Short
عشيقة زوجي تريد قتلي بالنار وأنا حامل

عشيقة زوجي تريد قتلي بالنار وأنا حامل

By:  ‎حسام البحارCompleted
Language: Arab
goodnovel4goodnovel
8Chapters
1.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

عندما علمت حبيبة زوجي بأنني حامل، أشعلت النار عمدًا، بهدف حرقي حتى الموت. لم أصرخ طلبا للمساعدة، بل ساعدت حماتي المختنقة من الدخان بصعوبة للنجاة. في حياتي السابقة، كنت أصرخ يائسة في بحر من النار، بينما جاء زوجي مع رجاله لإنقاذي أنا وحماتي أولا. عادت حبيبة زوجي إلى النار في محاولة لمنافستي، مما أسفر عن إصابتها بحروق شديدة وموتها. بعد وفاتها، قال زوجي إن وفاتها بسبب إشعالها للنار ليست جديرة بالحزن، وكان يتعامل معي بكل لطف بعد أن صدمت من الحادث. لكن عندما وُلِد طفلي، استخدم زوجي لوحًا لذكرى حبيبته لضرب طفلي حتى الموت. "أنتما السبب في فقداني لحبي، اذهبا إلى الجحيم لتدفعا ثمن خطاياكما!" في لحظات اليأس، قررت الانتحار معه، وعندما فتحت عيني مجددًا، وجدت نفسي في وسط النار مرةً أخرى.

View More

Chapter 1

الفصل 1

Seorang gadis bertubuh tinggi, menatap dirinya di depan kaca besar. Helaan napas yang berat terdengar menyedihkan setiap kali bertemu dengan pantulan wajahnya di kaca. Tangannya bertumpu pada wastafel setelah membasuh wajah berkali-kali untuk menjernihkan pikirannya yang kalut. Gadis itu menunduk, dan membasuh lagi, sudah tidak terhitung berapa kali dia melakukan hal yang sama.

Park Hye Jin, perempuan dengan warna kulit medium—pertengahan antara cokelat, warna kulit terang dan zaitun—itu berdiri di toilet sejak 15 menit yang lalu. Kedua matanya tak berpaling dari pantulan dirinya sendiri di depan kaca, di waktu yang sama otaknya pun masih bekerja keras. Berkali-kali ponselnya berdering keras, tetapi ia tak menghiraukannya.

Aroma pengharum lantai terasa menyejukkan, toilet yang bersih dan nyaman. Namun, bukan hal tersebut yang membuat perempuan berdarah Korea Selatan-Indonesia itu berlama-lama di sana. Ia sedang menghindari seseorang yang sedari tadi menunggu dan menyerangnya dengan berpuluh-puluh panggilan.

“Kau sedang apa sih?” Pesan masuk membuat ponselnya menyala terang. Notifikasi lain pun datang bersamaan, dari orang yang berbeda. “Kau harus kembali dengan berita yang aku inginkan!” Pesan lain yang datang dari sosok yang lebih menyebalkan dari seseorang yang tengah menunggunya di depan toilet.

Tatapan kosong kedua matanya yang terbingkai bulu mata lentik, mengarah pada sebuah tanda pengenal yang beberapa menit lalu dilemparkan dengan santai ke pojok wastafel. Tulisan PERS dengan tinta merah yang jelas, dan nama Hye Jin Park tertulis di bawahnya. Dia menghela napas kasar, sambil menyambar benda itu lagi. Hye Jin ingin kabur dan menghindari tugas-tugas menguntit yang menyebalkan, tetapi rasa cinta pada pekerjaan tersebut membuatnya kembali lagi.

Perempuan itu memasukkan tanda pengenalnya ke dalam tas berikut dengan ponsel yang tidak mau berhenti berdering sejak tadi. Setelah mengikat rambut panjang berwarna hitam kecokelatan miliknya, dia melangkah dengan pasti meninggalkan aroma parfum yang segar di dalam ruangan itu.

