ログインSementara itu, jauh di bawah permukaan tanah pinggiran kota, sebuah bunker beton berlapis baja menjadi saksi ketegangan yang nyaris meledak. Lampu gantung berpendar temaram, menyinari meja bundar besar tempat para petinggi aliansi mafia duduk dengan wajah-wajah tegang.Marco berada di kepala meja, mantel hitam besarnya tersampir di sandaran kursi kayu ek, memperlihatkan kemeja hitam yang membungkus tubuh tegapnya. Bau cerutu dan ketakutan menguar pekat di udara.Suasana di dalam ruangan berteknologi tinggi itu mendadak memanas setelah sebuah laporan intelijen dilemparkan ke tengah meja.“Bagaimana mungkin jalur laut utara bisa ditembus? Kita kehilangan seluruh pasokan senapan otomatis itu dalam hitungan jam!” seru salah satu kepala klan dengan dahi bercucuran keringat.Marco menumpu kedua tangannya di atas meja, matanya menyapu ruangan dengan pandangan yang membuat siapa pun enggan membalas tatapannya. “Klan Obsidian. Mereka yang melakukan penjegalan ini.”Mendengar nama kelompok tent
Gia berdiri mematung di ambang pintu kamar Rio yang kosong melongpong dengan perasaan yang campur aduk antara panik dan murka. Matanya menyisir sisa-sisa kekacauan di atas lantai, mencoba mencari petunjuk sekecil apa pun yang mungkin tertinggal di antara robekan kain dan pecahan kaca.Namun, ruangan itu benar-benar bersih dari jejak manusia, menyisakan keheningan yang dingin.“Sialan! Bagaimana bisa dia menghilang secepat ini?” umpat Gia, suaranya bergetar menahan luapan emosi.Dia segera berbalik, melangkah setengah berlari kembali ke bangunan utama mansion. Di dekat dapur bersih, dia berpapasan dengan kepala pelayan senior yang sedang menginstruksikan para pelayan muda untuk mengunci semua pintu akses luar.“Kau! Berhenti di sana!” panggil Gia dengan nada suara yang meninggi, tidak lagi peduli pada tatapan heran para pekerja domestik di sekelilingnya.Kepala pelayan senior itu berbalik, membungkuk hormat dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, seolah-olah kekacauan di paviliun bel
Suara ketukan sepatu laras panjang milik Marco terdengar semakin mendekat ke arah pilar tempat Gia bersembunyi.Menyadari posisinya yang hampir ketahuan, Gia segera melangkah keluar dari balik tirai, mencoba memasang wajah setenang mungkin seolah dia hanya kebetulan sedang melintas di sana.Marco berhenti tepat di hadapannya. Mantel hitam besarnya yang panjang membuat tubuh pria itu terlihat semakin menjulang dan mengintimidasi. Bau mesiu yang samar dan aroma parfum maskulinnya menguar, memenuhi rongga dada Gia dengan sensasi yang menyesakkan.“Kau melihat semuanya?” tanya Marco dengan suara bariton yang dingin, matanya menatap tajam ke arah wajah Gia yang tertutup riasan sempurna.“Sulit untuk tidak melihat saat suamiku mengubah ruang tengah menjadi markas militer,” balas Gia, melipat tangan di dada demi mempertahankan keangkuhannya. “Kau mau pergi membantai orang lagi?”Marco tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dada bidan
Gia meremas kertas kecil itu di dalam genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Alamat sebuah gudang tua di dermaga barat dan deretan angka yang menunjukkan jam dua dini hari tercetak jelas di sana.Catatan itu seketika membuat Gia berada dalam dilema yang teramat sangat, menguras seluruh ketenangan batin yang tersisa.“Apakah ini jebakan baru dari klan Moretti untuk memancingku keluar dari mansion?” gumam Gia dengan suara yang nyaris tak terdengar, matanya menatap liar ke sekeliling walk-in closet.“Atau ... apakah ini justru pesan rahasia dari sekutu mendiang ayahku yang mencoba menyelamatkanku sebelum racun berikutnya benar-benar sampai ke kamarku?”Dia mondar-mandir di atas karpet tebal, mencoba menimbang risiko terburuk. Jika dia mengabaikan catatan ini, dia mungkin kehilangan satu-satunya kesempatan untuk memegang kendali atas hidupnya sendiri. Namun, jika dia melangkah keluar, maut bisa jadi sudah berdiri menyambutnya di ujung jalan.Sepanjang hari berikutnya, Gia dipaksa
Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentangan pelan, namun gema suaranya terasa seperti vonis mati di dalam kepala Gia.Langkah kaki Marco di luar koridor perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kamar utama yang luas. Gia masih berdiri mematung di tempatnya, menatap nanar ke arah daun pintu yang kini mengurungnya kembali dalam ketidaktahuan.Dia memutar tubuhnya dengan lemas, melangkah perlahan menuju ruangan walk-in closet yang terletak di sudut kamar. Begitu lampu menyala otomatis, pandangannya langsung bertumpu pada deretan belanjaan mahalnya yang tersusun rapi di atas meja pulau berlapis marmer.Tas-tas kulit dari perancang busana ternama di Paris, kotak-kotak perhiasan beludru berisi berlian, serta deretan gaun sutra yang dia beli kemarin kini kehilangan kilaunya.Semua barang mewah itu kini terasa seperti beban yang menghimpit dadanya, bukan lagi simbol kemewahan yang bisa dia banggakan.“Nikmati hartaku, katanya?” cibir Gia pada dirinya sendiri
Pertanyaan menohok dari Gia menggantung di udara, menciptakan keheningan yang begitu pekat dan menyesakkan di antara mereka. Marco tidak berkedip, tidak pula memalingkan wajahnya.Dia hanya menatap Gia dengan sepasang mata abu-abu yang kini tampak sekaku dinding es, menolak memberikan konfirmasi atau pembelaan apa pun atas tuduhan yang baru saja terlontar.Cengkeraman tangan Marco pada rahang Gia perlahan mengendur, namun tekanan auranya justru terasa semakin memberat, menghimpit dada wanita itu hingga dia kesulitan untuk bernapas dengan normal.“Kau sungguh berpikir aku menginginkan kematianmu, Gia?” suara Marco akhirnya keluar, sangat rendah hingga nyaris menyerupai geraman serigala di tengah malam.“Melihat bagaimana kau mengurungku dalam ketidaktahuan, itu bukan hal yang mustahil!” balas Gia, menolak untuk menurunkan intensitas tatapannya. Dia tetap membusungkan dada, mempertahankan harga diri klan Valerius yang tersisa di dalam dirinya.“Kau mengendalikan setiap langkahku seolah







