LOGINあの「白馬の王子様」は誘拐犯で、恋愛の名のもとに女の子を彼の村に連れて行き、売り飛ばしてしまう。ところが、私も決して善人ではない。また、恋に落ちるという名目で男の子を私たちの村に誘い戻すこともあった。
View MoreSebagai istri seseorang yang bekerja di kapal, ketangguhanku sekali lagi diuji. Anak laki-lakiku yang divonis hernia sejak usia tiga bulan, kini harus dilarikan ke rumah sakit. Balita yang belum genap dua tahun ini menangis begitu kencang dalam gendongan. Ususnya turun ke buah zakar sehingga salah satu zakarnya membesar.
Biasanya saat hernianya kambuh, ia kugendong dan kuayun hingga posisi kepala di bawah. Setelah itu kupijat area di bawah perutnya agar ususnya kembali naik ke rongga perut, tetapi kali ini upaya itu tidak berhasil. Rheza tetap menjerit dan menangis, sehingga tetanggaku datang menghampiri. Mereka menyarankan Rheza untuk dibawa ke rumah sakit karena khawatir ususnya terjepit. Sebelum semuanya terlambat.
Di sinilah aku sekarang --di bangku tunggu-- menanti Rheza selesai dioperasi. Aku sendirian tanpa ditemani suami. Sebab Mas Wildan belum gilirannya libur. Karena hari ini kapal dijadwalkan tiba di pelabuhan, kucoba menghubungi ponselnya. Namun, hanya operator yang menjawab. Aneh, harusnya sekarang sudah ada sinyal karena jadwal kapal sudah saatnya berlabuh.
Dalam situasi normal, biasanya aku hanya menunggu beberapa jam lagi agar bisa terhubung dengan Mas Wildan. Sebab, kadang memang ada keterlambatan akibat cuaca di tengah laut yang kurang bersahabat. Kedatangan kapal pun bisa molor dari jadwal yang telah ditentukan. Karena sekarang kondisinya genting, kuputuskan untuk menghubungi Mila, yang suaminya juga kerja satu kapal dengan Mas Wildan.
Setelah nada panggilan ke empat, akhirnya telepon diangkat. Selepas mengucap salam, aku langsung bertanya kepadanya, “Mil, kapalnya belum nyampe ya? Aku telepon suamiku HP-nya enggak aktif terus.”
“Kapal sudah nyampe dari Subuh tadi, Say. Aku sudah nelepon Mas Dhimas sampai kupingku panas.”
Jantungku berdetak lebih kencang. Apa? Kapal sudah nyampe Subuh? Sementara sekarang sudah Isya, mengapa Mas Wildan belum memberi kabar juga?
“Hm…tolong tanyakan ke suamimu ya, Mil. Mas Wildan kenapa enggak aktif HP-nya. Kali saja rusak atau gimana gitu.”
“Oke, Say. Tunggu sebentar ya. Ntar kutelpon balik.”
“Oke, trims ya.”
Sambil menunggu kabar dari Mila, kucoba lagi menghubungi ponsel Mas Wildan. Dia harus tahu jika anaknya sedang dioperasi. Beberapa bulan ini kami sudah riwa-riwi ke dokter bedah anak, menjadwalkan operasi hernia secepatnya. Namun, rencana operasi berulang kali diundur karena kondisi Rheza yang tak mendukung, terkadang batuk dan pilek. Setelah sembuh, eh berikutnya gantian berat badannya yang kurang. Anakku memang sulit gemuk. Sakit hernia yang dideritanya membuat dia sering menangis ketika kambuh. Alhasil, energinya banyak yang terbuang sebab tangisan.
Kucoba lagi menghubungi Mas Wildan. Alhamdulillah kali ini teleponnya tersambung. Mas, ayo angkat teleponnya, Mas! Begitu Mas Wildan mengucap salam, aku segera bicara.
“Mas … cepet pulang, Mas! Rheza masuk rumah sakit.”
“Loh, Rheza kenapa?” Kutangkap nada kepanikan dalam suaranya.
“Dia dioperasi karena ususnya kejepit.”
“Baik, aku segera pulang sekarang.”
“Mas sekarang di mana?”
Belum dijawab pertanyaanku itu, tetapi panggilan sudah ditutup.
Tak lama kemudian ponselku berbunyi lagi. Panggilan dari Mila.
“Kata suamiku Pak Wildan lagi enggak di kapal, Say. Sudah turun sejak tadi sore setelah bongkar muatan selesai.”
