Home / Romansa / Yang Tak Kunjung Padam / 3. Awal Yang Baru.

Share

3. Awal Yang Baru.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2025-10-21 21:41:56

Pukul delapan pagi lewat lima menit, suara deru mobil hitam berhenti di depan rumah besar itu. Radit dan Nindi turun dengan wajah tegang. Tanpa basa-basi, keduanya langsung masuk ke rumah dan menuju kamar utama—kamar yang dulunya ditempati Pak Rasyid dan Bu Laily.

Nindi membuka lemari, lalu laci meja rias. Ia menggeledah dengan gerakan kasar, seolah mencari sesuatu yang sangat penting. Matanya terbelalak saat menyadari satu kotak perhiasan milik almarhumah ibu tirinya tak lagi berada di tempatnya.

“Mas Radit! Kotak perhiasan Tante Laily tidak ada!” seru Nindi, suaranya meninggi. Ia berbalik menatap Nawang yang berdiri kaku di ambang pintu kamar. “Kamu! Katakan, di mana kotak perhiasan ibumu yang semuanya dibeli oleh ayahku!”

Nawang terdiam. Tubuhnya gemetar, lidahnya kelu. Ia tidak berani mengungkapkan kebenaran bahwa Bik Fatimah-lah yang menyimpan perhiasan itu.

“Jawab!” bentak Nindi, melangkah cepat menghampirinya. “Jangan pura-pura bodoh! Kamu pasti mencurinya! Dasar maling! Kamu sama saja dengan ibumu. Ibumu maling suami orang, dan kamu maling perhiasan orang!”

Nawang menelan ludah, bibirnya bergetar. “Saya...”

Nindi meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, wajahnya penuh amarah. “Aku akan telepon polisi! Biar kamu tahu rasanya masuk penjara karena mencuri!”

“Ndi, jangan gegabah...” Radit menyusul masuk ke kamar, mencoba menahan. Tapi Nindi sudah menekan layar ponselnya.

Tiba-tiba Bik Fatimah masuk dan memecah ketegangan. "Jangan, Mbak! Jangan laporkan Neng Nawang! Perhiasan itu... ada pada saya,” aku Bik Fatimah dengan suara serak.

Semua mata menoleh ke arah perempuan tua itu. Napas Bik Fatimah tersengal, tapi ia memberanikan diri melangkah maju. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan kunci kecil, lalu bergegas ke kamarnya. Tak lama, ia kembali dengan kotak merah beludru milik Bu Laily.

“Ini, Mbak. Perhiasan Bu Laily. Saya yang menyimpannya. Neng Nawang tidak tahu apa-apa.”

Nindi merenggut kotak itu dengan kasar dari tangan Bik Fatimah, lalu membukanya. Mata Nindi berkilat puas saat melihat isi di dalamnya—berbagai jenis kalung emas, gelang, cincin, dan anting-anting yang dulu kerap dipakai ibu tirinya. Dengan cepat, ia memasukkan kotak itu ke dalam tas besar yang sudah disiapkannya.

“Karena Bibik yang jadi maling, Bibiklah yang akan masuk penjara!” Nindi kembali menekan nomor kantor polisi.

“Bibik bukan maling, Mbak Nindi. Tolong jangan penjarain Bibik. Bibik hanya membantu Neng Nawang menyimpan barang-barang peninggalan almarhumah ibunya.” Bik Fatimah langsung bersimpuh di hadapan Nindi. Kata penjara menggentarkannya. Melihat Bik Fatimah menangis ketakutan sambil memeluk kaki Nindi membuat Nawang sedih.

“Jangan penjarakan Bik Timah, Mbak. Lagi pula, Mbak Nindi juga bukan pemilik perhiasan-perhiasan ini. Perhiasan ini milik ibu saya.” Nawang menyusul masuk, membela Bik Fatimah. Mendengar bantahan Nawang, Nindi melotot marah.

“Tapi dibeli dengan uang ayahku! Jadi secara hukum, perhiasan-perhiasan ini milikku!” Nindi makin emosi.

Nawang menggeleng. “Benar, akan menjadi harta gono-gini dan menjadi hak ahli waris—tapi kalau ayah dan ibu menikah secara resmi. Kalau siri, itu menjadi hak milik ibu dan akan menjadi hak saya. Tidak peduli memakai uang siapa saat membelinya. Itu kalau kita bicara secara hukum,” Nawang mempertahankan argumennya.

