Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 18: Pengakuan Keputusasaan

Share

Bab 18: Pengakuan Keputusasaan

last update publish date: 2026-05-04 12:11:15

Gia mendengus kasar, lalu membuang muka dari tatapan tajam Marco. Rasa lelah yang teramat sangat menghimpit dadanya, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena kenyataan pahit yang baru saja ia telan.

“Kau menang, Marco. Puas?” tanya Gia dengan nada datar. “Aku sudah lelah memikirkan cara untuk kabur. Untuk apa? Kau sudah mengambil segalanya. Bahkan orang-orang yang kupercayai sekarang sudah memakai seragammu dan makan dari tanganmu.”

Marco tidak segera menjawab. Ia menatap Gia selama be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Jangan nekat Gia, takut Marco makin murka ntar kalau kamu menghianati nya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 21: Dari Sudut Pandang Pelayan Senior

    Gia kini sedang meringkuk di sofa beludru ruang tengah yang luas, menatap kosong ke arah perapian yang padam. Langit-langit mansion yang tinggi seolah-olah siap meruntuhinya kapan saja.Di rumah semegah ini, dia merasa tidak lebih dari sekadar bayangan yang tersesat di lorong-lorong gelap. Tanpa Marco, rumah ini terasa hampa, namun kehampaan itu justru membawa jenis teror yang berbeda, sebuah kesunyian yang mencekik.“Sialan kau, Marco Rossi,” bisik Gia parau. “Kau mengurungku di sini seperti binatang peliharaan, sementara kau pergi ke luar kota tanpa penjelasan. Apa kau pikir aku bodoh? Aku tahu apa yang dilakukan pria sepertimu saat jauh dari jangkauan.”Dia memukul bantal sofa dengan kepalan tangan, meluapkan rasa frustrasi yang sudah di ujung kepala.“Pria menjijikkan. Di sini dia berpura-pura menjadi penguasa yang disiplin, tapi di luar sana? Aku berani bertaruh dia sedang dikelilingi wanita-wanita murahan yang rela melakukan apa saja demi uangnya. Mungkin sekarang dia sedang t

  • Yes! Please, Daddy   Bab 20: Siasat Sang Predator

    Gia menyeret langkahnya menuju gerbang utama dengan amarah yang mendidih di bawah permukaan kulit. Persetan dengan perintah untuk tetap di kamar.Dia tidak bisa lagi berdiam diri sementara nyawa orang-orang yang tersisa dipertaruhkan dalam permainan gelap suaminya.Di depan pintu besi yang dijaga ketat, dia menemukan kepala penjaga, pria bernama Viktor yang memiliki bekas luka memanjang di rahangnya.“Buka gerbangnya. Aku ingin bertemu dengan pengawal ayahku sekarang juga,” tuntut Gia dengan suara bergetar.Viktor tidak bergeming. Dia tetap berdiri tegak dengan tangan tertaut di belakang punggung, seraya menatap Gia seolah dia hanyalah gangguan kecil di pagi hari.“Anda tidak diizinkan meninggalkan area lobi, Nona. Kembali ke kamar adalah pilihan terbaik untuk keselamatan Anda.”“Aku tidak butuh nasihatmu! Di mana Rio? Di mana sisa pengawal klan Valerius?” Gia maju satu langkah, menatap mata dingin pria itu. “Penjaga di dalam bilang mereka ada di dermaga, tapi aku tahu kalian semua pa

  • Yes! Please, Daddy   Bab 19: Pencarian yang Sia-sia

    Gia melangkah cepat menyusuri lorong panjang mansion yang terasa semakin menyesakkan. Sepatu hak tingginya sengaja dia tanggalkan agar langkahnya tidak mengundang perhatian berlebih.Setiap kali berpapasan dengan penjaga berseragam hitam, dia hanya melemparkan tatapan datar, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang membakar dadanya. Tujuannya hanya satu: barak pengawal di sayap kiri bangunan.Begitu sampai di depan pintu kayu besar barak, Gia mendorongnya kuat-kuat. Kosong. Hanya ada barisan tempat tidur yang tertata rapi tanpa satu pun penghuni.Bau keringat dan tembakau yang biasanya memenuhi ruangan itu pun sudah hilang, digantikan aroma pembersih kimia yang tajam.“Sialan kau, Marco,” desis Gia sambil mengepalkan tangan.Dia berbalik dengan cepat, namun langkahnya terhenti oleh sosok penjaga bertubuh kekar yang berdiri tepat di ambang pintu. Pria itu tidak memakai lencana Valerius; dia adalah anak buah asli Rossi.“Nona, Anda dilarang berada di area ini. Tuan Marco memerintahkan A