“Ya Mil, sudah bisa kuhubungi barusan.”
“Ada apa? Tumben kamu panik banget.”
“Enggak pa-pa, Mil. Ini anakku sakit.”
“Sakit apa?”
“Hernianya kambuh. Ini lagi dioperasi.”
“Ya ampun … semoga lancar ya, operasinya! Besok pas longgar aku jenguk.”
“Enggak perlu Mil, rumahmu jauh. Operasi kecil saja kok. Makasih perhatiannya.”
Sejam kemudian tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor yang belum kusimpan. Kuklik nomor asing tersebut. Foto profilnya sudah membuatku memicingkan mata. Laki-laki dan perempuan memakai kaus couple warna hitam dengan tulisan warna putih. Wajah laki-laki itu sangat kukenal. Ya betul ini Mas Wildan. Lantas perempuan ini siapa?
Tanganku gemetar melihat foto profil itu. Belum lagi melihat gambar yang dikirim. Foto itu masih buram. Harus kuklik dulu agar ter-d******d sempurna. Sekian detik kemudian barulah gambar itu terlihat jelas. Mereka berdua selfie di atas ranjang. Dari model furniture dan ornamen yang tertangkap kamera, mereka tampaknya ada pada sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Tubuh keduanya ditutup selimut tebal warna putih. Senyum Mas Wildan dan perempuan itu merekah. Gawaiku langsung terjatuh di pangkuan. Kedua tanganku mengepal. Air mata seketika tumpah tak mampu kutahan.
Bisa-bisanya kamu enak-enakkan sama perempuan lain, Mas. Sementara aku tiap malam terjaga menenangkan Rheza saat hernianya kambuh. Segera kuseka buliran bening yang keluar dari kedua netra. Aku tak ingin menangis untuk masalah ini. Terlalu berharga air mataku jika tumpah untuk mereka. Namun, tetap saja buliran bening ini terus menganak sungai. Hingga Ibu dan kakak perempuanku datang menghampiri.
“Alya, gimana kondisi Rheza?” tanya Ibuku cemas.
“Masih belum selesai operasinya, Bu. Mungkin sebentar lagi. Nanti akan dipanggil jika sudah selesai.”
“Sudah Nduk, jangan nangis terus kayak gini. Pasrah saja sama Gusti Allah. Dokter juga akan melakukan yang terbaik buat Rheza. Mudah-mudahan lancar operasinya. Biar enggak kambuh lagi hernianya.” Ibu pikir aku menangis karena Rheza dioperasi. Padahal karena ayahnya Rheza layak dikebiri.
“Wildan sudah tahu kalo anaknya operasi sekarang?”
“Sudah, Bu. Ini lagi perjalanan pulang.”
Benar-benar panjang umur suamiku itu. Baru saja namanya disebut, kini sosoknya terlihat keluar dari lift. Kuamati dia yang melangkah ke arah kami. Laki-laki ini memang terlihat semakin menawan. Lihatlah alisnya yang tebal. Juga rambut dan cambangnya yang dirapikan dengan model terkini. Namun, mata ini langsung kupejamkan begitu membayangkan dia telah menyentuh perempuan lain, sehingga kepalaku menggeleng-geleng tanpa dibuatnya. Tahan emosimu Alya. Tahan! Ini rumah sakit.
Laki-laki berjaket cokelat itu mengangsurkan tangannya untuk kucium seperti biasa. Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. "Aku pilih naik pesawat ini tadi. Biar bisa segera melihat Rheza," ucap Mas Wildan. Dia seolah memberi penjelasan atas pandanganku yang mengintimidasinya. Padahal, bukan hal itu yang ingin kudengar darinya.
“Keluarga Anak Rheza!” panggil perawat yang muncul dari balik pintu ruang pemulihan pasca operasi.
“Ya, Mbak!” Aku segera berdiri diikuti Ibu dan Mas Wildan.
“Anak Rheza sudah selesai operasinya, tapi sekarang belum sadar. Silakan salah satu anggota keluarga menunggu di dalam!”
Mas Wildan meminta untuk melihat Rheza terlebih dahulu. Kemudian disusul Ibu dan kakak perempuanku secara bergantian, setelah itu barulah aku masuk. Kususuri ranjang pasien yang berjejer, sehingga kudapati wajah anakku di sana. Tubuhnya masih terbungkus baju pasien warna hijau muda. Di hidungnya ada alat bantu penyuplai kebutuhan oksigen. Kubuka kain yang menutupi raga mungil itu. Ada perban di bagian bawah perut sebelah kirinya, kira-kira sepanjang sepuluh centi meter.
