LOGIN"kalian kemana?" Aditya duduk lemas. Coba menghubungi nomer Zahra tapi mati. "Malam - malam begini, harus cari kemana?" Gumam Aditya.Kring..kriiing..Ponsel Aditya menjerit - jerit, ternyata zio yang menghubunginya."Halo dit? Lo dimana?" Suara zio di seberang."Di rumah sakit" jawab Aditya sekenanya."Oke, Lo pesan apa? kita lagi pada mau otw kesana soalnya" tanya zio. Terdengar celotehan meta juga disana.Adit menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Nggak usah ke sini bro, Zahra sama Arsya hilang. Gue lagi usaha buat cari mereka" suara Aditya terdengar parau."Apa? Kok bisa?" Kata zio tercengang."Ceritanya panjang. Gue bingung harus mulai dari mana" Aditya memijit pelipisnya yang terasa semakin berat.Karena khawatir dan penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi, zio pun memutuskan sambungan telponnya dan tetap pergi menuju ke rumah sakit.Sesampainya di sana, langsung mencari keberadaan Aditya. Di ujung koridor yang sepi, Aditya nampak bertelpon dengan seseorang.
"Anak siapa yang kamu kandung itu Ra?" Tanya Aditya.Pelan tapi bagai ribuan belati ia hujamkan ke dada istrinya. Pertanyaan macam apa itu. Harusnya saat ini ia hujani istrinya dengan kasih sayang.Setetes air mata Zahra meluncur tanpa penghalang. Menelan kepahitan hatinya saat ini. "Apa? Anak siapa? Maksud kamu apa mas?!" Bibirnya bergetar."Lihat saja video ini! Kamu masuk ke kamar hotel dengan mantan suamimu. Bisa saja dibelakangku kalian sering melakukannya" Aditya meradang. Walaupun bahasanya tidak kasar, tidak juga memukul, tapi setiap ucapannya jelas mengandung amarah.Zahra terdiam, setelah melihat video dirinya dibawa masuk ke kamar hotel oleh Surya. Pantas saja kalau Aditya sampai tidak percaya anak yang dikandungnya itu anak dia. Tapi bagaimana Zahra harus menjelaskannya. Sementara saat itu saja dirinya tidak sadarkan diri."Jelasin Ra. Kenapa diam?" Suara baraton Aditya menyadarkan Zahra dari lamunannya."Harus jelasin apa? Mau dijelasin sampai berbusa pun, kalau pikiranm
"Kerja kalian apa??!! Disuruh menjaga bayi saja tidak becus!!" Wina berteriak memarahi anak buahnya. Matanya merah menyala."Maaf Bu" mereka menunduk ketakutan. Bagaimana tidak, dalam perjanjian disebutkan kalau uang yang mereka terima harus di kembalikan kalau sampai pekerjaan mereka gagal."Ternyata mereka tidak bisa dianggap remeh. Aditya, berani kamu menantang saya!" Gerutu Wina."Agung..!" Wina memanggil sang asisten yang berdiri 1meter dibelakangnya."Iya Bu?""Siapkan mobil, kita akan pergi ke suatu tempat" Wina memicingkan matanya."Siap Bu" jawab sang asisten.Ditempat lain, ada Ine yang hari ini menghabiskan waktunya seharian dirumah saja. Setelah menghilangnya Arsya, Ine tidak ingin membuat curiga Aditya dengan bersenang - senang di luar rumah. Sementara waktu, dirinya harus menahan hobby nya berbelanja dan traveling. Beberapa karyawan salon langganannya, khusus dipanggil untuk melayaninya perawatan dirumah. Selain spa massage, Ine juga minta eyelash dan menicure pedicure.
"Hati - hati ya, salah gerak sedikit saja bisa - bisa anak itu curiga kalau kamu bukanlah ibu kandungnya" ucap seseorang di ujung telpon berbincang dengan Ine. Terdengar jelas saat Zahra memakai benda kecil di telinganya. Berharap hanya dirinya yang bisa mendengar percakapan itu untuk saat ini.Mata Zahra membulat mendengar itu. Dirinya lantas menekan tombol recorder agar bisa di simpan ke galery. Siapa tahu, suatu saat dibutuhkan.*Suara Ine tertawa terbahak, membuat Zahra merinding mendengarnya."Mana mungkin anak itu curiga, dia itu bodoh sama seperti ibunya dulu! Kalau ada yang berkata buruk tentangku, aku tinggal pasang muka sedih. Dia pasti luluh. Aditya seperti anjxng peliharaanku bang haaa haaa" laki - laki itu pun ikut tertawa mendengar ucapan Ine."Ya tuhan, penemuan apa lagi ini. Gila, mana bisa ku kasih tahu ini pada mas Aditya. Dia pasti syok berat. Tapi siapa yang di panggil bang oleh mama Ine?""Kenapa sayang?" Tiba - tiba saja Aditya merangkul pundak Zahra membuatnya g
BUUGGHHSuara tubuh Zahra terjerembab ke lantai sebuah gedung. Ia terpaksa loncat dari jendela, demi menghindari suara berisik beberapa orang yang mencari dirinya."Siapa kira - kira yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku? Sepertinya Surya tidak bohong masalah itu. Terus yang tadi siapa, orang - orang yang mencariku? Mereka suruhan orang jahat atau justru suruhan mas aditya?" Banyak sekali pertanyaan bersarang di kepala Zahra.Baru saja hendak melangkahkan kakinya, seseorang memiliki tangan yang kekar menutup mulutnya dengan kuat. "Anjiir, siapa lagi ini? Jangan - jangan dia penjahatnya"Sekuat tenaga Zahra menggigit jari pria itu. Kakinya yang memakai heels di hentakkan pada kaki orang di belakangnya."Aaauw..auwww sakit. Sayang astaga, ini aku!!" Aditya melepaskan tangannya dari gigitan Zahra. Pria tampan itu, meringis kesakitan karena ulah istrinya sendiri."Ma maaf mas, maaf..aku nggak tahu. Ku kira orang jahat" ucap zahra menyesal. Tangannya coba meraih tangan Aditya yang te
POV Author"Sombong amat mentang - mentang sudah punya istri, cuek banget sama aku" ucap Silvia di dekat telinga Aditya. Ucapannya memang tidak terdengar karena suara musik yang menggema di seluruh ruangan. Karena itu Silvia sedikit meninggikan suaranya, dan mendekat pada telinga mantannya. Dokter tampan yang sejak dulu menjadi incarannya."Jangan gila kamu silvia. Sejak dulu sikapku memang begini. Tidak ada yang berubah. Bedanya sekarang aku harus lebih menjaga perasaan istri ku" jawab Aditya masih coba tersenyum. Meskipun sebenarnya sangat tidak nyaman berdekatan dengan Silvia. Karena gadis itu ada saja ulahnya mendekati Aditya. Sesekali berbisik ditelinganya. Bahkan menempelkan dagunya di atas bahu Raditya. Tapi dokter muda itu masih menahan diri, karena ayahnya meminta Raditya menemani para tamu nya salah satu disitu adalah Silvia.Silvia memainkan minuman di gelas berkaki yang dibawanya. Tangannya tidak lelah meraba lengan Aditya atau sesekali bergelayut di sana."Apa kamu benar







