Short
「女の村」に連れ去られた男たち

「女の村」に連れ去られた男たち

By:  ケリCompleted
Language: Japanese
goodnovel4goodnovel
17Chapters
5.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

あの「白馬の王子様」は誘拐犯で、恋愛の名のもとに女の子を彼の村に連れて行き、売り飛ばしてしまう。ところが、私も決して善人ではない。また、恋に落ちるという名目で男の子を私たちの村に誘い戻すこともあった。

View More

Chapter 1

第1話

Sebagai istri seseorang yang bekerja di kapal, ketangguhanku sekali lagi diuji. Anak laki-lakiku yang divonis hernia sejak usia tiga bulan, kini harus dilarikan ke rumah sakit. Balita yang belum genap dua tahun ini menangis begitu kencang dalam gendongan. Ususnya turun ke buah zakar sehingga salah satu zakarnya membesar.

Biasanya saat hernianya kambuh, ia kugendong dan kuayun hingga posisi kepala di bawah. Setelah itu kupijat area di bawah perutnya agar ususnya kembali naik ke rongga perut, tetapi kali ini upaya itu tidak berhasil. Rheza tetap menjerit dan menangis, sehingga tetanggaku datang menghampiri. Mereka menyarankan Rheza untuk dibawa ke rumah sakit karena khawatir ususnya terjepit. Sebelum semuanya terlambat.

Di sinilah aku sekarang --di bangku tunggu-- menanti Rheza selesai dioperasi. Aku sendirian tanpa ditemani suami. Sebab Mas Wildan belum gilirannya libur. Karena hari ini kapal dijadwalkan tiba di pelabuhan, kucoba menghubungi ponselnya. Namun, hanya operator yang menjawab. Aneh, harusnya sekarang sudah ada sinyal karena jadwal kapal sudah saatnya berlabuh.

Dalam situasi normal, biasanya aku hanya menunggu beberapa jam lagi agar bisa terhubung dengan Mas Wildan. Sebab, kadang memang ada keterlambatan akibat cuaca di tengah laut yang kurang bersahabat. Kedatangan kapal pun bisa molor dari jadwal yang telah ditentukan. Karena sekarang kondisinya genting, kuputuskan untuk menghubungi Mila, yang suaminya juga kerja satu kapal dengan Mas Wildan.

Setelah nada panggilan ke empat, akhirnya telepon diangkat. Selepas mengucap salam, aku langsung bertanya kepadanya, “Mil, kapalnya belum nyampe ya? Aku telepon suamiku HP-nya enggak aktif terus.”

“Kapal sudah nyampe dari Subuh tadi, Say. Aku sudah nelepon Mas Dhimas sampai kupingku panas.”

Jantungku berdetak lebih kencang. Apa? Kapal sudah nyampe Subuh? Sementara sekarang sudah Isya, mengapa Mas Wildan belum memberi kabar juga?

            “Hm…tolong tanyakan ke suamimu ya, Mil. Mas Wildan kenapa enggak aktif HP-nya. Kali saja rusak atau gimana gitu.”

Oke, Say. Tunggu sebentar ya. Ntar kutelpon balik.”

Oke, trims ya.”

Sambil menunggu kabar dari Mila, kucoba lagi menghubungi ponsel Mas Wildan. Dia harus tahu jika anaknya sedang dioperasi. Beberapa bulan ini kami sudah riwa-riwi ke dokter bedah anak, menjadwalkan operasi hernia secepatnya. Namun, rencana operasi berulang kali diundur karena kondisi Rheza yang tak mendukung, terkadang batuk dan pilek. Setelah sembuh, eh berikutnya gantian berat badannya yang kurang. Anakku memang sulit gemuk. Sakit hernia yang dideritanya membuat dia sering menangis ketika kambuh. Alhasil, energinya banyak yang terbuang sebab tangisan.

Kucoba lagi menghubungi Mas Wildan. Alhamdulillah kali ini teleponnya tersambung. Mas, ayo angkat teleponnya, Mas! Begitu Mas Wildan mengucap salam, aku segera bicara.

“Mas … cepet pulang, Mas! Rheza masuk rumah sakit.”

“Loh, Rheza kenapa?” Kutangkap nada kepanikan dalam suaranya.

“Dia dioperasi karena ususnya kejepit.”

“Baik, aku segera pulang sekarang.”

“Mas sekarang di mana?”

