Share

Bab 3

Author: 燃灯灯
Selama beberapa hari sejak pindah ke Shallow Bay, Sienna sama sekali tidak menggubris pesan dari Cedric.

Selain bekerja seperti biasa di siang hari, dia mencurahkan seluruh waktunya untuk satu hal yang paling penting baginya, Irene Atelier.

Irene Atelier adalah merek busana tradisional yang didirikan ayahnya bertahun-tahun lalu dan diberi nama sesuai nama mendiang ibunya.

Dulu merek itu cukup terkenal. Namun, setelah ayahnya jatuh sakit, usaha itu terhenti selama beberapa tahun.

Para perajin senior satu per satu pergi. Pabrik kain yang telah lama bekerja sama juga kehilangan kontak. Bahkan situs resmi merek itu sudah lama tidak diperbarui.

Kini, Sienna ingin mewujudkan harapan terakhir orang tuanya dengan membangkitkan kembali Irene Atelier.

Meski banyak pelanggan lama terus meninggalkan pesan di berbagai platform dan berusaha mencari kabar tentang merek itu, semua itu hanyalah setetes air di lautan permasalahan yang dihadapi Irene Atelier.

Saat ini, selain mencari kembali para perajin lama, hal yang paling mendesak adalah membangun kembali jalur pasokan kain premium.

Beberapa hari terakhir, Sienna terus mencari informasi ke berbagai pihak dan menghubungi sejumlah pemasok kain.

Ada yang kualitas bahannya terlalu buruk. Ada pula yang menolak karena jumlah pesanannya terlalu sedikit.

Setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya dia berhasil menemukan pemasok lama yang menyediakan kain berkualitas tinggi.

Pukul 6 sore, Sienna tiba di Capital Hotel. Jamuan makan malam diadakan di ruang VIP lantai paling atas.

Capital Hotel mengusung gaya arsitektur tradisional. Pintu kayu berukir dan koridor klasik menciptakan suasana yang elegan serta tenang.

Tempat itu memang selalu menjadi pilihan utama kalangan pebisnis untuk membahas kerja sama maupun menjamu tamu.

Seorang petugas menyambutnya dengan hormat. Setelah memastikan identitasnya, petugas itu menekan tombol lift dan mengantar Sienna menuju ruang VIP.

Tepat ketika pintu lift tertutup, sesosok pria berpakaian hitam memasuki hotel melalui pintu samping. Pria itu dikelilingi beberapa orang.

"Silakan lewat sini, Pak Cedric."

....

Saat membahas kerja sama sebelumnya, sekretaris pihak pemasok mengatakan bahwa atasannya sangat mengenal Irene Atelier dan pernah beberapa kali bertemu dengan ayah Sienna. Mereka bisa dibilang sudah lumayan akrab.

Ketika mendengar bahwa yang datang adalah Sienna, pihak pemasok langsung menyetujui pertemuan. Karena itu, Sienna cukup penasaran siapa sebenarnya orang yang akan ditemuinya.

Sesampainya di depan pintu, dia mengangguk sopan kepada pelayan sebelum mendorong pintu perlahan.

Setelah pintu terbuka, seorang wanita berpakaian profesional segera menghampirinya. "Selamat malam, Bu Sienna. Aku Rhea, sekretaris presdir Arvanta Group."

Sienna langsung mengenali suaranya. Wanita ini yang selama ini membahas kerja sama dengannya.

Arvanta Group? Bukankah seharusnya Cendana Textile?

Memahami kebingungannya, Rhea tersenyum sambil menjelaskan, "Dua minggu lalu, Cendana Textile resmi bergabung di bawah Arvanta Group. Perusahaan kami memang berfokus pada pasar internasional, tapi dalam beberapa tahun terakhir kami mulai memperluas bisnis ke pasar domestik."

"Karena itu, seluruh pembahasan kerja sama dan koordinasi bisnis kini ditangani langsung oleh kami."

Sienna memang pernah mendengar nama Arvanta Group. Perusahaan itu bergerak di bidang barang mewah kelas atas di pasar internasional dan sering menyelenggarakan pameran mewah serta jamuan eksklusif.

Masuk ke pasar domestik melalui industri kain premium memang bukan sesuatu yang aneh. Hanya saja ... apa istimewanya Irene Atelier, sampai-sampai sekretaris presdir Arvanta Group turun tangan menyambutnya sendiri?

"Silakan masuk, Bu Sienna. Pak Stefan sudah menunggu sejak tadi."

Stefan? Entah kenapa, firasat tertentu muncul di benak Sienna.

