Se connecter王家の策略により、王太子の婚約者に選ばれた伯爵令嬢ベアトリーチェ。 「お気づきになりましたか、お嬢様。これは、栄誉ある縁談などではない。『金の首輪』ですよ」 愛する家族を守るため、令嬢は決意する。 ――そうだわ、わざと嫌われて、婚約破棄されればいいのよ! 歴史上の悪女を手本に「完璧な悪役令嬢」を目指すが計画は、持ち前のポンコツさとドジっぷりで、いつもあらぬ方向へ大脱線! お嬢様の奇行を、慇懃無礼に支えるのは、ミステリアスな専属執事、イヅル・キクチただ一人。 悪役を演じる不器用令嬢を、『最高のエンタメ』として愉しむ執事がおくる、予測不能な勘違いラブコメディ。 さあ、勘違い悲喜劇(バーレスク)、ここに開幕。
Voir plus“Janu, apa kamu yakin istrimu tidak curiga?” Chalia menggumam. Suaranya berat dan malas.
Chalia berbaring setengah telanjang di atas sofa sempit, selimut medis lusuh menutupi sebagian tubuhnya. Rambutnya berantakan, pipinya masih merah, tapi matanya tajam menatap pria di depannya yang sedang merapikan sabuk celana. Janu tidak langsung menjawab. Dia sedang memasang kembali jam tangan yang tadi dilepaskan buru-buru. Seolah jam itu adalah topengnya, penanda bahwa dia kembali menjadi dokter yang disegani. “Curiga soal apa?” tanyanya, sengaja mengulur waktu. Chalia duduk perlahan, menarik napas panjang sambil terus menatapnya. “Bau tubuhmu. Bau… aku. Kamu tahu maksudku. Apa dia tidak pernah mencurigai apa-apa?” Janu hanya tertawa pelan. Dingin. Nyaris mengejek. “Nora itu bodoh,” katanya, menyeka leher dengan tisu basah sekenanya. “Dia terlalu sibuk menjadi istri yang baik sampai lupa memperhatikan hal-hal seperti itu. Dia bahkan tidak tahu aku benci teh melati. Tapi tetap saja menyeduhkannya tiap pagi. Kamu tahu? Aku lebih suka Earl Grey bikinanmu." Chalia mengangkat alis. “Benarkah? Tapi aku suka teh melati.” “Ya, karena kamu bukan Nora,” katanya cepat, dengan senyum miring yang tak sampai ke mata. Diam. Hanya suara jam dinding dan dengung AC tua yang mengisi ruang sempit itu. Chalia menatapnya lebih lama dari biasanya, ada sesuatu yang menggumpal di mata lelaki itu. Antara ragu dan kecewa atau mungkin rasa lapar yang belum tuntas. “Setidaknya mandi dulu sebelum pulang,” bisiknya. Suaranya melembut tapi mengandung perintah. Janu mendekat, menaruh ciuman singkat di kening Chalia. “Tidak perlu. Dia tidak akan mencium apa pun. Seperti biasa.” Kemudian Janu pergi. Meninggalkan ruangan dengan bau tubuh Chalia masih melekat di kulitnya, dan sebuah kebenaran yang perlahan—sangat perlahan—menyusup ke dalam secangkir teh di rumah mereka. Janu menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menyalakan mesin, dan menatap sejenak bayangan dirinya di kaca spion. Rambut sedikit acak, kemeja sudah dikenakan ulang dengan rapi, tapi masih menyisakan bekas kerutan dari sofa klinik. Dia meraih botol parfum kecil dari laci dashboard dan menyemprotkannya ke leher, dua kali. Gerakannya otomatis. Seperti sudah menjadi rutinitas. Dia menghela napas sebelum menarik tuas transmisi. Mobil melaju perlahan meninggalkan area parkir klinik. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Di sepanjang jalan, lampu-lampu kota berkedip tenang. Tapi di kepala Janu, ada kegaduhan kecil yang tidak bisa diabaikan. Chalia manis malam ini. Lebih hangat dari biasanya. Atau mungkin, aku saja yang sedang butuh pelarian lebih dalam. Dia menggerakkan jari-jari di setir, menggigit bibir sebentar, lalu tersenyum kecil. Pernikahan itu... Sudah lama kehilangan rasanya. Dulu, dia dan Nora bisa tertawa hanya karena hal sepele. Membakar roti, lupa beli sabun, bahkan menonton acara TV yang sama tiap malam. Tapi sekarang? Setiap obrolan terasa seperti formalitas. Setiap sentuhan seperti kewajiban. Nora masih menyayanginya—itu jelas—tapi kehangatan itu terasa seperti api kecil yang ditutup kaca. Redup. Tak cukup membakar. Dan aku masih ingin merasa hidup. Masih ingin merasa diinginkan. Itu sebabnya ada Chalia. Dan sebelum Chalia, ada dua nama lain yang bahkan sudah dia lupakan. Mereka hadir seperti tempat berteduh sementara. Hangat, cepat, tak merepotkan. Tidak ada beban. Tidak ada penghakiman. Nora tidak pernah tahu. Atau pura-pura tidak tahu. Entahlah. Tapi selama ini, dia tidak pernah menanyai apa-apa. Tidak pernah memeriksa, tidak pernah mencurigai. Seperti istri sempurna dalam drama yang terlalu sopan untuk bersuara. Dan justru di situlah letak kelemahannya. Nora terlalu percaya. Terlalu tenang. Mobil berbelok masuk ke jalan kecil menuju rumah. Janu menurunkan kecepatan. Di kejauhan, lampu beranda sudah menyala. Ada secuil rasa bersalah yang menyelinap di ujung dada. Tapi hanya secuil. Tidak cukup besar untuk menghentikannya. Tidak cukup kuat untuk membuatnya berpaling. Dia mematikan mesin, meraih tas, dan menghela napas sekali lagi sebelum keluar dari mobil. Semuanya akan kembali seperti biasa. Nora akan menyambutku dengan senyum. Akan menyiapkan teh yang tidak kusukai. Dan aku akan terus memainkan peran suami yang lelah. Janu tersenyum tipis, lalu melangkah ke pintu rumah, tak sadar bahwa di balik senyum Nora yang menantinya, sebuah rencana sedang tumbuh dalam diam. * Langit sudah menggelap saat suara pintu depan berderit pelan. Nora menengok dari dapur, senyumnya mengembang seperti biasa. Dia bahkan sudah menyiapkan teh melati, seperti yang selalu dibuat. Meskipun Janu tak pernah benar-benar meminumnya hingga habis. “Selamat datang,” sapanya lembut. Suaranya hangat seperti matahari pagi. Janu balas tersenyum. Tas kerjanya langsung dijatuhkan ke atas meja ruang tamu, menimbulkan bunyi lembut tapi tergesa. Nora menyambutnya dengan senyum hangat seperti biasa, seolah dunia mereka masih utuh. “Pasien ramai hari ini?” tanyanya sambil melangkah mendekat. Suara lembutnya mencoba mengisi celah yang tak terlihat. “Lumayan,” jawab Janu, sembari mengusap wajahnya dengan satu tangan. Bahunya turun