Belum dijawab pertanyaanku itu, tetapi panggilan sudah ditutup.

Tak lama kemudian ponselku berbunyi lagi. Panggilan dari Mila.

“Kata suamiku Pak Wildan lagi enggak di kapal, Say. Sudah turun sejak tadi sore setelah bongkar muatan selesai.”

“Ya Mil, sudah bisa kuhubungi barusan.”

“Ada apa? Tumben kamu panik banget.”

“Enggak pa-pa, Mil. Ini anakku sakit.”

“Sakit apa?”

“Hernianya kambuh. Ini lagi dioperasi.”

“Ya ampun … semoga lancar ya, operasinya! Besok pas longgar aku jenguk.”

“Enggak perlu Mil, rumahmu jauh. Operasi kecil saja kok. Makasih perhatiannya.”

Sejam kemudian tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor yang belum kusimpan. Kuklik nomor asing tersebut. Foto profilnya sudah membuatku memicingkan mata. Laki-laki dan perempuan memakai kaus couple warna hitam dengan tulisan warna putih. Wajah laki-laki itu sangat kukenal. Ya betul ini Mas Wildan. Lantas perempuan ini siapa?

Tanganku gemetar melihat foto profil itu. Belum lagi melihat gambar yang dikirim. Foto itu masih buram. Harus kuklik dulu agar ter-d******d sempurna. Sekian detik kemudian barulah gambar itu terlihat jelas. Mereka berdua selfie di atas ranjang. Dari model furniture dan ornamen yang tertangkap kamera, mereka tampaknya ada pada sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Tubuh keduanya ditutup selimut tebal warna putih. Senyum Mas Wildan dan perempuan itu merekah. Gawaiku langsung terjatuh di pangkuan. Kedua tanganku mengepal. Air mata seketika tumpah tak mampu kutahan.

Bisa-bisanya kamu enak-enakkan sama perempuan lain, Mas. Sementara aku tiap malam terjaga menenangkan Rheza saat hernianya kambuh. Segera kuseka buliran bening yang keluar dari kedua netra. Aku tak ingin menangis untuk masalah ini. Terlalu berharga air mataku jika tumpah untuk mereka. Namun, tetap saja buliran bening ini terus menganak sungai. Hingga Ibu dan kakak perempuanku datang menghampiri.

“Alya, gimana kondisi Rheza?” tanya Ibuku cemas.

“Masih belum selesai operasinya, Bu. Mungkin sebentar lagi. Nanti akan dipanggil jika sudah selesai.”

“Sudah Nduk, jangan nangis terus kayak gini. Pasrah saja sama Gusti Allah. Dokter juga akan melakukan yang terbaik buat Rheza. Mudah-mudahan lancar operasinya. Biar enggak kambuh lagi hernianya.” Ibu pikir aku menangis karena Rheza dioperasi. Padahal karena ayahnya Rheza layak dikebiri.

“Wildan sudah tahu kalo anaknya operasi sekarang?”

“Sudah, Bu. Ini lagi perjalanan pulang.”

Benar-benar panjang umur suamiku itu. Baru saja namanya disebut, kini sosoknya terlihat keluar dari lift. Kuamati dia yang melangkah ke arah kami. Laki-laki ini memang terlihat semakin menawan. Lihatlah alisnya yang tebal. Juga rambut dan cambangnya yang dirapikan dengan model terkini. Namun, mata ini langsung kupejamkan begitu membayangkan dia telah menyentuh perempuan lain, sehingga kepalaku menggeleng-geleng tanpa dibuatnya. Tahan emosimu Alya. Tahan! Ini rumah sakit.

Laki-laki berjaket cokelat itu mengangsurkan tangannya untuk kucium seperti biasa. Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. "Aku pilih naik pesawat ini tadi. Biar bisa segera melihat Rheza," ucap Mas Wildan. Dia seolah memberi penjelasan atas pandanganku yang mengintimidasinya. Padahal, bukan hal itu yang ingin kudengar darinya.

“Keluarga Anak Rheza!” panggil perawat yang muncul dari balik pintu ruang pemulihan pasca operasi.

“Ya, Mbak!” Aku segera berdiri diikuti Ibu dan Mas Wildan.

“Anak Rheza sudah selesai operasinya, tapi sekarang belum sadar. Silakan salah satu anggota keluarga menunggu di dalam!”

