"Lepaskan aku."
Sienna nyaris diseret hingga ke area parkir basemen. Pergelangan tangannya terasa nyeri hingga membuatnya mengernyit.
Area parkir yang luas dan lengang itu dipenuhi gema suara protesnya.
Saat ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan Sienna yang dipegang Stefan tadi, rahang Cedric langsung menegang. Sorot matanya meredup.
Bayangan Stefan yang menggenggam tangan Sienna di koridor tadi kembali melintas di kepalanya, membuat genggamannya tanpa sadar makin kuat.
Pipi Sienna memerah karena marah. Akhirnya, kesabarannya habis. Dengan sekuat tenaga, dia mengempaskan tangan Cedric.
"Cedric, kamu belum selesai juga?" Nada bicaranya dipenuhi rasa muak yang begitu jelas.
Cedric terdorong selangkah. Tatapannya penuh keterkejutan. Ini pertama kalinya Sienna bersikap sekasar ini padanya.
Sebelum menikah, Sienna selalu memanggilnya "Pak Cedric". Setelah menikah, panggilannya berubah menjadi "Sayang".
Dia menoleh menatap Sienna. "Tadi kamu manggil aku apa?"
Nada tidak sabar dalam suara Sienna seakan menyiram seluruh amarah yang membara di dada Cedric.
Yang tertangkap basah bersama pria lain adalah Sienna. Lantas, kenapa Sienna juga yang kesal?
Sienna mengabaikan pertanyaannya. Dia terus mengusap pergelangan tangannya yang sakit. Dadanya naik turun karena langkahnya terlalu cepat tadi.
Setelah mengatur napas, dia berkata, "Kamu sudah menerima surat perjanjian cerai itu. Kapan ada waktu, kita urus perceraian di kantor catatan sipil."
Nada bicaranya datar seolah hanya sedang membicarakan menu makan malam. Benar-benar tidak ada emosi sedikit pun.
Cedric kembali teringat map cokelat itu, teringat ucapan Elric. "Kiriman dari Nyonya."
Saat itu, dia tidak sempat membukanya, jadi hanya melemparkannya begitu saja ke sudut meja. Setelah rapat, dia lalu mengurus proyek dan akhirnya benar-benar melupakan keberadaan map itu.
Ternyata ... isinya adalah surat perjanjian cerai. Berarti sejak awal Sienna memang sudah memutuskan menceraikannya.
Karena siapa? Stefan?
Tatapan Cedric kembali tertuju pada Sienna. Kemeja satin dipadukan dengan celana yang membuat tubuhnya tampak tinggi semampai. Ikat pinggang logam menjadi aksen yang elegan.
Rambut hitamnya bergelombang. Riasannya tipis. Seluruh penampilannya memancarkan kesan profesional layaknya seorang wanita karier.
Saat itu, Cedric baru menyadari sudah lama sekali dia tidak benar-benar memandang istrinya.
Di rumah, Sienna selalu mengenakan pakaian rumahan yang sederhana. Wajahnya tanpa riasan. Rambut panjangnya tergerai di bahu.
Setiap kali dia pulang kerja dan membuka pintu rumah, wanita itu selalu menyambutnya dengan senyum lembut, menyandarkan kepala di dadanya, lalu bertanya dengan suara manis, "Hari ini capek? Ada masalah di kantor nggak?"
Entah sejak kapan, dia terbiasa melihat Sienna yang lembut. Sampai-sampai wanita dingin yang berdiri di hadapannya sekarang terasa begitu asing.
Mata yang pernah selalu dipenuhi kelembutan itu kini hanya menyisakan kekecewaan. Dia lupa, Sienna juga manusia. Saat terus-menerus tidak dipilih, tentu dia juga berhak marah.
Cedric menarik napas dalam, berusaha menekan gejolak di dadanya. Dengan nada yang lebih lembut, dia berkata, "Kita sama-sama sedang emosi. Sekarang bukan waktu yang tepat membicarakan ini. Kita pulang dulu."
Dia mengulurkan tangan hendak meraih Sienna. Namun, Sienna langsung mundur. Gerakannya begitu cepat seolah menghindari sesuatu yang menjijikkan.
Tatapan penuh penolakan itu menusuk mata Cedric. Tangannya ... membeku di udara.
"Itu rumahmu, bukan rumahku." Sienna mengangkat wajah. Hidungnya mendadak terasa perih. Suaranya sedikit bergetar. "Aku sudah nggak punya rumah lagi."
Benar, dia memang sudah tidak punya rumah. Ayahnya telah tiada. Di dunia ini, dia benar-benar sendirian.
Di kota yang begitu besar dan gemerlap ini, semua orang memiliki tempat untuk pulang. Hanya dirinya yang tidak.
Dahulu dia begitu naif, mengira bisa menghangatkan hati Cedric. Dia selalu memperhatikan Cedric, berusaha melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Dari belajar seni teh, belajar tata krama, belajar semua hal yang sebenarnya tidak dia kuasai.
Sedikit demi sedikit, dia mengubah dirinya menjadi sosok yang disukai Cedric.
Sienna ingin menjaga ayahnya, juga ingin menjaga pernikahan mereka. Namun, pada akhirnya dia gagal mempertahankan keduanya. Tak ada satu pun yang berhasil dia selamatkan. Dirinya merasa begitu tidak berguna.
Sienna menahan rasa sakit yang memenuhi dadanya, memaksa air matanya tidak jatuh. Dia tidak ingin Cedric melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.
Dia menatap pria itu dengan keras kepala sambil berkata, "Aku nggak akan kembali. Aku sudah pindah. Aku juga nggak mengambil satu pun barang milikmu."
