“Ya Allah… Bi, perutku…” Jemari tanganku mencengkeram tangan Bibi yang ikut gemetar. Nyeri itu datang seperti gelombang besar—menghantam tanpa ampun, meremukkan perutku dari dalam. “Ya Allah… kenapa, Nya?” suara Bibi pecah oleh panik saat tubuhku melorot ke lantai. Kakiku tak lagi sanggup menopang berat badan. Rasa sakitnya teramat dalam, seperti ada yang meremas dan merobek-robek rahimku. