LOGINHis breath heated her bare skin. "You. . . shouldn’t be. . . here.” She shivered.“But now I am.”He placed his first finger on the knot of the towel, and slightly dragged it out of position, letting it fall to the ground. Now she was standing naked before him, she couldn’t do a thing, not even to hide her pride.His gaze fell on her breast, slowly down to her V spot. A smirk played on his lips, as if staring right at that junction was heaven. The power to resist the urge burning in her was gone, rather her body responded positive to it.“Kiss me, Luci. Please. . .kiss me.”A Bargain Must Be Fulfilled.My rules.A life is needed.That was the deal.The night started as it should. It was supposed to be a meeting. But then something happened.Something I was wholly unprepared for. And what I saw changed everything.Sonia. I wanted her at all cost.I broke my own rules after that. And I didn’t keep my end of the bargain.Because walking away was no longer an option I would grant either of us, no matter the cost.
View MoreWARISAN DARI BAPAK
[Fira, boleh tidak kalau tanah yang di samping rumah Wak Ijah itu, Kakak pinjam dulu.] Aku mengernyit. Pesan dari Kak Helmi datang pagi ini. Mas Lian yang sedang berjemur dengan Bapak pun ikut mengernyit. "Kenapa kamu, Dek?""Oh, nggak, Mas." Buru-buru aku menyimpan ponsel. Akan kuceritakan nanti saja, jangan di depan Bapak. Kami tiga bersaudara. Mas Cahyo anak pertama, tinggal di pulau seberang. Ia kini sudah mapan dengan keluarga bahagia. Yang kedua Kak Fatimah, ia tinggal tak jauh dari rumahku. Mungkin jika memakai kendaraan, kami hanya butuh waktu lima belas menit. Yang ketiga Mas Helmi, ia tinggal di kota Bogor, sementara aku si bungsu, tinggal di desa tempat kelahiran kami, Purwokerto. Masing-masing dari kami sudah diberi warisan dari Bapak meskipun beliau masih hidup. Kedua orang tuaku bercerai dahulu, sehingga kini Bapak ikut denganku, sementara Ibu dengan Mas Helmi. Beberapa bulan lalu, Mas Helmi sudah meminjam perhiasan yang pernah Ibu beri padaku, alasannya karena Ibu jatuh sakit sementara uang yang biasa kami kirim sudah habis. Bapak sendiri menderita stroke, aku memilih merawatnya karena anak dari pernikahan kedua beliau tak mau merawat. Aku menghela napas, Mas Lian yang menyadari ada yang tak beres, buru-buru mengajak Bapak untuk masuk karena matahari pun mulai meninggi. "Kenapa, Dek?" Kuangsurkan ponsel yang sedari tadi tersimpan di saku daster. Ia membacanya sambil mengernyit pula. "Bisa habis kalau semua dipinjam olehnya. Memang untuk apa sih, Dek?""Ya aku nggak tahu, Mas. Pusing Adek juga.""Biar Mas balas aja, ya?" Aku mengangguk. Lalu menatap lelaki yang sudah tiga tahun ini menemani hari-hariku. Ting! Sebuah pesan masuk lagi. Aku buru-buru melihatnya. [Mas mau membangun kamar untuk Ibu, Dek. Kasihan Naura, ia merasa terganggu karena bau amis dari tubuh Ibu kalau terluka.] Aku mendesah. Lagi-lagi karena Ibu. Mas Lian menatap ke arahku. "Bagaimana, Dek?" "Menurut, Mas, bagaimana?" "Apa kita kirim uang tabungan saja? Sayang jika harus menjual tanah." Aku berpikir sebentar, kemudian mengangguk, menyetujui ide Mas Lian.---Malam ini, aku sedang mengobrol dengan Bapak sambil menonton televisi. Beliau hanya kaku di badan, sementara untuk berbicara masih terdengar jelas. "Bapak kangen sama kakak-kakakmu, kenapa mereka nggak pernah ke sini, ya? Fatimah pun begitu." Aku menghela napas. Anak-anak Bapak memang jarang berkunjung, paling hanya bertanya kabar dan mengirim uang. Mas Helmi dan Mas Cahyo bisa dihitung dengan jari jika berkunjung ke sini, mungkin jarak menjadi alasan keduanya. Namun Kak Fatimah? Rumahnya tak jauh, jika ke sini seminggu sekali. Itupun hanya menengok sebentar, lalu pergi. "Sudah, jangan dipikirkan, Pak. Nanti kalau sudah waktunya juga bakal ke sini." Tak lama kemudian, terdengar ucapan salam. Mas Lian datang sambil menentang sebuah plastik. "Nih, Pak, Lian belikan