Hye Jin terhenti sejenak, menatap kedua sepatu kets putih yang menutupi kedua kakinya. “Apa aku harus percaya padanya?” ragunya sambil memegangi knop pintu.

Hye Jin menyampirkan ranselnya di bahu sebelah kanan, sambil melangkah keluar dari toilet tersebut. Dalam hitungan detik, seseorang langsung menyerangnya dari arah kanan dengan tatapan kesal, wajahnya mengkerut, dan bibir merah mudanya mengerucut.

Seonbae[1]! Kenapa lama sekali sih? Aku menunggumu hampir satu jam!” cecar seorang pria yang kini mengekor di belakang Hye Jin.

Hye Jin pun tak menggubris keluhan pria itu, ia malah celingak-celinguk mencari tempat duduk kosong. “Jangan banyak bicara!” ucapnya ketus sambil menoleh sejenak, “Kalau dia tidak muncul, maka aku tidak akan percaya lagi denganmu,” sambungnya sambil menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi kosong, tepat mengarah pada pintu keluar penumpang.

Suara seorang wanita di bagian informasi menggema ke seluruh penjuru, mengumandangkan nomor penerbangan untuk memberi tahu pada setiap penumpang yang menunggu. Hye Jin terdiam mendengarkan suara tersebut, layaknya menikmati sebuah lagu. Suara para penumpang tidak mau kalah, mereka saling berbincang-bincang, bertukar pikiran tentang tujuan kepergiannya.

Bandara Incheon-Korea Selatan memang tidak pernah sepi dari para pengunjung. Sejak tadi tidak henti orang-orang bermunculan dan berlalu lalang sambil menarik koper mereka. Ada pula orang-orang asing yang muncul dari pintu keluar, bersama Tour Guide yang tak berhenti menjelaskan dengan suara yang lantang. Wajah asing selalu menghiasi penjuru Korea Selatan, terlebih saat ini sedang musim dingin. Waktu yang tepat untuk berlibur, walau tubuh harus menggigil karena suhu yang mencapai sebelas derajat celcius.

Hye Jin akui bahwa Korea Selatan merupakan tempat wisata yang cukup baik untuk menghabiskan liburan panjang dan menikmati hari demi hari yang indah. Sekadar minum kopi di pinggir Sungai Han atau mengelilingi Myeongdong untuk menghabiskan uang, sudah menjadi ide terbaik saat menghabiskan waktu di Negeri Ginseng itu.

Hye Jin mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sedari tadi berdiri di sampingnya dengan mata yang tidak berhenti menjelajahi setiap penjuru bandara. Ia menggelengkan kepala saat melihat kegigihan pria itu. Hye Jin melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar santai di kursi. “Ya[2]! Dia tidak akan muncul!” serunya.

“Tidak, Seonbae! Aku yakin dia pasti muncul,” jawabnya berani.

“Tidak akan, Dong Joon-a!” seru Hye Jin lagi. Gadis itu bangkit dan meninggalkan pria itu di sana.

Pria dengan nama lengkap Park Dong Joon itu merungut sedih, ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang senior, walau langkah gadis di depannya itu terlalu cepat. “Seonbae! Kenapa kau tidak percaya padaku?” tanyanya kesal, kedua kakinya mulai kesulitan mengejar gadis itu.

Hye Jin hanya melirik sejenak pada pria yang berjalan setengah berlari itu lewat ekor matanya yang tajam. Ia tak henti menghela napas mendengar keluhan-keluhan junior yang baru dua bulan bekerja dengannya itu. Ia hanya berjalan lebih cepat, menuju lantai B1 untuk ke stasiun kereta.

Seorang pria berdiri tepat setelah Hye Jin melangkahkan kakinya, dengan gerakan seribu bayangan tubuhnya sudah berada di kursi kosong tersebut. Sedangkan Dong Joon berdiri tidak jauh dari tempat Hye Jin, bertumpu pada handle grip untuk menjaga keseimbangan.

