Share

HOROR

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-06-15 22:07:02

Renjana tersenyum puas.

​Saat tiba di bioskop, Renjanalah yang memilih judul film, dan pilihan jatuh pada sebuah film horor yang sedang naik daun. Namun, sepanjang film berjalan, Renjana beberapa kali tersentak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka film yang dipilihnya sendiri ternyata akan sehoror dan semencekam itu.

​Semakin lama, rasa takut membuatnya semakin merapatkan tubuh pada Naren. Tanpa sadar, beberapa kali Renjana bersembunyi di balik lengan kekar pria itu, mencengkeram kaus hitam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   CEMBURU YANG TAK BISA DI SEMBUNYIKAN

    ​Renjana menanggapi itu dengan senyum manisnya yang menimbulkan lesung pipitnya. ​"Gak apa-apa kok Len, aku percaya suamiku, dia pria yang sayang istri dan setia," jawab Renjana sedikit menyindir ke arah Andra, yang membuat pria itu tersenyum sambil menegakkan kepalanya. ​"Iya, aku tahu banget itu, Na. Kalian berdua selalu ada sliweran di media sosial sebagai pasangan yang diidam-idamkan perempuan maupun pria," balas Selena sambil terkekeh kecil, namun netranya menatap sinis ke arah Andra. ​Dan tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Naren. ​"Naren, makasih sudah jaga istri saya selama saya berada di kantor untuk mengurus pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan beberapa hari ini," ucap Andra lembut, sangat berbanding terbalik dengan biasanya. ​Naren tak ambil pusing, ia hanya mengangguk pelan sambil bangkit. "Saya tunggu di luar, Tuan." Andra mengangguk singkat. Sementara itu, Renjana tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari pria tersebut hingga sosoknya benar-benar

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SIKAP YANG PALSU

    ​Renjana mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangannya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan. Nuansa putih mendominasi tempat itu, sementara aroma antiseptik yang khas memenuhi udara. Saat menoleh ke tangannya, ia mendapati sebuah selang infus telah terpasang di sana. ​"Renjana, kamu sudah siuman?" tanya Melinda yang saat mendengar kabar dari salah satu asistennya Renjana jika Renjana ada di rumah sakit, perempuan itu langsung datang ke rumah sakit dengan meninggalkan pekerjaannya. ​Mata Renjana yang selalu berbinar itu kini terlihat layu. ​"Hey, are you okay?" ucap Melinda lagi saat melihat Renjana hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Dia kenapa? Mana suaminya?" tanya Melinda kepada Naren. Rupanya, pria itu sudah berada di sana sejak tadi. Bahkan, dialah yang membopong Renjana dan membawanya ke tempat ini. Naren menggeleng pelan. Melinda pun mengembuskan napas panjang. "Apa ada sesuatu tentang dirinya yang gak kuketahui? Dia selalu menceritakan semuanya

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TAK MEMBERIKAN RUANG

    ​Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Renjana mulai sibuk dengan pekerjaannya yang semakin padat. Apalagi setiap harinya pengikutnya terus bertambah, membuat para owner berbondong-bondong ingin menggunakan jasanya. ​Seperti hari ini, Renjana terkulai lemas di atas kursi utama. Ia beberapa kali menghela napas saat chat dari beberapa owner terus berdatangan menawarkan harga fantastis, yang tentunya Andra tak akan membiarkan Renjana untuk menolaknya. ​Tring! Tring! Tring! ​Dering itu terus saja bermunculan di layar ponselnya, namun Renjana tak sengaja memejamkan matanya akibat kelelahan. Tak lama dari itu, tiba-tiba saja suara langkah kaki terdengar nyaring di lantai marmer itu menggema, membuat Renjana masih mendengarnya. Namun dengan kondisi tubuh yang begitu lelah, Renjana tak mampu membuka matanya. ​Bruk! ​ Suara benturan keras di hadapannya membuat Renjana tersentak kaget. Ia sontak membuka mata, tetapi pandangannya langsung mengabur dan terasa berputar. Gerak

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   CCTV?