martabak kesukaan Bapak."Wajah tua itu tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih pada suamiku. "Makasih ya, Mas," ucapku. "Sama-sama." Kami pun makan sambil menonton televisi. "Nduk, apa kita jenguk ibumu saja?" Uhuk-uhuk! Aku yang tengah minum pun sampai tersedak mendengar ucapan Bapak. "Beneran, Pak?" Beliau mengangguk. Aku dan Mas Lian saling pandang, lalu senyum bahagia terbit di wajah kami berdua. Selama ini, Bapak tak mau jika kuajak berkunjung ke Bogor, alasannya masih sakit hati dengan perbuatan Ibu yang meninggalkannya demi laki-laki lain dulu. "Baik, Pak. Habis ini istirahat, ya? Besok kita berangkat pagi-pagi," ucap Mas Lian. Bapak mengangguk, lalu memutar roda dan masuk ke dalam kamar. "Kira-kira, apa yang membuat Bapak tiba-tiba mau bertemu dengan Ibu, Dek?" Aku menggeleng. Apapun alasannya, aku bahagia akan bertemu dengan Ibu. Kubereskan sisa makan kami, lalu mematikan lampu ruang tengah dan masuk ke dalam kamar. "Dek, mengenai uang itu, sepertinya kita bawa saja, nggak usah ditransfer." Aku mengangguk. --Esok subuh. Kami sudah bersiap. Aku pun sudah menuliskan TUTUP di depan toko sembako di depan rumah dan di bengkel Mas Lian. Bapak dan Mas Lian sudah duduk di dalam mobil, sementara aku mengecek semua benda-benda berbahaya yang sekiranya masih dalam keadaan menyala. "Siap?" "Oke!" jawabku. Mobil meluncur menuju Bogor. Sengaja aku tak memberitahu Mas Helmi, apalagi Ibu. Biar jadi kejutan. Setelah menempuh tujuh jam perjalanan, akhirnya kami sampai pada pukul dua siang. Nampak rumah Mas Helmi itu sepi. Mungkin semuanya sedang tidur siang. Kakak keduaku itu menempati rumah peninggalan Nenek. "Loh, Fira?" Aku menoleh ke sumber suara. Ada Mbok Marni yang tengah memegang sapu, senyum terukir di wajahnya. "Assalamu'alaikum, Mbok," ucapku pada Mbok Marni. Dia adalah tetangga kami waktu masih menempati rumah ini. "Apa kabar, Mbok?" "Baik. Kalian tumben sekali ke sini. Padahal kan...""Fira!" Belum selesai Mbok Marni selesai meneruskan ucapannya, Mbak Ambar--kakak iparku, memanggil. Ia menatapku dengan mata melotot. Tumben sekali? "Sebentar ya, Mbok."Aku menyalami Mbak Ambar, lalu disusul oleh Mas Lian yang mendorong kursi roda Bapak. "Pak," ucap Mbak Ambar sambil mencium tangan Bapak. "Kalian kok ke sini tanpa bilang-bilang dulu, si? Aturan ngomong dong!" Aku mengernyit. Kenapa Mbak Ambar seolah tak senang dengan kehadiran kami. Sadar sedang kuperhatikan, wanita beranak tiga itu salah tingkah. "Ayo, masuk." Ia membuka pintu rumah, lalu menyuruh kami duduk. Tak ada senyum di wajahnya, apakah kedatangan kami ke sini hanya mengganggu saja? "Ibu mana, Mbak?" Mbak Ambar gelagapan, tangannya saling meremas. "Mbak?" "Eh, anu..."Aku terdiam. Sepertinya, aku tahu kenapa ia bersikap seperti ini. Fix, ada yang tak beres! --"Bapak, mau minum?" Kami semua terdiam. Kenapa pula Mbak Ambar tak menjawab pertanyaanku dan malah menanyakan hal yag tak seharusnya tak ditanyakan? Tanpa menunggu jawaban Bapak, kakak iparku itu berjalan ke dapur. Aku dan Mas Lian saling memandang. Ia mengangguk, seolah mengerti arti dari tatapanku. Aku menghela napas, Bapak termangu di kursi rodanya. Tubuh rentanya, berusaha memaafkan kesalahan Ibu. Hati nuraninya, seolah kuat untuk tak mengingat kenangan pahit masa lalu. "Silakan diminum, Pak, Lian, Fira." Kami semua mengangguk. Mbak Ambar kembali lagi ke dapur, seolah menghindar dari kami. Begitu datang lagi ke sini sambil membawa cemilan, kucekal tangannya dan menyuruhnya untuk duduk di hadapanku. "A-apa, Fir?" "Dari tadi, Fira nanya ke Mbak Ambar. Ibu mana?" Ia tampak gelisah, tangannya sampai berkeringat. Akupun mendesah, semoga Ibu baik-baik saja. "Apa Ibu sudah meninggal dan kalian tak memberitahu kami?" Mata Mbak Ambar membeliak, seolah aku ini tengah memfitnahnya. Hei, reaksi apa itu? Apa memang, tebakanku itu benar?Allison woke up, disappointed to see that meeting Dorcas is a dream. She