Tidak ada yang bisa dilihat di sekelilingnya, semua orang sibuk dengan ponsel mereka. Bahkan seorang wanita dengan perkiraan usia 40-an di sampingnya pun sibuk dengan ponsel canggih keluaran terbaru. Masyarakat telah hanyut dalam kenikmatan teknologi yang semakin canggih.

Saat ini, bukan lagi musimnya berlangganan koran harian yang dikirim ke rumah-rumah. Namun, masyarakat lebih memilih untuk membaca berita lewat ponsel mereka. Keberadaan Hye Jin termasuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan berita-berita di dunia.

Hye Jin mengangkat kepalanya setelah melihat dua orang di sisi kanan dan kirinya. Tepat saat itu sorot mata Dong Joon menembak ke arahnya, membuat gadis itu memusatka kedua matanya ke ponsel canggih merek Samsung yang baru dibelinya tiga bulan lalu. “Menakutkan!” gumamnya bergidik. Dia kini sibuk menjelejahi Siber perusahaannya.

HanNews adalah salah satu perusahaan Pers terbesar di Seoul-Korea Selatan. Perusahaan itu sudah berdiri sejak tahun 2010 dengan perkembangan yang begitu pesat setiap tahunnya. Setiap anggota Pers di sana memiliki latar belakang Pendidikan yang sempurna, termasuk dengan Hye Jin.

Seleksi untuk bergabung dengan perusahaan tersebut cukup sulit, otak yang cerdas tentu menjadi andalan utama. Jadi tak ada istilah “nepotisme” di sana, walau Hye Jin sempat meragukan hal tersebut setelah Dong Joon bergabung dan menjadi rekan kerjanya.

Dengan latar belakang seorang traveler, tanpa mengetahui dasar-dasar seputar PERS, pria berkulit cokelat—eksotis—itu telah mematahkan kepercayaan Hye Jin selama ini, bahwa perusahaannya juga memberlakukan sistem “Nepotisme”.

[1] Senior – Bahasa Korea, biasa dipakai sebagai panggilan formal.

