pernikahan kalian?" 

Dalam video, Andra tertawa kecil. “Betul,” jawabnya. “Banyak yang bertanya, sampai berasumsi jangan-jangan saya belum siap membagi istri saya dengan anak nantinya.”

“Tapi sebenarnya bukan itu alasannya,” lanjut Andra. Ia merangkul bahu Renjana di sampingnya. “Seperti yang kita semua tahu, hamil akan membuat bentuk tubuh serta hormon perempuan berubah. Jadi perlu kesiapan Renjana untuk itu.”

Renjana akhirnya mematikan video itu dan langsung membalikkan ponselnya ke meja. 

Jawaban Andra sepintas terasa manis, seakan Andra tidak mempermasalahkan mereka yang tidak punya momongan meski sudah tiga tahun menikah. Seakan Andra memahami kesulitan Renjana dan langsung menjadi suami sempurna di mata publik.

Sekaligus menjadikan Renjana kambing hitam untuk disalahkan dalam masalah ini.

Renjana memejamkan mata, menghela napas panjang untuk menenangkan diri atas sesuatu yang mustahil bisa ia dapatkan dari suaminya.

​Di dalam video yang kembali berputar, terlihat Andra menyela pertanyaan tersebut dengan tawa kecil. Sikapnya tampak sangat santai menanggapi para media, tetapi sorot netranya berubah dingin saat sempat berpapasan dengan tatapan sang istri.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki yang mendekat membuyarkan lamunan Renjana yang tengah duduk di kursi ruang utama.

"Sedang apa kamu, Jana?" tanya sang suami. 

​Sebuah senyum tipis dipaksakan di bibir Renjana. Tatapan tajam Andra membuat dirinya sedikit gemetar.

“Bukan apa-apa, Mas. Hanya menonton wawancara kemarin,” jawab Renjana kemudian.

Andra melangkah mendekat untuk mengecek ponsel Renjana.

“Oh,” komentar pria itu singkat. Ia menoleh ke arah Renjana, lalu mengernyit. “Tapi kenapa ekspresimu begitu?”

“Nggak  apa-apa, Mas. Hanya saja–”

Andra memutar video wawancara itu, langsung melanjutkan dari detik ketika Renjana menjedanya. Suara manis Andra langsung terdengar, menjelaskan soal kondisi Renjana yang cukup sibuk dan harus menjaga kesehatan.

Terdengar paling peduli, padahal tidak sama sekali.

“Mas,” panggil Renjana hati-hati. “Untuk pertanyaan soal momongan bukannya seharusnya tidak ada?”

“Oh, kemarin kutambahkan. Banyak followers kamu bertanya-tanya, jadi sekalian saja dijawab begini.” Andra menatap Renjana. “Kenapa? Kamu tidak terima dengan jawaban yang sudah kusiapkan?”

“Bukan begitu,” jawab Renjana dengan suara lembut, mencoba menguatkan suaminya yang ego dan sensitivitasnya memang jauh lebih tinggi.

“Lalu apa? Jangan membohongiku,” tukas Andra. Ia menarik Renjana agar berdiri, tangannya mencengkeram milik Renjana kuat-kuat, membuat wanita itu mengaduh pelan. “Memangnya kamu mau aku jawab bagaimana? Kalau aku tidak bisa buat kamu hamil? Begitu!?”

"Bukan, Mas... bukan begitu..." rintih Renjana dengan suara yang mulai terisak.

​"Ah, bilang saja kalau kamu memang mau menyindirku!" sentak Andra sambil menepiskan tangan Renjana dengan kasar hingga perempuan itu terduduk kembali di kursi.

Renjana menggigit bibirnya, menahan isakannya agar tidak keluar dan makin membuat Andra marah.

Inilah wujud asli suaminya. Semua ucapan dan sikap manis yang biasanya ditampilkan di media hanyalah kebohongan semata. 

Pernikahan mereka sudah berjalan tiga tahun  dan tidak ada satu hari pun Renjana lewati dengan damai. 

Renjana pikir, sekalipun dijodohkan, mungkin pernikahan mereka akan baik-baik saja. Ia tidak muluk-muluk meminta suami yang mencintai serta bersedia memanjakannya setiap hari, ataupun memuja sifatnya yang lemah lembut. Yang ia harapkan adalah sebuah pernikahan sederhana di mana ia bisa pulang dengan tenang dan mungkin mengobrol dengan suami soal hari-hari yang mereka lalui.

Tapi ia justru menikah dengan Andra. Yang sejak awal pernikahan sudah memperlakukannya sebagai barang investasi. 