Mas Wildan meminta untuk melihat Rheza terlebih dahulu. Kemudian disusul Ibu dan kakak perempuanku secara bergantian, setelah itu barulah aku masuk. Kususuri ranjang pasien yang berjejer, sehingga kudapati wajah anakku di sana. Tubuhnya masih terbungkus baju pasien warna hijau muda. Di hidungnya ada alat bantu penyuplai kebutuhan oksigen. Kubuka kain yang menutupi raga mungil itu. Ada perban di bagian bawah perut sebelah kirinya, kira-kira sepanjang sepuluh centi meter.

Aku pandangi lekat muka anakku. Wajah selucu ini, ternyata tak cukup mengalihkan hasrat bapaknya dari pesona perempuan di luar sana. Apa yang harus bunda lakukan sekarang, Nak? Apakah memisahkanmu dari seorang ayah yang telah berkhianat adalah pilihan tepat? Kuraih tangan mungilnya. Lalu kuhujani kecupan. Bahuku terguncang oleh isakan. Tiba-tiba kurasakan tangan seseorang memegang dan setengah memijit.

“Dik, kamu istirahat saja dulu. Ibu ingin gantiin jaga Rheza.” Perhatiannya masih sama, tetapi kali ini aku merasa muak.

Dengan berat hati kutinggalkan Rheza. Kemudian mengikuti langkah Mas Wildan hingga kami ke luar dari ruang pemulihan.

“Dik, kamu belum makan ya? Ayo kita cari makan di kantin!”

“Aku enggak lapar, Mas!”

“Jangan begitu. Nanti kalo kamu sakit siapa yang bakal jagain anak-anak?”

“Oh, jadi bagimu keberadaanku hanya seperti baby sitter sekarang?” Emosiku mulai meninggi.

“Kok ngomong gitu?”

“Enggak apa-apa. Lupakan! Ayo kita cari makan!”

Hampir saja aku tak bisa mengendalikan amarah. Kutenangkan jantungku yang berdetak lebih cepat. Aku ingin tahu sampai kapan Mas Wildan bersandiwara di depanku. Sementara perempuan itu sudah tak tahan ingin menunjukkan permainannya.

Kantin rumah sakit cukup lengang. Mas Wildan sedang memesan makanan. Sementara aku dibuat penasaran dengan bunyi notifikasi pesan masuk yang beruntun. Siapa mengirim pesan sebanyak ini? Setelah kucek, ternyata perempuan itu lagi. Kali ini ia mengirim 25 buah foto. Kuklik tanda plus di antara gambar yang tertindih itu. Kini setiap gambar seolah mengejekku satu persatu. Oh, rupanya mereka telah mengunjungi banyak tempat. Luar biasa. Jadi, sudah berapa lama mereka bermain di belakangku? Siapa perempuan yang telah menaklukkanmu itu, Mas?

.

.