[2] Hei- dalam bahasa Korea

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
8 Chapters
الفصل 1
"تمسكي يا سونيا، سأخرجكِ معي بالتأكيد!"أصابني عرق بارد من الصوت المألوف، وعندما فتحت عينيّ، كان باب خشبي محترق ومشوه يمر بجانب أنفي ويسقط عليّ.شعرت بالرعب الشديد، فركضت فورًا مع حماتي إلى غرفة النوم للاختباء."أمي، لا تفتحي النوافذ، هذا سيزيد من شدة الحريق."بعد أن قلت ذلك، نظرت حولي بسرعة، وتمكنت من فتح غطاء الوسادة في لحظات، ثم سقيت الماء المعدني بها وأعطيتها لحماتي لكي تغطي فمها وأنفها.في تلك اللحظة، سُمِع صوت صفارات الإنذار من الأسفل، وظهرت على وجه حماتي ابتسامة فرحة."لا تخافي، هيثم جاء مع رجاله لإنقاذنا.""سنكون بخير جميعا."نظرت إلى حماة وهي متحمسة، فخفضت عيني ولم أنطق بكلمة.لم أكن أعرف كيف أخبر هذه المرأة العجوز بأن ابنها في المستقبل سيقتل حفيدتها بسبب حبه للمرأة التي يحبها.استمرت درجة الحرارة في الغرفة في الارتفاع بسبب النيران، وأصبح البلاط تحت قدميّ حارًا جدًا.كنت قد سحبت حماتي إلى مكان آمن عندما سمعنا صوت هيثم ينادي من خلف الباب."حسناء، حسناء، هل أنتِ هناك؟""لا تخافي، أنا هنا لإنقاذكِ!"مع صوت انفجار هائل، تم كسر الباب بعنف، وعلى الرغم من أنني لم أتمكن
Read more
الفصل 2
كان الألم في بطني لا يطاق، وكدت أكسر أسناني من شدة الألم، وكنت على وشك أن أندفع نحو النار لأخرج بأي ثمن.كانت حماتي، التي كانت على ظهري قد استيقظت فجأة من الدخان الكثيف، فسحبتني بشدة، ثم بدأت في الصراخ."هيثم، أيها الحقير، زوجتك وطفلك محاصرون في الداخل، من ستأخذ إلى المستشفى؟"توقفت عن الحركة، وبدأت أستمع بعناية للأصوات القادمة من الخارج.لكن خطوات الأقدام قد ابتعدت بالفعل، لم يكن هناك أثر لهيثم في الخارج.سقط خزان الملابس الذي تحطمت جدرانه بفعل النار، مما سد الطريق الوحيد الذي يمكن أن ننجو منه.ارتجفت وأنا أسكب آخر كمية من الماء على المنشفة وأقدمها لحماتي.نظرت إلي ودموعها تسيل بغزارة، وعندما كانت على وشك أن تقول شيئا، سمعنا مرة أخرى صوت صفارات الإنذار من الطابق السفلي.كان الصوت نفسه الذي سمعناه في البداية.كان هيثم قد غادر مع حسناء.كان الحريق يزداد اشتعالًا، وكنت أفكر في يأس أنني لن أتمكن من الخروج هذه المرة.سعلت حماتي عدة مرات، ثم أصبحت صامتة تمامًا.كان الحريق يزداد قوة، وكان يلتهم أطراف ملابسي.في اللحظة الحاسمة، فجأة سمعنا صوتا ينادي من الخارج:"أختي، قال حارس ال
Read more
الفصل 3
عندما استعدت وعيي مرة أخرى، كنت قد تم نقلي إلى غرفة أخرى.رأتني الممرضة وأنا أستفيق، وألقت بزجاجة الدواء في سلة المهملات بقوة، وكان صوتها مليئا بالاشمئزاز:"عجبًا، حياتكِ طويلة فعلًا.""لقد تسببتِ في إيذاء الكثير من الناس، وأنتِ فقط فقدتِ طفلكِ، أعتقد أنكِ محظوظة."كان هناك حريق في حلقي، ولم أستطع إصدار أي صوت، فقط كنت أتحمل سخريتها.عندما رأتني هكذا، دفعت الباب بعنف وصرخت بصوت عالٍ للذين في الخارج:"المرأة المشتبه بها استيقظت، أسرعوا وخذوها بعيدا، لا تلوثوا مستشفانا.""تجرئين على إيذاء ابنة شهيد؟ لعنة الله عليكِ، لماذا لم تموتي في الحريق؟"دخل شخصان من الباب دون أي نقاش وأمسكوا بي، وسرعان ما رأيت هيثم.كان وجه هيثم مظلمًا تمامًا من خلف الطاولة، وفتح فمه ليحكم علي:"سونيا، قلبكِ كالثعبان، حاولتِ قتل شخص عمدا ولم تنجحي.""بما أنكِ حامل، يمكنني أن أطلب لكِ تأجيل الحكم، لكنكِ ستقضين وقتا في السجن."بعد أن قال ذلك، أدار رأسه بتصلب وكأن التحدث إليّ أكثر سيؤذي براءته.فتحت فمي لأدافع عن نفسي، ولكن صوتي كان خافتًا جدًا، وكنت أُسعل بعنف.في تلك اللحظة، دخلت حسناء وهي تبكي، واندفع
