Masukيتألف هذا الكتاب من ثلاثة أجزاء تروي قصص ثلاثة أزواج مختلفين. الكتاب الأول («إغراء الفاني» لألفا مادوكس) هو مقدمة للكتابين الثاني والثالث. كاميل سئمت أحلام المدينة الصغيرة. وهي عالقة في وظيفة نادلة في ميستيك فولز بدون مال، ولا شهادة جامعية، ولا مخرج، وهي في حاجة ماسة إلى شرارة، شيء يجعلها تشعر بالحياة من جديد. لكنها لم تتوقع أبدًا أن تأتي تلك الشرارة على شكل غريب مثير بشكل خطير. عندما يصل مادوكس وفريقه الغامض إلى المدينة، يهمس الجميع بأنهم عصابة من راكبي الدراجات النارية. لكن هناك شيئًا مختلفًا فيهم، شيئًا جامحًا، بدائيًا... وقويًا. منذ اللحظة التي التقت فيها كاميل بـ مادوكس، اشتعلت بينهما رغبة كهربائية. لكن مادوكس ليس بشريًا. إنه ذئب متحول، زعيم قطيعه، والرجل نفسه الذي سنّ القانون الذي يمنع أي متحول من أن يرتبط بشخص بشري. يلاحقه شبح الحرب العظمى، ويحاول مادوكس حماية قطيعه وإعادة بناء حياته. لكن رائحة كاميل وقوتها ونارها تقلب كل ما كافح من أجل السيطرة عليه رأسًا على عقب. مع تسلل الظلام إلى ميستيك فولز، مهددًا بتدميرهما معًا، يتعين على مادوكس مواجهة خيار مستحيل: إما خرق قاعدته الخاصة... أو خسارة المرأة التي أصبحت سبب كفاحه. يتمحور الكتاب الثاني حول ألفا لوسيان غرايسون (مستذئب) وسيرافين فالي (مصاصة دماء). إنه قصة تحول من أعداء شرسين إلى عشاق، وزواج مصلحة. يتمحور الكتاب الثالث حول ألفا زين نايتكلاو (مستذئب) وآنا هولت (هجينة، نصف بشرية ونصف مستذئبة). إنه قصة تقارب قسري.
Lihat lebih banyak"Kalau dalam kurun waktu satu tahun dia masih belum juga datang, Suci janji bakal nerima siapa pun yang datang melamar."
Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Nazar yang terucap setahun silam malah berubah menjadi bumerang yang menghadang, kala satu-satunya lelaki yang menjanjikan surga di ujung penantian, justru tak kunjung datang. Harapan yang berkian tahun kugantungkan pada akhirnya berakhir kekecewaan.Di sisi pembaringan, dari balik jendela kenangan. Wajah teduhnya masih lekat dalam ingatan, suara beratnya masih terngiang memintaku menunggu untuk sebuah kepastian. Kepastian yang berubah menjadi ketidakpastian, ketidakpastian yang berakhir menjadi perpisahan paling menyakitkan.Hari telah berganti pekan, pekan berganti bulan, sampai tak terasa lima tahun penantian umurku sudah menginjak dua puluh delapan. Entah sudah berapa banyak lelaki yang datang, entah sudah berapa kali berbagai macam bentuk pinangan kuurungkan. Sampai hari itu akhirnya tiba, hari di mana ikatan yang berkian tahun membelenggu, mampu untuk dilepaskan."Nduk, Keluarga H. Jamal udah datang!"Suara Ibu menarikku dari lamunan. Ia melangkah perlahan menghampiri, lalu duduk tepat di sampingku. "Ibu yakin keputusan ini pasti berat bagimu, tapi inilah jalan yang telah kamu pilih. Cobalah untuk melupakannya." Kalimat itu terdengar pasti, tapi sulit untuk diikuti. Melupakan jelas tak semudah memulainya. Bagaimana pun situasinya sekarang, lelaki itu pernah meninggalkan kesan yang amat mendalam dan cukup sulit untuk dienyahkan."Siapa aja yang datang?" Pertanyaan itu terlontar. Kutatap Ibu dengan ekspresi datar. Berharap raut wajah itu mampu menutup kenyataan bahwa sejak pinangan ini kuterima, sudah membuktikan bahwa aku adalah seorang wanita yang menyedihkan."Calon suamimu, Bapak, Ibu, dan adiknya.""Berarti dia juga datang?!"" .... "Tak ada jawaban, kuanggap diamnya Ibu sebagai bentuk pernyataan. Bahwa hari ini, aku harus siap dihadapkan dengan masa lalu dan masa depan.