LOGIN
Mata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand.
Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan sempurna. Pria itu murah senyum dan tampaknya enggan melewatkan satu menit pun tanpa menyentuh Renjana, membuat wanita itu tersenyum manis. Sama sekali tidak kelihatan bahwa Renjana berada dalam tekanan. “Jadi bisa disimpulkan kalau Kak Renjana ini idaman sekali ya,” ucap host yang memimpin wawancara. “Begitu, bukan, Kak Andra?” Andra tersenyum. “Dia tidak sempurna, tapi dia sempurna untuk saya.” “Manis sekali~” Host kembali berkomentar. "Kalian menikah sudah cukup lama, tapi apakah belum memikirkan soal momongan? Bukannya itu akan makin menyempurnakan pernikahan kalian?" Dalam video, Andra tertawa kecil. “Betul,” jawabnya. “Banyak yang bertanya, sampai berasumsi jangan-jangan saya belum siap membagi istri saya dengan anak nantinya.” “Tapi sebenarnya bukan itu alasannya,” lanjut Andra. Ia merangkul bahu Renjana di sampingnya. “Seperti yang kita semua tahu, hamil akan membuat bentuk tubuh serta hormon perempuan berubah. Jadi perlu kesiapan Renjana untuk itu.” Renjana akhirnya mematikan video itu dan langsung membalikkan ponselnya ke meja. Di telinga orang lain, jawaban itu terdengar manis. Bagi Renjana, itu hanya cara lain Andra melempar kesalahan kepadanya. Renjana memejamkan mata, menghela napas panjang untuk menenangkan diri atas sesuatu yang mustahil bisa ia dapatkan dari suaminya. Di dalam video yang kembali berputar, terlihat Andra menyela pertanyaan tersebut dengan tawa kecil. Sikapnya tampak sangat santai menanggapi para media, tetapi sorot netranya berubah dingin saat sempat berpapasan dengan tatapan sang istri. Tap. Tap. Tap. Suara langkah kaki yang mendekat membuyarkan lamunan Renjana yang tengah duduk di kursi ruang utama. "Sedang apa kamu, Jana?" tanya sang suami. Sebuah senyum tipis dipaksakan di bibir Renjana. Tatapan tajam Andra membuat dirinya sedikit gemetar. “Bukan apa-apa, Mas. Hanya menonton wawancara kemarin,” jawab Renjana kemudian. Andra melangkah mendekat untuk mengecek ponsel Renjana. “Oh,” komentar pria itu singkat. Ia menoleh ke arah Renjana, lalu mengernyit. “Tapi kenapa ekspresimu begitu?” “Nggak apa-apa, Mas. Hanya saja–” Andra memutar video wawancara itu, langsung melanjutkan dari detik ketika Renjana menjedanya. Suara manis Andra langsung terdengar, menjelaskan soal kondisi Renjana yang cukup sibuk dan harus menjaga kesehatan. Terdengar paling peduli, padahal tidak sama sekali. “Mas,” panggil Renjana hati-hati. “Untuk pertanyaan soal momongan bukannya seharusnya tidak ada?” “Oh, kemarin kutambahkan. Banyak followers kamu bertanya-tanya, jadi sekalian saja dijawab begini.” Andra menatap Renjana. “Kenapa? Kamu tidak terima dengan jawaban yang sudah kusiapkan?” “Bukan begitu,” jawab Renjana dengan suara lembut, mencoba menguatkan suaminya yang ego dan sensitivitasnya memang jauh lebih tinggi. “Lalu apa? Jangan membohongiku,” tukas Andra. Ia menarik Renjana agar berdiri, tangannya mencengkeram milik Renjana kuat-kuat, membuat wanita itu mengaduh pelan. “Memangnya kamu mau aku jawab bagaimana? Kalau aku tidak bisa buat kamu hamil? Begitu!?” "Bukan, Mas... bukan begitu..." rintih Renjana dengan suara yang mulai terisak. "Ah, bilang saja kalau kamu memang mau menyindirku!" sentak Andra sambil menepiskan tangan Renjana dengan kasar hingga perempuan itu terduduk kembali di kursi. Renjana menggigit bibirnya, menahan isakannya agar tidak keluar dan makin membuat Andra marah. Inilah wajah asli Andra yang tidak pernah diperlihatkan kepada publik. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Renjana sudah terlalu sering melihatnya. Di luar sana, Andra adalah suami sempurna. Di rumah ini, Renjana bahkan tidak bisa mengutarakan pendapatnya sendiri. “Oh ya, aku mau bicara soal tawaran baru,” kata Andra kemudian. Dia duduk dengan santai di depan Renjana dan mengutak-atik tablet di tangan. “Tawarannya oke, dan aku sudah terima.” “Tawaran brand apa, Mas?” tanya Renjana. Ia mencoba tidak memicu kemarahan Andra lagi. “Nih. Baca.” Andra menyerahkan tablet di tangannya. Renjana mengambil tablet tersebut, membaca baris demi baris poin kerja sama dari pihak agensi. Awalnya, ekspresi Renjana biasa saja. Namun, begitu matanya sampai pada poin utama kontrak, bola matanya membulat sempurna. “Mas, kita nggak bisa ambil tawaran ini,” ucap Renjana seketika. “Di sini mereka minta aku untuk hamil–untuk kita punya bayi. Kita nggak mungkin ….” “Fokusmu itu jangan di sana!” bentak Andra. Sepasang matanya berkilat menyeramkan, penuh keserakahan. “Lihat bayarannya per konten. Ini rekor penawaran kita!” “Mas, kamu tahu kata dokter. Ini bukannya kita nggak mencoba program hamil atau sejenisnya, tapi–” “Karena aku mandul? Itu yang mau kamu katakan!?” Andra tiba-tiba berdiri dan menghampiri Renjana. Dicengkeramnya dagu wanita itu untuk memaksa Renjana menatap matanya yang dingin. "Dunia ini luas, Renjana. Atas izinmu atau tidak, aku akan menemukan seseorang yang menanam benih dalam dirimu.” Renjana membeku. