Sienna memilih kawasan Silira di pinggiran selatan kota sebagai lokasi studio barunya.
Daerah itu merupakan kawasan tempat tinggal kalangan berpenghasilan tinggi. Aksesnya mudah, tetapi suasananya tetap tenang.
Sepulang dari rumah sakit, dia langsung kembali menekuni desain-desainnya. Dia dan Stefan sudah mencapai kesepakatan mengenai alur pasokan bahan baku, sekaligus merancang dua lini produk yang jelas.
Lini pertama adalah layanan pesanan eksklusif satu-satu, hanya menerima pelanggan melalui reservasi dan dibuat dalam jumlah sangat terbatas.
Lini kedua adalah koleksi siap pakai kelas premium, tetap menggunakan siluet klasik busana tradisional istana, khusus untuk pelanggan lama dan para wanita elite di lingkaran tertentu, tanpa diproduksi secara massal.
Makin langka suatu barang, makin tinggi nilainya. Para istri keluarga terpandang paling tidak suka mengenakan pakaian yang bisa ditemui di mana-mana.
Layanan busana pesanan khusus justru memenuhi kebutuhan itu. Kain terbaik, sulaman tangan dari perajin ternama, ditambah identitas pribadi yang eksklusif. Kemewahan yang hanya dimiliki satu orang memang merupakan kebutuhan bagi kalangan itu.
Dahulu, ayahnya memang selalu bermain di pasar premium. Namun, produknya masih kurang memiliki nilai kelangkaan.
Target Sienna sekarang adalah para nyonya keluarga terpandang yang berada di puncak piramida sosial ibu kota.
Tok ... tok ... tok .... Sienna mengangkat kepala.
"Kak Sienna, sampel gaunnya sudah jadi."
Mata Sienna langsung berbinar. "Cepat buka. Kita lihat."
Ini adalah karya terakhir ayahnya. Butuh setengah tahun untuk menyempurnakan desainnya. Belakangan, Sienna juga menambahkan beberapa detail hasil kreativitasnya sendiri.
Baru seminggu lalu dikirim ke penjahit, ternyata lebih cepat selesai daripada yang dia bayangkan.
Dia mengitari meja kerja, lalu mengeluarkan gaun itu dengan hati-hati dan membentangkannya di atas sofa.
Gaun berwarna putih keperakan itu dibuat dari kain brokat sutra. Sulaman bunga plum membentang dari kerah menyusuri garis depan hingga ke pinggang.
Bunga plum putih itu tampak indah. Ranting-rantingnya tegas. Di bagian putiknya dihiasi manik-manik kecil yang sangat halus. Siluet burung-burung tersulam anggun di atas ranting. Setiap detail itu terjalin dengan sempurna.
Seluruh gaun memancarkan kemewahan yang elegan. Di bawah sinar matahari, kainnya pun memantulkan cahaya lembut bak kunang-kunang. Keindahannya benar-benar sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Sienna tersenyum puas. "Benar saja. Hasil jadinya bahkan lebih bagus daripada yang kubayangkan."
Asistennya pun mengangguk berulang kali. "Kalau soal kemewahan, memang nggak ada yang bisa mengalahkan warisan para leluhur."
Sienna kembali melipat gaun itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya. Produk akhirnya sudah siap. Sekarang yang dibutuhkan hanyalah kesempatan dan tempat yang tepat agar kelompok pelanggan yang dituju bisa melihatnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Stefan.
[ Stefan: Kamu sudah tahu tentang kompetisi ini? ]
Sienna membuka tautan yang dikirim. Itu adalah pengumuman sebuah kompetisi.
[ Busana Warisan: Kompetisi Desain Estetika Timur. ]
Kompetisi itu diselenggarakan bersama oleh museum, institut desain, dan Asosiasi Busana Ibu Kota.
Tak lama kemudian, pesan lain masuk.
[ Stefan: Coba lihat daftar jurinya. ]
Sienna menggulir layar ke bawah. Satu nama langsung menarik perhatiannya. Gerry.
Ayahnya pernah membicarakan orang itu, seorang profesor di Institut Desain Universitas Doresa yang pernah diundang museum untuk merestorasi sekaligus meneliti busana istana zaman dahulu. Ayahnya pernah bertemu dengannya dalam sebuah forum di Kota Himala.
Meski hanya berbincang sebentar, setiap kali menyebut nama Gerry, sikap ayahnya selalu penuh rasa hormat. Bahkan ayahnya menganggap sang profesor sebagai sosok yang ingin diteladani sepanjang hidup.
Sienna mengusap pelan layar ponselnya. Kalau ingin menghidupkan kembali Irene Atelier, dia membutuhkan sebuah pijakan yang kuat.
Desain dan keterampilan saja tidak cukup. Dia juga membutuhkan pengakuan. Kompetisi ini adalah kesempatan itu.
Sienna segera menelepon Stefan. Tiga kali nada sambung berlalu sebelum suara pria itu terdengar. "Nana."
Sienna langsung bertanya, "Kamu ... mau aku ikut kompetisi ini?"
"Ya."
"Kompetisi ini memang bertujuan melestarikan warisan budaya takbenda dan mempromosikan estetika Timur. Tapi sebenarnya masih ada tujuan lain."
"Apa?"
Stefan menjawab, "Pak Gerry ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari murid terakhirnya."
Sienna langsung menggenggam ponselnya lebih erat. "Serius?"
Gerry adalah tokoh besar di dunia desain tradisional. Sepanjang hidup, dia mengabdikan diri untuk meneliti sekaligus mengembangkan estetika Timur.