“Ayo, Bik, bangun. Jangan bersimpuh begini.” Nawang menarik Bik Fatimah agar berdiri. Ia bisa merasakan betapa gemetarnya tubuh ringkih perempuan tua itu.

“Baik, aku maafkan kali ini. Lain kali jangan berani-berani menyembunyikan barang-barang keluarga kami lagi,” ujar Nindi tajam. Ia tidak mau memperpanjang persoalan karena sadar posisinya kalah di mata hukum kali ini.

Radit menatap Nindi tajam, memberi peringatan lewat tatapan. Untung saja Nindi tidak bersikap gegabah. Ia lalu menatap Nawang dingin dan berbicara singkat, “Ambil barang-barangmu. Kita berangkat sekarang.”

Nawang menunduk dan berjalan keluar, diikuti oleh Nindi dan Bik Fatimah. Ia kemudian mengambil koper, tas travelling, dan ranselnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah. Saat melewati Bik Fatimah, perempuan tua itu meraih tangannya erat-erat. Pelukannya singkat, tapi penuh arti.

“Neng...” bisiknya lirih di telinga Nawang. “Yang Mbak Nindi bawa itu hanya separuh. Separuh lagi masih Bibik simpan. Kalau suatu saat Neng membutuhkannya, bilang saja pada Bibik. Jangan takut. Itu hak Eneng.”

Nawang menahan tangis, hanya mampu mengangguk pelan. Air matanya mengalir deras, membasahi pundak Bik Fatimah. Lalu, dengan langkah terhuyung, ia mengikuti Radit dan Nindi keluar rumah. Keduanya sudah meneriakinya karena tidak sabar.

Pintu mobil terbanting. Mesin meraung. Dan rumah yang selama ini menjadi tempat segala kenangannya semakin menjauh dari pandangan.

Nawang duduk terpaku di kursi belakang mobil mewah itu, menatap kosong ke jendela. Jalanan yang mereka lalui berubah dari aspal mulus menjadi berdebu dan berlubang. Ia bisa merasakan setiap getaran roda mobil seperti menghantam ketakutan yang bersarang di dadanya. Dua jam perjalanan yang terasa seperti siksaan batin.

Di dalam kepalanya hanya ada pertanyaan tanpa jawaban: Bagaimana rasanya hidup di tempat asing yang bahkan tak ia kenal? Apakah bibinya benar-benar akan menerimanya? Atau ia akan kembali menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya?

Mata Nawang perlahan berkaca-kaca, menatap wajah tanpa ekspresi Radit dan Nindi di depan yang sibuk berbincang tanpa memperhatikannya. Ia merasa semakin kecil, semakin tidak berarti.

Setibanya di ujung jalan, mobil berhenti. Sebuah perkampungan padat penduduk yang terlihat kumuh menyambut mereka. Deretan rumah sempit, saluran air kotor, dan jalanan berlumpur berpadu menjadi satu panorama yang kontras dengan kemewahan mobil yang baru saja mereka tinggalkan.

Pandangan penduduk sekitar langsung menyorot mobil mereka dengan campuran rasa penasaran dan keheranan. Radit membuka pintu mobil, diikuti Nindi dan Nawang. Kepada Nawang, Radit memintanya mengeluarkan koper, tas travelling, dan ranselnya sekalian. Rumah Laila ada di gang sempit yang tak bisa dilalui mobil.

Beberapa remaja berdiri di sisi jalan, wajah mereka menunjukkan senyum yang menyerupai seringai. Salah satu dari mereka maju, menatap Radit dengan penuh arti.

“Om Bos, mobilnya mau dijagain nggak, nih? Kalau mau, kami bisa bantu jaga,” ucap remaja itu dengan suara sarkastik sambil menyeringai.

Radit menatapnya dingin, lantas mengeluarkan dompet dan mencabut selembar uang lima puluh ribuan.

Remaja itu menerima uang tersebut dan menciumnya penuh drama. “Oke, mobil aman, Om Bos. Tapi kalau mau lebih aman, kasih selembar lagi.”

