Jamuan makan malam berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan. Sienna baru saja hendak mengambil tasnya, tetapi orang di sampingnya bergerak lebih cepat.
"Aku antar."
Bukan pertanyaan, melainkan pemberitahuan. Begitulah Stefan sejak dahulu.
Sienna tidak menolak. Karena dia tahu, sekalipun menolak, hasilnya tetap akan sama. Sejak kecil memang selalu begitu.
Cedric adalah seorang yang suka mengendalikan segalanya, Stefan pun tidak jauh berbeda. Kadang-kadang, Sienna benar-benar penasaran seperti apa jadinya jika kedua pria itu berhadapan.
Ternyata, dunia ini memang sempit.
Ketika mereka keluar dari ruang VIP, hawa AC di lorong terasa lebih dingin dibandingkan di dalam ruangan. Sienna tanpa sadar mengusap lengannya.
Saat tiba di tikungan lorong, langkahnya langsung terhenti. Sekitar belasan meter di depan, sesosok pria yang dikenalnya sedang berdiri di depan sebuah ruang VIP sambil menelepon.
Setelan abu-abu, postur tinggi tegap. Itu adalah Elric, asisten khusus Cedric. Kalau Elric ada di sini ... berarti Cedric pasti juga ada.
Sienna refleks menghentikan langkahnya. Otaknya mendadak kosong. Dia tidak ingin terlihat, tidak ingin menjelaskan apa pun. Terlebih lagi, dia tidak ingin mendengar Cedric bertanya "siapa pria ini?".
Selama tiga tahun pernikahan mereka, dia sudah terlalu sering memberikan penjelasan. Setiap kali menjelaskan, rasanya seperti sedang membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan.
Kini, dia tidak ingin menjelaskan lagi. Bahkan, dia tidak ingin lagi berhubungan sedikit pun dengan Cedric.
Sienna mundur setengah langkah hingga bahunya hampir menyentuh dada Stefan.
"Lewat sana saja." Dia berbisik pelan, "Di sana juga ada lift."
Sebelum proses perceraian mereka benar-benar selesai, dia tidak ingin menambah konflik yang sama sekali tidak perlu.
Stefan menoleh ke ujung lorong. Dalam sekejap, dia memahami alasan Sienna bersikap seperti itu. Tanpa terlalu keras maupun terlalu pelan, dia menggenggam pergelangan tangan Sienna.
"Nana." Suara itu terdengar dari atas kepala Sienna, mengandung emosi yang bahkan tidak mampu dijelaskan.
"Sebenarnya apa yang kamu hindari?"
Sienna sendiri juga tidak tahu. Padahal dia sudah mengajukan gugatan cerai, sudah pindah dari rumah. Secara hukum pun, sebentar lagi mereka tidak akan memiliki hubungan apa pun.
Namun, saat melihat Elric tadi, jantungnya tetap berdegup kencang. Seolah dia sedang melakukan sesuatu yang salah atau mungkin ... merasa takut.
Takut apa? Takut Cedric melihatnya bersama pria lain? Lucu sekali. Apa yang sebenarnya dia takutkan?
Akhirnya, dia menemukan alasan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Kalau Cedric melihatnya bersama Stefan, proses perceraian pasti akan menjadi jauh lebih rumit.
Cedric akan mengira dirinya berselingkuh, mengambil posisi sebagai pihak yang benar secara moral, bahkan mungkin mempersulit pembagian harta.
Sienna refleks berusaha menarik tangannya. Namun, genggaman Stefan justru menjadi makin erat.
Tanpa mengubah ekspresi santainya, Stefan melangkah menuju ujung lorong. Sienna ikut tertarik ke depan hingga langkahnya sedikit limbung.
"Stefan!" Sienna menekan suaranya sepelan mungkin. "Lepaskan aku."
Stefan tidak menjawab, bahkan langkahnya tidak melambat sedikit pun. Sikapnya tetap tegas, seolah tidak memberi ruang untuk ditolak.
Elric baru saja mengakhiri panggilannya. Begitu mendongak, wajahnya langsung dipenuhi keterkejutan. "Nyonya?"
Melihat jarak keduanya yang begitu dekat, wajah Elric langsung memucat. Dia refleks melirik pintu ruang VIP di belakangnya.
Sienna kembali berusaha melepaskan tangannya, tetapi Stefan sama sekali tidak berniat melepaskannya. Saat dia menoleh ke samping, jelas terlihat sorot mata Stefan yang jahil.
Sienna menggertakkan gigi. Stefan memang sengaja.
Detik berikutnya, pintu ruang VIP terbuka. Cedric keluar sambil memegang ponselnya. Tampaknya dia sedang membalas pesan.
Mula-mula dia melirik Elric, lalu mengikuti arah pandangan asistennya. Dia pun melihat Sienna, lalu ... Stefan dan akhirnya ... tangan Stefan yang masih menggenggam pergelangan tangan Sienna.
Udara seolah membeku dalam sekejap. Cedric menyipitkan mata. Dia memutar ponselnya sekali sebelum memasukkannya ke saku.
