Padahal Lindsey merasa semua yang dia katakan memang benar. Bahkan setiap janji yang pernah dia ucapkan dulu juga benar adanya.
Lindsey tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, sampai Chandra menarik ujung lengan bajunya. "Sudah, ayo."
Dia berbalik, tetapi Brandon sudah tidak ada, seolah pria itu tidak pernah muncul di sana.
Pikirannya terasa kacau. Dia mengikuti Chandra keluar dengan tatapan kosong. Setelah masuk ke mobil, barulah dia menoleh menatap ke luar jendela.
Chandra yang menyetir. Seharusnya Lindsey yang mengemudi, karena bagaimanapun Chandra adalah bosnya. Namun, dengan kondisinya sekarang, dia tidak mungkin menyetir.
Kedua tangan Chandra berada di atas kemudi. Dia tidak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Mulai sekarang, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berurusan dengan mereka. Brandon seperti binatang buas yang sedang menahan diri, sementara Cecilia menyimpan pisau di balik senyumnya. Kamu jelas bukan tandingan mereka."
Meskipun percakapan mereka tadi tidak banyak, beberapa patah kata saja sudah cukup menunjukkan bahwa hubungan di antara mereka penuh dendam masa lalu.
Lindsey memejamkan mata dan menyandarkan tubuh ke kursi. Punggungnya sampai berkeringat.
"Pak Chandra, kalau aku bilang aku benar-benar nggak tahu apa kesalahanku, Bapak percaya?"
Satu-satunya kesalahan yang mungkin dia lakukan adalah terlalu bodoh karena dulu percaya begitu saja pada ucapan Brandon, percaya pada masa depan yang dijanjikannya.
Chandra menatap lurus ke jalan di depan. "Aku ini pebisnis. Kalau masalah ini nggak mengganggu pekerjaan, aku nggak peduli. Tapi aku harus mengingatkanmu, orang dengan latar belakang seperti mereka bukan orang yang bisa kamu sakiti tanpa konsekuensi."
"Hanya dengan menjentikkan jari, mereka bisa bikin kamu nggak mendapatkan pekerjaan seumur hidup."
Meskipun Lindsey pernah kuliah di Universitas Kraton, dia tidak mendapatkan ijazah. Jadi secara teknis, dia hanya lulusan SMA.
Chandra tahu bagaimana sifat dan kemampuan Lindsey. Itulah sebabnya dulu dia bersedia mempekerjakannya.
Lindsey menunduk, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum. "Ya, aku akan menghindari mereka."
Tugas Lindsey hari ini hanya menemani Chandra melakukan transaksi. Sekarang urusannya sudah selesai, Chandra langsung memberinya izin setengah hari.
Lindsey pulang dan beristirahat selama beberapa jam. Ketika menerima telepon dari rumah sakit, dia bergegas ke sana.
Dia membuka pintu kamar rawat dan melihat seorang perempuan yang tampak sangat kurus dan pucat duduk di dalam. Tulang pipinya menonjol dan wajahnya terlihat tidak bertenaga.
Namun, saat melihat Lindsey datang, matanya langsung berbinar. "Lindsey."
Terakhir kali Lindsey datang menjenguknya adalah setengah tahun lalu. Dia buru-buru bertanya dengan cemas, "Tante nggak apa-apa? Ada yang luka?"
Rosma menggeleng dan menarik Lindsey untuk duduk. "Nggak apa-apa. Pengemudi yang menabrak Tante orangnya baik. Dia menanggung semua biaya pengobatan. Bahkan majikannya sekarang lagi bicara dengan dokter dan bilang akan bertanggung jawab sampai semuanya selesai."
Setelah dia selesai berbicara, pintu kamar rawat kembali terbuka.
Lindsey tertegun ketika melihat orang yang masuk. Itu adalah ibu Brandon.
Dulu, setelah masalah Lindsey di kampus mencuat, ibu Brandon pernah mencarinya dan bahkan membawa seorang psikolog.
Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa Brandon pernah menjalin hubungan dengannya. Ibunya pun tidak percaya. Dia hanya menganggap Lindsey sebagai gadis yang terobsesi mengejar putranya sampai kehilangan akal. Karena tidak ingin masalah itu terus berlanjut, dia bahkan mencarikan psikolog untuknya. Namun, Lindsey sendiri menolak.
