Share

Bab 23. Masih cekcok

Penulis: Bara Islami
last update Tanggal publikasi: 2023-04-11 14:19:59
“Pa!” Teriak Rullistya tidak terima suaminya malah menyuruhnya untuk berhenti. “Kenapa Papa membela wanita itu.” Beberapa helai rambut di tangan Rullistya berjatuhan saat dia menuding Aeri yang terjatuh karena hilang keseimbangan setelah rambutnya bebas.

“Ma, Papa bukannya membela Aeri. Tapi-,”

‘Tapi perkelahian ini tidak akan selesai kalau Mama tidak dihentikan.’ Senopati tidak bisa mengatakan kalimat itu dengan jelas.

Dia tidak mau membuat Rullistya semakin marah.

“Tapi apa, Pa?!” kejar Rullis
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 68. Menyalahkan yang lain

    Arvan menatap lurus mata sang mama yang tampak berkaca-kaca."Bukan begitu, Arvan. Jelas mama ingin melihat kebahagiaanmu."Arvan lalu berdiri. "Kalau mama ingin aku bahagia, maka hentikan rencana pesta sialan itu."Aeri yang saat itu baru kembali, bertanya-tanya melihat situasi tegang di antara anak dan ibu itu. Baru pertama kali dia mendengar ucapan kasar terlontar dari mulut Arvan."Arvan!" Dan kini giliran Rullistya yang berteriak. "Mama tidak pernah mengajarimu bicara tidak sopan, dari mana kamu belajar kata-kata kasar itu." Melihat Aeri, Rullistya malah menudingnya. "Apa karena dia! Gara-gara istri tidak jelasmu itu, kamu sampai bersikap begini?!"Aeri menunjuk pada dirinya sendiri, emang apa salahnya. Padahal dia baru saja datang, tiba-tiba mendapat tuduhan tidak terduga."Tunggu bumer, emang aku salah apa?""Keberadaanmu saja sudah salah!""Ma!" Baik Aeri dan Rullistya menoleh pada Arvan. Ada keterkejutan di wajah keduanya saat mendengar Arvan berteriak.Arvan menarik Aeri ke

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 67. Alasan Kedatangan Bumer

    Dengan kelakuannya selama ini, kalau bukan gila lalu apa?"Sebenarnya untuk apa mama ke sini?"Rullistya menoleh, "apa salahnya mama mengunjungi rumah putra mama? Setelah menikah, kamu bahkan tidak pernah mengunjungi mama. Apa karena perempuan sialan itu? Apa dia yang melarangmu?""Aeri tidak ada hubungannya, lagipula kami baru pindah. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kami lakukan."Rullistya mendengus, "anak muda zaman sekarang memang sesibuk apa? Sampai satupun tidak ada waktu untuk mama, tidak kamu, tidak Frisya, Idris juga malah sudah tidak pernah ke rumah lagi semenjak kamu pindah. Kenapa alasannya selalu sibuk." Rullistya berkacak pinggang sembari memunggungi Arvan."Karena kami memang sibuk, Ma." Arvan dengan lembut menyentuh bahu Rullistya dari belakang. "Kami sibuk dengan pekerjaan kantor.""Kalau kamu memang sibuk, kenapa ada di sini sekarang, bukannya di kantor?""Kenapa lagi, karena aku lah, bumer." Bukannya Arvan, tapi Aeri yang lebih dulu menjawab. Semenjak tadi Aer

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 66. Kedatangan Rullistya

    Jelas Arvan tidak akan melakukan, dia seketika duduk dan merampas ponselnya yang sejak tadi dipegang Aeri."Apa sih yang kamu video?" Arvan membuka galerinya. Ada lebih puluhan video singkat dan foto sejak mereka bersih-bersih dari tadi. "Sebanyak ini, buat apa kamu memfoto dan memvideo?""Kenang-kenangan?""Agar nanti saat kita pisah aku akan terus ingat gimana menderitanya aku karenamu?"Aeri menyentil mulut Arvan yang bicara sembarangan. "Kita nggak bakal berpisah, nggak akan ada perceraian. Ingat itu. "Ultimatum Aeri sambil mengambil kembali ponsel Arvan. "Awas kalau foto dan video-videonya kamu hapus. Susah-susah aku ngambil gambar dari angle yang bagus.""Tapi kenapa kamu pakai ponselku, kan ponselmu ada?""Lupa, ya, ponselku kan, kamu ambil. Lagian kenapa baru protesnya sekarang, seharusnya itu tadi waktu aku pinjam ponselmu."Diingatkan dengan ponsel Aeri. Arvan mengambil benda yang sejak tadi tidak berhenti berbunyi pada pemiliknya."Ponselmu sejak tadi berbunyi, jadi aku ma