***Dengan enggan, kuseret langkah keluar dari kamar, meneguhkan diri agar hati dan pikiranku sejalan untuk bertemu dengan lelaki yang akan menjadi sosok calon imam. Calon Imam yang tak pernah kuharapkan, calon imam yang kebetulan datang saat perasaanku benar-benar berantakan.Anak sulung H. Jamal, lelaki berusia tiga puluh dua tahun dengan kepribdian yang sama sekali tak bisa kudeskripsikan. Kabarnya dia pernah kabur saat akan dimasukan ke pesantren, ikut balapan motor liar, bahkan masuk penjara karena memukuli orang dalam keadaan tak sadar atau dipengaruhi minuman. Entah apa yang ada di pikiranku saat memilih dia di antara dua kandidat lainnya. Mungkin karena sifatnya berbanding terbalik dengan lelaki nyaris sempurna yang berhasil menorehkan luka. Atau mungkin karena dia kakak dari istri lelaki yang amat kucinta.Kudongakkan dagu, ketika Ibu menuntunku duduk di hadapan para tamu. Menguatkan mental ketika memerhatikan pasangan suami istri yang terlihat sangat bahagia dengan putra kecil mereka, dan calon anak kedua yang ada di kandungan wanita itu. Lima tahun lalu lelaki itu milikku, tapi sekarang ia milik wanita lain. Wanita yang tak pernah tahu bahwa posisi yang dia tempati seharusnya milikku.Dirasa perih mulai menjalar kala memerhatikan keduanya, kualihkan pandangan pada lelaki yang duduk tepat di hadapan. Berbeda nyaris 90° dari sang ipar. Calon suamiku berperawakan lebih tinggi dan lebih besar, bahkan terkesan agak sangar. Rambutnya panjang terikat dengan potongan mohak di samping kiri-kanan. Rahangnya dipenuhi rambut-rambut halus yang kuyakin bila disentuh akan terasa kasar. Meskipun pakaiannya sopan, tapi penampilannya sudah cukup menggambarkan bahwa ia lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan.Lihatlah bagaimana cara dia memerhatikan sekeliling, sesekali bahkan mengipasi tubuh dengan kerah kemeja yang entah sejak kapan sudah terbuka dua kancing teratasnya."Masih lama nggak, sih, Ma? Panas banget di sini. Mana nggak ada AC-nya lagi." Lelaki itu bergumam pada wanita paruh baya berpakaian syar'i di sebelahnya. Yang bodohnya masih bisa kudengar. Bahkan mungkin Ibu dan Bapak juga."Fariz!" Hj. Nurul melotot lalu mencubit perut putranya."Maaf, ya, Nak Fariz. Saya alergi AC, makanya larang Bapak buat pasang," cetus Ibu menjelaskan dengan keramahtamahan khas orang Desa kebanyakan."Nggak apa-apa, Bu. Justru saya yang minta maaf kalau-kalau ucapan Fariz yang terkesan nggak sopan." Hj. Nurul terlihat begitu sungkan, bisa kulihat wanita paruh baya itu mendorong tengkuk dan pundak putranya agar merunduk. Minta maaf."I-iya, Bu. Saya yang salah. Maaf," ucapnya kemudian."Kalau begitu bisa langsung kita mulai saja, ya!" Bapak mulai angkat bicara. Suaranya yang sangat berwibawa selalu berhasil menjadi pusat perhatian siapa saja. "Saya kenalkan kembali. Mungkin Nak Fariz belum sempat