Tatapan penuh tanda tanya itu tertuju pada Sienna, seolah bertanya apakah Sienna tidak berniat menjelaskan?
Sienna berdiri dengan kaku. Stefan masih menggenggam tangannya.
Udara di koridor terasa sesak. Elric bahkan merasa sulit bernapas. Diam-diam, dia mundur kembali ke dalam ruang VIP.
Tatapan Stefan bergantian menyapu Cedric dan Sienna. Sesaat kemudian, dia tertawa pelan. "Kebetulan sekali, Pak Cedric."
Cedric bahkan tidak memandangnya. Tatapannya tetap tertuju pada Sienna. Namun, suaranya begitu dingin hingga seolah bisa membekukan udara. "Kemarilah."
Kata itu keluar melalui sela-sela giginya.
Stefan melepaskan genggamannya.
Sienna baru hendak mengembuskan napas lega, tetapi jantungnya kembali menegang. Dia melihat Stefan justru berjalan santai menghampiri Cedric.
Dengan nada ringan, pria itu menyapa, "Lama tak berjumpa, Pak Cedric."
Akhirnya Cedric mengalihkan pandangannya dari Sienna kepada pria yang tingginya hampir setara dengannya.
Dia mengenalinya. Stefan, presdir Arvanta Group. Tiga tahun lalu, pria ini tiba-tiba muncul di pasar internasional dan menjadi buah bibir. Latar belakangnya misterius. Caranya bertindak tajam dan penuh perhitungan.
Cedric pernah bertemu dengannya di forum bisnis. Saat itu, Stefan juga bersikap setenang ini.
Ketika mereka berpapasan, pria itu tiba-tiba berkata, "Sampai jumpa lagi."
Waktu itu, Stefan masih menjabat sebagai direktur regional Arvanta Group. Tak disangka, hanya dalam tiga tahun, dia sudah naik menjadi presdir. Jelas sekali, dia bukan orang yang bisa diremehkan.
Namun, yang tidak pernah Cedric bayangkan adalah pria itu kini berdiri di hadapannya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Pak Stefan?" Cedric memasukkan kedua tangannya ke saku. Tatapannya sama sekali tidak ramah. "Kurasa kurang pantas kalau kamu mengantar istriku."
"Istri?" Stefan mengulang kata itu perlahan. Senyuman tipis terangkat di sudut bibirnya. "Setahuku, Nana sudah mengirim surat perjanjian cerai ke kantormu."
Surat perjanjian cerai? Hati Cedric langsung menegang. Tangan di dalam sakunya mengepal erat. Namun, raut wajahnya tetap tidak berubah sedikit pun.
Dengan suara tenang, dia berkata, "Suami istri pasti sesekali bertengkar. Masalah kecil seperti itu nggak perlu sampai merepotkan Pak Stefan."
Cedric melangkah hendak melewati Stefan. Namun, Stefan bergeser satu langkah, kembali menghalangi jalannya.
"Masalah kecil? Kamu seenaknya mengalihkan dokter yang seharusnya menangani ayah Sienna demi wanita lain, lalu menghilang tanpa kabar dan meninggalkannya sendirian di ibu kota. Menurut Pak Cedric, itu hanya masalah kecil?"
Cedric terdiam sesaat. Tatapannya kembali terkunci pada Sienna. Nada bicaranya dipenuhi sindiran. "Ternyata istriku begitu terbuka kepada Pak Stefan. Sampai urusan apa pun diceritakan."
Tangan Sienna yang berada di belakang tubuhnya mengepal erat. Tatapannya kepada Stefan menjadi makin rumit.
Stefan tahu bahwa dia sangat mengupayakan pengobatan ayahnya, tahu dia telah mengirim surat perjanjian cerai ke Prasetya Group, bahkan tahu penyebab sebenarnya dia menggugat cerai Cedric.
Apa Stefan menyelidikinya sendiri? Sebenarnya apa yang ingin dilakukan pria itu?
Stefan menoleh ke arah Sienna sambil tersenyum tipis. "Hubunganku dengan Nana nggak sesederhana yang kamu bayangkan."
Jelas sekali, itu adalah provokasi. Provokasi yang terang-terangan.
Senyum di wajah Cedric nyaris lenyap sepenuhnya. Amarah telah menguasai pikirannya. Bahkan tatapan Sienna saat ini pun dia salah artikan.
"Nana?" Cedric menekan bahu Stefan dengan kuat. Tatapan dinginnya seolah mampu menembus tubuh pria itu. "Kami pamit dulu. Silakan lanjutkan urusanmu sendiri, Pak Stefan."
Selesai berkata begitu, dia langsung menggenggam lengan Sienna tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
Sienna berusaha melepaskan diri. Namun, suara Cedric yang menahan amarah terdengar di dekat telinganya. "Jangan menoleh."
Setelah kedua sosok itu menghilang di ujung koridor, senyum di wajah Stefan pun perlahan memudar. Dengan santai, dia memutar cincin di jari telunjuknya, lalu bergumam pelan, "Cedric, kita benar-benar bertemu lagi."