Share

Bab 6

Author: Erlina
Carla terengah-engah sambil terus berlari masuk. Kebetulan, dia berpapasan dengan Lindsey yang sedang berjalan ke luar.

Melihat penampilan Carla seperti itu, Lindsey langsung tahu gadis ini pergi ke bar lagi.

Lindsey langsung meraih pergelangan tangannya. "Kamu mau ketemu Tante Rosma dengan penampilan begini?"

Bahkan lipstik di bibir Carla pun sudah berlepotan.

Carla langsung menepis tangannya dengan kesal. "Jangan ikut campur! Memangnya kamu siapa?"

Usianya lima tahun lebih muda daripada Lindsey. Mereka tumbuh besar di desa yang sama. Waktu kecil, Carla selalu mengikuti Lindsey ke mana-mana seperti adik kecilnya.

Dulu, saat Brandon dipindahkan ke Kabupaten Sirata, orang yang paling tidak menyukainya adalah Carla.

Brandon terus menempel pada Lindsey, sehingga Carla merasa kakaknya direbut oleh orang lain. Gara-gara itu, dulu dia bahkan sempat membuat banyak keributan konyol.

Dialah orang yang paling tidak ingin Lindsey bersama Brandon. Karena itulah, waktu itu dia ....

Memikirkan hal itu, Carla seketika naik pitam karena gugup dan kesal. "Kamu cuma tetangga kami. Urusanku nggak ada hubungannya sama kamu. Sebaiknya kamu jangan banyak bicara di depan ibuku. Kalau nanti dia sampai jatuh sakit gara-gara marah, yang panik juga kamu!"

Setelah selesai berbicara, selembar tisu basah sudah disodorkan di hadapannya. Nada bicara Lindsey tetap tenang. "Lap dulu riasanmu."

Carla tertegun. Setelah sadar, dia langsung merebut tisu itu. "Sudah kubilang jangan ikut campur!"

Meski mulutnya bilang tidak butuh, tangannya mulai menghapus riasan di pipinya dengan patuh.

Lindsey melihat ada sedikit bekas kemerahan di lehernya. Dia tentu tahu itu apa. Wajahnya seketika berubah. "Kamu sudah punya pacar?"

Carla langsung menutupi lehernya dan bergegas menuju lift. "Lindsey, kamu ini benar-benar menyebalkan. Jangan terus-terusan tanya soal urusanku."

Lindsey berdiri di tempat, lalu menarik napas dalam-dalam. Selama ini, dia selalu menganggap Carla seperti adik kandungnya sendiri. Dulu, setiap kali Carla punya sesuatu yang bagus, dia selalu ingin berbagi dengan Lindsey. Entah sejak kapan gadis ini berubah menjadi begitu pemberontak dan keras kepala.

Lindsey hanya merasa pusing memikirkannya, lalu berjalan meninggalkan rumah sakit. Dia belum makan, jadi mulai merasa lapar.

Saat sedang melambaikan tangan untuk menghentikan taksi, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Dari balik jendela yang terbuka setengah, dia melihat wajah Brandon yang dingin.

Jendela mobil diturunkan sepenuhnya. Tatapannya tertuju pada Lindsey. "Aku baru tahu orang yang ditabrak ibuku ternyata Rosma. Pantas saja kamu datang. Kudengar kondisi kesehatannya memang buruk. Jangan-jangan kamu sampai hidup susah seperti ini karena biaya pengobatannya?"

Yang dia maksud dengan hidup susah adalah seluruh barang yang Lindsey pakai adalah barang murah. Layar ponselnya pun retak-retak. Jelas, hidupnya selama beberapa tahun terakhir memang tidak berjalan dengan baik.

Bukan begitu. Lindsey ingin menjawab bukan karena Rosma. Dia seperti ini karena tidak mendapatkan ijazah kuliah, juga karena hubungannya dengan keluarganya.

Namun, apakah Brandon mau mendengarnya?

Dia kembali teringat Cecilia, juga anak Brandon dan Cecilia. Rasanya tidak ada gunanya menjelaskan apa pun lagi.

Brandon menatapnya, lalu sudut bibirnya terangkat dingin. "Kamu sendiri yang memilih menyiksa diri sendiri, jadi jangan salahkan orang lain."

Dia menginjak pedal gas hendak pergi, tetapi tiba-tiba Lindsey memanggil, "Brandon!"

Kali ini tidak seperti dulu lagi, ketika dia memanggil Brandon dengan mata memerah karena marah, atau dengan suara manja saat sedang terbawa suasana.

Panggilan itu seolah menembus waktu, menghimpun kembali semua kenangan mereka di masa muda, seakan Lindsey sedang mengambil keputusan yang sangat penting.