Aku pandangi lekat muka anakku. Wajah selucu ini, ternyata tak cukup mengalihkan hasrat bapaknya dari pesona perempuan di luar sana. Apa yang harus bunda lakukan sekarang, Nak? Apakah memisahkanmu dari seorang ayah yang telah berkhianat adalah pilihan tepat? Kuraih tangan mungilnya. Lalu kuhujani kecupan. Bahuku terguncang oleh isakan. Tiba-tiba kurasakan tangan seseorang memegang dan setengah memijit.
“Dik, kamu istirahat saja dulu. Ibu ingin gantiin jaga Rheza.” Perhatiannya masih sama, tetapi kali ini aku merasa muak.
Dengan berat hati kutinggalkan Rheza. Kemudian mengikuti langkah Mas Wildan hingga kami ke luar dari ruang pemulihan.
“Dik, kamu belum makan ya? Ayo kita cari makan di kantin!”
“Aku enggak lapar, Mas!”
“Jangan begitu. Nanti kalo kamu sakit siapa yang bakal jagain anak-anak?”
“Oh, jadi bagimu keberadaanku hanya seperti baby sitter sekarang?” Emosiku mulai meninggi.
“Kok ngomong gitu?”
“Enggak apa-apa. Lupakan! Ayo kita cari makan!”
Hampir saja aku tak bisa mengendalikan amarah. Kutenangkan jantungku yang berdetak lebih cepat. Aku ingin tahu sampai kapan Mas Wildan bersandiwara di depanku. Sementara perempuan itu sudah tak tahan ingin menunjukkan permainannya.
Kantin rumah sakit cukup lengang. Mas Wildan sedang memesan makanan. Sementara aku dibuat penasaran dengan bunyi notifikasi pesan masuk yang beruntun. Siapa mengirim pesan sebanyak ini? Setelah kucek, ternyata perempuan itu lagi. Kali ini ia mengirim 25 buah foto. Kuklik tanda plus di antara gambar yang tertindih itu. Kini setiap gambar seolah mengejekku satu persatu. Oh, rupanya mereka telah mengunjungi banyak tempat. Luar biasa. Jadi, sudah berapa lama mereka bermain di belakangku? Siapa perempuan yang telah menaklukkanmu itu, Mas?
.
.
[Bersambung]
十月、また新学期が始まった。私は暁。後輩に声をかけられた。彼は言った。「先輩、こんにちは。僕は島田敬です。先輩には彼氏がいますか?」「いませんよ」私は答えた。彼はとても明るく笑って、「僕とLINEを交換してもいいですか?一目惚れしました。僕にチャンスをくれませんか?」と聞いてきたが、私が聞いたその心の声は、「この先輩はお金持ちで、しかも一人娘、家にはお母さんしかいなくて、絶好のターゲットだ」という内容だ。私は笑って言った。「後輩くん、ゴールデンウイークに一緒に山登りに行きませんか?」終わり