    ​Saat Renjana selesai dengan aktivitas mandinya, ia langsung keluar kamar dengan tubuh yang hanya memakai kimono dan kepala yang dililit handuk. Ia keluar kamar mandi dengan sangat santai, matanya sedikit terpejam saat berjalan ke arah meja rias, seolah merasakan betapa segarnya tubuhnya saat ini. Ia bahkan bersiul kecil sambil perlahan melepaskan handuknya. "Haaah... setidaknya tubuhku sedikit lebih segar, meski mungkin malam ini akan menjadi sebuah penyiksaan bagiku," gumamnya sambil menyalakan pengering rambut. ​Ia mengeringkan rambutnya dengan pandangan fokus ke arah ponsel. "Haduh, besok sudah harus pergi lagi, ada tawaran kerja sama live produk lagi," keluhnya pelan. ​ Ia mematikan ponselnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke arah cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya, senyum yang bahkan jarang diperlihatkannya kepada siapa pun. Namun, saat Renjana hendak membuka kimononya, perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang tampak

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   LAKUKAN LAGI MALAM INI

    ​"Jangan gila, Naren!" rutuknya sambil melangkah lebih dulu meninggalkan Naren dengan wajah yang ditekuk masam. Naren yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh kecil. --- ​Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sang suami belum juga kunjung datang. Pikiran Renjana mulai berkelana ke mana-mana, membayangkan apa yang sedang suaminya lakukan bersama perempuan tadi sampai jam segini belum pulang, pikirnya resah. ​Setelah Naren dan Renjana pulang ke rumah, sampai saat ini Andra masih belum terlihat. ​ Di tengah kegelisahannya, dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. "Halo, Renjana. Apa yang kamu katakan pada cucuku kemarin sampai-sampai ia mendadak menolak tinggal sementara di sini?!" serang Oma dari seberang sana sesaat setelah panggilan tersambung, bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyapa terlebih dahulu. ​Renjana memejamkan mata, menggenggam ponsel itu dengan erat. ​"Aku gak ngomong apa-apa, Oma. Hanya saja mungkin Mas An

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PERLU SAYA GENDONG NYONYA?

    ​Renjana menahan napas. Rasa kesal yang sedari tadi berusaha ia pendam akhirnya meluap, terlebih setelah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Ia tak lagi mampu membendung emosinya. Dengan sigap, Renjana membalikkan badan. Namun, Naren bergerak lebih cepat darinya. Pria itu segera meraih Renjana hingga tubuh perempuan tersebut terhuyung masuk ke dalam dekapannya. Dalam satu gerakan, Naren langsung menariknya turun ke bawah. Namun Renjana terus menolak, ia melawan dan berusaha melepaskan genggaman erat itu dari tangan Naren. ​Dengan wajah tanpa ekspresi, Naren langsung mengangkat dan membopongnya, melangkah tergesa-gesa sebelum orang-orang di sana menyadari keberadaan Renjana. ​Di tempat yang sepi, Naren langsung menurunkan Renjana. ​"Kamu apa-apaan sih, Naren?! Kenapa membawaku kesini? Aku ingin menghampiri suamiku, berhenti ikut campur terus!" desisnya kesal dengan napas yang terengah-engah. Bahkan tangan Renjana terangkat, menunjuk ke arah wajah Naren. ​Naren sama

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HOTEL YANG SUDAH DI SIAPKAN

    Begitu sarapan pagi selesai, keluarga besar perlahan meninggalkan meja makan dan berkumpul di ruang tamu untuk menonton televisi bersama. ​Kecuali Renjana. ​Ia memilih tetap berada di ruang makan, membereskan meja dan menata piring-piring kotor ke dekat wastafel. Sengaja ia menjauh dari keramaia

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PANDANGAN YANG TAK BERPALING

    Matahari mulai naik, sinarnya menerobos masuk dan menyoroti wajah Renjana di balik tirai yang sedikit terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Malam tadi benar-benar menguras emosi dan air matanya, hingga Renjana tidak bisa benar-benar tertidur. Semalaman ia hanya melamun, menangis, dan ter

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TANGIS YANG PECAH

    Renjana membulatkan mata tak percaya. Lagi-lagi, ia harus merasakan kekecewaan yang teramat mendalam. Tatapannya menyiratkan luka yang telanjur menggores hati, tertuju lurus pada Naren—pria koki yang sebenarnya jarang sekali berinteraksi dengannya. ​Pandangan Renjana terhadap Naren kini berubah to

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TAK ADA PILIHAN

    Mendengar perintah gila suaminya kepada pria di hadapan mereka membuat jantung Renjana seolah berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya mendadak sedingin es. ​Bukan hanya Renjana yang terguncang, Naren pun tak kalah terkejut. Pria itu menegang, berusaha mencerna kalimat yang baru saja lolos dari mulut at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status