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut pada suaminya sendiri. "Mas... kamu gila..." bisik Renjana lirih dengan air mata yang luruh. "Aku realistis!" Andra menghempaskan dagu Renjana dengan kasar. Tok. Tok. Pintu penghubung dapur terbuka. "Makan malam siap." Suara bariton yang berat dan lugas itu memotong ucapan Andra. Renjana menoleh, mendapati Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu. Seragam koki hitam itu tidak mampu menyembunyikan postur tegapnya. Rahangnya tegas, sementara sorot matanya tajam dan sulit ditebak. Naren. "Pesanan kopi Anda, Tuan." Suaranya rendah dan lugas. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyum berlebihan. Andra memandangnya selama beberapa detik, lalu perlahan tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Renjana seketika meremang. "Tepat waktu," puji Andra. Naren mengangguk singkat. Namun, sebelum pria itu sempat berbalik untuk pergi, suara Andra kembali menginterupsi. "Naren." Langkah kaki pria itu terhenti seketika. "Ada pekerjaan baru untukmu." Naren tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, pria itu menoleh ke arah Renjana, mengabaikan Andra sejenak. Tatapan mereka bertemu di udara. Entah kenapa, di bawah intimidasi sepasang mata yang tajam itu, jantung Renjana mendadak berdebar tidak nyaman. Ada rasa waswas yang langsung mencengkeram dadanya. Naren kemudian mengalihkan kembali fokusnya, lalu menyahut dengan suara rendah yang tenang, "Saya dengarkan, Tuan." Suasana di dalam apartemen mewah milik Selena terasa begitu panas. Bau aroma terapi yang biasanya menenangkan kini tak mampu mengusir hawa permusuhan yang menyelimuti seluruh ruangan. Andra duduk terhenyak di sofa kulit, meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ingin pecah. Di atas meja kaca di hadapannya, layar ponsel mewahnya terus menyala, menampilkan pemberitahuan berita infotainment yang terus diperbarui setiap detiknya. [EXCLUSIVELY: Terekam Kamera! Suami Influencer Renjana Kabur Lewat Pintu Belakang Saat Dikerumuni Wartawan!] Sebuah potongan video pendek memperlihatkan mobil mewahnya melaju kencang, menancap gas dan hampir menyenggol seorang wartawan di dekat gerbang belakang rumahnya. Aksi kaburnya yang nekat itu bukannya meredakan suasana, justru kian mempertegas kesalahannya di mata publik. Tagar nama Andra kini berada di urutan teratas perbincangan nasional, dipenuhi makian dan kecaman dari warganet. "Bagus! Sangat ba
Keheningan di dalam kamar tidur utama vila terpencil itu mendadak terasa begitu pekat dan menekan. Cahaya temaram dari lampu tidur memantulkan bayangan dua tubuh yang masih bergeming. Pengakuan Naren barusan menggantung di udara, membekukan seluruh hangat gairah yang beberapa saat lalu sempat melingkupi mereka. Dada Renjana naik turun, menahan napas yang terasa tertahan di tenggorokan. Pria yang baru saja memeluknya dengan begitu penuh kelembutan, pria yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar di saat dunia menghancurkannya, kini menguraikan identitas aslinya yang kelam dan tak terduga. Naren bukan sekadar pelayan, juru masak, atau sosok "koki" biasa yang selama ini diam menuruti semua perintah keluarga Pratama. Ia adalah putra tunggal dari Theo Santoso dan Renata Avelin—pasangan konglomerat pemilik sah perusahaan Aurelio Diningrat, sebuah jaringan restoran elit bernilai fantastis yang menguasai berbagai kota besar di Indonesia, bahkan dikenal luas sebagai raksasa bisn
"Bukan cuma kamu yang rindu, Na... Aku jauh lebih rindu," bisik Naren lembut. Suara berat pria itu bergetar, sarat akan kerinduan yang selama ini tertahan rapat. Tatapan matanya begitu hangat dan dalam, seolah sanggup menyerap seluruh ketakutan, rasa sakit, serta kepedihan yang membelenggu Renjana. Di dalam ruangan vila yang tenang itu, kehadiran Naren secara ajaib membawa kedamaian yang amat langka—sebuah rasa aman dan nyaman yang belum pernah Renjana dapatkan selama bertahun-tahun terjebak dalam kepalsuan rumah tangganya. Tangan Naren yang kekar terangkat perlahan, membelai lembut helai demi helai rambut Renjana yang harum. Usapan itu begitu teratur, membuat Renjana spontan memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang menenangkan. Namun, saat tatapan Naren turun dan mengunci pada belahan bibir Renjana yang sedikit terbuka, ingatan-ingatan itu mendadak berkelebat hebat di kepalanya. Bayangan saat dirinya memberikan kepuasan, memanjakan, dan membawa wanita itu ke punc