Sejak menikah, Renjana memang menjadi lebih cantik dan terawat, bahkan kerap kali mengenakan bahan branded hasil sponsor. Semuanya memang berkat Andra yang menjadi manajernya.

Tapi pria yang sama itulah yang bisa dengan ringan tangan memukulnya, mengatai Renjana, memperlakukannya seperti boneka. Andra adalah seorang pria dengan ego tinggi dan abusif.

“Oh ya, aku mau bicara soal tawaran baru,” kata Andra kemudian. Dia duduk dengan santai di depan Renjana dan mengutak-atik tablet di tangan. “Tawarannya oke, dan aku sudah terima.”

“Tawaran brand apa, Mas?” tanya Renjana. Ia mencoba tidak memicu kemarahan Andra lagi.

“Nih. Baca.” Andra menyerahkan tablet di tangannya.

Renjana mengambil tablet tersebut, membaca baris demi baris poin kerja sama dari pihak agensi. Awalnya, ekspresi Renjana biasa saja.

Namun, begitu matanya sampai pada poin utama kontrak, bola matanya membulat sempurna.

“Mas, kita nggak bisa ambil tawaran ini,” ucap Renjana seketika. “Di sini mereka minta aku untuk hamil–untuk kita punya bayi. Kita nggak mungkin ….”

“Fokusmu itu jangan di sana!” bentak Andra. Sepasang matanya berkilat menyeramkan, penuh keserakahan. “Lihat bayarannya per konten. Ini rekor penawaran kita!”

“Mas, kamu tahu kata dokter. Ini bukannya kita nggak mencoba program hamil atau sejenisnya, tapi–”

“Karena aku mandul? Itu yang mau kamu katakan!?”

Andra tiba-tiba berdiri dan menghampiri Renjana. Dicengkeramnya dagu wanita itu untuk memaksa Renjana menatap matanya yang dingin. 

"Dunia ini luas, Renjana. Atas izinmu atau tidak, aku akan menemukan seseorang yang menanam benih dalam dirimu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HOTEL YANG SUDAH DI SIAPKAN

    Naren tidak langsung menjawab. Namun sekali lagi, tatapan pria itu mampu membuat pundak Renjana perlahan melorot pasrah. “Kenapa kamu mau?” ringis Renjana pelan, tubuhnya sedikit condong ke arah Naren. “Apakah Nyonya perlu tahu alasan saya menerima perintah Tuan Andra?” balas Naren tenang, justru membuat Renjana mengerang frustrasi. Rasa nikmat dari kopi yang baru saja ia minum seketika lenyap begitu saja. “Kamu sadar gak sih sebenarnya suamiku menyuruh apa?!” Kali ini suara Renjana naik beberapa tingkat, dipenuhi emosi yang mulai sulit dibendung. Naren terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab datar, “Tuan Andra meminta saya membantu program kehamilan Nyonya.” Mata Renjana langsung membesar. Ia menatap kosong ke arah pria di hadapannya. Perlahan, matanya memanas, dipenuhi air mata yang siap jatuh kapan saja. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Renjana berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Naren yang masih berdiri diam memandangi punggung majikannya hingga sosok itu menghil

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SANG KOKI YANG SETUJU

    Renjana menggeleng kikuk. Ia mengurungkan niat awalnya untuk turun ke bawah; rasa hausnya mendadak lenyap entah ke mana. Namun entah karena terlalu gugup, Renjana tiba-tiba membuka suara. Sedetik kemudian, matanya langsung membulat sempurna, terkejut dengan ucapannya sendiri. “Saya tidak apa-apa… tapi tolong antarkan kopi susu ke kamar, ya.” Naren tidak membantah. Ia langsung mengangguk tegas. “Baik, Nyonya.” " ​Duh, kok aku bisa ngomong begitu, sih? Nganter kopi ke kamar?" lirih Renjana dalam hati. Ia merutuki diri sendiri. Kenapa di hadapan bawahannya sendiri ia justru merasa begitu kecil dan terintimidasi? "Aish, aura pria itu sangat menakutkan", lanjutnya cemas. ​Saat Renjana berniat menarik kembali ucapannya tadi, ternyata Naren sudah tak berada di hadapannya. Pria itu telah sibuk di dapur, menyiapkan pesanan yang baru saja ia minta. Tangan kekar dan kokohnya terlihat begitu terampil saat mengambil gelas dan mengaduk kopi, gerakannya tenang dan rapi. ​Renjana mengg

