Share

4. Gundah.

Author: Suzy Wiryanty
last update Last Updated: 2025-10-21 21:42:42

Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang tampak lebih lebar meski masih berada di lingkungan kumuh. Beberapa kandang ayam berjejer di halaman, dan tumpukan boks berisi ayam potong disusun di samping rumah. Pintu rumah terbuka sebelum Radit sempat mengetuk, memperlihatkan seorang wanita berusia akhir empat puluhan yang berdiri di ambang pintu.

Wanita itu tampak tangguh, meski usia dan kerasnya hidup terpancar jelas dari garis-garis di wajahnya. Matanya tajam menatap Radit dan Nindi, lalu jatuh pada sosok gadis muda di belakang mereka.

“Mas Radit... Mbak Nindi... dan ini... pasti Nawang?” suaranya berat, tapi ada rona yang tak bisa disembunyikan—antara keterkejutan dan ketegangan.

Nawang menunduk pelan, merasa tubuhnya semakin kecil di hadapan bibinya yang selama ini hanya ia kenal dari cerita-cerita Radit. Wajah bibinya ini ternyata mirip sekali dengan ibunya. 

Wanita itu menarik napas panjang, mempersilakan mereka masuk. “Masuklah. Mari kita bicara.”

Di ruang tamu sempit yang hanya seluas kamar tidur standar, mereka duduk di kursi-kursi plastik murahan yang berderit setiap kali bergeser. Dinding rumah penuh noda lembap dan bercak-bercak hitam, tampaknya jarang dicat ulang. Di sisi lain, kipas angin tua berdengung pelan di sudut ruangan, seolah kelelahan berputar.

Laila duduk di bangku rotan pendek, menatap tamu-tamunya dengan mata waspada. Sesekali, matanya mencuri pandang pada Nawang yang duduk tertunduk, memeluk tasnya erat-erat—seolah itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari dunia.

Beberapa menit kemudian, muncul seorang gadis muda dari dapur. Rambutnya dikuncir asal-asalan, mengenakan daster pudar, dan membawa nampan plastik berisi tiga cangkir teh panas dalam gelas bening yang tampak berkerak di tepinya. Uap tipis mengepul dari permukaan teh.

“Ini tehnya, Bu,” ucapnya singkat. Wajahnya cemberut. Jelas tidak menyukai tamu-tamunya.

Laila mengangguk dan memperkenalkan, “Ini Anisa, anak saya. Yang bungsu.”

Anisa meletakkan cangkir di meja asal-asalan. Nindi menoleh pada cangkir teh itu lalu spontan berjengit; wajahnya jelas menunjukkan ekspresi jijik. Ia buru-buru menghindar, bahkan tidak menyentuh cangkirnya.

Radit sedikit lebih sopan, meski tatapannya menyapu gelas teh itu dengan enggan. Ia hanya mengangguk kecil dan tidak menyentuh minuman itu sama sekali.

“Maaf, kami tidak bisa lama-lama,” ucap Radit cepat, berdiri. “Ini Nawang, seperti yang sudah kami bicarakan. Mulai hari ini, ia jadi tanggung jawab Bu Laila.”

Laila mengangkat alis, menatap tajam. “Kalau soal tinggal, saya sudah setuju. Tapi bagaimana dengan biaya kuliah Nawang? Ini baru tahun keduanya kuliah bukan? Dia masih harus menyelesaikan pendidikannya beberapa tahun nanti."

Radit menghela napas, terdengar malas. “Itu bukan urusan saya. Kami hanya membantu mencarikan tempat tinggal. Soal kuliah, dia bisa urus sendiri. Mungkin bisa sambil kerja. Atau kalau tidak sanggup, ya berhenti saja dulu.”

Nawang menegang. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam harapannya. Ia menggigit bibir bawah, menahan air mata.

Jawaban Radit yang dingin dan tak berperasaan membuat Laila mendadak terdiam. Namun hanya sesaat. Dengan tenang, ia menyandarkan punggung ke kursi rotannya, menyilangkan tangan di dada, dan menaikkan sudut bibirnya sedikit—sebuah senyum tipis yang tidak menyenangkan.