Lindsey menunduk tanpa berkata apa-apa. Wanita itu tampaknya tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Keningnya sempat berkerut, lalu perlahan mengendur.
"Oh, kamu."
Rosma memandang wanita yang berpakaian rapi itu, lalu melihat Lindsey. "Lindsey, kalian saling kenal?"
Rosma dulu adalah tetangga Lindsey ketika masih di Kabupaten Sirata. Selama beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatannya kurang baik sehingga dia terus berobat di rumah sakit besar.
Lindsey sering datang menjenguknya. Bahkan sebelum Lindsey berhasil masuk Universitas Kraton, Rosma selalu menganggapnya seperti anak sendiri.
Lindsey tidak menatap wanita yang terlihat begitu anggun itu. Tangannya yang menggantung di sisi tubuh mengepal. "Cuma pernah ketemu."
Rosma tidak menangkap makna lain di balik jawaban itu. Dia memandang wanita itu dengan ramah. "Bu, sebenarnya nggak ada masalah besar. Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit."
Wanita itu mengangguk, lalu mengalihkan pandangan kepada Lindsey. "Bisa bicara sebentar?"
Lindsey menjawab singkat, "Ya."
Dia mengikuti wanita itu ke lorong.
Setelah pintu tertutup, wajah wanita itu langsung berubah dingin. "Dulu aku sudah pernah bilang ke kamu, jangan muncul di hadapanku lagi. Kamu masih ingat, 'kan?"
"Pekerjaanku memang di sini."
"Lindsey!" Nada bicara wanita itu menjadi sangat tegas, bahkan tatapannya dipenuhi sedikit rasa jijik.
Lindsey masih ingat tatapan wanita ini dulu. Tatapannya sekarang berbeda. Rasa jijiknya begitu jelas, seolah dia ingin mencabik Lindsey hidup-hidup.
Ibu Brandon selalu dikenal sebagai wanita yang pandai menjaga sikap. Seharusnya dia tidak menunjukkan emosi seperti ini.
Lindsey mengangkat kepala dan menatapnya. "Bu Mirae, untuk sementara ini aku masih harus bekerja di ibu kota. Kalau nanti ada pekerjaan yang mengharuskanku ke luar kota, aku akan menerimanya. Aku juga akan sering melakukan perjalanan dinas."
Mirae tetap memasang wajah dingin dan langsung berbalik. "Aku nggak melakukan apa-apa padamu sekarang karena menjaga perasaan orang lain. Brandon nggak mencintaimu. Jangan melakukan hal-hal yang nggak perlu. Kalau nggak, aku nggak akan membiarkanmu begitu saja."
Lindsey tidak berkata apa-apa.
Mirae menarik napas dalam-dalam dan hendak pergi, tetapi seperti teringat sesuatu, dia kembali menoleh.
"Kalau kamu nggak ingin orang-orang yang kamu pedulikan mengalami sesuatu yang buruk, ingat baik-baik apa yang kukatakan. Kalau nggak salah, Rosma punya seorang putri, 'kan?"
Lindsey mengangkat kepala dan melihat ancaman yang terpampang jelas di mata wanita itu. Dia ingin tertawa. Di mata orang-orang ini, dirinya seolah monster yang harus dihindari. Sebenarnya apa yang telah dia lakukan sampai mereka begitu membencinya?
"Nggak perlu khawatir. Aku akan menjauh dari kalian."
Mirae pun pergi dengan puas, tetapi punggungnya tetap memancarkan aura dingin dan suram.
Lindsey berdiri di tempatnya beberapa saat, lalu kembali membuka pintu kamar rawat.
Rosma tampak khawatir. "Kalian tadi bicara apa? Kenapa wajah wanita itu terasa nggak asing ya? Apa Tante pernah ketemu dia?"
Sambil berbicara, dia tiba-tiba teringat sesuatu. "Dulu, yang bekerja sama dengan ibumu itu ...."
Lindsey segera menggenggam tangannya dan mengalihkan pembicaraan. "Kondisi Tante masih kurang baik. Lain kali harus lebih hati-hati."
"Tante sudah jauh lebih sehat. Dua tahun ini kondisi Tante malah membaik. Kamu sendiri jangan terus-terusan datang ke sini. Kalau ibumu tahu, dia pasti bakal datang lagi ke rumah Tante buat marah-marah."