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TATAPAN YANG MENGUNCI

    Setelah mengatakan ancaman itu, Andra melangkah turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan keluarga besarnya. Tentu saja, senyum ramah langsung mengembang di wajah tampannya, seolah-olah tidak pernah terjadi ketegangan apa pun di antara mereka. ​Dari atas koridor, Renjana hanya bisa memperhatikan kehangatan keluarga suaminya. Mereka benar-benar terlihat bahagia, sangat berbeda dengan diriku, batinnya miris. ​Merasa asing di rumah sendiri, Renjana akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia membuka ponselnya, memeriksa detail jadwal kegiatannya besok; menghitung berapa jam ia harus melaksanakan sesi live endorsement bersama beberapa artis papan atas lainnya. ​Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga malam semakin larut. Sebagian besar anggota keluarga sudah masuk ke kamar masing-masing. Hanya Bianca—kakak iparnya—yang masih santai menonton televisi di ruang tamu. Sementara Andra? Entahlah. Pria itu memang sering menghilang secara misterius. Kadang terlihat, kadang

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   JEBAKAN TANPA PILIHAN

    Renjana menggeleng kuat, air matanya kembali luruh. “M-maksud kamu gimana, Mas? Aku harus berhubungan dengan pria lain?”“Memangnya aku kurang jelas bicara!?”“Mas, di sini masih ada program bayi tabung … aku nggak mau–”“Memangnya kamu bisa bayar? Uang dari mana?” tukas Andra. Dulu, Renjana dinikahi dari keluarga miskin, dan saat sudah bekerja sebagai influencer, semua uangnya diatur oleh Andra. “Aku nggak sudi mengeluarkan uang lebih untuk program itu! ”Sekujur tubuh Renjana meremang hebat, ia bergidik ngeri. Seumur hidupnya, tak pernah terlintas dalam benak Renjana untuk melakukan hal segila dan senista ini demi materi.Padahal semua jerih payah Renjana ada hasilnya. Tapi pria yang ia nikahi itu sungguh tamak dan kikir.Tepat saat Andra hendak menarik paksa Renjana untuk turun ke lantai bawah, sesosok bayangan mendadak muncul di ujung koridor. Kehadiran orang itu seketika membuat Andra tersentak kaget, begitu pula dengan Renjana.Andra sampai lupa di bawah sana, keluarga besarnya

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HAMIL DENGAN ORANG LAIN?

    Manik mata Renjana bergetar, tidak percaya akan ucapan suaminya.“Jangan memasang wajah seperti itu di depanku, Renjana,” ucap Andra dingin. Ia akhirnya melepaskan Renjana. “Semua yang kulakukan demi kebaikan kita. Demi masa depanmu juga.”“Masa depan yang mana, Mas?” Air mata Renjana kembali jatuh. “Masa depan yang bagaimana?Andra melangkah mendekat, lalu mengusap air mata di pipi Renjana dengan ibu jarinya.“Suamimu tahu yang terbaik. Tugas istri adalah berbakti. Jangan mempertanyakan setiap keputusanku, Jana.” Tepat setelah perdebatan sengit itu, seorang pelayan datang dengan tubuh sedikit membungkuk.“Maaf, Tuan, Nyonya… keluarga besar sudah menunggu di luar.”​Andra bangkit dari duduknya, mengabaikan rasa sakit yang baru saja ia torehkan pada hati istrinya. Hal seperti ini tentu saja sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Renjana. Para asisten dan pelayan di rumah ini sebenarnya tahu tabiat asli Andra, tetapi mereka tidak pernah berani ikut campur. Mereka memilih berpura-pura

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TOPENG

    Mata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand.​Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan sempurna. Pria itu murah senyum dan tampaknya enggan melewatkan satu menit pun tanpa menyentuh Renjana, membuat wanita itu tersenyum manis.Sama sekali tidak kelihatan bahwa Renjana berada dalam tekanan.“Jadi bisa disimpulkan kalau Kak Renjana ini idaman sekali ya,” ucap host yang memimpin wawancara. “Begitu, bukan, Kak Andra?”Andra tersenyum. “Dia tidak sempurna, tapi dia sempurna untuk saya.”“Manis sekali~” Host kembali berkomentar. "Kalian menikah sudah cukup lama, tapi apakah belum memikirkan soal momongan? Bukannya itu akan makin menyempurnakan pernikahan kalian?" Dalam video, Andra tertawa kecil. “Betul,” jawabnya. “Banyak yang bertanya, sampai berasumsi jangan-jangan saya belum s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status