俺は人身売買をしている者で、恋愛という名目で女の子を遠くの山奥に連れて行き、金を得ている。今回は、肌が白くて美しい、前も後ろも引き締まった後輩に目をつけた。こういう小さな女の子はだましやすく、高く売れる。案の定、俺は彼女の写真を送ると、すぐに買い手から予約金が振り込まれてきたので、さっそく後輩に連絡して、夏休みに山へ登ろうと誘った。今の女性たちは得をすることが好きだ。俺が「費用はすべてこちらで負担する」と言うと、彼女たちは喜んで俺に着いてきて、買い手の元へ行く。でも、今回はうまくいかなかった。俺は逆に騙されて、後輩に「女の村」という場所に連れて行かれた。最初は山に登るだけで、買い手のところにも行くと言っていたのに、俺たちがその山に着いた途端、彼女に売られてしまった。売られた相手は見た目がまあまあきれいな女性だったが、その晩は俺にとって悪夢のようなものだった。俺は逃げようと思ったが、待っていたのは暴力だった。その見た目は美しいが、手段は冷酷な女性は、にこやかに言った。「逃げようとしたら足を折るわよ」と。さらに、俺を豚小屋に閉じ込め、「これからはこの豚小屋で一生を過ごしなさい」と言った。彼女が嘘をついているとは思えなかった。俺はこれまで売った女性たちがまさにこうして、豚小屋に閉じ込められて、一人また一人と子供を産んで、最終的には狂ってしまうか、死んでしまうのだと知っていた。俺は仕方なく、その女性に「ちゃんと世話をします」と言った。俺は男だ。どうにかする方法がある。「彼女のお腹を大きくしてやる!」父は言っていた、女性はお腹が大きくなると、男に従うようになると。俺の母もそうだった。母は俺の父に売られる前、珍しい時代の大学生だった。買われた時には逃げようとしていたが、結局俺を産んで、従順に犬のように父に従い、父がどんなに彼女を打っても、彼女は逃げなかった。それどころか、俺を抱いて幸せそうに笑っていた。俺の親友も来た。俺は計画を彼に話すと、彼も興奮して、俺と一緒にやりたいと言った。女人村には女性しかいないし、しかもすべて欲求不満な女性ばかりだ。俺たち二人の男がそこにいたら、どれだけ楽しいか。しかも、彼女たちのお腹を大きくすれば、俺たちは王様のように扱われるだろう。こんな生活、神様でも交換しない。だから、
私たちはリビングでお茶を飲んでいると、瀬名央が親友を支えながら出てきた。その男は体中傷だらけで、足が震えていたが、高橋おばさんを見た瞬間、じっと胸を見つめていた。瀬名が彼を軽くつねり、低い声で静かにするように言った。それでようやく彼は反応し、弱々しく花屋姉さんに謝罪し、これからは大人しくすると言った。明らかに低頭で謝っているのに、目の端でまだ高橋おばさんをちらちらと見ている。本当に呆れた。こいつは、女の村では、こんな浮気者の男がどんな目に遭うか分かっていないのか?まあまあ、今は女の子を産める男が貴重だから、こういう身勝手な男も我慢するしかない。どうであれ、まずは私たちの女の村に子孫を残すことが最も大事だ。それにしても、瀬名とその親友は本当に力を入れていた。この間に従弟の行方も聞いていた。私のおばさんは言った。「あなたの弟はこの仕事には向いていない、もう先に行っちゃったよ。もし出て行きたければ、いつでも行けるけど、私たちは止めないわ」もちろん、彼らは出て行かなかった。いつでも出て行けることを知ってから、ますます力を入れて頑張った。たった半月で、高橋おばさんは席を設けて、ついに大きな女の子を妊娠したことを祝った。しばらくして、私たちの女性村にも新しい命が加わった。みんな嬉しくて、酒を飲んで肉を食べて囲んでいた。瀬名の親友が瀬名のところに寄って、ひそひそ話していた。声は小さかったが、私は心の声を聞いた。彼は嬉しそうに瀬名に祝福の言葉をかけていた。「おめでとう、あのババアをすぐに妊娠させたんだな。あと数ヶ月したらお腹が大きくなったら、お前も楽しくなるだろう」「お前も頑張れよ」瀬名は口元が耳まで広がりそうなほど笑顔だった。本当に嬉しそうだ、特に村の女性たちが皆こんなに美しいのを見て、ますます嬉しそうにしていた。親友も良い仕事をしていた。たった十日で、花屋姉さんが宴席を開き、再び村に新しい生命が加わることを祝った。これは何年ぶりかのことで、一年で二人も生まれるのは初めてだ。皆大喜びで、花火を打ち上げてお祝いしていた。「もうすぐだ、もうすぐだ」瀬名と親友はずっと待ち望んでいた。暑い夏が終わり、私は学校に戻る時が来た。瀬名とその親友はもちろん名残惜しそうにしていた。妊娠してから、私のおばさんと花屋姉さんは二人にとても優
