LOGIN"Get well soon sahabat cantikku!" Renjana membaca caption itu, namun yang menjadi masalah bukan itu, tapi di sana foto itu benar-benar buruk dengan rambut yang diikat asal dan wajah sangat pucat tanpa polesan make up sama sekali. Renjana menghela napas, mematikan layarnya dan menyimpannya kembali ke atas meja. Naren yang memperhatikan itu tak berniat bertanya sama sekali, ia sibuk dengan mengunyah apel. Sementara itu di sisi lain, Selena menatap komentar-komentar dalam postingan dirinya bersama Renjana. "Sengaja banget dia foto sama Renjana dengan keadaan begitu biar dia dibilang cantik mungkin!" "Caper banget neng biar disebut cantik makanya jatuhin orang dengan foto begitu." " Sel, yakin kmu lebih cakep dari renjana?" "Kalau mendung ya mendung aja deh, Sel. Nggak usah kepedean." "Kelihatan banget takut kalah saingnya." Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang sama sekali Selena tak menyangka. "Kurang ajar, bukannya dapat pujian malah dapat hujatan!" gumamn
Renjana menanggapi itu dengan senyum manisnya yang menimbulkan lesung pipitnya. "Gak apa-apa kok Len, aku percaya suamiku, dia pria yang sayang istri dan setia," jawab Renjana sedikit menyindir ke arah Andra, yang membuat pria itu tersenyum sambil menegakkan kepalanya. "Iya, aku tahu banget itu, Na. Kalian berdua selalu ada sliweran di media sosial sebagai pasangan yang diidam-idamkan perempuan maupun pria," balas Selena sambil terkekeh kecil, namun netranya menatap sinis ke arah Andra. Dan tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Naren. "Naren, makasih sudah jaga istri saya selama saya berada di kantor untuk mengurus pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan beberapa hari ini," ucap Andra lembut, sangat berbanding terbalik dengan biasanya. Naren tak ambil pusing, ia hanya mengangguk pelan sambil bangkit. "Saya tunggu di luar, Tuan." Andra mengangguk singkat. Sementara itu, Renjana tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari pria tersebut hingga sosoknya benar-benar
Renjana mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangannya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan. Nuansa putih mendominasi tempat itu, sementara aroma antiseptik yang khas memenuhi udara. Saat menoleh ke tangannya, ia mendapati sebuah selang infus telah terpasang di sana. "Renjana, kamu sudah siuman?" tanya Melinda yang saat mendengar kabar dari salah satu asistennya Renjana jika Renjana ada di rumah sakit, perempuan itu langsung datang ke rumah sakit dengan meninggalkan pekerjaannya. Mata Renjana yang selalu berbinar itu kini terlihat layu. "Hey, are you okay?" ucap Melinda lagi saat melihat Renjana hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Dia kenapa? Mana suaminya?" tanya Melinda kepada Naren. Rupanya, pria itu sudah berada di sana sejak tadi. Bahkan, dialah yang membopong Renjana dan membawanya ke tempat ini. Naren menggeleng pelan. Melinda pun mengembuskan napas panjang. "Apa ada sesuatu tentang dirinya yang gak kuketahui? Dia selalu menceritakan semuanya
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Renjana mulai sibuk dengan pekerjaannya yang semakin padat. Apalagi setiap harinya pengikutnya terus bertambah, membuat para owner berbondong-bondong ingin menggunakan jasanya. Seperti hari ini, Renjana terkulai lemas di atas kursi utama. Ia beberapa kali menghela napas saat chat dari beberapa owner terus berdatangan menawarkan harga fantastis, yang tentunya Andra tak akan membiarkan Renjana untuk menolaknya. Tring! Tring! Tring! Dering itu terus saja bermunculan di layar ponselnya, namun Renjana tak sengaja memejamkan matanya akibat kelelahan. Tak lama dari itu, tiba-tiba saja suara langkah kaki terdengar nyaring di lantai marmer itu menggema, membuat Renjana masih mendengarnya. Namun dengan kondisi tubuh yang begitu lelah, Renjana tak mampu membuka matanya. Bruk! Suara benturan keras di hadapannya membuat Renjana tersentak kaget. Ia sontak membuka mata, tetapi pandangannya langsung mengabur dan terasa berputar. Gerak
Saat Renjana selesai dengan aktivitas mandinya, ia langsung keluar kamar dengan tubuh yang hanya memakai kimono dan kepala yang dililit handuk. Ia keluar kamar mandi dengan sangat santai, matanya sedikit terpejam saat berjalan ke arah meja rias, seolah merasakan betapa segarnya tubuhnya saat ini. Ia bahkan bersiul kecil sambil perlahan melepaskan handuknya. "Haaah... setidaknya tubuhku sedikit lebih segar, meski mungkin malam ini akan menjadi sebuah penyiksaan bagiku," gumamnya sambil menyalakan pengering rambut. Ia mengeringkan rambutnya dengan pandangan fokus ke arah ponsel. "Haduh, besok sudah harus pergi lagi, ada tawaran kerja sama live produk lagi," keluhnya pelan. Ia mematikan ponselnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke arah cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya, senyum yang bahkan jarang diperlihatkannya kepada siapa pun. Namun, saat Renjana hendak membuka kimononya, perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang tampak
"Jangan gila, Naren!" rutuknya sambil melangkah lebih dulu meninggalkan Naren dengan wajah yang ditekuk masam. Naren yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh kecil. --- Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sang suami belum juga kunjung datang. Pikiran Renjana mulai berkelana ke mana-mana, membayangkan apa yang sedang suaminya lakukan bersama perempuan tadi sampai jam segini belum pulang, pikirnya resah. Setelah Naren dan Renjana pulang ke rumah, sampai saat ini Andra masih belum terlihat. Di tengah kegelisahannya, dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. "Halo, Renjana. Apa yang kamu katakan pada cucuku kemarin sampai-sampai ia mendadak menolak tinggal sementara di sini?!" serang Oma dari seberang sana sesaat setelah panggilan tersambung, bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyapa terlebih dahulu. Renjana memejamkan mata, menggenggam ponsel itu dengan erat. "Aku gak ngomong apa-apa, Oma. Hanya saja mungkin Mas An
Tubuhnya langsung terjerembab ke dada bidang Naren. Pria itulah yang baru saja menarik tangan Renjana dari belakang. Renjana melotot sempurna. Dengan gerakan cepat, ia mendorong tubuh Naren sekuat tenaga. "Kenapa kamu menarik tanganku, Naren?! Lancang sekali kamu!" desisnya kesal. S
"Tutup omong kosongmu itu! Kenapa kamu jadi seberani ini?!!!" bentak Andra dengan kasar, membuat Renjana terhenyak dan seketika bungkam. "Mas, aku kurang apa sama kamu? Hargai aku, Mas... Aku cuma minta itu," rintih Renjana parau. "Jangan banyak omong, Renjana! Aku gak suka perempuan seperti
Andra menatap Renjana dari atas sampai bawah, menelisik sosok yang berdiri kaku di hadapannya itu dengan pandangan menghina. "Mau kemana kamu?" tanya Andra dingin. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah atau khawatir dengan kondisi sang istri yang tampak kacau. Renjana menelan ludah k
Renjana benar-benar terkejut luar biasa. Matanya terus saja tertuju pada layar ponsel milik Icut, di mana ratusan komentar baru terus berdatangan tanpa henti dalam hitungan detik. Tanpa sepatah kata pun, Renjana langsung berbalik dan berlari kencang ke arah kamarnya di lantai atas, meninggalkan N