Radit menghela napas panjang, menahan rasa jengkel. Namun, ia tak punya pilihan selain mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan lagi. Remaja itu tertawa puas, lalu melangkah mundur, membiarkan jalan terbuka untuk mereka.

Dengan wajah masam, Radit dan Nindi berjalan cepat memasuki gang sempit yang dipenuhi aroma tak sedap—bau kotoran ayam dan sampah basi yang menusuk hidung. Dengan langkah terseok karena membawa koper, tas besar, dan ransel di punggungnya, Nawang mengekor dari belakang. Sepanjang jalan, ia berusaha menahan napas karena bau yang menyengat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Tak Kunjung Padam   104. Akhir Bahagia.

    Semilir angin senja berembus lembut di sebuah kafe berkonsep taman. Lampu-lampu kecil mulai menyala di antara pepohonan, menciptakan suasana hangat di tengah langit yang perlahan berubah jingga.Di salah satu meja dekat pagar taman, Nawang dan Kenes duduk berhadapan. Ini adalah pertemuan mereka untuk terakhir kalinya, sebelum Kenes terbang ke Inggris keesokan harinya. Ia memutuskan melanjutkan studi di luar negeri, jauh dari segala kerumitan masa lalu yang selama ini membelit hidup mereka.Beberapa saat mereka hanya diam, menikmati angin sore yang sejuk. Kenes akhirnya dan mulai berbicara."Kok kita jadi agak canggung ya setelah tahu kalau kita sepupu?" "Wajarlah, Nes. Kita masih kaget." Nawang tersenyum tipis."Iya. Dulu kita bisa bicara apa saja tanpa ada ganjalan. Karena kita mengira, hanya berteman." Kenes ikut tersenyum. "Iya. Pelan-pelan saja. Jangan terlalu memaksakan diri. Kita sudah mulai bisa mengobrol seperti ini saja, sudah baik. Biarkan semuanya berjalan secara alami."

  • Yang Tak Kunjung Padam   103. Gugur Satu Persatu.

    Gerimis turun perlahan sore itu. Butir-butir air yang halus jatuh di atas tanah merah yang masih baru menutup sebuah pusara.Di antara nisan-nisan yang mulai ditinggalkan para pelayat, tiga sosok berpakaian hitam masih berjongkok di sana.Orang-orang yang tadi mengiringi pemakaman sudah pulang satu per satu, meninggalkan kesunyian yang hanya ditemani suara gerimis dan desir angin.Salah satu dari tiga sosok itu dipayungi payung hitam. Hilal memegang payung itu dengan satu tangan, melindungi Nawang yang masih berjongkok di depan pusara. Di sisi mereka, Zulham dan Anisa masih terpaku menatap gundukan tanah yang baru saja menimbun tubuh ayah mereka.Hari itu mereka memakamkan Paman Jalal. Ia meninggal di penjara. Menurut keterangan petugas lapas, Paman Jalal meninggal karena sakit. Namun saat Zulham ikut memandikan jenazah ayahnya, ia melihat sesuatu yang membuatnya tidak yakin akan hal itu. Karena tubuh ayahnya penuh lebam. Seperti habis dikeroyok.Nawang menarik napas panjang.Dadanya

  • Yang Tak Kunjung Padam   102. Dian Itu Akhirnya Padam.

    Banyak tamu hadir malam itu. Mayoritas adalah keluarga besar dan relasi Hadiningrat. Keluarga Nawang hanya bisa dihitung dengan jari. Selain ayahnya, Pakde Gatot dan Oma Laras, hadir juga Bu Sri dan Bu Dewi. Walau masih dalam proses perceraian, mereka tetap datang sebagai bagian dari keluarga. Begitu juga Kenes, Juna dan Sekar. Walau masih agak kaku, mereka mengucapkan selamat dan turut berbahagia untuknya. Dan di tengah keramaian itu, Nawang sempat terkejut ketika melihat dua wajah yang tidak ia duga akan menghadiri pernikahannya. Radit dan Nindy. Keduanya berdiri di dekat meja tamu. Mereka kemudian menghampiri Nawang dan Hilal dengan senyum canggung. "Selamat ya, Nawang, Pak AKBP Hilal Ramadhan," ucap Radit kaku."Kita sudah menjadi keluarga besar sekarang," tambahnya sambil menyalami Nawang dan Hilal.Nawang menggangguk kecil dan membalas dengan senyum tipis. Sedangkan Hilal membalas dengan kata-kata berupa sindiran tajam. "Hukum tidak mengenal keluarga. Yang bersalah tetap har

  • Yang Tak Kunjung Padam   101. Hari Bahagia.

