ログインSuara ketikan keyboard terdengar lebih cepat dibandingkan biasanya, karyawan lain yang mendengar sampai menoleh melihat siapa karyawan malang yang harus kerja cepat menyelesaikan laporan sebelum deadline. Namun begitu melihat dari mana asal suara itu, rasanya malah lebih aneh. Sebab itu adalah Arvan."Hei, siapa yang buat Pak Arvan marah, ayo ngaku." Salah satu karyawan di ruangan itu berkirim pesan di obrolan chat.Segera karyawan yang lain meripley dengan banyak tanda tanya."Loh, Pak Arvan marah? padahal ada yang mau aku tanyakan tentang masalah pekerjaan." Balas yang lain dengan emoji menangis."Good luck, bro." ujar yang lain."Pak Arvan marah bagaimana?" tanya seseorang di obrolan yang berprofil bunga sakura."Suara ketikannya makin lama makin kasar, kayak seseorang yang sengaja ngelampiasin amarah gitu.""Duh, aman nggak ya aku mau ngasih berkas ke dia?" tanya orang berprofil foto pernikahan dengan pasangannya."Sebaiknya jangan terburu-buru, EH, KITA ADA KERJAAN MEPET DEADLINE
Tidak seperti biasanya, Aeri dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya— mengedit foto yang klien suka—, lalu untuk sesi fotonya sendiri, dia menyuruh Arika yang melakukan."Mbak, jam dua nanti harus sudah ke lokasi wedding." Kembali Arika mengingatkan saat Aeri sudah bergegas membereskan barang-barangnya.Aeri menepuk dahinya, "Astaga, aku lupa," meski katanya lupa, bukannya urung pergi, Aeri malah memberi Arika kameranya."Kamu saja yang pergi, aku masih ada urusan, daahh." Secepat kilat Aeri pergi sebelum Arika memakinya."Anying! Syiball! Dasar bos biadab." Meski sudah jauh di luar studio, dia masih mendengar suara Arika di dalam tengah mengutuk dan memakinya."Sorry Rik, 70 persen bayaran foto hari ini buatmu," teriak Aeri membuat Arika akhirnya terdiam.Tidak menyia-nyiakan waktu, Aeri pergi menggunakan motor milik Arika. Dia melaju dengan kecepatan penuh, menyelip di antara mobil dan untungnya dia tidak terlalu gila untuk lewat di antara celah dua truk besar."Ck, sudah siang gini
"Ae ...," sebelum Arvan bicara, Aeri menutup mulut laki-laki itu, sekaligus mengancam halus suaminya itu."Awas kalau makanannya kamu muntahin, bukan pipimu yang akan ku cium, tapi bibirmu." Saat mengatakannya, Aeri tersenyum dengan manisnya. Sementara Arvan merinding melihat senyum yang hanya di mulut itu.Akhirnya dengan terpaksa Arvan menelan makanan di mulutnya, tidak hanya itu. Dia juga harus memakan wortel-wortel lain yang dipotong seiras di piringnya dan ditambah wortel-wortel yang Aeri tambah.Sebagai orang luar yang terjebak di sana, Kyran sedikitnya merasa bersimpati pada Arvan. Jelas dia tahu bagaimana rasanya harus terpaksa memakan makanan yang tidak dia suka. Karena dia sendiri menyisihkan kacang panjang di tepi piringnya.Setelah tadi, Kyran kira sudah tidak akan ada lagi hal yang perlu dia lihat saat akhirnya dua orang itu makan dengan tenang. Tapi perkiraannya salah, karena tiba-tiba Arvan menaruh Tulang rawan ayam di piring Aeri. "Aku nggak suka tulang, kamu aja yang
Aeri memang tidak ingat dengan wajahnya, tapi tidak mungkin dia lupa dengan orang yang membantunya saat bertengkar dengan Rullistya di kantor saat itu. Meski hanya sebuah bantuan kecil, namun bantuan tetaplah bantuan."Kamu ke sini buat ketemu Arvan, kan?" Karena tidak mungkin juga untuk bertemu dirinya. "Sudah lama di sini? sudah makan?" Rentetan pertanyaan Aeri membuat Kyran tidak tahu harus menjawab dari mana."Aeri, dari mana saja kamu, kenapa baru pulang?" Beruntung Arvan datang. "Kamu tahu, sudah berapa lama aku nunggu kamu." Akhirnya pertanyaan itu dapat dia tanyakan ke orang yang seharusnya.Aeri menggaruk pelipisnya, menghindari tatapan Arvan yang menuntut jawabannya. "Itu ..., di jalan tadi macet."Arvan menyipitkan matanya, tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Aeri. "Semacet apa sampai dari sore tadi, kamu baru pulang sekarang?""Kemacetan sampai 5 KM jauhnya dari pusat demo." Beritahu Kyran yang tadi juga terjebak kemacetan panjang."Thanks, gentleman sudah ngejelasin."
"Nanti malam aku masak, jadi jangan makan di luar." Pesan Aeri dari sore tadi.Namun sudah mau jam 8 malam, perempuan itu belum juga pulang. Arvan yang terpaksa pulang tepat waktu hari ini hampir 3 jam kelaparan karena satu pesan darinya.Berkali-kali dia menelpon Aeri yang belum juga membaca pesan yang dia kirim. Berkali-kali juga teleponnya berakhir secara otomatis. Saat akhirnya dia memutuskan untuk memesan online saja untuk makan malam. Terdengar suara ketukan dari pintu masuk."Tahu nggak sudah berapa lama aku nunggu, kamu dari mana ...." Arvan kira orang yang mengetuk adalah Aeri, dia tidak mengira ternyata yang datang adalah orang yang tidak dia duga. "Kyran, ngapain kamu ke sini?"Wajah Kyran tidak datar seperti biasanya, tapi kusut seperti baju kotor yang tadi sudah Arvan masukan ke mesin cuci."Kamu tahu, normalnya orang yang datang bertamu disuruh masuk dulu."Arvan menyilangkan tangannya di dada, "Ku rasa kedatanganmu ke sini bukan untuk bertamu."Kyran mendengkus, dia ber
Karena demo, kemacetan mengular sepanjang perjalanan pulang Arika ke apartemen. Hampir tidak ada celah untuknya menyalip di antara mobil yang saling berdempetan."Huft." Dia menghembuskan napasnya, kesal, saat lagi-lagi harus menghentikan motornya."Halo cantik." Belum lagi dia mengalami cat calling dari penumpang mobil yang ada di sebelahnya."Mau ikut Abang, nggak, naik mobil? Kasihan neng cantik macet-macetan di luar."Arika memutar bola matanya, menghiraukan laki-laki di mobil carry yang mengganggunya itu. Saat ada sedikit celah untuk jalan, tidak ragu-ragu dia menjalankan motornya, meski untuk itu, dia harus berdempetan dengan mobil di depannya."Neng nggak usah buru-buru, macetnya masih panjang. Mending neng kenalan aja sama kita-kita." Terdengar suara cekikikan dari teman laki-laki sialan itu.Arika melirik tajam, dia terlalu malas meladenin SDM rendah yang bisanya menggoda cewek."Pul, si neng cantik kayaknya tipe cewek sombong, deh."Si Pul yang dimaksud temannya malah tertaw
Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa
“Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau
Keduanya sontak menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Aeri tajam.“Ya, ampun! Ucapannya kasar sekali …. Kenapa bisa perempuan seperti itu menjadi bagian keluarga Candra?”“Padahal bercadar, tapi ternyata bukan perempuan baik-baik.“Percuma memakai jilbab, tapi tidak bisa menjaga mulutnya.”B
“Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t







