Share

Bab 4

Penulis: Erlina
Cecilia selalu memancarkan aura yang membuat orang lain merasa rendah diri.

Namun, sepertinya dia sendiri tidak menyadarinya. Dia malah tersenyum dan bertanya kepada Brandon, "Mau ikut pilihkan? Mungkin saja Lindsey bisa kasih kita harga khusus karena dia teman sekolahmu."

Brandon menggandeng tangan gadis kecil itu dan berjalan ke arah mereka. "Kamu saja. Lala sudah lapar."

Nama gadis kecil itu adalah Ayla Kurniawan. Wajahnya memiliki kemiripan dengan Brandon sekitar 30%. Saat ini, dia melompat-lompat menghampiri Lindsey, lalu memandangi gelang-gelang di atas nampan.

Dia asal mengambil salah satunya dan menimangnya seperti mainan, lalu mengangkatnya ke arah Brandon dengan gaya pamer. "Papa, yang ini."

Ketika kata-kata itu terlontar, gelang giok putih es dengan motif hijau yang harganya mencapai 40 miliar itu langsung terlepas dari tangannya. Gelang itu jatuh ke lantai dan pecah menjadi empat bagian.

Ayla mungkin tahu dirinya sudah membuat masalah. Matanya langsung memerah karena ketakutan, lalu dia menunduk dan menangis.

Brandon segera menghampirinya, lalu berjongkok dan mengusap kepalanya. "Kenapa nangis?"

Dia menatap Lindsey, seolah bertanya berapa harga gelang itu.

Lindsey menelan ludah. Setelah tersadar, dia menunduk. "Empat puluh enam miliar. Kami bisa ...."

Sebelum datang, Chandra sudah memberi tahu harga dasar setiap gelang. Beberapa pelanggan biasanya akan menawar, jadi setelah tawar-menawar beberapa kali, kedua pihak diharapkan bisa mendapatkan harga yang sama-sama memuaskan.

Namun, ucapannya langsung dipotong Brandon. Dia mengeluarkan sebuah kartu, menatap lurus ke arah Lindsey, lalu mengalihkan pandangan dengan tenang kepada Ayla.

"Gesek saja. Jangan sampai Lala ketakutan."

Cecilia juga segera menghampiri dan mencolek dahi Ayla dengan gemas. "Ada Papa, kenapa masih nangis?"

Ayla seketika berhenti menangis dan memeluk leher Brandon dengan penuh rasa sayang.

Brandon menggendongnya, lalu kembali melihat gelang yang paling mahal. "Beli yang ini untuk Ibu. Aku ajak Lala jalan-jalan sebentar."

Setelah berkata begitu, dia tidak menunggu jawaban Cecilia dan berjalan menuju jendela besar. Di luar terbentang pemandangan hijau yang menyegarkan mata.

Gelang yang paling mahal itu adalah barang terbaik yang dimiliki rumah lelang. Warnanya merata di seluruh bagian, tanpa noda maupun retakan.

Rumah lelang menyimpannya sebagai barang andalan. Kali ini mereka sengaja membawanya untuk menjalin hubungan dengan Keluarga Lesmana. Harganya hampir mencapai 120 miliar.

Dalam waktu kurang dari satu menit, Brandon menghabiskan hampir 200 miliar.

Lindsey baru menyadari betapa besarnya perbedaan antara dirinya dan Brandon. Dulu, wawasannya terlalu sempit. Dia sama sekali tidak memahami seberapa kuat keluarga-keluarga besar di ibu kota, apalagi Keluarga Kurniawan yang merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di antara mereka.

Pikirannya terlalu naif. Dia mengira asalkan Brandon mencintainya, itu sudah cukup. Tidak heran setelah identitasnya tersebar di internet, dia dihujani begitu banyak komentar kejam. Dia memang pantas mendapatkannya.

Dadanya terasa sesak. Kemudian, dia mendengar Cecilia berkata, "Tunggu sebentar. Aku akan suruh pembantu membereskan pecahan gelangnya."

Lindsey melihat gelang yang pecah menjadi empat bagian di lantai. Dia berjongkok, memungutnya, lalu menyerahkannya kepada Cecilia.

Cecilia mengangkat alis. "Sudah dibayar, 'kan? Aku nggak mau barang yang sudah pecah."