felt sad and she wanted to meet with him in reality, but then she remembered what his mother told him concerning their meeting. They have to be patient for a little while until they meet. But the question is. . . How long do they have to wait for the right time? Allison went to the kitchen, luckily, she met her mother. Cynthia was fully dressed and ready to go to work, when Allison showed up. "Good morning, mom." Allison greeted her. "Morning, sweetheart. How was your night?" She asked. "Fantastic." Allison said, happily. "I can tell from the look on your face. Tell me, what made your night fantastic?" She asked. "I had the best dream ever last night and guess what it is?" "You met with your brother?" She guessed right. "Exactly. I saw both him and aunty Sonia, they both looked good together." On hearing Sonia's name, Cynthia hopes were high, indeed her sister was safe and sound in her new h
ALLISON ? * I was surprised to hear that. Mother never told me this for once all those years I kept asking her, but all of a sudden she is telling me now. Could that mean...? *Could that be mother knows some thing that I don't?* I thought to myself as I stared at her. "Do you know some thing about this mark, mother?" I asked. "Allison. . ." She tried to give her usual excuses but this time I wasn't interested in listening to any of them. "Mother, if there is any thing that has to do with this scar then I have every right to know. Why will you keep hiding the truth away from me? This is my scar, mother, I should know why I have it in the first place. Please tell me, tell me what it means." I pleaded. I could sense she wasn't ready to tell me what's behind the scar but I was determined to know. "The scar signifies the bind you share with the one who also bears the scar. It connects the both of you together, sharing your pains and emotions together. It was given to you b
20 YEARS LATER*** * "Mom?" Allison called from the sitting room as soon as she walked in. "Mom?! I'm back!" "I'm here!" Cynthia said from the kitchen. She went to the kitchen. "Afternoon mom." Allison greeted, pecking her mother's cheek. "Afternoon, sweetheart, how was school today?" She asked, chopping on the green beans. "It was fine mom. What are you cooking?" She asked. "Fried rice, hope you'll love it?" "Dad's favorite? Come on, mom, I love fried rice." She said in a delicious manner. "Why don't you take a shower and get some rest too, I'll call you when it's time for dinner." "Okay." She left for her room. Allison was done with the shower, she stepped out to change into her house wear. She felt a pain on her forehead at the position of the scar, it felt like a burning pain. She groaned, rubbing it gently. "Aahh! Fu*k" she cursed. "When will you learn to be merciful?" The pain seems to be increasing gradually. She didn't want to scream to avoid causing a
Dorcas woke up the following morning, feeling excited. He was damn so happy that he had the chance to see his cousin sister. Now that he has passed his scar to her, he can feel her even without visiting earth. "I saw her, I saw my sister." He said to Sonia who was likewise happy for him. "She looks beautiful." "It's your duty to protect and to take good care of her." "I will, mother." "Good. Have you eaten some thing yet?" She asked. "Not yet." He replied. "I was too excited so I said let me share my happiness with you." "You did the right thing. Now go get some thing to eat or else you grow thin and weak to protect your sister." She teased him. "I will never let a finger touch her hair, I swear." He was determined, and likewise confident in his word. **** Back to Jessica, Dorcas came to realize that he was missing some one. Before he could get to his room, she has already dressed it properly with his food on his table. He was done eating and he decided to take a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews