Short
قيمة شهر العسل

قيمة شهر العسل

By:  ثراء مفاجئKumpleto
Language: Arab
goodnovel4goodnovel
12Mga Kabanata
1.5Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

عندما علم زوجي أنني تنازلت من تلقاء نفسي عن مشروع بعشرة ملايين دولار إلى مساعدته المقربة إلى قلبه، فظن أن حربه الباردة معي التي دامت ثلاثة أشهر قد أتت ثمارها. فبادر وعرض عليّ قضاء شهر عسل في جزيرة المرجان. شعرت مساعدته بغيرة شديدة عندما علمت بالأمر، وأثارت الفوضى مهددةً بترك وظيفتها. وزوجي الذي لطالما كان يدللها، انتابه الذعر، وبعد مراضاتها ثلاثة أيام وثلاث ليالٍ، استغل رحلة عمل كحجة ليتهرب من شهر العسل مرة أخرى، وأعطى تذكرة شهر العسل إليها. وبعد ذلك، برر لي الأمر بلا مبالاة. [الانشغال بمثل هذه الأمور الرومانسية أمر تافه، العمل هو الأهم، بصفتي المدير يجب أن أعطي الأولوية للعمل.] [أنتِ زوجتي، يجب أن تدعميني.] حدقت في المنشور الذي نشرته المساعدة على الفيسبوك للتو، ومعه صورة ملحقة لزوجين يسندان رأسيهما إلى بعض، ويقومان بإشارة قلب باليد، فأومأت برأسي فقط دون أن أتكلم. ظن زوجي أنني أصبحت أكثر تسامحًا وعقلانية، وكان راضيًا جدًا، ووعدني بقضاء شهر عسل أكثر رومانسية بعد أن أعود إلى البلاد. لكنه لا يعلم. لقد استقلت، وهو قد وقع وثيقة الطلاق بالفعل. أنا وهو، لم يعد هناك مستقبل لعلاقتنا.

view more

Kabanata 1

الفصل 1

“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.

“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya.

“Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi.

“Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya.

“Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak.

Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang.

Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal.

Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?"

"Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil.

Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya.

Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu.

“Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan.

“Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin.

"Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya.

"Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak.

“Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya.

Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.”

Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya.

Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya.

Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik.

BRAAAK!

Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos.

Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh.

Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung.

“PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit.

Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga.

“Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu.

*****

(IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota)

Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar.

Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.”

Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan.

Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?"

Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya.

Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti.

“Bapak telepon atau kita….”

“Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Walang Komento
12 Kabanata
الفصل 1
عندما علم زوجي أنني تنازلت من تلقاء نفسي عن مشروع بعشرة ملايين دولار إلى مساعدته المقربة إلى قلبه، فظن أن حربه الباردة معي التي دامت ثلاثة أشهر قد أتت ثمارها.فبادر وعرض عليّ قضاء شهر عسل في جزيرة المرجان.شعرت مساعدته بغيرة شديدة عندما علمت بالأمر، وأثارت الفوضى مهددةً بترك وظيفتها.وزوجي الذي لطالما كان يدللها، انتابه الذعر، وبعد مراضاتها ثلاثة أيام وثلاث ليالٍ، استغل رحلة عمل كحجة ليتهرب من شهر العسل مرة أخرى، وأعطى تذكرة شهر العسل إليها.وبعد ذلك، برر لي الأمر بلا مبالاة.[الانشغال بمثل هذه الأمور الرومانسية أمر تافه، العمل هو الأهم، بصفتي المدير يجب أن أعطي الأولوية للعمل.][أنتِ زوجتي، يجب أن تدعميني.]حدقت في المنشور الذي نشرته المساعدة على الفيسبوك للتو، ومعه صورة ملحقة لزوجين يلصقان رأسيهما معًا، ويقومان بإشارة قلب باليد، فأومأت برأسي فقط دون أن أتكلم.ظن زوجي أنني أصبحت أكثر تسامحًا وعقلانية، وكان راضيًا جدًا، ووعدني بقضاء شهر عسل أكثر رومانسية بعد أن أعود إلى البلاد.لكنه لا يعلم.لقد استقلت، وهو قد وقع وثيقة الطلاق بالفعل.أنا وهو، لم يعد هناك مستقبل لعلاقتنا.في اليوم الثا
Magbasa pa
الفصل 2
"أنا لست في الشركة" أجبته ببرود."لستِ في الشركة؟"أصبح صوت عدنان باردًا: "أتذكر أن الآن هو وقت العمل، ساندي وهبة، تتركين مكان عملكِ أثناء ساعات العمل، أتعلمين أنه وفقًا لسياسة الشركة، سيتم خصم يوم كامل من مرتبكِ؟""أعلم، لكنني بالفعل..."بينما كنت على وشك مصارحته بأمر استقالتي، حتى جاء صوت جومانا الرقيق من الطرف الآخر."أخي عدنان، لا تجبر أختي ساندي إن لم تكن تريد فعل ذلك، لأفعله أنا.""لا، لقد سهرتِ وعملتِ طوال ليلة أمس، لا بد أن ترتاحي اليوم."كانت نبرة صوت عدنان حنونة.مختلفة تمامًا عن أسلوبه معي منذ قليل.كانت جومانا ما زالت تشرح له أنها ليست متعبة، لكن أصبح أسلوب عدنان أكثر حزمًا: "أنا المدير، وأعطيتكِ أمرًا بالراحة، أتجرئين على عصياني؟"قالت جومانا بدلال: "أشعر فقط أن أختي ساندي تعبت جدًا في العمل.""حتى لو كانت تتعب، فهل يبلغ تعبها قدر تعبكِ؟ تسافرين في رحلات عمل وما زلتِ تنظمين العقود، لكن هي في الشركة يوميًا لا تفعل أي شيء.""وأيضًا، هي زوجتي، ولها حصة في الشركة، ألا يجب أن تتعب في العمل قليلًا؟"سخر عدنان.محى كل إنجازاتي بهذه البساطة.لم أعد أشعر بغضب وغيرة وانهيار كما كنت
Magbasa pa
الفصل 3
الآن وأنا أفكر، كان من الأفضل أن أستغل ذلك الوقت لأجتهد قليلًا وأفكر في كيفية جني المال.في النهاية، القلوب تتغير، لكن المال لا يخون أبدًا.بالتفكير إلى هذا الحد، غادرت الشركة مباشرةً، وكنت أتأمل أمر رحيلي.وبمجرد أن غادرت بسيارتي من موقف السيارات، رن هاتفي مرتين.فتحت الهاتف لأرى إشعارًا بالدفع.استخدم عدنان بطاقتي البنكية مجددًا لسحب مائتي ألف دولار.ظن الجميع أنني مرتبطة بعدنان من أجل المال.