LOGINOke, gue revisi dan rapihin, nadanya tetap intim tapi implisit, tanpa detail vulgar. Fokus ke gerak tubuh, jeda, dan dialog yang ngalir. Setelah suasana kembali tenang, Luki dan Tante Sarah duduk berdampingan di ruang tamu. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu sudut yang membuat ruangan terasa hangat. Tante Sarah bangkit lebih dulu, berjalan ke dapur tanpa berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan dua cangkir kopi. Salah satunya dia letakkan di meja kecil di depan Luki, gerakannya pelan, nyaris hati-hati. “Luk,” katanya sambil duduk kembali, menyandarkan punggung ke sofa, “gimana kabar papah? Sehat?” Dia melirik Luki sekilas. “Tante denger kamu abis besuk kemarinan.” Luki meraih cangkir kopi itu, menghembuskan napas pelan sebelum menyeruput sedikit. “Baik, Tan. Alhamdulillah sehat.” Tante Sarah mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Tangannya merapikan rambut sendiri, seolah menutupi rasa lega. “Syukurlah.” Ada jeda sebentar
Luki baru saja menyelesaikan makan malamnya. Piring di depannya sudah hampir kosong, sendoknya berhenti di tangan saat layar ponsel di samping piring menyala. Nama Tante Sarah muncul, membuat Luki menegakkan punggungnya sedikit. Tante Sarah: “Luk, ke rumah tante malam ini ya. Tante kangen.” Luki membaca pesan itu dua kali, lalu menarik napas pendek sebelum mengetik balasan. Ia menyandarkan punggung ke kursi makan, ekspresinya melembut. Luki: “Iya Tan, nanti Luki ke sana.” Ia meletakkan ponsel di meja dan menoleh ke arah dapur. Mbak Ajeng masih berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk membilas piring, suara air mengalir pelan. “Mbak,” panggil Luki sambil berdiri, mengambil gelas dan membawanya ke dapur. Ajeng menoleh sebentar, alisnya terangkat. “Iya, Luk?” “Tante Sarah ngajak aku ke rumahnya malam ini,” kata Luki, bersandar di ambang pintu dapur. “Katanya mau ngopi, sekalian ngobrol katanya.” Ajeng mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan lap dapur, lalu mena
Luki baru saja menyelesaikan makan malamnya. Piring di depannya sudah hampir kosong, sendoknya berhenti di tangan saat layar ponsel di samping piring menyala. Nama Tante Sarah muncul, membuat Luki menegakkan punggungnya sedikit. Tante Sarah: “Luk, ke rumah tante malam ini ya. Tante kangen.” Luki membaca pesan itu dua kali, lalu menarik napas pendek sebelum mengetik balasan. Ia menyandarkan punggung ke kursi makan, ekspresinya melembut. Luki: “Iya Tan, nanti Luki ke sana.” Ia meletakkan ponsel di meja dan menoleh ke arah dapur. Mbak Ajeng masih berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk membilas piring, suara air mengalir pelan. “Mbak,” panggil Luki sambil berdiri, mengambil gelas dan membawanya ke dapur. Ajeng menoleh sebentar, alisnya terangkat. “Iya, Luk?” “Tante Sarah ngajak aku ke rumahnya malam ini,” kata Luki, bersandar di ambang pintu dapur. “Katanya mau ngopi, sekalian ngobrol katanya.” Ajeng mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan lap dapur, lalu mena
Lampu temaram restoran hotel bintang lima itu memantul di permukaan meja marmer. Gunawan duduk dengan punggung tegak, jasnya rapi, satu tangan menopang gelas wine yang belum ia sentuh sejak lima menit lalu. Di seberangnya, pria paruh baya bernama Peter menyandarkan punggung ke kursi, dua bodyguard berdiri agak jauh di belakang mereka, berpura-pura tak peduli. Peter mengangkat gelasnya perlahan, memutar cairan merah di dalamnya sebelum menyesap sedikit. “Jadi gimana, Bung Gunawan,” katanya datar, tatapannya tak lepas dari wajah Gunawan, “apa kita bisa percaya begitu saja sama Maria?” Gunawan menghembuskan napas lewat hidung, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia baru menyesap wine setelah itu, seolah memberi jeda sebelum menjawab. “Tenang saja, Bung Peter,” ucapnya santai, suaranya rendah tapi mantap, “semua sudah saya atur.” Ia menaruh kembali gelasnya, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Kalau Maria berani macam-macam,” lanjutnya, nada suaranya tetap ringan, “kita pu
Malam sudah turun sejak lama. Lampu ruang tamu menyala temaram, cuma satu lampu dinding yang bikin bayangan memanjang di lantai keramik. Luki duduk di sofa, punggungnya sedikit bersandar, satu tangan memegang cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis. Ia menyeruput pelan, lalu menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Dari dapur terdengar suara piring ditaruh ke rak. Tak lama kemudian, Ajeng muncul di ambang pintu ruang tamu sambil mengeringkan tangannya dengan lap kecil. Ia melirik sekilas ke arah Luki, lalu melangkah mendekat dan duduk di ujung sofa yang sama, menjaga jarak sedikit. Ajeng menyandarkan punggung, menarik napas panjang. “Capek juga ya hari ini,” katanya ringan. Luki mengangguk kecil. Cangkir kopinya berputar pelan di telapak tangan. “Iya,” jawabnya singkat. Beberapa detik hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar jelas. Ajeng melirik lagi, kali ini lebih lama. Tatapannya berhenti di wajah Luki yang terlihat lebih murun
Senin pagi, udara rumah masih terasa dingin sisa hujan semalam. Luki baru selesai mandi, rambutnya masih basah ketika ia melongok ke arah dapur. Aroma nasi goreng langsung menyambutnya. Di dapur, Mbak Ajeng berdiri menghadap kompor, tangannya sibuk mengaduk nasi goreng di wajan besar. Sesekali ia meniup uap panas yang naik, lalu menambahkan telur dan irisan daun bawang. Suara sendok beradu dengan wajan terdengar ritmis. “Kamu ganti baju dulu aja, Luk,” kata Mbak Ajeng sambil tetap fokus mengaduk. “Abis itu kita sarapan bareng.” “Iya, Mbak,” jawab Luki. Ia mengusap rambutnya dengan handuk yang melingkar di leher, lalu berbalik masuk kamar. Beberapa menit kemudian, Luki keluar dengan kemeja kerja yang sudah rapi. Ia berjalan ke meja makan dan duduk, matanya mengikuti Mbak Ajeng yang mematikan kompor. Mbak Ajeng mengambil piring dan mulai menyendok nasi goreng. “Pake kerupuk gak?” tanya Mbak Ajeng. “Pake dong,” jawab Luki sambil tersenyum kecil. Mbak Ajeng