[Bersambung]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
17 Chapters
第1話
私たちの村は「女の村」と呼ばれていて、村には女性しかいない。男性なんて人間扱いされず、消耗品と見なされている。伝説によると、はるか昔、この村は捨てられた女児たちの最期の行き着く場所だった。近隣の村々から女児を捨てたい人たちが次々とここに連れてきたという。長い年月が経ち、その怨念から最初の「祖霊」が生まれた。彼女には特別な力があり、それは男性に妊娠させる能力だった。こうして、私たちの村は普通の村ではなくなり、陰陽の境界を越えた存在となった。目的は、行き場を失った「胎児の霊」たちに安らぎの場所を与えること。その結果、村では男性が極めて稀少な存在となった。何しろ女児を一人産むたびに、男性が一人死ぬ仕組みだからだ。やがて周囲の村から男性がいなくなり、村の古参たちは若い世代に期待をかけるようになった。「外に出て男性を連れてきなさい。まだ生まれていない女児の霊が多すぎて放っておけない」と。そんな中で、私は村で最も男性を「引き込む」のが得意だ。美人だからという理由だけでなく、男性の心の声が聞こえるという特技があるからだ。そのおかげで、私たちが必要とする「悪い男」を正確に見分け、その好みに合わせて接することができる。さらに、私は村で唯一の大学生で、接触する男性も基本的に「高品質」だ。例えば、今目の前にいる、白いシャツを着て優しく微笑む「白馬の王子様」。彼のような男性は、村のリーダーであり最も裕福な高橋おばさんの大好物だ。彼女は太っ腹で、気に入った男性には最低でも四百万円、こんな「王子様」なら六百万はくだらない。彼を手に入れるには少し手間がかかるかと思っていたが、どうやら彼の方から近づいてきたらしい。名前は瀬名央。私の学年の先輩だそうで、私という後輩に会えて嬉しいと言いながら、顔を赤らめて「彼氏はいるの?」と聞いてきた。もちろん私は「いない」と答えた。彼はまるで純情そうに装っているけど、私には心の声が聞こえている。「この女、顔がいいし、脚も長い。きっと高く売れるだろうな」お互い、考えていることは同じようだ。彼の白い肌、端正な顔立ち、長い脚。それに、この引き締まったお尻。間違いなく、健康で可愛い女の子を産んでくれるだろう。
Read more
第3話
彼の実家からも急かされているようで、五十歳を過ぎた独身男が私を気に入って、六十万円がすでに王子様のカードに振り込まれているという。「到着したら、さらに一百万円を渡す」と言っているそうだ。はあ?男ってほんとにケチだな、一百六十万円で人を買うなんて。私の高橋おばさんとは違う、彼女はお金持ちで、手を出す時は二百万円からだ。とはいえ、山登りはいいね。私は王子様に聞いた。「あなたも山登りが好きなの?」王子様はとても興奮して答えた。「好き好き!山登りが一番好きだよ、毎年の夏休みにいくつか山に登るんだ。」「偶然だね、私も好きよ、毎年の夏休みにいくつか登るの。ほら、これ、私がこれから登る山だよ。一緒に行かない?」私は写真を送って、熱心に誘った。彼の計画をうまく遮ってやる。王子様はまだ諦めきれない様子で、数枚の写真を送ってきて、これを登りたいと言った。でも、私は騙されない。彼が計画しているのは山登りなんかじゃなく、私を騙してあの独身男に売ることだとわかっている。「ダメよ、もう計画を立ててしまったから。こうしよう、先に私に付き合って、それからあなたも一緒に行けばいいじゃない?」これが私の最大の譲歩だ。どうせ「女の村」に着けば、高橋おばさんには男をどうにかする手段がある。携帯の向こうで王子様が葛藤している様子が伝わってきた。数分間、入力中の表示が続き、ようやく「よし、それで決まりだな」と送ってきた。もちろん、そうなったら大成功!私は嬉しくて興奮しながら、鼻歌を歌いながら高橋おばさんにオーケーの絵文字を送って、「三日後、清めた男があなたの家に届くよ」と伝えた。
Read more
第4話
