LOGINSuara ketukan sepatu laras panjang milik Marco terdengar semakin mendekat ke arah pilar tempat Gia bersembunyi.Menyadari posisinya yang hampir ketahuan, Gia segera melangkah keluar dari balik tirai, mencoba memasang wajah setenang mungkin seolah dia hanya kebetulan sedang melintas di sana.Marco berhenti tepat di hadapannya. Mantel hitam besarnya yang panjang membuat tubuh pria itu terlihat semakin menjulang dan mengintimidasi. Bau mesiu yang samar dan aroma parfum maskulinnya menguar, memenuhi rongga dada Gia dengan sensasi yang menyesakkan.“Kau melihat semuanya?” tanya Marco dengan suara bariton yang dingin, matanya menatap tajam ke arah wajah Gia yang tertutup riasan sempurna.“Sulit untuk tidak melihat saat suamiku mengubah ruang tengah menjadi markas militer,” balas Gia, melipat tangan di dada demi mempertahankan keangkuhannya. “Kau mau pergi membantai orang lagi?”Marco tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dada bidan
Gia meremas kertas kecil itu di dalam genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Alamat sebuah gudang tua di dermaga barat dan deretan angka yang menunjukkan jam dua dini hari tercetak jelas di sana.Catatan itu seketika membuat Gia berada dalam dilema yang teramat sangat, menguras seluruh ketenangan batin yang tersisa.“Apakah ini jebakan baru dari klan Moretti untuk memancingku keluar dari mansion?” gumam Gia dengan suara yang nyaris tak terdengar, matanya menatap liar ke sekeliling walk-in closet.“Atau ... apakah ini justru pesan rahasia dari sekutu mendiang ayahku yang mencoba menyelamatkanku sebelum racun berikutnya benar-benar sampai ke kamarku?”Dia mondar-mandir di atas karpet tebal, mencoba menimbang risiko terburuk. Jika dia mengabaikan catatan ini, dia mungkin kehilangan satu-satunya kesempatan untuk memegang kendali atas hidupnya sendiri. Namun, jika dia melangkah keluar, maut bisa jadi sudah berdiri menyambutnya di ujung jalan.Sepanjang hari berikutnya, Gia dipaksa
Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentangan pelan, namun gema suaranya terasa seperti vonis mati di dalam kepala Gia.Langkah kaki Marco di luar koridor perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kamar utama yang luas. Gia masih berdiri mematung di tempatnya, menatap nanar ke arah daun pintu yang kini mengurungnya kembali dalam ketidaktahuan.Dia memutar tubuhnya dengan lemas, melangkah perlahan menuju ruangan walk-in closet yang terletak di sudut kamar. Begitu lampu menyala otomatis, pandangannya langsung bertumpu pada deretan belanjaan mahalnya yang tersusun rapi di atas meja pulau berlapis marmer.Tas-tas kulit dari perancang busana ternama di Paris, kotak-kotak perhiasan beludru berisi berlian, serta deretan gaun sutra yang dia beli kemarin kini kehilangan kilaunya.Semua barang mewah itu kini terasa seperti beban yang menghimpit dadanya, bukan lagi simbol kemewahan yang bisa dia banggakan.“Nikmati hartaku, katanya?” cibir Gia pada dirinya sendiri
Pertanyaan menohok dari Gia menggantung di udara, menciptakan keheningan yang begitu pekat dan menyesakkan di antara mereka. Marco tidak berkedip, tidak pula memalingkan wajahnya.Dia hanya menatap Gia dengan sepasang mata abu-abu yang kini tampak sekaku dinding es, menolak memberikan konfirmasi atau pembelaan apa pun atas tuduhan yang baru saja terlontar.Cengkeraman tangan Marco pada rahang Gia perlahan mengendur, namun tekanan auranya justru terasa semakin memberat, menghimpit dada wanita itu hingga dia kesulitan untuk bernapas dengan normal.“Kau sungguh berpikir aku menginginkan kematianmu, Gia?” suara Marco akhirnya keluar, sangat rendah hingga nyaris menyerupai geraman serigala di tengah malam.“Melihat bagaimana kau mengurungku dalam ketidaktahuan, itu bukan hal yang mustahil!” balas Gia, menolak untuk menurunkan intensitas tatapannya. Dia tetap membusungkan dada, mempertahankan harga diri klan Valerius yang tersisa di dalam dirinya.“Kau mengendalikan setiap langkahku seolah
Gia tidak menyusut sedikit pun meski tubuhnya terkunci rapat di antara dinding dan dada bidang Marco. Amarah yang telah dia bendung sejak dari dermaga kini meledak sepenuhnya, menghancurkan sisa-sisa kesabaran yang dia miliki.Dia mencengkeram kerah kemeja hitam Marco, menariknya dengan kasar agar pria itu merasakan kedalaman amarahnya.“Jangan gunakan dalih keselamatan untuk membungkam mulutku, Marco!” teriak Gia, hingga suaranya melengking memecah kesunyian kamar.“Aku adalah istri sahmu sekarang! Aku menyandang nama Rossi di belakang namaku, bukan sekadar tawanan tidak berdaya yang bisa kau kurung di dalam sangkar emas ini tanpa tahu apa-apa!”Marco menatapnya tanpa berkedip, rahangnya semakin mengeras mendengarkan setiap makian yang keluar dari bibir istrinya. “Istri sah? Kau baru mengingat status itu saat kau terpojok, Gia?”“Aku mengingatnya karena status sialan ini yang membuat orang-orang menyusup ke rumahmu dengan racun!” balas Gia dengan napas memburu, sementara matanya berk
Langkah kaki Marco yang menghentak lantai beton taman terdengar seperti ketukan lonceng kematian. Rio sudah menghilang di balik kegelapan lorong timur, meninggalkan Gia yang kini berdiri kaku dengan jubah sutranya yang berkibar ditiup angin malam.Tanpa memberikan aba-aba atau sekadar mengeluarkan peringatan, Marco melangkah cepat ke dalam gazebo.Tangan kekarnya langsung mencengkeram pergelangan tangan Gia dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga membuat wanita itu meringis.“Lepaskan aku, Marco! Kau menyakitiku!” protes Gia, mencoba menyentakkan tangannya sekuat tenaga.Marco tidak bersuara. Rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar pipinya menonjol tegang. Dia menyeret Gia keluar dari gazebo, membawa wanita itu melintasi taman belakang dan masuk ke dalam mansion dengan langkah-langkah lebar yang dipaksakan.Gia terpaksa setengah berlari untuk mengimbangi kecepatan langkah suaminya, kakinya yang telanjang beberapa kali terantuk lantai marmer lobi yang dingin.“Ka