لكن في الواقع، كان يحتفظ بكل بطاقاتي البنكية، وكان يقول إن أمواله يستخدمها في الشركة، ولذلك كانت كل نفقاتنا على مر السنين تُغطى من راتبي ودخلي الإضافي.كنت أظن أن الأسرة تحتاج جهدًا مشتركًا من الطرفين، ولم يكن الأمر متعلقًا بمن يساهم أكثر ومن أقل، لم أجادله قط في هذا الأمر.حتى وقت قريب، اكتشفت أنه على رغم راتبي المرتفع، لكنني لم أتمكن من الادخار، بل وكان المال غير كافٍ.لم أستطع تمالك نفسي فقمت وتحققت من تفاصيل الحساب.حتى علمت أن عدنان كان يستخدم بطاقتي البنكية عادةً لشراء هدايا لجومانا.أهداها أحمر شفاه بإصدار محدود بآلاف الدولارات، وحقائب فاخرة بعشرات آلاف الدولارات، حتى أنه حجز لجومانا في ف
Magbasa pa
الفصل 4
"سأمهلكِ عشر دقائق، وإلا سأغضب حقًا."يبدو أنه خاف ألا أفعل ما يريده، فقبل أن ينهي المكالمة، أضاف هذه الجملة التهديدية.في الماضي، كان في كل مرة يقول إنه سيغضب، كنت أنفذ ما يريده طواعيةً، لكن يبدو أنه لا يعلم أنني لم أكن أخشى غضبه، كنت أشعر فقط أنه منهك بالفعل من عمله الشاق في الشركة، ولم أرغب في إزعاجه أكثر.فهمت الآن، كنت أبذل قصارى جهدي لأخفف عبئه، لكن مشاكلنا تكون دائمًا من صنع أيدينا.بما أن الأمر هكذا، فهل هناك داعٍ لأتدخل فيما لا يعنيني؟"إن لم تأخذ بطاقتك معك، يمكنك أن تطلب من سكرتيرتك، أو حتى جومانا، على أي حال، فرحلة العمل هذه من أجل مشروعها، فلا بأس أن تدفع هي التكاليف."بعد أن رددت عليه، أغلقت هاتفي، وانطلقت بالسيارة مباشرةً إلى المنزل لأحزم أغراضي.أنا من اشتريت المنزل نقدًا بالكامل، أعجبه تصميم المنزل والطوابق، في البداية، كنت أنوي كتابة اسمه في عقد الملكية، لكن لسبب غامض خطر لي فجأة، قررت أن أكتبه باسمي.بتفكيري في هذا الآن، فأنا سعيدة جدًا لأنني تركت لنفسي مخرجًا.بعد حزم الأغراض، عرضت المنزل للبيع في وكالة عقارية.في اليوم التالي، ذهبت إلى مكتب الأحوال المدنية، وقدمت ل
Magbasa pa
الفصل 5
لكن يبدو أنه نسي أن المشاعر كالنقود التي في الحصالة.إن أخذت منها فقط ولم تدخر، سيتبدد المال بداخلها.لأنني عرضت المنزل بسعر منخفض جدًا، تم بيعه في أقل من أسبوع.ذهبت إلى وكالة العقارات ووقعت العقد، ثم حددت موعدًا لتسليم المشتري، وعدت إلى المنزل.بمجرد أن دفعت الباب، سمعت ضحكات من الداخل.اختفى صندل الحبيبين الذي كان موضوعًا عند مدخل الباب.بدلًا من ذلك، كان هناك حذاء ذو كعب عالٍ، والحذاء الجلدي المفضل لعدنان، الذي أهدته جومانا إياه في عيد ميلاده.أدركت أن من بالداخل هما عدنان وجومانا.ألا يفترض أن يعودا بعد يومين؟وبينما كنت أفكر، سمعت جومانا الضجة، فخرجت، كانت ترتدي صندلي وبيجامتي، وشعرها غير مرتب قليلًا ومنسدلًا على كتفها، وتقف متراخية، كانت تبدو كسيدة المنزل."ساندي، لماذا عدتِ في هذا الوقت؟ أتذكر أنه لم يحن وقت انتهاء العمل في الشركة بعد."وأثناء حديثها، ألقت بحبة عنب في فمها، ثم بصقت البذور بمهارة في كأس الماء بجانبها.تعرفت عليه، كان ذلك كأس الحبيبين الذي أهداني إياه عدنان.كنت أعتز به جدًا من قبل، وغالبًا ما كنت أحمله بين يدي.في تلك اللحظة، خرج عدنان من غرفة المعيشة، عندما رأى