“Begitu, ya?” ucap Laila datar. “Ya sudah, kalau kalian tidak mau bertanggung jawab, saya akan memanggil beberapa wartawan kenalan saya. Saya akan bilang kalau keluarga Kurniawan yang katanya terpandang itu ternyata menelantarkan adik tiri mereka, membuangnya seperti sampah. Padahal almarhumah ibunya membersamai ayah kalian selama tujuh belas tahun lamanya. Setia, penuh hormat, dan tak pernah menuntut dinikahi secara resmi.” Ia mengedip pelan. “Pasti berita itu menarik jika terpampang di media sosial. Saya jamin netizen akan menggoreng berita itu hingga viral.”

Radit sontak menoleh cepat, melotot. “Apa maksud Bu Laila?” suaranya naik satu oktaf, tapi terdengar lebih gugup daripada galak.

Laila tak bergeming. Ia menatap tajam Radit sambil bersedekap. “Saya kira Mas Radit cukup cerdas untuk paham. Saya tidak minta banyak. Kalian membuang tanggung jawab begitu saja pada saya—sebagai bibinya, oke, saya terima. Tapi setidaknya, kalian biayai kuliahnya sampai selesai. Kalau soal makan, saya bisa mengupayakannya,” tandas Laila datar.

Radit terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya melirik sekilas ke arah Nindi yang juga mulai kelihatan panik. Nama baik keluarga Kurniawan terlalu mahal untuk dipertaruhkan. Apalagi bisnis ayah mereka masih berjalan atas nama keluarga besar—publikasi buruk bisa berdampak langsung.

“Baik,” desis Radit akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. “Kami akan membiayai kuliah Nawang sampai selesai. Tapi hanya itu. Jangan minta macam-macam lagi.”

Laila mengangguk, tampak puas. “Baik. Kita sudah setuju dengan tugas masing-masing. Kalau kalian ingkar, siap-siap saja nama besar kalian terpampang di berita online,” ancam Laila.

Nindi bersuara, nadanya tajam. “Tapi jangan pikir kalian bisa bolak-balik minta uang. Kami sudah cukup bermurah hati.”

Laila tertawa kecil. “Tenang saja. Saya bukan pengemis. Pantang bagi saya meminta sesuatu yang bukan hak saya.”

Radit merapikan jasnya, masih terlihat kesal, namun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia berdiri, diikuti oleh Nindi yang menghentakkan kakinya kecil-kecil, tak senang.

“Baiklah. Kami pergi,” kata Radit singkat.

“Ingat, janji kalian. Jangan sampai media dan netizen yang menagihnya,” kata Laila mengingatkan dengan nada sarkastik.

Tanpa menjawab, Radit dan Nindi melangkah keluar dari rumah itu, kembali menyusuri gang sempit yang mulai ramai. Beberapa orang menatap mereka dengan pandangan penasaran. Mobil mewah mereka masih terparkir di ujung jalan, dijaga oleh dua remaja yang kini duduk santai di pinggir trotoar sambil mengunyah permen karet.

Setelah mobil mereka pergi, ruangan menjadi senyap. Nawang masih tertunduk, membeku. Laila berdecak pelan, lalu menatap Nawang yang masih duduk membisu seperti anak ayam kehilangan induk.

“Kamu dengar sendiri, kan?” katanya akhirnya dengan suara yang lebih tenang. “Kuliahmu aman. Tapi sisanya, kamu harus berjuang. Kehidupan orang miskin itu berat. Hidupmu tidak akan sama seperti saat masih tinggal di rumah mewah itu lagi.”

Nawang menatap bibinya, perlahan mengangguk.

Laila menarik napas berat, menatap gadis yang kini resmi berada dalam tanggung jawabnya. Wajah kerasnya mulai melunak. “Ya sudah... sini, taruh tasmu dulu. Kamu istirahat. Kita bicara nanti.”

Nawang mengangguk, suaranya hampir tak terdengar saat menjawab, “Iya, Bi.”