Dia berhenti sejenak, lalu meneruskan, "Semua ketentuan dalam surat perjanjian cerai sudah adil. Aku hanya mengambil apa yang memang menjadi hakku."
Barang miliknya? Hanya mengambil yang menjadi haknya?
Cedric merasa lucu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Jelas sekali kamu membedakannya. Sienna, apa selama tiga tahun ini, bagimu pernikahan kita hanya sebuah transaksi?"
"Kalau bukan transaksi, lalu apa?" Jawaban Sienna meluncur begitu cepat. Seolah sejak lama dia sudah memahami kenyataannya.
"Dulu kamu menikahiku juga demi saham warisan kakekmu, 'kan? Memangnya kita berbeda?"
Keheningan langsung menyelimuti area parkir. Satu detik, dua detik, tiga detik. Tiba-tiba, Cedric tertawa pelan. Dia menarik kembali tangan yang masih menggantung di udara.
"Bagus." Ucapan itu bagaikan jarum tajam yang menusuk harga dirinya. Dia melangkah maju.
Bayangannya langsung menyelimuti tubuh Sienna. Kelembutan di wajahnya lenyap tanpa bekas, seolah tidak pernah ada.
"Aku nggak akan menandatanganinya. Kamu seharusnya tahu kenapa dulu aku menikah." Cedric kembali memandangnya dari atas dengan tatapan penuh superioritas. "Hubungan kita bukan sesuatu yang bisa kamu tentukan sendiri."
Lihatlah, inilah Cedric yang sebenarnya. Kelembutan hanyalah topeng. Begitu kepentingannya terusik, dia kembali menjadi pengusaha kejam yang tak pernah ragu mengambil keputusan.
Sienna hanya menatapnya dalam diam. Lama sekali. "Cedric, kamu benar-benar berpikir aku hanya bisa bergantung padamu?"
Cedric tidak menjawab. Namun, sorot matanya sudah memberikan jawaban.
Sienna tak kuasa tertawa, mengejek rasa percaya dirinya yang berlebihan. "Semoga rasa percaya dirimu itu bisa bertahan selamanya."
Dia tidak ingin membuang waktu berbicara lagi. Dia mengambil kunci mobil, lalu berjalan menuju mobilnya dengan ekspresi yang begitu tenang hingga terasa menakutkan.
Cedric mengepalkan tangannya. Pada akhirnya, dia tetap mengajukan pertanyaan yang sejak tadi menyesakkan dadanya.
Namun, suara yang keluar jauh lebih serak daripada yang dia bayangkan. "Apa hubungan kalian?"
Sienna tidak menghentikan langkahnya. Dia hanya menjawab dengan nada datar, "Itu bukan urusanmu."
"Kita belum cerai. Kamu masih bagian dari Keluarga Prasetya."
"Sebentar lagi sudah bukan." Saat tangannya menyentuh gagang pintu mobil, Sienna kembali berkata, "Aku akan minta pengacaraku mempercepat proses perceraian. Lebih baik kita pisah secara baik-baik. Jangan bikin semuanya berakhir terlalu buruk."
Pintu mobil tertutup. Mesin mobil menyala. Sorot lampu mobil membuat sisi wajah Cedric tampak terang lalu redup.
Mobil itu perlahan melaju hingga akhirnya menghilang di tikungan. Cedric masih berdiri terpaku di tempat. Tangannya yang menggantung di sisi tubuh terasa dingin.
Setelah masuk ke mobilnya, dia menekan pemantik api tiga kali sebelum rokok di tangannya akhirnya menyala.
Asap perlahan menyelimuti wajahnya. Sebelum kabut asap itu menghilang, pandangannya tertuju pada kaca spion.
Di sana tergantung sebuah jimat keselamatan. Seingatnya, jimat itu didapat Sienna di kuil pada hari kedua bulan kedua kalender lunar tahun lalu.
Hari itu, hujan deras menyebabkan akses menuju gunung ditutup. Sienna meneleponnya dan meminta dijemput.
Saat Cedric tiba di kaki gunung, Sienna sedang berjongkok meringkuk di bawah sebuah patung jamur hias.
Begitu melihatnya datang, Sienna tersenyum canggung seperti anak kecil yang baru berbuat salah. "Maaf sudah merepotkanmu."
Kemudian, dia mengeluarkan jimat keselamatan dari sakunya dengan wajah penuh kebanggaan. Katanya, jimat itu dibuat sendiri oleh seorang master. Dari 20-an orang dalam rombongan, hanya dia yang berhasil mendapatkannya.
Lampu kabin mobil saat itu menyala. Tubuh Sienna basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi. Dia tampak berantakan seperti anak kucing yang tersesat. Namun, kedua matanya bersinar begitu terang.
Cedric jarang menyetir sendiri. Sebagian besar urusan perjalanan maupun jamuan bisnis selalu ditemani Elric.
Mobilnya pun sering berganti. Karena itu, dia tidak pernah menyadari kapan ada atau tidaknya suatu barang di dalam mobil. Dia juga tidak tahu kapan Sienna menggantungkan jimat itu.
Mungkin malam itu, mungkin juga beberapa hari setelahnya.
Bara merah di ujung rokok terus membakar. Ketika rasa panas menyengat terasa, Cedric baru tersadar dan mematikan rokok itu di asbak.
Setelah lama terdiam, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang. "Selidiki Stefan."
Rasa nyeri di lambungnya kembali menusuk. Cedric menundukkan kepala ke atas setir sambil menekan perutnya.
Untuk pertama kalinya, dia menyadari ada sesuatu yang perlahan mulai lepas dari kendalinya.