Magbasa pa
الفصل 6
استهزأ عدنان بي: "ساندي، لا تركزين على عملكِ يوميًا، لكنكِ مهتمة للغاية بالسؤال عن هذه الأمور التافهة.""لكن، لا تظني أنني سأسامحكِ هكذا.""غضبتِ وجمدتِ بطاقتكِ البنكية، وتسببتِ في إحراجي أمام شركائي، وفي النهاية، اقترضت جومانا المال من كل مكان لتسدد الفاتورة.""لكن ليس من المستحيل أن أسامحكِ""لكن قبل ذلك، يجب أن تُقدمي التعويض المناسب لجومانا.""الشقة التي تسكن بها حاليًا تحت التجديد والتصليح، لا يمكنها السكن بها مؤقتًا، أفرغي هذه الغرفة ودعيها تبقى بها هذه الفترة، ولن أحاسبكِ على هذا الأمر."هززت رأسي: "لكنني بعت المنزل بالفعل.""بعتِه؟" اتسعت عينا عدنان.لم تنتظره حتى يسأل، فقالت جومانا أولًا: "أختي ساندي تنوي بيع هذا المنزل، حتى تشتري منزلًا أكبر كاعتذار لك، أليس كذلك؟"شعر عدنان أن كلامها منطقي، فارتسمت على وجهه علامات الراحة فورًا."في الواقع، لقد مكثنا هنا لفترة طويلة، حان الوقت لشراء منزل أكبر، سأعطيكِ جزء من المال وقتها، لكن لا تبيعي هذا المنزل الآن، سنتركه لتسكن جومانا به.""هذا أمر محرج جدًا، سأدفع لك الإيجار وفقًا لسعر السوق.""أي إيجار؟" عبس عدنان: "أنا رئيسكِ في العمل، ه
Magbasa pa
الفصل 7
تجمدت ابتسامة عدنان."ماذا تقصدين؟ أتريدين الطلاق مني؟"لم يكن تعبيره سعيدًا كما كنت أتوقع في البداية، على غير المتوقع، بدا عليه لمحة من الغضب.صُدمت جومانا للحظة، ولمعت في عينيها لمحة من السعادة.لكن حمل صوتها نبرة عتاب مصطنعة."أختي ساندي، كيف لذكائكِ العاطفي أن يكون منخفضًا هكذا؟""ذكر أخي عدنان أمر الطلاق فقط لأنه يريدكِ أن تراضيه فقط، ولم يرد أن يطلقكِ حقًا.""ألغي هذه الوثيقة فورًا، كفي عن العبث، أخي عدنان تعب في العمل كل هذا الوقت، وعاد إلى البلاد بصعوبة، لا تغضبيه."بدت وكأنها تدافع عني، لكنني كنت أعلم بوضوح أنها تتعمد استفزاز عدنان.لقد استخدمت هذه الحيلة مرات عديدة، ولطالما نجحت، سبق وأن طردني عدنان من العمل في نوبة غضب، وخصم مني راتب شهرين في نوبة غضب أيضًا.كنت أظن أن عدنان سيقبل بأمر الطلاق في نوبة غضب مجددًا.لكن من كان يعلم أنه سيستاء.وبعد صمتٍ دام للحظات، قال: "لن أطلقكِ.""ساندي، مصالحنا الآن متداخلة جدًا..."سمعت هذا، ثم أدركت ما يقلقه، اتضح أن الأمر يتعلق بتقسيم الممتلكات.لكن يبدو أنه نسى، أنه عند زواجنا، كان قد أعد اتفاقًا قبل الزواج، ينص على أنني لن أحصل منه على
Magbasa pa
الفصل 8
"لا تتدخلي فيما بيننا.""إن لم يكن لديكِ أمر آخر هنا، فغادري الآن."رفضت جومانا: "أخي عدنان، هل نسيت؟ الشقة التي استأجرتها لا يمكنني الآن...""إن لم يمكنكِ السكن فيها، فاذهبي إلى فندق، أنتِ بالغة، ألا يمكنكِ حل هذه المشكلة؟""أيعقل أنكِ تريدين أن أجد لكِ منزلًا من العدم؟"كانت نبرة عدنان جافة.لكنني لاحظت، أنه رمق جومانا بنظرة ليشير لها سرًا.ظن أنه أخفى الأمر، ولا يعلم أنني أعلم بهذا منذ وقتٍ طويلٍ، لقد اشترى منزلًا صغيرًا في الضواحي دون علمي.ومن الواضح أن جومانا فهمت قصده.