LOGINDi pagi harinya, setelah sarapan, suasana di ruang makan menara Rossi terasa begitu mampat oleh persiapan taktis. Marco sudah berdiri tegap di dekat pintu utama, mengenakan kemeja taktis hitam dengan rompi antipeluru tersembunyi di balik jas formalnya.Dia tengah bersiap hendak pergi ke markas utama karena para kepala klan aliansi sudah menunggunya di sana untuk menuntut kejelasan wilayah Valerius.Gia melangkah cepat menghampiri suaminya, sembari mengancingkan sarung tangan kulit hitamnya dengan satu sentakan aksi yang tangkas. "Aku ikut denganmu ke markas, Marco,” ucapnya dengan santai namun tegas.Mendengarnya, Marco lantas menghentikan gerakannya yang sedang memeriksa magasin pistol di pinggang. Dia pun menoleh, lalu terkekeh pelan menatap istrinya."Itu tidak perlu, Gia. Aku masih bisa melakukannya sendiri di depan para tetua itu. Jangan khawatir.""Aku tidak sedang meminta izin, Rossi," sahut Gia tajam, tatapan matanya menyipit lurus menatap manik abu-abu suaminya. "Aku tetap ik
Pukul sebelas malam. Lorong menara Rossi sudah sunyi, tetapi lampu di dalam kamar utama masih berpendar temaram. Marco melangkah masuk dengan hati-hati, mengira Gia sudah tertidur pulas.Namun, begitu pintu kayu ek itu tertutup, matanya langsung menangkap siluet Gia yang duduk tegak di tepi ranjang besar mereka, melipat tangan di dada dengan tatapan tajam yang menghujam langsung ke arahnya.Marco menghentikan langkahnya, dengan satu tangannya masih memegangi perut kirinya yang dibalut perban. "Kenapa kau belum tidur, Gia?""Tentu saja aku menunggumu, Rossi," sahut Gia dingin, matanya tidak lepas dari sosok suaminya. "Karena jika sampai pukul satu pagi kau tidak kembali ke kamar ini, aku yang akan datang menemuimu ke ruang kerja itu dan menyeretmu paksa untuk tidur."Marco lantas terkekeh mendengarnya. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Suara tawa rendahnya bergema parau di dalam kamar yang sunyi.Pria itu melangkah mendekat, lalu menarik kursi kayu di dekat nakas untuk duduk tep
"Anda yakin akan mengatur strategi ulang, Tuan?" tanya Rio pada Marco yang sedang duduk di kursi kebesaran miliknya seraya menatap peta rancangan yang sudah dia atur sebelum masuk rumah sakit.Rio melangkah mendekat dengan entakan boots militer yang presisi, meletakkan sepasang sarung tangan kulitnya di atas meja mahagoni. Di hadapan mereka, layar holografik taktis memancarkan rute distribusi senjata dan titik koordinat pertahanan klan Rossi yang tersebar di sepanjang pelabuhan timur.Marco menyandarkan punggung tegapnya, sepasang mata abu-abunya berkilat setajam silet di bawah pendar lampu ruang kerja yang temaram. Jari-jarinya yang kokoh mengetuk permukaan meja dengan ritme yang konstan, mengabaikan denyut nyeri yang sesekali masih mengoyak perban di perut kirinya."Seharusnya ini sudah selesai jika aku tidak masuk rumah sakit karena tertembak, Rio," jawab Marco dengan nada suaranya yang berat dan serak menggelegar rendah, memenuhi ruangan dengan otoritas mutlak yang tak terbantahka
"Kau benar-benar tidak punya otak, Rossi!"Gia langsung memarahi Marco saat melihat Marco langsung masuk ke ruang kerjanya padahal dia baru saja keluar dari rumah sakit.Belum genap satu jam helikopter taktis mereka mendarat di atap menara Rossi, dan pria keras kepala itu sudah melangkah dengan angkuh melewati pintu ganda kayu ek ruang kerjanya, mengabaikan fakta bahwa perban di perut kirinya masih membalut luka operasi yang belum kering sempurna."Kau baru saja menandatangani surat kepulangan paksa, dan hal pertama yang kau lakukan adalah duduk di kursi sialan itu untuk memeriksa dokumen taktis?! Masuk ke kamar dan berbaring!"Mendengar ocehan Gia, Marco lantas menghela napasnya dan bilang bahwa dia sudah keluar dari rumah sakit karena kondisinya sudah membaik.Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat tenang, dia menghempaskan tubuh tegapnya ke atas kursi kerja kulit besarnya, meskipun rahang tegasnya sempat mengatup rapat menahan denyut nyeri yang menyengat otot perutnya."Aku suda