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 65. Waktunya bukan untuk bersih-bersih, sebenarnya

    Aeri tidak henti mengirim Love pesan. Semenjak kemarin, perempuan itu meminta untuk waktu sendiri. Dia hanya bisa mengantarnya pulang."Kalau ada apa-apa, hubungi aku, Love."Itu pesan terakhirnya yang bilasa love dengan emoticon senyum sus.Aeri menopang dagunya di ujung atas gagang sapu. Dia bimbang antara menelpon atau membiarkannya. Sampai-sampai ponselnya itu direbut oleh Arvan."Ponselku! balikin, nggak?!""Nanti, kalau tugas kita selesai."Arvan mengantongi ponsel Aeri, kemoceng di tangan dan lap di bahunya tidak cocok disandingkan dengan pakaian kerjanya.Aeri yang melihat Arvan hampir kehabisan kata-kata untuk menyuruhnya ganti. "Setidaknya bajunya kamu ganti dulu napa?" pintanya lagi untuk yang ke sekilo kalinya."Memang kenapa? kamu kan yang nyuruh aku tidak kerja hari ini!" Terlihat jelas kekesalan di wajah Arvan.Karena Aeri dia tidak bisa bekerja dengan benar akhir-akhir ini dan karena Aeri juga dia tidak bisa ke kantor hari ini.Tiba-tiba saja perempuan itu memberinya s

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 64. Awal

    "Bukannya kamu bilang sudah menemukannya? Kenapa belum kamu tangkap perempuan itu. Jangan bilang kamu lupa tujuanmu ke kota ini karena ingin menangkapnya?""Ck, aku sudah menemukannya, lebih tepatnya sepertinya aku tahu. Tapi aku belum bisa memastikannya. Dia tinggal di tempat yang ramai."Selama ini Love berharap ada sedikit belas kasihan laki-laki itu padanya. Dia berharap cepat atau lambat laki-laki itu akan menerimanya.Dia tidak pernah berharap akhir pernikahannya adalah nyawanya. Tidak pernah dia merasa layak diperlukan seperti itu. Hanya saja, siapa yang akan berada di pihaknya?Pikiran Love terasa kacau, dia bahkan tidak menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Tiba-tiba saja dia merasakan seseorang memeluknya, memberinya kata-kata penenang.Air mata Love kembali terjatuh, ternyata masih ada seseorang di sisinya.*****Malam itu, penampilan Frisya masih seluar biasa, biasanya. Padahal yang perempuan itu kenakan adalah pakaian kantor seperti biasa dengan tambahan jam tangan pu

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 63. Melihatnya untuk terluka (Love)

    Sekarang menyesal pun percuma, mau tidak mau dia harus mengikuti ke aman Aeri pergi atau ke mana mertua Aeri pergi."Apa kau tidak punya kerjaan lain? Pergi sana, kenapa terus menggangguku dasar wanita sialan." Kembali Rullistya berteriak. Kali ini alasannya karena Aeri mengembalikan kembali sayuran yang dia ambil."Bumer, kalau tidak pernah belanja, sebaiknya bawa seorang pelayan. Biar pelayan bantu milihin sayuran yang segar. Ini bumer malah asal-asalan ngambilnya." Meski mengomel, tangan Aeri tidak henti memilah sayuran yang masih bagus."Ya tuhan, apa dosaku sampai harus bertemu wanita ini lagi hari ini?" keluh Rullistya menepuk kepalanya. "Salah sendiri suka teriak saat bicara." Aeri tersenyum nakal, tidak lupa dia memamerkan sayuran segar yang berhasil dia dapatkan. Rullistya dengan kasar menarik troli yang digunakan Aeri menopang tangannya. Hampir Aeri terjatuh. "Bumer!" teriak Aeri yang tidak digubris Rullistya.Saat mereka di section perbumbuan. Rullistya yang tadinya tam

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 2. Masalah Baru

    Keduanya sontak menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Aeri tajam.“Ya, ampun! Ucapannya kasar sekali …. Kenapa bisa perempuan seperti itu menjadi bagian keluarga Candra?”“Padahal bercadar, tapi ternyata bukan perempuan baik-baik.“Percuma memakai jilbab, tapi tidak bisa menjaga mulutnya.”B

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 1. Pengantin Sempurna

    “Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 4. Keributan

    Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 3. Selamanya

    “Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status