    Hari bahagia Nawang akhirnya tiba. Pagi itu, di rumah Bi Laila yang sederhana, acara ijab kabul dilaksanakan. Pemilihan tempat itu bukan tanpa alasan. Kondisi kesehatan Bi Laila semakin menurun dan ia sudah sulit untuk berjalan. Karena itu keluarga sepakat agar akad nikah dilakukan di rumahnya agar ia tetap bisa menyaksikan peristiwa penting itu.Ruang tamu rumah kecil itu ditata sederhana namun rapi. Karpet digelar, bunga melati menghiasi sudut ruangan. Di sana Nawang duduk dengan kebaya putih gading, menunduk tenang walau jantungnya berdebar.Bi Laila duduk di kursi roda tak jauh darinya. Wajahnya pucat pasi, tetapi senyumnya tidak pernah hilang."Cantik sekali kamu, Naw," bisik Bi Laila pelan. "Untung Bibi masih sempat menyaksikan pernikahanmu. Kalau ibumu masih ada ia pasti sangat bahagia. Selamat ya, Sayang." Bi Laila tersenyum dengan mata berkabut.Nawang menggenggam tangan bibinya. "Ibu pasti menyaksikan pernikahan ini dari atas sana, Bi," katanya lirih. "Terima kasih karena B

  • Yang Tak Kunjung Padam   100. Atas Nama Cinta.

    "Di bawah pohon ketapang itu… pertama kali Bapak bertemu dengan ibumu."Pak Bambang menunjuk pohon tua di sisi rumah sakit. Daunnya bergoyang pelan tertiup angin sore. Nawang menatapnya lama. Membayangkan dua puluh satu tahun silam, dua anak muda jatuh cinta di tempat yang sama.Mereka lalu berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ayahnya bercerita bahwa secara garis besar tidak banyak yang berubah. Lantainya saja yang kini sudah keramik, bukan tegel kusam seperti dulu. Taman terlihat lebih luas, dan kantin berpindah ke ujung dengan bangunan yang lebih besar."Dulu Bapak sering nongkrong di situ," ujar Pak Bambang sambil menunjuk kursi panjang taman. "Bersama Adi dan Binsar. Kalau ibumu selalu bersama dengan Pita dan Resni, teman sesama perawatnya."Pak Bambang merasa seperti menerobos lorong waktu. Kenangan mengalir tanpa henti. Tentang jadwal jaga malam yang berubah jadi alasan bertemu. Tentang makan siang di kantin yang jadi saat paling ditunggu karena bisa bertemu dengan Nur, dan mo

  • Yang Tak Kunjung Padam   99. Kompromi.

    Nawang baru saja turun dari mobil. Ia melambaikan tangan pada ayahnya yang masih duduk di balik kemudi. Saat itulah matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.Kenes.Ia berjalan cepat melintasi halaman kampus dengan ransel di punggung."Nes!" panggil Nawang.Beberapa hari terakhir Kenes selalu menghindarinya. Hari pertama Kenes mulai kembali kuliah, ia pura-pura tak mendengar dan langsung buru-buru pulang. Besoknya ia berdalih ojek onlinenya sudah menunggu.Sekarang memang Kenes tak lagi disopiri oleh Pak Tarjo. Sejak ia memilih keluar dari rumah dan nge-kost, ia juga menolak semua fasilitas yang dulu ia terima.Ayahnya bilang, baik Pak Gatot, Tante Gendis, Bu Sri mau pun Oma Laras, mereka semua sangat terpukul. Kenes kini menjauh dari semua orang."Tunggu sebentar, Nes," seru Nawang lagi.Di luar dugaan, kali ini Kenes berhenti. Ia berbalik dan menunggu. Nawang berlari kecil. Mendekat dengan jantung berdebar."Aku minta maaf ya, Nes." Dengan besar hati, Nawang meminta maaf."Kit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status