高橋おばさんはすぐに私に十万円のチップを送ってくれた。本当に感謝だわ。計画は順調に進んでいた。私は飛行機のチケットを予約し、その後はバスのチケット、さらにバイク、最後には牛車まで手配した。全行程で二日一泊を要する。瀬名央は顔色が悪く、唇も白くなりながら言った。「後輩ちゃん、君が選んだこの山、本当に遠いね」もちろん、遠くないなら、逃げられたらどうするのよ? 男は「嫁しては夫に従い」っていうことを全く理解していない。みんなで一緒に寝ておきながら、逃げようなんて考えるな。そういう男たちは高橋おばさんみたいな人に調教してもらわないと、素直に子供を産む気にならない。「前に村があるはずだよ。そこで一晩泊まって、明日また山登りに行こう」私は先に歩き出した。瀬名央は従っているふりをしているが、心の中では悪口が止まらない。十六万円のために恥を忍んでいるが、実は私はすでに彼を売った後の六百万をどう使うかを楽しみにしている。近づいてきた。 さらに近づいてきた。私たちの村の入口にぶら下がる赤い提灯がぼんやりと見えてきた。それは魂を導く灯りで、捨てられた女児たちが家に帰るための道標なのだ。「後輩ちゃん、この赤い提灯、ちょっと不気味じゃない?」瀬名が足を止めた。彼は怯えて心の中で呟いている。「この場所、なんかおかしい」もう遅い!もちろん、ここは普通じゃない。地図にも載っていない場所で、陰陽の間に独立した場所だから。
Read more
第5話
「不気味?そんなことないよ、先輩さん、怯えてるんじゃないの?」男なんて怖がり屋だから、まあ、いいわ。高橋おばさんは怖がりな男が大好きで、臆病なほうが従順で調教しやすいのよ。「こんな山奥だから、この村以外泊まるとこないよ。王子様、怖がらないで、私が守ってあげるから」瀬名央は動かなかったが、私は彼の手を引いて動かした。瀬名は心の中で葛藤していたが、結局半ば強引に、深い霧の中の「女の村」へと足を踏み入れた。狼の遠吠えも、鬼の叫び声も聞こえない。ただ、熱心な女性たちが私たちを迎えてくれた。皆、寝ていない。王子様の顔をじっと見て、評価している。「暁ちゃん、やっと来たね!早く、家に入って。あなたが好きな料理、たくさん作ったよ」高橋おばさんがやって来て、私を引き寄せた。口ではとても親しげに話しているが、目は瀬名央をじっと観察していて、見るたびに満足げな表情を浮かべていた。心の中では、すでにいろんなことを計画しているに違いない。「後輩ちゃん、君たち知り合いなの?」瀬名はもう、何かがおかしいと感じていた。ここの女性たちの目があまりにも渇望に満ちていて、まるで切り刻まれそうな気分だった。「知ってるよ、前に来たことがあるんだ。さあ、行こう、高橋おばさんが作った料理、すっごく美味しいから、絶対満足するよ」私はにっこりと笑いながら言った。だって、お金が手に入ると思うと、誰だって嬉しいよね。瀬名は不安そうだった。この村には何かおかしいところがあると感じ、私のことも少し怪しく思っていた。まさか、この後輩が自分をここに引き寄せて、女性たちに可愛い娘を産ませるために使うことを想像していなかっただろう。村の中で一番豪華な家は、もちろん高橋おばさんの家だ。三階建ての立派な家で、前庭と裏庭も広い。そして裏庭には、ちょっと普通じゃない豚小屋がある。高橋おばさんが言うには、「どんなに強気な男でも、豚小屋に繋げば、必ず従うようになるのよ。何でも言うことを聞かせることができるわ」と。
Read more
第6話
「みんな長い間待っていたんだよ」大きな庭にはすでに何席かのテーブルが並べられていて、そこにはすべて顔なじみの人たちが集まっていた。みんな瀬名央をじろじろと見て、私の目が良いと褒め、高橋おばさんは幸運だ、羨ましいと言っていた。その通り、高橋おばさんが一番高い値段をつけたからね。私はお金が大好きだから、誰が一番お金を出してくれるかで男を売るんだよ。特に瀬名央みたいな良い男は、安くは売らない、高く売るのが基本だよ。「暁ちゃん、この村の人たち、ちょっと変じゃない?それに気づいた?ここ、男の人が一人もいないじゃないか」瀬名が私を引っ張って、耳打ちしてきた。私は振り返って見た。女性たちは高橋おばさんに酒をついで、彼女に「可愛い女の子を産んでくださいね」なんて祝っている。何が変だって?まったく変じゃないわ。うちの村では、男が来るたびにこうやって祝いの席を設けるのが普通だから。男がいない?それも全然問題ない。私は瀬名央の肩をぽんと叩いて言った。「男が見当たらないのは普通のことよ。だって、これは祝いの席なんだから。男がテーブルにつく資格なんてないわ。それに、もうこんな時間でしょ。男は女みたいに堂々と顔を出せないのよ。どうしても目立っちゃうじゃないか」「暁ちゃん、早く来て座って!」高橋おばさんが私を呼んでいたので、急いで瀬名央を引き寄せた。「ここに座って、高橋おばさんの隣」これは大事なことよ。村で男がテーブルに座るのは、今日が唯一の日だもの。これからは台所で隠れて、女性たちが食事を終わるまで、残り物を食べるしかないのよ。