Read more
الفصل 4
نظرت إلى تعبيره، وفجأة شعرت برغبة في الضحك."فقدت الطفل، يعني أن طفلنا قد توفي.""بعد أن أنقذت والدتك من الموت، قتلته أنت بركلة واحدة."كانت عيون هيثم مليئة بالصدمة، فبدأت حسناء بالكلام فورًا:"لا تتحدثي بالهراء، بالتأكيد أنتِ حامل لرجل آخر، وخوفا من أن يكتشف هيثم ذلك، فأردتِ استغلال هذه الفرصة للإجهاض!"ابتسمت بسخرية دون أن أستطيع التحكم في نفسي:"إذا كنتِ تقولين هذا، إذا لدي حقًا مهارات رائعة.""هل تقولين أنني أشعلت النار عمدًا، وأوشكت على حرق نفسي فقط من أجل أن أظهر بمظهر من فقدت طفلي؟""حسناء، أنتِ قلبتِ الحقائق رأسًا على عقب، أهناك شيء لا تستطيعين تزيفه؟"شعرت حسناء بالخجل حتى احمر وجهها، ثم بدأت تبكي:"هيثم، هي تظل تشوه سمعتي، لا أعرف لماذا هي تكرهني لهذه الدرجة......"كانت تحاول أن تلتصق بهيثم، لكنه لم يتحرك، بل ظل يحدق في بطني.كنت في حالة صحية سيئة، وقد انتظرنا هذا الطفل لفترة طويلة.هو يعلم، حتى لو كنت قاسية، لن أقتل طفلي عمدًا."سونيا، لم أتوقع ذلك في ذلك اليوم، كنت فقط أريد معاقبتك قليلًا.""كنت أنتِ من يجب أن لا تشعلي النار عمدًا، دائمًا ما تكونين متمردة وأن
Read more
الفصل 5
نظرت إلى هيثم وهو يظهر بشكل جاد، وضحكت بصوت عالٍ.دون أن يسأل عن التفاصيل، قرر أنني الجانية، والآن يقول إنه سيتولى حمايتي."هيثم، لا أحتاج إلى أي شخص لحمايتي.""أنا لست الجانية في الحريق، يمكنك إرسال الناس للتحقيق كما تشاء."بعدما قلت ذلك، هممت بالمغادرة، لكن هيثم شدّ على معصمي بقوة أكبر.كان في عينيه حيرة وتعب، كأنّه كان يعاني في اتخاذ قرار ما إذا كان يجب أن يدافع عني أم لا."أنتِ امرأة ناضجة، كيف لا تفهمين الأمور مثلما تفهمها حسناء، تلك الطفلة؟"نظرت حسناء إليّ بعينين مليئتين بالكره، لكن عند سماعها لهذه الكلمات تحولت إلى براءة."هيثم، بما أنك تعتقد ذلك، فأنا مستعدة أن أسامحها من أجلك.""لن أرفع دعوى قضائية، لكنني حقا أخشى أن تفعل أختي سونيا شيئاً مجنونًا آخر في المستقبل.""لقد وعدت والدينا يومًا ما ألا تدعني أتعرض لأي ظلم......"توقفت فجأة، ونظرت إليهما.عندما سمعت حسناء تذكر والديها مرةً أخرى، تغير لون وجه هيثم عدة مرات.وأخيرا، بدا وكأنه اتخذ قرارا حاسمًا:"سونيا، أعتذر، لا يمكنني السماح لحسناء أن تتعرض لأي ظلم."بعد ذلك، أخذ هيثم حسناء وخرج.وأُغْلِق الباب أمامي بق
Read more
الفصل 6
