“Kamu memang ingin mati,” geram Fagan. Ia bangkit dengan gerakan kasar, berdiri tepat di hadapan Meizura. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, mata tajamnya menancap penuh amarah. Kali ini emosinya benar-benar telah mencapai ubun-ubun. “Baik! Akan kupenuhi permintaanmu!” Tangannya terulur ke depan, tepat di arah leher Meizura. Jaraknya tinggal sejengkal—sedikit lagi akan menyentuh. Namun tiba-tiba gerakan itu terhenti. Fagan mundur selangkah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak teratur. Tidak… dia tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Ia tidak boleh menyakiti istrinya lagi. “Kenapa berhenti?” tanya Meizura tenang, terlalu tenang. Ia menatap Fagan dengan sorot mata dingin, sarat kebencian. “Ayo… cekik aku. Lakukan seperti waktu itu,” bisiknya pelan, menusuk. Fagan menggeleng keras. Amarahnya mereda, digantikan rasa takut, takut kehilangan kendali. Ia merendahkan suaranya, lalu berlutut di hadapan Meizura. “Aku janji tidak akan berbuat kasar lagi,” ucapny
Read more