Read more
第7話
「さあ、みんな、暁ちゃんに一杯お酒を捧げよう。こんなにイケメンな男を連れてきてくれて」高橋おばさんがグラスを持ち上げ、私は急いで立ち上がり、グラスを取って言った。「これは私がするべきことです。高橋おばさんが早く元気な女の子を産めますように」「暁ちゃん、どういうこと?」私が席に座ったばかりで、瀬名央が寄ってきて、顔をほころばせながら言った。「さっき、みんな、俺をあの女性に渡すつもりだったって言ってたような気がするけど?」「先輩、さあ、料理をどんどん食べて」私はにっこり笑って彼に料理を取り分けた。ますます瀬名が気に入った。こんなにかっこいい顔、長い足、そしてあの素敵なお尻......後で高橋おばさんから振り込まれるとき、きっと高いチップをもらえるだろう。うふふ、嬉しい。 「ちょっと、ちゃんと説明してくれ」瀬名は食欲がなくなっていた。それは普通のことだ。ここで食事をする男性は、祝辞を聞いた後、ほとんど食べられなくなる。実は高橋おばさんも悪くないんだ。四十を過ぎても、まだ魅力的だし、瀬名がこんな素敵な女性に子供を産んでくれるのは、彼の幸運だ。でも彼は幸せに気づいていない。私は瀬名の肩をポンポンと叩いて言った。「あなたが思っている通りだよ。あんたも経験豊富なんだから、こういう状況では素直に従わなきゃいけないって分かってるよね?それに、あんたが売ったあの女の子たちがどうなったか、あんたも知ってるだろう?高橋おばさんの手段はすごいからね」「俺を売ったって?」 瀬名は顔色を変え、「ズン」と立ち上がった。その瞬間、周りの人たちが一斉に彼を見て静まり返った。やっぱり声が大きすぎる、そんなのダメだよね。男は優しく穏やかに話さなきゃ。ガーガー騒ぐなんて、男らしくない。調教が必要だ。高橋おばさんはそれをよく分かっている。彼女は瀬名の顔を一発叩きつけた。「誰がこんなに大きな声で暁ちゃんに話しちゃダメだって言ったのよ。ルールがない!」瀬名は倒れ込み、口から血が流れ、白い顔が見る間に赤く腫れ上がった。「おばさん、怒らないで、新しい嫁はまだ分かってないだけですよ、ゆっくり教えてあげて」 私は高橋おばさんの暴れそうな手を引き止め、隣に座っていた姉妹も言った。「そうだよ、ゆっくりね、男っていうのは、最初はちょっと気取ってるけど、後で調教すれば
Read more
第8話
「狂ってる!全員狂ってる!俺はここを出ていく!」瀬名央は地面を這うようにして立ち上がると、庭の門に向かって駆け出した。まったく、滑稽な話だ。こんな状況でまだ逃げられると思っているなんて。だから、「言うことを聞け」と言ったのにね。ほら、門を守っている犬の大黒がすかさず飛びかかり、瀬名を地面に押し倒した。鋭い牙で首筋にがぶりと噛みつくと、瀬名は「ぎゃあ!」と叫び声をあげ、泣き喚き始めた。「安心して、大黒は加減を知ってるから」私はゆっくりと彼の前に歩み寄り、大黒の頭を軽く叩いた。それを合図に、大黒はすぐさま口を離し、少し後ろに下がって瀬名を睨みつける。「お願いだ、暁!俺をここから出してくれ!頼む、何でもするから!お金がいるなら言ってくれ、今すぐ送金する!」瀬名央は涙をぽろぽろこぼし、哀れな声で懇願する。その姿は妙に可哀想で、思わず守ってあげたくなるような雰囲気だ。私はポケットからティッシュを取り出して、彼の涙を拭いてやった。「泣くのはやめなよ。男のくせに泣きわめくなんて、女からしたらすごくイラつくもんだよ。ここに来たからには覚悟を決めて。おとなしくしていれば、うちのおばさんは面倒見がいいから大事にしてくれるよ」「お前たち、ただ男が欲しいだけだろ?俺を放してくれ!外に出たら、男をトラックいっぱいにして連れてきてやる!」瀬名は涙で真っ赤に染まった目と鼻を震わせ、小動物みたいに震えていた。その姿はまるで愛らしいウサギそのもので、思わずいじめたくなる。だから私は、少しだけ長めに言葉を足して説明してやることにした。「何でもいいってわけじゃないよ?当然だけど、選ぶ基準は厳しい。見た目が良くて、腹黒で、でも身体は潔白じゃなきゃね。例えば、あなたのような白馬の王子様ね。肌は白くて、顔立ちは美しく、脚も長い。見ただけで元気な女の子が生まれそうな極上品だもの。こんな素晴らしい逸材だからこそ、手間暇かけて連れてきたってわけよ」
Read more
第9話