Dan di rumah yang asing, berbau ayam dan kerasnya hidup, Nawang membuka lembaran hidup yang baru—dengan ketakutan, tapi juga setitik harapan bahwa mungkin... hanya mungkin... ada tempat untuknya di dunia ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yanti Aching
kelihatan nya bibi Laila ini baik.. tapi Annisa nih yg blm jelas. tapi dari menyuguhkan teh keliatan bakal iri dgn Nawang
goodnovel comment avatar
carsun18106
bik laila ini mungkin aslinya baik sih ya
goodnovel comment avatar
carsun18106
hahaha pinter ni bik laila
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Yang Tak Kunjung Padam   88. Aku Tak Akan Mengalah!

    Nawang membuka pintu kamar, mengecek keadaan Kenes. Ternyata Kenes sudah tertidur dengan wajah menghadap tembok. Dalam tidurnya wajahnya sembab dengan sisa-sisa air mata. Nawang menutup pintu kamar dan berjalan ke pintu depan. Ia membukanya separuh. Membiarkan semilir angin malam membelai wajahnya. Ia berjalan ke teras dan menghempaskan pinggul di kursi panjang. Punggungnya tegak dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Semilir angin makin kencang membawa serta aroma tidak sedap yang berasal dari kandang ayam. Nawang tersenyum kecil. Jika dulu ia sangat terganggu dengan aroma ini, sekarang ia tidak mempermasalahkannya. Ia malah menikmatinya seperti suara jangkrik dan hewan malam lainnya. Suara gemerisik langkah kaki yang terdengar dari kejauhan memupus lamunan Nawang. Langkah itu teratur dengan ritme yang sudah sangat dikenalnya.Nawang bangkit berdiri. SosokHilal perlahan muncul dari kegelapan gang. Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya. Kemeja biru muda yang

  • Yang Tak Kunjung Padam   87. Nasehat Sahabat.

    "Terima kasih karena aku sudah dibolehin nginep di sini ya, Naw," kata Kenes lirih. Matanya sembab karena terus menerus menangis."Iya. Anisa menginap di rumah sakit hari ini, makanya kamu bisa menginap."Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Nawang duduk di samping Kenes. Nawang melirik teh manis hangat yang tinggal separuh di meja. Syukurlah, setidaknya Kenes sudah mau minum setelah menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menangis."Sudah lebih tenang? Ayo cerita apa masalahmu. Siapa tahu aku bisa membantu." Nawang menggeser kursi agar lebih dekat dengan Kenes.Tatapan Kenes menyendu. Ia menarik napas panjang sebelum mulai bercerita."Aku sedih sekali, Naw. Aku baru tahu kalau ternyata aku bukan anak kandung ayah dan ibu. Aku hanya anak adopsi." Suara Kenes memelan.Namun di telinga Nawang kata-kata itu bagai bom yang meledak khusus di kepalanya. Ternyaan dugaannya selama ini salah. Kenes bukanlah saudara seayahnya!"Apa kamu tidak salah informasi, Nes? Kamu tahu dari mana so

  • Yang Tak Kunjung Padam   86. Tak Akan Kulepaskan.

    Nawang tidak bereaksi. Ia tidak mau membuat Devi makin tidak terkendali.Di tengah kepanikan itu, Hilal menangkap gerak di sudut matanya. Dua sosok muncul di batas taman belakang. Gerry dan Vonny. Keduanya memberi kode singkat-isyarat agar diam.Hilal mengerti.Ia kembali menatap Devi, suaranya lembut dan membujuk."Devi... lihat aku. Lihat mataku. Kita bicarakan semuanya seperti dulu ya? Kamu mau kan? Ayo, letakkan dulu pisaunya."Mendengar bujukan Hilal, perhatian Devi teralihkan. Saat itulah Gerry bergerak cepat. Dalam satu gerakan terukur, ia menerjang, meraih pergelangan tangan Devi. Pisau terlepas dan jatuh ke rerumputan. Vonny langsung merangkul Devi dari belakang, menahan tubuhnya yang menggigil."Cukup ya, Dev. Cukup!" Vonny, menahan tubuh Devi erat.Devi menjerit histeris. Meronta-ronta keras, berusaha melepaskan diri."Aku tidak mau hidup lagi! Tidak mau kalau tidak bersama Mas Hilal !"Tangisnya pecah, mengguncang tubuhnya yang ringkih.Suasana yang tadi tegang meluruh. Bu

  • Yang Tak Kunjung Padam   85. Drama Devi.