Jari-jari Brandon yang berada di atas kemudi seketika menegang. Dia mendadak tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan Lindsey selanjutnya.

Namun, Lindsey menatapnya dengan perasaan yang sudah jauh lebih lega. Bahunya perlahan mengendur. Sejak mereka bertemu kembali, sarafnya terus berada dalam keadaan tegang.

Di hadapan Mirae, dia selalu merasa lebih rendah. Di hadapan Cecilia, dia juga selalu merasa rendah diri. Bahkan di hadapan Brandon pun dia selalu bersikap serba hati-hati.

Padahal seharusnya dia tidak perlu seperti ini. Dia tidak pernah berutang apa pun kepada mereka.

"Brandon, kita sudah putus."

Empat tahun lalu, dia tidak sempat mengucapkan kata putus itu. Bahkan ketika mereka bertemu kembali di reuni empat tahun kemudian, dia pun tidak mendapat kesempatan untuk mengatakannya.

Lindsey sendiri pernah bilang, dirinya adalah orang yang keras kepala. Karena dulu tidak pernah mengatakan bahwa mereka putus, dia terus menggenggam harapan.

Sekecil apa pun harapan itu, sekalipun setipis benang laba-laba, asalkan dia tetap menjaganya dengan hati-hati, Brandon pasti akan kembali.

Namun, tato itu sudah tidak ada.

Pergelangan tangan Brandon yang putih dan ramping seketika menegang, sampai urat-uratnya terlihat jelas.

Ekspresinya berubah. Bibirnya mengatup membentuk garis lurus. "Kamu sudah ingin mengatakannya sejak beberapa tahun lalu, 'kan?"

Lindsey tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu. Beberapa tahun lalu? Saat Brandon pergi ke luar negeri bersama Cecilia? Atau saat Cecilia segera mengunggah bukti kehamilannya? Apa hak Brandon berbicara begitu kepadanya?

Namun, sekarang semua itu sudah tidak ada artinya. Lindsey menunduk dan berjalan menuju taksi yang berhenti di belakangnya.

Brandon yang masih duduk di dalam mobil tiba-tiba membunyikan klakson berkali-kali. Suara klakson itu terdengar kasar dan tergesa-gesa, seolah sedang melampiaskan kemarahannya. Tak lama kemudian, mobilnya melaju pergi dengan kencang.

Sesampainya di rumah, Lindsey merasa sangat lelah. Dia belum makan malam dan kini kelaparan sampai perutnya terasa perih. Dia membuat semangkuk mi instan untuk dirinya sendiri, lalu membaca pesan dari Carla.

[ Hari ini aku ketemu Brandon. Dia masih sama menyebalkannya. Di antara kalian berdua nggak ada apa-apa, 'kan? ]

Dia sebenarnya sedang mencari tahu secara terselubung apakah masih ada kemungkinan antara Lindsey dan Brandon. Carla menatap ponselnya lekat-lekat. Telapak tangannya dipenuhi keringat karena gugup.

Tak lama kemudian, balasan masuk.

[ Memangnya bisa ada apa lagi? Sudah lama berakhir. ]

Carla mengembuskan napas lega. Binar senyum seketika memenuhi matanya. Sudah dia duga. Setelah Brandon mendengar hal seperti itu waktu itu, mana mungkin dia masih mau bersama Lindsey? Masa dia masih mau menerima Lindsey?

Melihat putrinya tersenyum, Rosma menghela napas. "Kamu ini sebenarnya pakai baju macam apa?"

Riasan Carla sudah dibersihkan sampai bersih. Wajahnya terlihat cukup polos dan manis. "Bu, ini gaya anak muda zaman sekarang. Nggak usah ngatur-ngatur."

Rosma mengernyit tanpa daya. "Kamu malah mendaftarkan nomor Lindsey jadi kontak darurat Ibu. Kamu kok nggak pengertian sih? Kamu terus saja bikin dia repot, padahal hidupnya sendiri sudah susah."

Carla mengerucutkan bibir dan menunduk. "Memangnya aku bikin dia repot? Aku cuma nggak mau dia meninggalkan kita."

Mata Rosma dipenuhi rasa sakit. Dia menggenggam tangan Carla dan berkata dengan suara yang sudah agak serak, "Carla, masalah itu sudah berlalu ...."

Tangan Carla seketika mengepal. Tatapannya keras kepala. "Buatku belum. Selamanya juga nggak akan berlalu."

Rosma menekan dada sendiri sambil menenangkan emosinya. "Kamu dan Lindsey sama-sama anak baik. Selama ini Ibu malah jadi beban kalian. Kalian berdua harus hidup baik-baik. Jangan bikin Ibu terus khawatir."