sedikit, lelah atau bosan. Entahlah. “Sudah makan malam?” “Sudah.” Nora tetap tersenyum, mencoba tetap ringan. “Ada pasien lama yang datang lagi?” “Hmm ... ada,” sahutnya. Kali ini sambil meregangkan leher, menghindari tatapan Nora. Dia mulai membuka kancing kemeja satu per satu dengan gerakan malas, seperti rutinitas yang dijalani setengah hati. “Kamu sepertinya lelah sekali hari ini.” Janu mengangguk pelan. “Ya, capek.” Nada suaranya datar, hampir seperti gumaman. Kemudian dia berjalan melewati Nora begitu saja, tak menyentuh, tak menoleh. Kemejanya dibiarkan tergantung di tangan. Kakinya menyeret langkah ke arah kamar, seolah hanya tubuhnya yang hadir malam itu. Nora mematung sejenak. Dia menatap punggung suaminya yang menjauh, lalu menunduk memungut kemeja yang tertinggal. Begitu kemeja itu ada di tangannya, dia mencium aroma samar yang asing. Bukan parfum Janu. Bukan bau rumah sakit. Bukan bau tubuhnya sendiri. Tapi bau perempuan lain. Lagi. Mungkin lotion. Mungkin sisa keringat. Mungkin rambut panjang yang belum sempat dicuci. Apapun itu, baunya cukup untuk membuat Nora mengingat rasa pahit di belakang lidahnya, rasa yang sudah terlalu sering dia telan. Senyumnya tak hilang. Dia tetap berjalan ke keranjang cucian, meletakkan kemeja itu dengan hati-hati. Tapi di kepalanya, roda mulai berputar. Pelan. Teratur. Tak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Siapa kali ini? Siapa yang sedang merasa menang? Yang mengira dia mencuri sesuatu dariku?「……ふう」 シートに身を沈める。どっと、ローラントを疲労感が襲った。 御者が鞭を振るう音。再び馬車に乗り込めば、ジャンジャックが気だるげにページをめくっていた。 遠ざかる、王都。 遠ざかる、かつての栄光と罪の場所。「……終わったか」「ええ。……心残りがないとは言いませんが」「まあ、そうだろうな。心残りは、たくさんあるに越したことはない」「……そうでしょうか?」「若いうちから、心残りを消すことをするな。まだ早い」「先ほどからなんですか! 俺とジャンジャック殿、そこまで年齢が違うとは思いませんが!?」 なぜ、さほど歳の変わらない相手に、若造扱いされているのか、ローラントは不思議で仕方がなかった。 年上風を吹かせてくる男というのは、騎士には珍しくもないが、ジャンジャックの態度は妙に鼻につく。「気を遣ったつもりなのだがな。小生が知らせていなければ、見送りもいないぞ?」「それはっ! 確かに。……ありがとうございます」「素直でよろしい。先ほどより、顔つきがマシになったじゃないか」 ローラントに、勝ち目はないらしかった。どうにも分が悪い。「そう、ですね。なんというか……不思議なことに、失ったはずなのに、心が軽いです」「そうだな。ある種の人間は、心を軽くしてくれるものだ」「ある種の、人間?」「小生にとっての、ルチア。お前にとっての、ベアトリーチェ」 それは、ローラントにも否定する余地がなかった。「仮になにもかもが演技であり、勘違いや錯覚だったのだとしても……そこに抱いた感情には、偽物も本物もない」 ジャンジャックは、ページをめくる。「狂人を演じ続けられる者は、最早それは狂人であるように。同時に、お前の前で、英雄を演じきってくれるならば――その者は、お前にと
「……はぁ。結局、振り出しに戻ってしまいましたわ」 帰りの馬車の中。 わたくしは、がっくりと項垂れていた。こんなにお天気なのに、乙女心は土砂降り雨模様よ。 すると、向かいに座るイヅルが、優雅に脚を組み替えながら、涼しい顔で水を差す。「まあ。この状況での婚約解消など、殿下にとっては想定外もいいところでありましょう」「なんでよ!」 思わず、手近なクッションをぎゅっと抱きしめて抗議する。「夜会で、あんなに派手に暴れましたのよ? 複数人の殿方を侍らせて、前代未聞のスキャンダルを起こしたではありませんのよ! 普通なら、愛想を尽かされて当然ですのに……」「ええ、確かに。普通ならばそうでしょうね」「どうして、バージル殿下の頑固さが、あんな斜め上の方向に進化してしまっているのかしら? ハッ、まさか……王族って、特殊な性癖とかおありになるの???」「お嬢様。その邪推は、あまりに不名誉すぎて、不敬罪でございますよ」 そんなツッコミは一旦、無視よ。不敬罪くらいで、今さら怖がってなんかいられないわ。「はて、そこまで大暴れされても、婚約解消はしたくない。そんな男心が、ビーチェお嬢様に伝わらないのはなぜなのでしょう。……あまりに眼中になさ過ぎる?」 続く、イヅルのぼやきも、あとまわし。 わたくしは頬杖をつき、馬車の窓ガラスに映る自分の顔を睨みつけた。でも、しょぼくれてはいられないわよね。「やはり、初心に帰るべきなのよ」「初心、でございますか?」「ええ。奇策に頼らず、コツコツと積み上げるの。手始めに、中断していた『恋愛スキャンダル計画』を、継続するしかありませんわ!」 わたくしは、拳を握りしめて宣言した。 そう、こうなったら長期戦の構えっ! 悪役令嬢延長戦に突入よ!「やっぱり、ヒュプシュ卿にお願いしようかしら。あの方なら、ノリノリで協力してくれそうですもの! もう、『恋人のフリ』のプロフェッショナル