“Ta-tapi, Marco, bagaimana jika ada dokter dan perawat yang bisa datang kapan saja," bisiknya terengah, suaranya gemetar antara ketakutan dan hasrat yang membara."Tidak akan," jawab Marco dengan suara rendah dan tegas, seperti perintah yang tidak boleh dibantah. Matanya yang gelap membara."Hanya setengah jam. Itu sudah cukup. Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu di sini, lemah tapi tetap milikku."Tangan Marco yang besar meraih kaus tipis yang dikenakan oleh Gia, lalu merobeknya dengan satu tarikan kasar tanpa mempedulikan perban di perutnyaKain tipis itu kini terlepas, memperlihatkan kulit Gia yang halus dan payudara yang montok dan sempurna di mata sang penguasa tersebut.Gia lantas menggigit bibir, lalu desahan kecil lolos dari mulutnya saat tangan Marco menjelajahi tubuhnya dengan rakus. Jari-jari pria itu menyusuri lekuk pinggul, naik ke payudara, meremasnya dengan kekuatan yang membuat Gia melengkungkan punggung."Ahh... Marco..." erangnya tak karuan, campuran hasrat dan keni
"Masa depan yang akan aku lakukan denganmu, Gia..." Marco menjeda kalimatnya sementara matanya menatap lekat wajah Gia yang sedang menunggunya bicara."Hanyalah ingin membangun rumah tangga yang baik. Aku ingin kita memiliki anak yang banyak, yang tampan dan cantik, yang mewarisi mata indahmu dan ketangguhan taktis klan kita.“Aku ingin sebuah masa depan di mana kau yang mencintaiku, dan aku yang selalu mencintaimu tanpa perlu ada moncong senjata atau rahasia aliansi di antara kita."Gia tertegun mendengar ucapan Marco yang tampaknya tidak terlihat sedang bercanda kali ini. Garis-garis tegas di wajah suaminya mengeras, memancarkan keseriusan murni yang belum pernah dia lihat selama bertahun-tahun aliansi politik mereka berjalan.Semburat kehangatan yang asing mendadak meledak di ulu hati Gia, membuat sirkulasi logikanya mendadak lumpuh selama beberapa detik.Namun, demi membentengi hatinya yang mulai bergetar hebat, Gia justru terkekeh lirih, mencoba mencairkan ketegangan romantis itu
Gia menyeret langkahnya menuju gerbang utama dengan amarah yang mendidih di bawah permukaan kulit. Persetan dengan perintah untuk tetap di kamar.Dia tidak bisa lagi berdiam diri sementara nyawa orang-orang yang tersisa dipertaruhkan dalam permainan gelap suaminya.Di depan pintu besi yang dijaga k
Gia mendengus kasar, lalu membuang muka dari tatapan tajam Marco. Rasa lelah yang teramat sangat menghimpit dadanya, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena kenyataan pahit yang baru saja ia telan.“Kau menang, Marco. Puas?” tanya Gia dengan nada datar. “Aku sudah lelah memikirkan cara un
Tangan Marco yang besar itu kini mengunci kedua pergelangan tangan Gia di atas kepala dengan satu genggaman kuat.Pria itu tidak memberikan jeda bagi Gia untuk sekadar mengatur napas setelah perdebatan mereka. Berat tubuh Marco yang menindihnya terasa seperti beban beton yang menghimpit paru-paruny
Perjalanan pulang dari pesta terasa seperti siksaan yang tak berujung. Di dalam mobil, Marco tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia hanya menatap jalanan gelap melalui jendela, sementara Gia meringkuk di sudut kursi dengan pikiran yang berkecamuk. Informasi tentang ibunya terasa seperti racun yang