    "Ayo kita semua makan dulu baru mengobrol, Pak Rahmat, Bu Aminah, Devi. Kata orang, perut yang kenyang membuat segala urusan jadi lancar." Suara Bu Mira memecah ketegangan. Ia melangkah di antara Hilal dan Devi. Berusaha mencairkan suasana. Hilal mengedipkan mata dua kali. Kata-kata sang ibu membuatnya tersadar. Ia kemudian menoleh ke samping. Nawang berdiri dengan wajah pucat dan kedua tangan mengepal. "Mas Hilal jawab dulu, apakah Mas bersedia kembali menerimaku?" desak Devi dengan suara bergelombang. Ia galau saat melihat wanita cantik yang berdiri di samping Hilal. Mendengar desakan sang putri, Pak Rahmat segera maju ke depan."Ayo, Bu Mira. Sudah lama sekali kami tidak menikmati masakan Bu Mira yang terkenal enak-enak." Pak Rahmat menggeser dengan luwes pegangan tangan istrinya di kursi roda Devi. Kini ia menggantikan tugas sang istri mendorong kursi roda. "Silakan... silakan." Tangan Bu Mira terulur ke meja prasmanan, mempersilakan tamu-tamunya menikmati hidangan. "Jangan

  • Yang Tak Kunjung Padam   84. Nama Lain Dari Cinta.

    "Selamat ya, Nawang. Kamu sudah resmi menjadi member keluarga Hadiningrat. Kenalkan, saya Mira Hadiningrat, ibunya Hilal. Dan pria tua gagah perkasa nan sakti mandraguna ini adalah Haidar Hadiningrat—ayah Hilal." Bu Mira memperkenalkan diri beserta suami. Satu hal yang membuat Nawang tidak kuasa menahan cengiran adalah, Pak Haidar membuat gerakan ala binaraga yang sedang mengikuti kontes saat disebut sakti mandraguna oleh Bu Mira. "Dan lelaki paling gagah seantariksa ini adalah Safar Hadiningrat— adik Mas Hilal." Safar menundukkan sedikit tubuhnya dan memegang dada dengan gaya konservatif. "Saya Rianti—istri dari lelaki yang kerjanya pamer ketampanan di antara awan, petir dan burung-burung di angkasa." Wanita cantik yang air mukanya jenaka ikut memperkenalkan diri."Asal kamu tahu, dulu saya pendiam, anggun dan bersahaja. Sayangnya setelah masuk ke keluarga ini, jadi ya beginilah." Rianti mengangkat bahunya pasrah. "Zayn juga ganteng, walau masih kecil." Seorang anak lelaki berusi

  • Yang Tak Kunjung Padam   83. Hari Bahagia.

    Laju mobil melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang berwarna hitam dengan aksen tembaga keemasan. Di kejauhan, berdiri sebuah rumah megah bergaya kolonial modern—anggun, kokoh, namun terkesan hangat. Ada beberapa mobil mewah yang terparkir di sana. Nawang menelan ludah.Ia mengedarkan pandangan. Rumah itu terpisah cukup jauh dari bangunan lain, meski di sepanjang jalan yang sama terdapat rumah-rumah besar lain dengan desain tak kalah mewah. Jalan ini bukan sekadar kawasan elit. Ini kawasan orang-orang berada—mereka yang kekayaannya bukan lagi soal uang. Melainkan gengsi dan pengaruh.Nawang gelisah. Setelah Hilal membuka jati dirinya ia memang membayangkan kalau keluarga Hilal sebagai keluarga mapan. Tapi pemandangan di depannya ini jauh... jauh melampaui ekspektasinya. "Ini… rumah Abang?" tanya Nawang lirih. Hilal tersenyum menenangkan. Ia tahu isi kepala Nawang."Bukan, Nawang. Ini rumah orang tua saya,” jawabnya lembut. Nawang mengembuskan napas pelan."Abang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status