Saat mengikuti Rhea masuk, Sienna mendapati ruang VIP itu sangat luas. Mereka melewati koridor. Lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya hangat di tengah ruangan bergaya klasik.

Di tengah meja bundar ada dekorasi lanskap mini yang diselimuti kabut tipis. Sangat indah dan mewah.

Ketika pandangannya tertuju ke arah kursi utama, Sienna langsung bertemu dengan sepasang mata yang dikenalnya.

Pria itu mengenakan setelan kasual abu-abu. Dengan sikap santai, dia bersandar di kursi sambil memainkan cangkir teh di tangannya. Saat melihat Sienna, mata indahnya langsung dipenuhi kebahagiaan.

"Nana."

Jantung Sienna sontak berdetak kencang.

Stefan Budiman. Beberapa hari lalu, Fiora memang sempat menyebut namanya. Kini, ketika pria itu benar-benar muncul di hadapannya, semuanya masih terasa seperti mimpi.

Sienna sama sekali tidak menyangka mereka akan bertemu lagi. Saat dia masih terpaku, sosok itu sudah berdiri tepat di sampingnya.

Stefan melirik sekilas ke arah sekretarisnya. Dengan sigap, Rhea segera mengundurkan diri. Aroma khas cemara yang begitu familier memenuhi indra penciuman Sienna.

Tubuhnya dipeluk. Suara pria itu terdengar rendah di dekat telinganya. "Nana, aku sudah pulang."

Pikiran Sienna masih kosong. Ingatannya perlahan kembali pada musim panas bertahun-tahun lalu. Dia dan ayahnya menemukan Stefan di depan pabrik baja bekas. Pria itu datang tanpa diduga saat usia 10 tahun, lalu menghilang begitu saja saat menginjak usia 20 tahun.

Setelah kecelakaan mobil itu, Stefan lenyap begitu saja. Kini, saat mereka bertemu lagi, Stefan telah menjadi presdir Arvanta Group.

Menatap wanita yang selalu dirindukannya, sorot mata Stefan dipenuhi kelembutan. Ujung jarinya perlahan mengusap jari manisnya sendiri.

Dengan suara yang sulit ditebak emosinya, dia berkata, "Aku nggak akan pergi lagi."

Sienna menatap matanya. Tatapan itu terasa akrab, tetapi juga asing. Wajah pemuda yang dahulu dikenalnya kini telah berubah menjadi lebih tegas. Aura elegan dan berwibawa terpancar darinya.

Di balik kacamata berbingkai emas, mata hitamnya tetap sedalam dahulu, tak pernah bisa dia pahami.

Siapa yang akan menyangka bahwa pria setampan Stefan pernah hidup susah?

Stefan sedikit membungkukkan badan, lalu kembali memeluk Sienna. Kedekatan yang begitu tiba-tiba itu membuat Sienna merasa canggung, entah karena mereka terlalu lama tidak bertemu atau karena status Stefan sekarang sudah jauh berbeda.

Sienna mendorongnya perlahan. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Syukurlah kamu baik-baik saja."

Sikap sengaja menjaga jarak itu membuat Stefan sedikit tertegun. Namun, sesaat kemudian dia kembali tersenyum seperti biasa. Dia menggandeng Sienna ke meja makan, lalu menarikkan kursi untuknya dengan perhatian.

Melihat itu, Sienna tidak bersikap sungkan. Dia duduk dengan tenang.

"Aku dengar kamu mau cerai?" tanya Stefan.

Tubuh Sienna sedikit menegang. Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengeluarkan proposal dari dalam tasnya.

"Kita bahas soal Irene Atelier saja." Sienna mendongak menatap Stefan. "Arvanta Group mengakuisisi Cendana Textile bukan semata-mata untuk memperluas pasar domestik, 'kan?"

Melihat jelas bahwa Sienna sengaja menghindari topik itu, Stefan hanya tersenyum tipis. Dia menyandarkan tubuh ke kursi sambil membuka proposal di tangannya.

"Aku kurang lebihnya paham kondisi yang dihadapi Irene Atelier. Itu merek yang dulu Ayah dirikan sendiri. Meski sempat terhenti beberapa tahun, mereknya masih diingat orang. Pelanggan lamanya juga masih setia."

"Yang ingin dilakukan Arvanta Group adalah ... menghidupkannya kembali."

Ayah .... Mendengar kata itu, hati Sienna kembali terasa sesak. Dia menatap Stefan tanpa berusaha menutupi apa pun. "Bukan Arvanta Group. Tapi keinginanmu sendiri, 'kan?"