  • Yes! Please, Daddy   Bab 18: Pengakuan Keputusasaan

    Gia mendengus kasar, lalu membuang muka dari tatapan tajam Marco. Rasa lelah yang teramat sangat menghimpit dadanya, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena kenyataan pahit yang baru saja ia telan.“Kau menang, Marco. Puas?” tanya Gia dengan nada datar. “Aku sudah lelah memikirkan cara untuk kabur. Untuk apa? Kau sudah mengambil segalanya. Bahkan orang-orang yang kupercayai sekarang sudah memakai seragammu dan makan dari tanganmu.”Marco tidak segera menjawab. Ia menatap Gia selama beberapa detik, mengamati setiap inci wajah istrinya yang tampak layu. Sebuah kepuasan dingin terpancar dari sorot mata abu-abunya.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak hingga Gia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau wiski tipis dari tubuh pria itu.“Bagus. Akhirnya kau mulai menggunakan otakmu,” ucap Marco. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Gia dengan ibu jarinya. Gerakannya terlihat lembut, namun tekanan yang ia berikan terasa posesif, seolah sedang menandai kulit yang me

  • Yes! Please, Daddy   Bab 17: Akan Pergi

    Gia terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di setiap persendian. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden terasa seperti ejekan bagi kondisinya yang menyedihkan.Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda kemerahan, lalu menoleh ke arah meja rias. Marco sudah berdiri di sana, mengancingkan kemeja putihnya dengan gerakan yang sangat efisien dan dingin.“Kau sudah bangun,” ucap Marco tanpa menoleh melalui cermin.Gia berdeham untuk menjernihkan suaranya yang parau. “Ke mana kau pergi semalam?”“Bukan urusanmu,” jawab Marco singkat. Ia meraih jam tangan mahalnya dan melingkarkannya di pergelangan tangan.Gia bangkit dengan perlahan, mengabaikan rasa perih di pangkal pahanya. “Aku ingin tahu nasib anak buah ayahku. Rio bilang kau merekrut mereka untuk perlindungan, tapi aku tidak melihat mereka di mana pun sejak semalam. Apa yang kau lakukan pada mereka, Marco?”Marco akhirnya berbalik. Wajahnya tampak segar, kontras dengan Gia yang terlihat hancur. “Merek

  • Yes! Please, Daddy   Bab 16: Penaklukan di Balik Tirai

    Tangan Marco yang besar itu kini mengunci kedua pergelangan tangan Gia di atas kepala dengan satu genggaman kuat.Pria itu tidak memberikan jeda bagi Gia untuk sekadar mengatur napas setelah perdebatan mereka. Berat tubuh Marco yang menindihnya terasa seperti beban beton yang menghimpit paru-parunya.“Kau terlalu banyak membantah hari ini, Gia,” ucap Marco dengan suara serak yang berbahaya. “Sepertinya kau lupa siapa yang memberimu perlindungan di rumah ini.”“Perlindungan?” Gia meludah ke samping, wajahnya memerah karena amarah. “Kau menyebut ini perlindungan? Kau mengurungku dan merampas martabatku!”Marco tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merenggut pakaian yang tersisa di tubuh Gia hingga suara kain robek memenuhi keheningan kamar.Gia tersentak, mencoba menutup tubuhnya dengan kaki, namun Marco dengan kasar memisahkan kedua pahanya dan menempati ruang di antaranya.“Buka matamu dan lihat aku,” perintah Marco.Gia memejamkan mata rapat-rapat. Ia benci bagaimana jantungnya berdegu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status