Ibu Lindsey sedang sakit dan pernah menyuruhnya pulang, tetapi Lindsey tidak pulang. Saat mengetahui bahwa perlakuan putrinya terhadap Rosma berbanding terbalik dengan perlakuan yang diterimanya, tentu saja ibunya merasa tidak senang. Jadi, setiap kali ada kesempatan, dia selalu menyindir Rosma.
Untungnya, Rosma juga sudah lama tidak pulang.
"Kamu dan ibumu ...."
Masalah Keluarga Tanoto dulu sampai diketahui semua orang terdekat. Orang tua Lindsey sangat menjaga harga diri, jadi kehidupan mereka setelah menjadi bahan gunjingan pun tidak mudah.
Sejak kecil, Lindsey adalah anak yang penurut dan rajin belajar. Orang tuanya bekerja di luar daerah sehingga dia sering ditinggal dan sering membantu orang-orang yang lebih tua mengerjakan berbagai pekerjaan. Karena itu, semua orang menyukainya.
Ketika Lindsey berhasil diterima di Universitas Kraton, Keluarga Tanoto mendapat banyak uang sebagai hadiah. Seluruh keluarga bersuka cita.
Namun, siapa sangka pada akhirnya Lindsey justru terlibat dalam masalah seperti itu?
Orang-orang yang dulu datang memberi selamat, setiap kali bertemu orang tua Lindsey selalu bertanya apakah Lindsey sudah pulang. Sebenarnya semua orang tahu Lindsey tidak pulang. Mereka hanya sengaja mengorek luka lama.
"Ibumu sebenarnya mengkhawatirkanmu. Kalau ada waktu, pulanglah. Soal ayahmu yang membuat telingamu tuli, dia pasti merasa sangat bersalah. Dulu dia hanya emosi, mana mungkin dia mengira akibatnya akan seperti ini."
Laki-laki di desa memang rata-rata mudah marah. Main tangan dianggap hal yang biasa. Di sisi lain, para perempuan seolah sudah terbiasa mencari alasan untuk membela mereka.
"Kalau ayahmu membicarakanmu, dia selalu menangis. Dulu kamu adalah kebanggaannya."
"Karena Tante baik-baik saja, aku pamit dulu." Lindsey berdiri dan merapikan selimutnya. "Kalau ada apa-apa nanti, telepon saja aku."
Melihat wajah Lindsey yang begitu tenang, Rosma menghela napas pelan. "Lindsey, semua orang punya masalah. Bertahanlah, semuanya akan berlalu."
"Aku tahu." Nada bicara Lindsey tetap tenang. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
Di sisi lain, setelah keluar dari pintu rumah sakit, Mirae langsung melihat Brandon. Wajahnya seketika berubah lembut.
"Kenapa kamu ke sini? Sudah Ibu bilang, nggak ada masalah. Orang yang tertabrak juga nggak mengalami luka serius. Ibu sudah minta dokter memeriksanya."
Brandon berjalan di sampingnya. "Nanti aku akan pecat sopirnya."
Mereka berjalan menuju luar rumah sakit, tetapi kemudian berpapasan dengan seorang gadis muda yang sedang berlari masuk.
Riasan gadis itu cukup tebal. Dia mengenakan jaket bergaya punk yang terbuka lebar, memperlihatkan tank top di dalamnya. Celana jeans-nya pun robek di beberapa bagian.
Ketika mendongak dan melihat Brandon, dia langsung mundur beberapa langkah karena ketakutan. Dia buru-buru menunduk, berharap pria itu tidak melihat wajahnya.
Namun, Brandon mengenalinya. Dia adalah gadis yang dulu selalu mengikuti Lindsey ke mana-mana.
Gadis yang beberapa tahun lalu juga pernah memberitahunya sedikit tentang kenyataan kejam yang selama ini tersembunyi.
"Kamu mau jenguk siapa?" Nada bicara Brandon tetap datar.
Gadis itu mungkin tidak menyangka Brandon masih mengenalinya. Dulu, setelah mengatakan hal-hal itu kepada Brandon, dia selalu merasa bersalah. Dia mengangkat dagu dan menjawab dengan keras kepala, "Jenguk kakakku."
Dia adalah putri Rosma dan sejak dulu menganggap Lindsey sebagai kakaknya. Brandon tahu itu.
Tatapannya dipenuhi sedikit rasa mencemooh terhadap dirinya sendiri. Setelah itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.