Stefan tersenyum. "Memangnya kenapa? Apa aku nggak berhak melakukan sesuatu untukmu dan Ayah?"

....

Minuman di hadapan Cedric hampir tidak tersentuh. Sepanjang jamuan makan, suara gelas yang saling beradu dan obrolan para tamu sama sekali tidak masuk ke telinganya.

Layar ponselnya terus menyala, lalu padam. Padam, lalu menyala lagi. Di kotak percakapan itu, masih hanya ada pesan yang dia kirim malam itu.

Empat hari berlalu. Tidak ada satu balasan pun.

Di sampingnya, Elric mengingatkan dengan hati-hati, "Pak, ada yang bersulang dengan Bapak."

Cedric baru mengangkat kelopak matanya. Dengan acuh tak acuh, dia mengangkat gelas dan menyentuhkannya sebentar.

Minuman keras yang membakar tenggorokan membuatnya mengernyit. Dia melonggarkan dasinya, tetapi rasa gelisah di dalam dadanya sama sekali tidak berkurang. Perasaan itu begitu asing baginya.

Bahkan ketika dahulu hubungannya dengan ayahnya sendiri memburuk, dia tidak pernah merasakan kegelisahan seperti ini.

Pantulan wajah Cedric tampak di layar ponsel. Alisnya berkerut rapat. Biasanya, seburuk apa pun suasana hati Sienna, dia tidak pernah menghilang lebih dari dua hari.

Melihat Cedric makin tidak sabar, Elric berpikir sejenak sebelum berkata, "Belakangan ini sepertinya Nyonya sibuk mengurus Irene Atelier."

Irene Atelier? Usaha kecil milik ayahnya yang nyaris tidak punya masa depan itu?

Dahulu Sienna memang sempat bertanya padanya tentang cara untuk membangkitkan kembali merek itu. Sepertinya dia pernah menjawab. Hanya saja, dia sudah lupa apa jawabannya.

Cedric mengusap bibir gelas dengan ujung jarinya, lalu mendengus pelan. Untuk apa mengurusi usaha itu? Asal Sienna memintanya, dia bahkan bisa memberinya sepuluh usaha seperti itu.

Cedric mendengus dingin. "Dia memang pintar cari kesibukan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 62

    Kediaman Keluarga Hartono.Begitu Thalia tiba di rumah, Evron langsung memanggilnya ke ruang kerja.Lampu ruang kerja masih menyala. Evron sedang memegang kuas, berlatih kaligrafi di atas kertas. Perabot kayu merah bergaya klasik di ruangan itu diselimuti cahaya malam dari luar jendela, menciptakan

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 61

    Begitu kembali ke ibu kota, Stefan langsung menemui Sienna. Sienna sedang menunduk menikmati makan siangnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu bertanya, "Beberapa waktu lalu kamu buru-buru pulang ke Kota Garmin. Apa terjadi sesuatu?"Stefan menunduk sambil mengambilkan lauk ke piring Sienna. Suara

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 60

    Saat Cedric keluar dari ruang rapat, Elric sudah berdiri di depan pintu kantornya.Cedric menyerahkan berkas di tangannya kepada sekretaris, lalu berjalan menghampiri sambil menunjuk ke arah ruangannya. Elric langsung mengerti. Dia lebih dulu membuka pintu, menunggu Cedric masuk, lalu menutupnya kem

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 59

    "Logikamu sebenarnya sama sekali nggak salah. Kamu bukan sengaja melakukan sesuatu yang seharusnya nggak dilakukan. Siapa pun pasti akan memilih menangani pihak yang kondisinya lebih parah dulu.""Tapi hasilnya?"Thiago mendekat, menatapnya dengan penuh selidik."Hasilnya, kamu nggak menyangka ayah

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 58

    Thiago dibohongi. Dia sudah duduk di restoran selama dua jam penuh, tetapi Cedric tidak juga muncul. Telepon tidak diangkat, pesan pun tidak dibalas.Sampai akhirnya Elric menelepon dan mengatakan bahwa Cedric ada urusan sehingga tidak bisa datang, barulah Thiago gemetar menahan lapar sambil mulai m

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 57

    Saat melihat Sienna di luar restoran tadi, dia memang marah. Ada perasaan seolah dirinya telah diprovokasi berkali-kali. Belakangan ini terlalu banyak orang muncul di sekitar Sienna. Saking banyaknya hingga membuatnya muak.Sienna tersenyum ceria kepada orang lain, tetapi selalu memasang wajah dingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status