melihatnya saat lamaran pertama diajukan. Putri semata wayang kami. Suci Puspitasari.""Cakep," gumam lelaki itu sesaat setelah kami berpandangan."Riz!" tegur ibunya lagi sembari menyikut lengan Mas Fariz."Sebenarnya kami tak menyangka Nak Suci akan menerima pinangan ini setelah mengetahui riwayat hidup Fariz. MasyaAllah, saat Pak Aziz menghubungi kami sangat terkejut sekaligus senang. Kalau bukan sekarang saya tak yakin kapan anak ini akan menikah, dia bahkan sudah dilangkahi adiknya. Farah, dan ini menantu saya Ali."Senyumku memudar, tanpa perlu menjelaskan kami sudah sangat mengenal siapa Ali Abdullah. Dia yang pernah datang meminta izin pada Bapak untuk menikahiku lima tahun silam, dia yang menjadi alasanku menolak semua lamaran yang datang hingga di-cap sebagai wanita paling jual mahal, dia pula yang telah mencoreng arang di wajah ini saat memilih mengkhianati kepercayaan yang sudah bertahun-tahun kusematkan, setelah kabar tersebar bahwa dia telah menikahi seorang gadis kota. Anak bungsu seorang saudagar, pemilik perkebunan kelapa sawit. H. Jamal.Lima tahun waktu kuhabiskan dalam penantian, sementara dia menikmati kehidupan pernikahan yang membahagiakan bersama istri cantik dan anak yang lucu. Di mana letak keadilan itu, Tuhan ....Kuremas kuat gamis yang dikenakan ketika perih yang mati-matian kuredam kembali muncul ke permukaan. Mataku memanas, rahangku mengeras. Semua kecamuk perasaan yang datang bersamaan ini hanya bisa kutahan dalam dada. Aku harus tetap kuat meski dalam keadaan paling hancur sekalipun."Jadi, kapan pihak laki-laki siap untuk melangsungkan pernikahan?" Bapak mengajukan pertanyaan untuk mempercepat proses lamaran. Meskipun tegas dan terkadang dingin, beliau yang paling paham tentang perasaanku. Sepanjang prosesi, tangan besarnya bahkan tak henti menggenggam jemari ini.H. Jamal menoleh pada istri dan anaknya. Meminta pendapat mereka."Kalau itu sepertinya kami kembalikan lagi ke pihak perempuan. Siapnya ka--""Kalau begitu secepatnya!" tukasku yang membuat semua orang lantas terdiam. Kecuali Mas Fariz yang tiba-tiba nyeletuk santai."Ebuset ... rupanya dia udah nggak tahan.""Fariz!"...Bersambung.كاميل في نهاية نوبة العمل المسائية، ودعت كاميل آخر زبون وأغلقت باب المطعم الأمامي. بعد دقيقة واحدة، حطمت النادلة الجديدة، بياتريس، طبقًا للمرة الخامسة في ذلك اليوم. «اللعنة.» انهمرت الدموع من عينيها. «لا أستطيع فعل أي شيء بشكل صحيح. أعلم أنكم جميعًا سئمتم من فوضاي.»«اهدئي.» هرعت كاميل لمساعدتها في جمع القطع المتناثرة. «لا تقلقي. لا أحد يولد ليكون نادلة. بالإضافة إلى ذلك، هذا يومك الأول. هذه الأمور تحدث.»«أنا سيئة في هذا،» قالت بياتريس. «من المحتمل أن يطردني جون.»«لن يفعل. إنه يحتاج إليكِ بقدر ما أحتاج إليكِ أنا.» استخدمت كاميل المكنسة لتجمع القطع في كومة. «استمري في المحاولة فحسب، وستتقنين الأمر. هذا ليس حسابًا تفاضليًا. ستتقنينه بمجرد أن تكرريه مرارًا وتكرارًا.»«يا إلهي، آمل ذلك.» تولت بياتريس المهمة وجمعت الكومة بالمكنسة والمجرفة.جاء جون إلينا وهو يعرج، منهكًا. «لن يطردك أحد، يا عزيزتي».احمرت خجلاً. «اسمعي هذا من السيدة المتعجرفة، التي حصلت على إكرامية ضخمة اليوم.» جلس جون في مقعد فارغ.«ما يزيد عن مائتي دولار عن المجموع. ماذا فعلتِ هناك، كاميل؟ يجب أن تخبريني.»«لا شيء سوى