تظاهرت بشعورها بالظلم، وأخذت المفتاح سرًا من جيب معطفه المعلق على الشماعة، ثم غادرت.لم أفضح ما دبرا له سرًا.ففي النهاية، لم أعد أهتم بهما بالفعل، وأيضًا، لن يفيد فضحهما، فذلك المنزل ملكٌ لعدنان، ومن حقه أن يمنحه لمن يشاء.بعد أن غادرت، تنهد عدنان ونظر إليّ، وأصبحت نبرة صوته أكثر لطفًا."هل أنتِ راضية الآن؟""أعلم أنكِ لا تريدين الطلاق حقًا، أنتِ غاضبة فقط لأنني تقربت من جومانا جدًا.""لكن لا يوجد شيء بيننا، أنا فقط شعرت أنها مسكينة للغاية لكونها بمفردها في هذه المدينة، وكوني رئيسها في العمل، يجب أن أساعدها.""أع
Magbasa pa
الفصل 9
يبدو أنه تذكر أيضًا.من قبل، بعد أن أخذ عدنان خطة المشروع مني وأعطاها لجومانا، كنت قلقة دائمًا، وفي كل مرة، كنت أصلح أخطاء جومانا الكثيرة، حتى تنتهي الخطة.وفي كل مرة، كان عدنان يلومني أنني أتدخل فيما لا يعنيني، ويقول أن جومانا يمكنها فعل ذلك بمفردها.وعندما كانت تظهر المشاكل، كان عدنان يلقي باللوم عليّ دائمًا، ويشتكي أنني لم أدقق في فحصها، وأنني لم ألاحظ مثل هذه الأخطاء الواضحة.لذلك هذه المرة، لم ألقِ ولو نظرة واحدة عليها.لقد قال أن جومانا يمكنها فعلها بمفردها، لذا منحتها فرصة لتُثبت نفسها."لم أفعل." هززت رأسي.عبس عدنان.رأيت أنه سينفجر غضبًا، فقلت ببرود: "هذا عمل جومانا، وليس مسؤوليتي، وليس لي الصلاحية ولا من واجبات عملي أن أتدخل.""لكنني زوجكِ.""وما بها؟"ابتسمت بسخرية: "أنا زوجتك، فهل من الطبيعي بعد إنجاز العمل لك، أن أتسامح مع توبيخك لي، وتجاهلك، وسماحك للجميع بمضايقتي والسخرية مني؟""كوني زوجتك، قمت برعاية أسرتنا، وحافظت على الشركة، وتحملتك حتى الآن، لقد فعلت كل ما يجب عليّ فعله كزوجتك، ماذا عنك؟ هل فعلت أي شيء يستحق لقبك كزوج؟""كيف لم أفعل من قبل؟" عارضها عدنان."هل بمغازل
Magbasa pa
الفصل 10
في تلك اللحظة، عثر عدنان أخيرًا على التسجيل الخاص بي، وعندما رأى اسمي في خانة مقدم الطلب، اتسعت عيناه وتراجع خطوتين إلى الخلف.وتمتم بكلمات بذيئة."من الذي وافق على استقالتكِ؟ ألا يعلمون طبيعة العلاقة بيننا؟"اتصل عدنان بالشركة وهو في حالة ذعر.وسرعان ما جاء الرد، وقبل أن ينطق أحد بكلمة، اندفع عدنان بوابل من التوبيخ."هل سألتني عن أمر استقالة ساندي؟ من سمح لك باتخاذ القرار من نفسك؟""لكن، سيد عدنان، ألم تقل من قبل...""ماذا قلت؟ هل قلت لك أن تطردها من قبل؟ هي زوجتي، ألا تعرف هذا؟ كيف تنجز عملك بالضبط؟! ألا تُفرق من هو الرئيس هنا!""انقلع من الشركة الآن، ولا تدعني أراك مجددًا!"وبخ عدنان الطرف الآخر بغضب، ثم نظر إليّ بنظرة توسل: "ساندي، أنا لم أتخيل حقًا أنه سيتصرف معكِ هكذا، عودي إلى الشركة، حسنًا؟"بدا وكأنه يدافع عني.لكن لولا تعليماته هو وجومانا، كيف كان الجميع سيجرؤ على معاملتي هكذا؟من كانوا يضايقونني، هم زملائي بالعمل، لكن ألم يكن هو وجومانا من يقفان خلفهم، ويهمسان بكلمات تشجيع في آذانهم؟عندما رأى صمتي، أخرج عدنان هاتفه مجددًا، ووعدني براتبٍ عالٍ ليعيد توظيفي.دفعت يده بعيدًا."
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status