أنا مثل أغلب النساء في هذا العالم، أتمتع بتساهل لا حدود له تجاه الشريك الذي اخترته بنفسي.كنت أفكر، ربما بعد أن يكون لدينا طفل، سيتغير.لكن الآن، هو من قتل طفلنا بيديه.وأدركت أنه لن يتغير.لم أعد أريد أن أكون عائقا بينهما، مثل مصباح لا طائل منه.لكن قبل ذلك، علي أن أسترجع بعض الحقوق.فتحت عيني مرة أخرى، وكان كل شيء حولي أبيضًا مألوفًا.كانت الممرضة لا تزال تصرخ وتلوم، ولسانها غير واضح."أمور هذا العالم غير منطقية، الأموات الذين تم إنقاذهم لا يستفيقون، أما من آذوا الناس فيعيشون بأمان.""أمه لا تزال مستلقية، ومع ذلك سحب ابنها الدعوى أولًا، هذا مضحك!"بذلت جهدا لأجلس مستقيمة، ونظرت إلى وجه الممرضة."أنتِ صديقة حسناء، أليس كذلك؟""هي تريد سحب الدعوى، لكنني لن أفعل."أدارت الممرضة عينيها ثم غادرت، وبعد فترة قصيرة، دخل هيثم مسرعًا."سونيا، هل يمكنكِ أن تتوقفي عن إزعاجي؟""هل تعلمين كم من الجهد بذلته لتهدئة حسناء حتى وافقت على سحب الدعوى؟""هي لا تهتم، فلماذا تريدين الاستمرار؟"نظرت إلى وجه هيثم ببرود، ولم أتكلم.يبدو أنه خاف من مظهري الشاحب الآن، فخفف نبرته:"حسنا، قالت ا
Read more
الفصل 7
في هذه اللحظة، كانت حماتي قد جلست، وعندما سمعت هذا الكلام، ركلت صدر هيثم بحذائها."يا لك من فتى ضال، كيف أنجبتك بهذا الغباء؟""ألا تفهم كلامي؟ سونيا كانت معي!""عندما كنت تحمل حسناء وتغادر، قالت حسناء أن الغرفة فارغة، كانت سونيا هي التي أعطتني آخر قطرات الماء، لهذا نجوت!"اتسعت عيون هيثم فجأة، وسقط على الأرض دون حراك لفترة طويلة.رفعت حماتي نظرها ورأتني واقفة عند الباب، وأشارت لي بأن آتي إليها.كانت مشاعري متداخلة للغاية، وفي النهاية فتحت فمي:"أمي...... عزيزتي."فجأة، انهمرت دموعها، وقامت بشكل مفاجئ وكأنها قد صُدمت، ثم بدأت تضرب هيثم وتلكمه."ما خطب عقلك؟ ألم أخبرك أن حسناء بها مشكلة!""لماذا لا تهتم بزوجتك؟ لماذا لا تبتعد عن حسناء؟"في وسط الفوضى، ظهرت حسناء فجأة، ونادت بصوت ضعيف: "هيثم!"حول هيثم رأسه نحو حسناء، وعيناه متورمتان من البكاء."حسناء، كيف يمكنك أن تكوني خبيثة إلى هذه الدرجة!"تراجعت حسناء خطوة إلى الوراء بتردد، وكان شفتها ترتجف، ثم قررت ما ستقوله بسرعة:"أخي هيثم، لا تصدقهم.""سونيا هي من أشعلت الحريق، رأيتها بعيني!"وكان رد هيثم صفعة على وجهها."أمي نف
Read more
الفصل 8
كان يبكي مثل طفل، لكن مشاعري لم تتأثر إطلاقًا."هيثم، هل تصدق كل ما تقوله؟""لو لم يكن بفضل سامي، أنا ووالدتك كنا قد متنا في الحريق بالفعل.""هل كنت لتُحقق في سبب وفاتنا؟""لن تفعل ذلك، لأنك ستصدق توسلات حسناء وستقول للناس أننا متنا بسبب حادث، أليس كذلك؟"غطى هيثم وجهه، ولم ينبس ببنت شفة.بعد بضع دقائق، وقع هيثم على وثيقة الطلاق، وركض بعيدًا كما لو كان يهرب.اتفقنا على الحصول على شهادة الطلاق بعد أسبوع.في يوم الحصول على الشهادة، ارتحت جيدًا وارتديت ملابس جديدة، فكان مزاجي هادئا.لكن هيثم كان يبدو وكأنه لم ينام منذ أيام، وعندما رآني من بعيد، احمرّت عيناه.عندما اقترب، استطعت أن أسمع ارتجاف صوته وهو يحاول السيطرة عليه."سونيا، هل نحن حقًا......"لم أترك له فرصة لإكمال كلامه."لا يمكننا العودة، هيثم."لم يقل شيئا أكثر، وترك لي المنزل والسيارة والمدخرات.وأنا، لم أتردد لحظة في رفع دعوى ضد حسناء.إشعال الحريق عمدًا، لن تهرب من العقاب.عندما رأيت حسناء مرة أخرى، كانت جالسة في حضن هيثم، عيونها مملوءة بالدموع وصوتها مفعم بالرجاء:"هيثم أخي، لا أستطيع الذهاب إلى السجن.""وال
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status