Namun, tak berselang beberapa detik setelah mematikan telepon, kesadaran mendadak menghantam kepala Andra. Ia tersentak. Jika Selena nekat dan menambah masalah baru saat ini, Andra benar-benar bisa "dihabisi" oleh keluarga besarnya sendiri. Tanpa membuang waktu lagi, dengan jemari yang sedikit gemetar, Andra kembali menelepon Selena. Panggilan itu langsung diangkat pada deringan pertama. "Kenapa telepon lagi? Katanya sibuk dengan beban pikiranmu?!" suara Selena menyambutnya, penuh akan sindiran tajam dan nada merendahkan. "Atau baru sadar kalau kamu butuh aku untuk menutupi kelakuan bejatmu, Andra?" Andra menelan ludah, mencoba menurunkan intonasi suaranya selembut mungkin untuk membujuk. "Selena, dengarkan aku dulu... Tolong, jangan lakukan hal bodoh apa pun saat ini. Aku mohon." "Kenapa? Takut?" cibir Selena dingin. "Bukannya kamu tadi mengancam mau mendepakku?" "Aku cuma emosi tadi, Sayang. Tolong mengerti posisiku," bujuk Andra manis, memutar otak setengah mati. Ia
Suasana di kediaman utama keluarga besar Andra berubah menjadi seperti neraka. Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Andra berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi oleh seluruh anggota keluarganya yang siap menghakiminya. Berita kekacauan ini tak kunjung mereda, justru kian menjadi-jadi. Publik tidak hanya dihebohkan oleh foto skandal perselingkuhan Andra dan Melinda, tetapi juga geger oleh berita hilangnya Renjana. Situasi makin tak terkendali saat sebuah rekaman video singkat beredar luas di media sosial. Video itu memperlihatkan detik-detik saat Renjana dihantam oleh Melinda di ruangan VIP kafe. Beruntung, dalam rekaman yang buram itu, wajah dan tubuh tegap Naren tidak terlihat jelas. Yang tampak hanyalah sepasang tangan kekar yang dengan sigap menangkap tubuh Renjana sebelum ambruk ke lantai. Spekulasi publik pun liar tak terkendali. Siapa pria misterius itu? Ke mana Renjana dibawa pergi? Media benar-benar dibuat heboh, dan nama keluarga Andra berada di puncak keh
Sejak awal, Naren sudah mencium ada yang tidak beres. Melalui akses CCTV rahasia di penthouse milik Andra yang terus ia pantau, Naren menyaksikan pergerakan mencurigakan Renjana hingga wanita itu pergi menemui Melinda. Firasat buruk membawanya menyusul hingga ke kafe ini. Namun, ia tak pernah menyangka akan menyaksikan aksi nekat yang hampir merenggut nyawa Renjana tepat di depan matanya sendiri. Pemandangan di depannya membuat darah Naren mendidih. Renjana terkulai tak berdaya dalam dekapannya, dengan darah segar yang terus mengalir membasahi dahi dan gaun cantiknya. Di hadapannya, Melinda berdiri terengah-engah dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat, masih memegang sisa pecahan vas bunga yang hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Wajah Melinda seketika pucat pasi saat mendongak dan menyadari siapa pria kini berdiri di depannya. "Kamu harus bertanggung jawab, Melinda!" desis Naren. Suaranya begitu rendah dan dalam, Mata Melinda membelalak panik. Kesa
Renjana mengepalkan jemarinya kuat-kuat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang megah itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat dan menjebak. Pria itu hanya mengenakan kaus
Sepanjang hari, Renjana tidak bisa tenang. Perkataan suaminya tadi pagi benar-benar membuatnya gelisah. Bahkan sejak saat itu, Renjana sama sekali tidak keluar kamar. Perutnya mendadak mual, sementara rasa lapar dan haus menguar entah ke mana. Hingga malam datang, tubuh perempuan itu mendadak men
Begitu sarapan pagi selesai, keluarga besar perlahan meninggalkan meja makan dan berkumpul di ruang tamu untuk menonton televisi bersama. Kecuali Renjana. Ia memilih tetap berada di ruang makan, membereskan meja dan menata piring-piring kotor ke dekat wastafel. Sengaja ia menjauh dari keramaia
Matahari mulai naik, sinarnya menerobos masuk dan menyoroti wajah Renjana di balik tirai yang sedikit terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Malam tadi benar-benar menguras emosi dan air matanya, hingga Renjana tidak bisa benar-benar tertidur. Semalaman ia hanya melamun, menangis, dan ter