"Iya, iya. Aku sudah mulai kerja kok. Mulai sekarang, Ibu dan Kak Lindsey nggak perlu mengkhawatirkan aku lagi."

Setidaknya, dia masih anak yang berbakti.

Senyuman muncul di wajah pucat Rosma. Dia mengangkat tangan dan menepuk punggung tangan putrinya dengan lembut. "Baguslah."

....

Setelah menghabiskan mi, Lindsey mulai membereskan barang-barang yang selama ini dia simpan di bawah tempat tidur.

Tidak ada yang berharga. Mungkin benda paling mahal yang dia miliki hanyalah alat bantu dengar ini.

Semua uang yang dia hasilkan selama dua tahun terakhir sudah dia berikan. Sekarang, uang yang tersisa di tangannya hanya 6 juta.

Barang-barang di dalam kardus masih tersimpan dengan sangat baik. Ada spesimen tanaman yang dulu dia buat bersama Brandon saat di Kabupaten Sirata, juga hadiah ulang tahun yang Brandon berikan ketika mereka kuliah bersama.

Harga dirinya terlalu tinggi. Setiap kali Brandon memberinya hadiah mahal, dia selalu khawatir tidak akan mampu membalasnya, sehingga dia tidak pernah mau menerimanya.

Beberapa hadiah ulang tahunnya akhirnya hanya berupa benda-benda kecil yang dibuat sendiri oleh Brandon.

Kalau tahu pada akhirnya dia akan hidup sesusah ini, sampai harus berkali-kali merendahkan diri demi uang, dulu dia seharusnya tidak terlalu menjaga harga diri.

Dia merasa geli sendiri memikirkannya, lalu menunduk dan kembali membereskan barang-barangnya dalam diam.

Saat Jinny pulang dan melihat kardus yang diletakkan di atas meja ruang tamu, dia berkata, "Akhirnya kamu mau buang barang-barang rongsokan ini."

Benda-benda yang begitu berharga bagi Lindsey memang terlihat seperti barang rongsokan di mata orang lain.

Namun, selama bertahun-tahun, dia berkali-kali mengeluarkannya untuk dilihat, lalu menyimpannya kembali satu per satu dengan penuh rasa sayang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 108

    Semakin dia memikirkannya, semakin deras air matanya mengalir. Ujung hidungnya terasa perih. Seandainya dia tahu akibatnya akan seperti ini, dia seharusnya tidak berbohong hanya demi memuaskan keinginannya untuk menang.Sepanjang hidup Lindsey, dia selalu menuruti perkataan keluarganya dan para oran

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 107

    Namun, kondisi tubuh Wanda sedang tidak baik. Jika mendengar hal itu, Wanda pasti akan sangat terpukul hingga pingsan.Lindsey menelan semua perasaan itu kembali ke dalam hatinya. "Nggak, Nek. Sekarang aku bertanggung jawab mengelola studio. Studio itu baru mulai berkembang, tapi ke depannya pasti a

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 106

    "Tante, urusanku nggak ada hubungannya sama Tante, 'kan?"Jelim tidak menyukai Brandon, Brandon tentu saja juga tidak menyukai Jelim. Selama ini, hubungan mereka hanya sebatas basa-basi di permukaan.Jelim menatapnya, lalu berbalik dengan dingin. "Aku nggak akan membiarkan orang rendahan dari kalang

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 105

    Cecilia hanya mengirimkan satu pesan itu, lalu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu dirinya sudah menang telak. Dalam hal seperti ini, Lindsey tidak akan mampu membalas perkataannya.Kekesalan yang menumpuk di dadanya akhirnya mereda. Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipinya, tetapi sorot mata

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 104

    Lindsey tahu Wanda sudah menyeleksi Logan dengan sangat ketat. Bahkan Jinny pun mengatakan bahwa Logan sangat hebat. Dari situ, jelas bahwa Logan memang orang yang layak dijadikan pasangan hidup.Jika dia terus membiarkan dirinya terlibat dalam segala hal di sekitar Brandon, pada akhirnya dia bisa k

  • Dicampakkan Gadis Penurut, Sang Pewaris Jadi Terobsesi   Bab 103

    Wajah Brandon tampak tenang. Kedua tangannya terletak di atas selimut. "Menurut Ibu, dia punya kemampuan untuk melakukan itu?"Mirae berusaha mencari tanda-tanda kebohongan di wajahnya. Namun, Brandon hanya bersandar santai ke belakang dan menjawab dengan nada datar, "Mungkin ini cuma reaksi penolak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status