「野郎!俺は出ていくぞ!誰が止めようと、ぶっ殺してやる!」瀬名央はついに暴走した。いきなり私に飛びかかり、腕を掴んで人質にしようとしたらしい。これで高橋おばさんたちに脅しをかけ、解放させようという算段だろう。ほんと、笑っちゃうよね。うちの村の女たちなら、小指一本で彼みたいな華奢な男なんか何人でもひねり潰せるっていうのに。「言うことを聞けって、何度も言ったのにさ」私は冷静に肩を回すと、肩越しに投げ飛ばした。「バタン!」という音を立てて瀬名は地面に叩きつけられ、悲鳴を上げた。すかさず高橋おばさんが鉄の鎖を持ってきて、彼の首に巻きつける。「聞けって言ってるのに聞かない。騒ぎを起こしたいんだな?いいよ、今夜はしっかり『男の心得』を教えてやる!」「さあさあ、みんな飲もう!」 さっきの姉さんが席にみんなを呼び戻し、宴を続けようと促す。その間、高橋おばさんは鎖を引っ張り、瀬名を庭に無理やり引きずっていく。その先にあるのは豚小屋だ。瀬名は年越しに屠られた豚のような悲鳴を上げていた。夏休み中だし、私は学校に戻る必要がない。翌朝早々、高橋おばさんが使いの者を寄越して、私を呼びに来た。「どうやって男を調教するか、見ておきなさい。もう成年だから、技のひとつやふたつを身につけておけ。これからきっと役に立つだろうし」と言った。それに、残りの報酬もまだ受け取ってないし、断る理由はないよね。高橋おばさんの家の朝食は実に豪華だった。天ぷら、昆布味噌汁、鯖の塩焼き、蒸し豆腐、お茶漬けなど、なんと十八種類の食べ物が卓いっぱいに並べられていた。それに、淹れたての紅茶。「さ、どうぞお茶を」高橋おばさんは私を待っていた。私が席に着くや否や、すぐに茶を注いでくれる。 「ほらほら、何ヶ月も高橋おばさんの家でお茶してないでしょ?そのせいで随分寂しかったんだから」「ははは、高橋おばさんが恋しかったのは私ですかね?」そんなの分かりきってるじゃない。私は軽く眉を上げ、からかうように尋ねた。「で、昨夜の男、どうだった?」
Read more
第10話
「なかなかのものね。前より随分と素直になったじゃない。」高橋おばさんは満足げに言いながら、私の皿に天ぷらや豆腐、エビ餃子を次々と盛ってくれた。それがどれも美味しくて、特にエビ餃子は外が柔らかく、中はサクサク、さらにその中はもちもちしていて、他所では絶対に味わえない一品だ。ずっと楽しみにしていたから、一口頬張った瞬間、至福そのものだった。そこに、瀬名央が連れてこられた。意外なことに、彼は鉄鎖を付けていなかった。どうやら本当に従順になったらしい。 「暁ちゃん、君に一杯捧げたい。俺をここに連れてきてくれて、ダーリンみたいな素敵な女性と出会わせてくれてありがとう」瀬名はそう言いながら、高橋おばさんをうっとりと見つめる。その目つきと言ったらもう、情熱そのもの。高橋おばさんはこういうのが大好物で、満面の笑みを浮かべて言った。「暁ちゃん、ほらね、彼は本当に素直でしょ」「確かに素直ですね」私は微笑みながらお茶を飲んだ。だが、彼の心の中では、私のご先祖様に至るまで呪いまくり、さらには高橋おばさんを孕ませて、彼女と胎児を殺しようと企んでいるのを聞いてしまった。そんな瀬名の口車に乗るほど私も甘くない。それにしても、彼は大きな勘違いをしている。彼がどれだけ計算しても、絶対に予想できないことが一つある。それは、私たちの「女人村」で妊娠するのは女性じゃないってこと。以前にも、彼のように思い込んでいた男はいた。でも、最終的にはお腹が大きくなって、発狂するか、運命を受け入れるかのどちらかだった。おそらく彼のように頭の切れるタイプは、後者だろうと私は読んでいる。「瀬名先輩、とにかく大人しくしていれば、これからもっと良い日々が待ってるよ」「それはそれは」瀬名は笑顔を浮かべながら答える。しかし、心の中では高橋おばさんを殺して財産を奪い、私を徹底的に屈辱し、最終的には村の暴力的な未亡人たちに売り払おうと画策していた。それから、うちの村の女たちも全部売り飛ばしてやるのだ。そんな絵空事を思い浮かべて、彼は笑いを堪えていたが、私は彼ほど忍耐強くなく、思わず吹き出してしまった。だって、彼の妄想があまりにも滑稽だったから。「暁ちゃん、ほら、多めの六十万円はボーナスとして渡すわ」朝食を済ませると、高橋おばさんは私に送金してくれた。四百万円の残金に加え、六十
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status