Kalau bisa menjadi murid terakhirnya, Sienna bukan hanya akan mampu meningkatkan kemampuan desainnya, tetapi nama Irene Atelier juga akan memperoleh pengakuan yang lebih besar.
Suara Stefan terdengar lembut. "Kapan aku pernah bohong sama kamu?"
Setelah berpikir sejenak, dia melanjutkan, "Aku pernah beberapa kali bertemu Pak Gerry. Kalau perlu ...."
"Nggak usah." Sienna langsung memahami maksudnya dan segera menolak. "Aku nggak butuh bantuanmu. Aku mau mencobanya dengan kemampuanku sendiri."
Stefan tertawa pelan. "Aku juga sudah menduga kamu akan bicara begitu."
Seniman besar dengan prestasi luar biasa seperti Gerry justru mungkin akan merasa tidak senang jika dikenalkan secara tiba-tiba.
Kalau ingin Irene Atelier dikenal orang, Sienna harus lebih dahulu membuat dirinya sendiri dikenal.
Sienna menarik napas dalam-dalam. Dia membuka halaman pendaftaran, lalu mengisi seluruh data yang diperlukan.
Kursor berhenti selama dua detik di tombol kirim. Kemudian ... dia menekannya. Berhasil atau tidak, dia akan berusaha sekuat tenaga.
....
Saat kembali ke Shallow Bay, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sienna memarkir mobilnya dengan tubuh yang lelah. Setelah sampai di depan rumah, dia malah melihat sesosok pria sedang bersandar di samping mobil.
Ujung rokok di antara jarinya menyala merah. Asap tipis mengepul, membuat raut wajahnya tampak makin misterius, sekaligus memancarkan kesan santai dan dingin.
Mendengar suara langkah kaki Sienna, pria itu menginjak puntung rokok hingga padam, lalu menoleh. Tatapannya tertuju pada Sienna.
"Kamu pulang selarut ini?" Karena baru selesai merokok, suaranya terdengar sedikit serak. Tampak beberapa helai rambut jatuh di dahinya. Sepertinya dia sudah menunggu cukup lama.
Sienna tidak bertanya sejak kapan pria itu datang. Dia hanya bertanya, "Ngapain kamu ke sini?"
Cedric melangkah mendekat. "Kenapa? Nggak boleh?"
Nada bicaranya yang selalu merasa benar dan memandang rendah orang lain itu langsung membangkitkan amarah dalam hati Sienna. Dia menatap pria itu dengan dingin. "Sudah tanda tangan?"
Cedric mengernyit. "Nggak ada lagi yang ingin kamu bicarakan?"
"Memangnya mau bicara apa lagi?" Sienna mencibir.
Daripada datang melampiaskan emosi kepadanya tanpa alasan, bukankah lebih baik Cedric pergi menunjukkan perhatian kepada ayah Thalia?
Sienna mengabaikannya. Dia langsung mengambil kunci dan membuka gerbang.
Setelah gerbang terbuka, Cedric masuk begitu saja seolah sudah dipersilakan. Dia melihat sekeliling halaman yang dipenuhi bunga, lalu mengangguk. "Lumayan. Tempat ini cukup bagus."
Sienna mencabut kunci dari pintu, lalu menatap pria yang berjalan santai mengelilingi halaman. Dia merasa jengkel. "Kamu sebenarnya mau apa?"
Cedric tampak heran. "Sebagai suami yang sebentar lagi akan cerai, apa salahnya datang melihat tempat tinggalmu?"
Apa benar dia datang untuk melihat tempat tinggalnya? Yang ingin dia lihat sebenarnya adalah apakah hidup Sienna berantakan setelah meninggalkannya.
Sayangnya ... harapan itu tidak akan terwujud.
"Terserah." Sienna juga malas bertanya bagaimana Cedric bisa mengetahui alamatnya. Informasi seperti itu mungkin bisa didapatkan Cedric hanya dengan sedikit usaha.
Dia melewati Cedric, membuka pintu rumah, masuk ke area foyer, menyalakan lampu, lalu menggantungkan kunci di rak sepatu.
"Nggak ada sandal tamu. Besok baru ada bibi yang datang bersih-bersih. Jadi sesuaikan saja."
Cedric menggumam pelan, "Ya."
Setelah Sienna masuk ke ruang tamu, Cedric menunduk, seolah tanpa sengaja melirik isi rak sepatu.
Semua sepatu di sana adalah sepatu wanita. Modelnya pun sesuai dengan gaya Sienna.
"Teh atau kopi?"
"Air putih saja."
Rumah itu mengusung gaya klasik. Dari jendela kaca besar di ruang tamu, hamparan mawar yang memenuhi dinding taman luar langsung terlihat jelas.
Tanpa menunjukkan apa pun di wajahnya, Cedric diam-diam menyapu pandangan ke seluruh rumah. Mulai dari foyer, ruang tamu, hingga tangga.
Setelah memastikan tidak ada jejak keberadaan pria lain, Cedric berjalan santai menuju sofa dan duduk.
Mata hitamnya beralih pada Sienna. Nada bicaranya terdengar seperti sedang menguji. "Rumah ini ... kamu yang beli?"
Sienna meletakkan segelas air di depannya. Wajahnya dipenuhi rasa kesal. "Perjanjian cerainya saja belum ditandatangani. Harta bersama juga belum dibagi. Dari mana aku punya uang untuk beli rumah?"
Menghadapi sikap dinginnya, Cedric sama sekali tidak marah. Dia mengangkat gelas air. Sudut matanya melirik Sienna. "Kalau begitu ... siapa yang kasih rumah ini ke kamu? Stefan?"