Mungkin Cecilia tidak tahu bahwa gelang seperti ini masih bisa bernilai beberapa miliar jika diperbaiki oleh perajin. Bahkan kalau dibentuk menjadi satu butir manik-manik saja, dengan kualitas batu giok seperti ini, harganya bisa mencapai ratusan juta.

"Lindsey, kalau nggak salah keluargamu lagi kesulitan. Kalau kamu mau barang ini, ambil saja. Toh kalau diberikan padaku, aku juga akan membuangnya ke tempat sampah."

Cecilia berkata dengan santai sambil melambaikan tangan, "Gelang yang kubeli tadi tinggalkan di sini. Kalian boleh pergi."

Lindsey menggenggam empat potongan gelang yang pecah itu. Dia tahu Cecilia sengaja memberikannya dengan cara seperti ini, tetapi dia memang membutuhkannya. Karena itu, dia tetap menunduk dengan tulus. "Terima kasih."

Cecilia mengeluarkan kartu hitam untuk membayar. Ada sedikit rasa puas di matanya.

"Dulu kamu juga begitu. Barang yang kubuang selalu bisa membuatmu begitu gelisah dan nggak enakan. Aku dengar dari Ibu, uang yang diberikan Keluarga Lesmana untuk membiayai sekolahmu sudah kamu kembalikan dua kali lipat?"

Selama dua tahun bekerja, penghasilan Lindsey sebenarnya tidak sedikit. Dia menyewa rumah bersama Jinny. Pengeluarannya setiap bulan tidak sampai 4 juta. Sisa gajinya dia tabung. Setelah terkumpul, dia memberikan 600 juta kepada Keluarga Lesmana, lalu seluruh uang yang tersisa dia berikan kepada keluarganya sendiri.

Dia sendiri hidup sangat hemat.

Saat akhirnya berhasil melunasi utang kepada Keluarga Lesmana, Lindsey benar-benar merasa lega. Seolah tulang punggung yang selama ini terus membungkuk akhirnya bisa ditegakkan kembali.

Kalau tidak, dia selalu merasa rendah diri setiap berada di hadapan Cecilia.

Yang satu adalah mahasiswa miskin yang menerima bantuan. Yang satu lagi adalah putri dari keluarga yang memberikan bantuan. Perbedaan mereka seperti langit dan bumi.

"Harga diri yang nggak pada tempatnya hanya akan membuat hidupmu sendiri semakin sulit. Lagi pula, melunasi semua itu juga bukan berarti semuanya berubah, 'kan?"

"Seperti empat potongan gelang yang sedang kamu genggam. Kamu bisa memungutnya hanya karena aku nggak menginginkannya. Kalau aku masih menginginkannya, meski kamu memohon sampai kepalamu pecah, aku nggak akan memberikannya kepadamu."

Chandra menyadari kondisi Lindsey tidak baik-baik saja. Dia buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Bu Cecilia, kalau nanti butuh barang apa pun lagi, langsung beri tahu saya. Barangnya akan langsung kami tinggalkan di sini, jadi saya sama Lindsey pamit dulu. Semalam dia demam dan masih kurang enak badan."

Cecilia tersenyum, seolah kata-kata tajam tadi bukan keluar dari mulutnya. "Oke. Lindsey, kamu harus banyak istirahat dan jaga kesehatan."

Lindsey mengangguk. Wajahnya agak pucat.

Baru setelah keluar dari pintu ruang tamu bersama Chandra, tekanan yang sejak tadi terasa menindih kepalanya perlahan menghilang.

Di luar, area ini masih merupakan halaman kompleks vila. Mereka harus berjalan sekitar sepuluh menit lagi.

Mobil mereka terparkir di luar gerbang besi.

Chandra tidak tahan untuk bertanya, "Kamu punya masalah dengan Brandon atau dengan Cecilia? Sepertinya mereka nggak terlalu menyukaimu. Lain kali kalau ada urusan dengan Keluarga Lesmana, kamu nggak perlu ikut."

"Ya." Lindsey hanya menjawab satu kata itu. Telapak tangannya yang tersembunyi di balik sarung tangan sudah dipenuhi keringat.

Chandra kembali menghiburnya. "Yang penting barangnya laku. Brandon memang seperti yang orang-orang bilang, dia sangat memanjakan putrinya. Sepertinya dia lulusan Universitas Kraton. Kamu juga lulusan Universitas Kraton. Apa dulu pernah terjadi sesuatu di antara kalian?"