――数日後のこと。 わたくしは、バージル殿下に呼び出され、王宮の庭園を歩いていた。あら、すっかり修復されたのね。 午後の柔らかな日差しが、手入れの行き届いた白薔薇の生垣に降り注ぎ、甘やかな香りが風に乗って漂う。 砂利を踏む、ザッ、ザッという足音が心地よい。「……此度の件、改めて礼を言う」 足を止めた殿下は、わたくしに向き直ると、黄金の頭を下げた。 公式記録に、記されてならない。王族が頭を下げる行為。飾らない礼。「そなたがいなければ……私は、友を失い、国を失っていたかもしれない」「頭をお上げください、殿下。わたくしは、自分のしたいことをしただけですわ」「その上、ローラントへの見送りまでも、果たしてくれたな。私の分までも」「……きっと、ローラント殿には届いていますわよ。殿下のお気持ちは」 イヅルへの侮辱は、まだ許せないけれど。 でも、あの夜、傷つきながらも、まっすぐにローラント殿にぶつかっていったお姿。 悔しいけれど……正直、感動したの。(だからこそ、わたくしは……腹を割って話そうと思いますの) パチン。扇を閉じ、わたくしは殿下の瞳を見つめ返した。「わたくし、今回のことで殿下を見直しましたわ」「……そうか? ……そうかっ!!」「だから、殿下。もし、やり直せるなら……また一から、始めたいと思っております」 わたくしは、正直な気持ちを伝える。「――わたくしたち、やり直しませんこと?」 すると、バージル殿下は、パァァァッ!と、見たこともないような明るい表情になった。 年相応の少年のお顔で、無防備に手を取り、強く握りしめてくる。「ベアトリーチェっ! やはり、そなたもそう思ってくれていたか! 私も同じ気持ちだっ!」「まあっ
王都を出る城門で、馬車が止まる。「……フム。どうやら、お見送りのようだぞ」 ジャンジャックの視線先。城門の脇、二つの人影。 燃えるような赤髪の令嬢と、影のように付き従う黒衣の執事。 ローラントは馬車を降り、不自由な身体で深く頭を下げた。「ベアトリーチェ様、なんと言えばよいのか。……その、わざわざ、お見送りに?」「ごきげんよう、ローラント殿。もちろんよ。お加減はいかがかしら?」 ベアトリーチェは、ローラントの包帯だらけの姿を見て、一瞬痛ましげに瞳を揺らした。 が、すぐに、いつもの勝気な笑顔を作っては、扇を広げる。「おかげさまで。命だけは、拾いました」「そう? まだ、もっと色々残っていると思うけれど」 言われても、ローラントにはこの身に何が残っているか、思いつかない。 言葉に困り、助けを求めようにも、隣に立つイヅル・キクチは、相変わらず何を考えているか読めない。涼やかな微笑。「本当は、バージル殿下も来たがっていたけれど、お立場が許さないって。それに、他にも来たがっていた人はいたのだけれど……大々的には出来ないから。だから、わたくしだけで来たわ」「そう、でしたか」「寂しい見送りでごめんなさいね。でも、殿下ったら、歯を食いしばって、目も真っ赤。泣く寸前になっていましたわよ?」「……あまり、民衆に見せてはいけなさそうな姿ですね」「でしょう? だから、かえって良かったかもしれないわ」 ローラントは、想像して目を伏せる。(もし、会えていたら。……俺は、ここから離れがたくなってしまっただろうな) すると、「あっ!」とベアトリーチェが声を上げた。「それより約束、でしたわよね。これ、受け取ってくださる?」 差し出されたのは、一枚のハンカチ。 上質な絹の布地。その隅に繊細ながらも、力強い糸運びで、刺繍が施されている。
「でね、ベアトリーチェ様ー! 聞いてくださいよー! 今日の歴史学の講義でですね、先生が!」 それから、何日経っても……変わらない。 すっかり友達だと言う顔をして。今日も、わたくしの隣に座ると、楽しそうにおしゃべりを始めるルチア。「へえ、それで?」「それでですね! ツェツィちゃんが、うとうと……なんと居眠りしてて! 先生にはバレなかったけど、指摘したらすっごく可愛い顔で、むくれてたんですよ!」 口から語られるのは、宰相令嬢ツェツィーリア様の、可愛らしい日常。本当に
振るう剣が、鉛のように重たいのは――情が絡みついているからだ。 深い、深い。泥沼に浸かるような夢。 ああ、ひどく懐かしい。あそこは、いつも冷たい隙間風が入って来るんだ。 ボイズ家の屋敷。 ガリアからの亡命者ゆえに、後ろ指を指される一族。いつも不平不満に満ち溢れていた、我が生家。 俺は、あの頃、単なる弱虫の少年だった。 皆の鬱屈した苛立ちは、いつも一番弱い俺に向けられる。「貴様のような腑抜けは、ボイズ家の恥だ!」 父の吐き捨てる声。異母兄たちの嘲笑。拳が、鞭が容赦なく振るわれる。 幼い俺は、うずくまり、嵐が過ぎ去るのを待つしかなかった。「ローラント! ああ、なんて
「だが……ハンノキの王から、受けた恩義が……俺には」「忌々しいが……魔王は確かに、そなたが人生で最も苦しい時、一縷の救いとなったのだろう。だがな、ローラント。そなたがいなくては、こんな私は王子として格好がつかぬではないか」「……殿下」「だから、そなたが美しいと感じた人々が生きる、この傷だらけの世界で。この頑固者の弱さを……どうか、背負ってくれまいか。そう、友として」 バージル殿下は、手を差し伸べる。
窓の外から、カーン、カーンと、槌音が響いていた。 崩れた石材は運ばれ、新しい足場が組まれていく。 『ハンノキ事変』で傷ついた王宮の修復工事が、急ピッチで進められているのだ。日常が戻りつつあることの証左。 ローラント・ファン・ボイズは、そんな光景を眺めていた。(どうにも、己だけが世の流れから、取り残されている気がする) 視界には、包帯が巻かれた右手。分厚く巻かれた包帯の下には、異界の茨がもたらした痕が刻まれている。 指先を動かそうと念じるが、上手く力が入らない。分厚い綿が、感覚を遮っているようだった。
commentaires