「どうしたんだ?」瀬名央の親友の顔色が変わり、立ち上がろうとしたが、花屋姉さんに止められた。「人のことをそんなに気にしてどうするの?早く座って、ほら、もっと食べなさい。あなたはもっと腹いっぱい食べないと、あとで力が出ないでしょ」「弟が叫んでいるのを聞いたんだ」瀬名の親友は言って、瀬名の方を見た。「お前も聞こえただろ?」「そんなの普通だろ、後でお前があいつよりもっと叫ぶことになるぞ」花屋姉さんは笑いながら、私たちも一緒に笑った。高橋おばさんは瀬名の肩を叩きながら笑った。「ひっちゃんは経験豊富だね、そうでしょ?」「はい、はい」瀬名は笑いながら、親友に座るように促した。「大丈夫だよ、何もないから、あまり驚かないで」と言った。実際、確かに何も問題はない。高橋おばさんはどうであれ、彼が子供を作ることを気にしているからだ。従弟は違う、松本姉さんはそんな遠慮をしない。食事は続けて、酒も飲み続けた。瀬名はニコニコしながら高橋おばさんに媚び、ずっと彼女に料理を取り分けたりお茶を注いだりしていた。親友もそれを見習い、花屋姉さんにも非常に丁寧に接していたが、時折外の様子をうかがい、心の中で「従弟があんなに叫んでいたけど、何かあったんじゃないか?」と思っていた。だがすぐに自分を納得させた。従弟は男だ、何があるというのだ?そう言えば、従弟は役立たず、彼とは違っているのだ。食事が終わり、おばさんと花屋姉さんはそれぞれの男と一緒に部屋に戻った。しばらくして、瀬名の親友の叫び声が聞こえた。従弟よりも激しく、長く、時々「くそ、こいつマジで変態だ、離せ、もうやらねぇ!」という声が混じっていた。今頃になってやめるのか?私は口の中で笑った。お金はもうもらっている、どうして「やらない」と言われて終わりにできるか?翌日、私はおばさんの家で朝茶を飲んでいたが、花屋姉さんだけが一人で入ってきて、瀬名の親友は連れて来ていなかった。私は眉をひそめて聞いた。「姐、あの男は言うことを聞かなかったのか?」「頑固なんだよ、豚小屋に閉じ込めてきた」花屋姉さんは春のような顔で、私に残りの料金を転送し、さらに二十万円の賞与をくれた。「暁ちゃん、あなたが姉さんのことを考えてくれてありがとう。今回のはなかなか良かったよ。あいつは頑固だけど、あの尻は結構良い、絶対に元気
高橋おばさんはすぐに私に十万円のチップを送ってくれた。本当に感謝だわ。計画は順調に進んでいた。私は飛行機のチケットを予約し、その後はバスのチケット、さらにバイク、最後には牛車まで手配した。全行程で二日一泊を要する。瀬名央は顔色が悪く、唇も白くなりながら言った。「後輩ちゃん、君が選んだこの山、本当に遠いね」もちろん、遠くないなら、逃げられたらどうするのよ? 男は「嫁しては夫に従い」っていうことを全く理解していない。みんなで一緒に寝ておきながら、逃げようなんて考えるな。そういう男たちは高橋おばさんみたいな人に調教してもらわないと、素直に子供を産む気にならない。「前に村があるはずだよ。そこで一晩泊
彼の実家からも急かされているようで、五十歳を過ぎた独身男が私を気に入って、六十万円がすでに王子様のカードに振り込まれているという。「到着したら、さらに一百万円を渡す」と言っているそうだ。はあ?男ってほんとにケチだな、一百六十万円で人を買うなんて。私の高橋おばさんとは違う、彼女はお金持ちで、手を出す時は二百万円からだ。とはいえ、山登りはいいね。私は王子様に聞いた。「あなたも山登りが好きなの?」王子様はとても興奮して答えた。「好き好き!山登りが一番好きだよ、毎年の夏休みにいくつか山に登るんだ。」「偶然だね、私も好きよ、毎年の夏休みにいくつか登るの。ほら、これ、私がこれから登
白馬の王子様は本当に私に満足しているようで、熱烈にアプローチしてきた。「後輩ちゃん、ケンタッキー食べたい?後輩ちゃん、土曜日映画に行こうよ?後輩ちゃん、......」王子様の優しい声を聞くと、頭が痺れるほどだった。すべてのメッセージを高橋おばさんに転送した。彼女は大満足で、急いで私に電話をかけてきた。「暁ちゃん、これ私がもらうわ。二百万の前金をあなたのカードに送るから、早く送って。前の子は使えなかったわ、わずか三日間豚小屋で死んじゃったから」私は彼女にこう言うしかなかった。「高橋おばさん、男の子には優しくしないと」高橋おばさんは大笑いして言った。「ハハ、あなたは
私たちの村は「女の村」と呼ばれていて、村には女性しかいない。男性なんて人間扱いされず、消耗品と見なされている。伝説によると、はるか昔、この村は捨てられた女児たちの最期の行き着く場所だった。近隣の村々から女児を捨てたい人たちが次々とここに連れてきたという。長い年月が経ち、その怨念から最初の「祖霊」が生まれた。彼女には特別な力があり、それは男性に妊娠させる能力だった。こうして、私たちの村は普通の村ではなくなり、陰陽の境界を越えた存在となった。目的は、行き場を失った「胎児の霊」たちに安らぎの場所を与えること。その結果、村では男性が極めて稀少な存在となった。何しろ女児を一人産むたびに、