"Nggak."

"Yakin? Aku dengar gosipnya, dulu Brandon nggak setegas dan sekeras ini. Seharusnya Keluarga Kurniawan diwariskan ke kakaknya, tapi sepertinya kakaknya mengalami masalah."

Lindsey tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang Brandon. Baik reuni teman sekolah semalam maupun transaksi hari ini membuatnya sadar bahwa beberapa hal memang sudah berlalu.

"Pak Chandra, aku nggak tahu soal itu. Aku juga nggak mau mendengarnya."

Chandra melihat wajahnya yang tidak sehat. Dia baru hendak mengatakan sesuatu ketika suara pria yang sangat dingin terdengar dari belakang.

"Kamu nggak tahu?"

Mereka berdua langsung menoleh dan mendapati Brandon berdiri di samping sebuah pilar. Entah sejak kapan dia sudah berada di sana.

Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya sama seperti saat dia berkali-kali memandang Lindsey dulu, penuh rasa meremehkan.

"Kamu nggak tahu kenapa kakakku mengalami masalah?"

Tatapannya begitu tenang, tetapi saat menatap Lindsey, rasanya seperti sebuah gunung besar yang menekannya hingga membuatnya sulit bernapas. Rasanya, kejadian itu ada hubungannya dengan dirinya.

Brandon bersandar pada pilar. Kedua kakinya disilangkan dengan santai. Dari gayanya, dia seolah sedang menginterogasi Lindsey.

Lindsey merasa seperti seorang terdakwa. Namun, dia memang tidak tahu. Dia memalingkan pandangan dan berbalik. "Pak Chandra, ayo kita pergi."

Brandon terkekeh pelan dan menarik sudut bibirnya. "Lindsey, nggak pernah ada satu pun ucapan yang benar dari mulutmu."

Dada Lindsey terasa tertusuk. Saat itu, rasa sakitnya begitu dahsyat hingga tak terucap lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 43

    Jinny menguap. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya."Aku ketemu orang malang yang wajahnya lumayan ganteng. Kalau aku bisa membantu, ya aku bantu saja.""Jinny, jangan terus-terusan bermulut tajam tapi berhati lembut."Jinny langsung memeluk Lindsey. Dia memejamkan mata, menyembunyikan b

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 42

    Sepanjang pagi, Lindsey terus merasa tidak fokus. Dia akhirnya sekalian memblokir nomor Jason. Lagi pula, dia akan pindah rumah dan tidak boleh membiarkan Keluarga Tanoto mengetahui tempat tinggal barunya.Dia memberi tahu Jinny tentang hal itu. Jinny setuju dan bersumpah tidak akan membocorkan alam

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 41

    Jinny mengorek telinganya. "Nama lengkapnya Logan siapa?"Lindsey buru-buru hendak mengambil kartu nama yang diterimanya semalam, tetapi tiba-tiba teringat bahwa kartu itu sudah dirobek-robek dan dibuang oleh orang gila.Namun, Jinny sudah menunduk dan mulai mencari informasi. Tak lama kemudian, dia

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 40

    Sialnya, hari ini dia mengenakan celana kulot berwarna terang dan kaus lengan pendek berwarna krem. Dia sudah menendang Brandon dua kali, tetapi tetap tidak berhasil membuat pria itu menjauh. Sebaliknya, tubuhnya malah terasa panas karena marah.Kaki celana kulotnya menjuntai ke bawah, memperlihatka

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 39

    Lindsey seolah terpaku hingga tak mampu bergerak. Seluruh tubuhnya seakan hendak menjerit. Dia perlahan menoleh ke arah Brandon, wajahnya seketika pucat pasi.Namun, Brandon benar-benar mengira dia sedang mempertimbangkan perkataannya dengan serius. Saat ini dia masih memeluk Lindsey, dan ketika Lin

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 38

    Mobil Brandon terus mengikuti dari belakang. Jaraknya memang agak jauh, tetapi Logan tetap menyadarinya. Dia tidak membongkar hal itu dan juga tidak bertanya kepada Lindsey.Saat Logan mengantar Lindsey sampai ke depan kompleks rusunnya, Lindsey ternyata sudah tertidur sambil bersandar di kursi penu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status