مادوكس مسح أيدان شفتيه بمنديل، مزيلًا آثار الدم من شريحة اللحم. «نعم. لا يمكننا العودة إلى هنا بعد الآن. كلاكما تتصرفان وكأنها «لونا». لا أفهم ذلك.»«اللونا» هي رفيقة «الألفا»، وعادةً ما تكون أقوى أنثى ذئب في القطيع. لا يستطيع معظم الذئاب السيطرة على أنفسهم في وجود «اللونا» بسبب قوتها الساحرة. ومع ذلك، منذ «الحرب الكبرى»، انخفض عدد «اللونا» من مائة إلى خمس فقط على كوكب الأرض. ويحميهم «الألفا» بجميع أفراد قطيعهم. والأسوأ من ذلك، أن عدد إناث الذئاب بالكاد يصل إلى عشرة. شرب فين قليلاً من الماء ووضع الكوب على الطاولة. «ربما يكون هذا هو الوقت المناسب لإجراء تلك المحادثة حول حكمك.»«ليس الآن.» حشر مادوكس نصف شريحة لحم في فمه.«يا رفيقي.»توقف عن هذا.لقد كان من الصعب بالفعل الخوض في جدال مع فين حول القاعدة. على مدار عام كامل، ظل البيتا يقاوم حظره على التكاثر مع البشر، آملاً في أن تتمكن قطيعهم من نشر إرثهم بطرق بديلة.واصل فين الضغط عليه. «لماذا لا يُعد الآن الوقت المناسب لمناقشة القاعدة؟»ابتلع قطع اللحم. «لقد أخبرتك بالفعل. سنجد مكانًا نسميه وطنًا، ونستقر فيه، ونبني منازلنا، وبعد ذلك نتح
مادوكس انظر إلى أيدان فحسب، ولا تنظر إليها. تناول شرائح اللحم، ثم اخرج من هنا بحق الجحيم. أطلق مادوكس زفيرًا طويلًا ورمق دلتاه بنظرة غاضبة.كان شعر أيدان القصير المجعد بلون الدم. في كل مرة ينظر إلى تلك الخصلات، يتذكر الحرب العظمى. كانت تلك الذكريات تمثل كوابيس الحرب القديمة. مئات الجثث المقطعة والممزقة. في ساحة المعركة، كانت رائحة الدم تملأ كل شبر من الهواء. كانت الرؤوس المقطوعة تتدحرج فوق الأصابع المقطوعة وركبتي الركبة الممزقة. خاض المستذئبون والمستنمرون معركة ضد المستدببين. أخيرًا، توقف كل القتال.على مدى المائة عام الماضية، حكمت الساحرات المتحولين. كانوا يكرهون ذلك. فحارب المتحولون معًا ضد الساحرات. انتصروا، وأصبحت الساحرات الآن أقلية، وعاد المتحولون ليشكلوا الأغلبية. لكن بعد ذلك، قرر المتحولون إلى دببة، المليئون بالجشع، أنهم يريدون السيطرة على جميع المتحولين. لسوء حظهم. بعد أن تذوقت أخيرًا حلاوة الحرية، لم أكن لأسمح بذلك. قمت بتوحيد قطيعي مع الآخرين وقادتنا إلى النصر، فحصلت على لقب «الفاتح».الآن، لم يعد هناك أي دببة متحولة على هذا الكوكب. ولأول مرة، يسير المتحولون على الأرض أح
مادوكس بينما كان مادوكس هو «الألفا» للقطيع، كان فين هو «البيتا». يقود «الألفا» القطيع، ويتخذ القرارات المهمة، ويضع القواعد، ويفرضها. أما «البيتا» فهو الثاني في التسلسل القيادي — أقل رتبة من «الألفا» وشريكته أو «لونا»، لكنه يتمتع بسلطة أكبر من الذئاب الأخرى. آخر ما كان يحتاجه هو أن يشعر كلا القائدين الأعلى في القطيع بالشهوة تجاه إنسانة ما.كان باقي أفراد القطيع يحدقون فيه، في انتظار رد منه.لم يقدم لهم أي رد. في القطيع، أحيانًا يكون صمت الزعيم كافيًا. بدلاً من ذلك، ألقى نظرة على المطعم القديم.على بعد عدة أقدام، كانت هناك امرأة مسنة أدخلت عملة معدنية في جهاز الموسيقى. انطلقت أغنية روك. سعلت وهي تغطي فمها بيديها. استطاع مادوكس أن يشم رائحة السرطان الكثيفة داخل رئتيها. في غضون بضعة أشهر، سترحل السيدة المسنة عن الدنيا.استدارت المرأة، وغطت نظرة حزينة عينيها. حدقت في الصبي الصغير الجالس إلى إحدى الطاولات. عندما سارت المرأة نحو الطاولة وجلست، أدرك مادوكس أن الصبي لا بد أنه حفيدها.نظر الصبي إليها وابتسم.ابتسمت المرأة ابتسامة عريضة، وعندما عاد الصبي إلى الصفحة التي كان يلونها، تغيرت ملامح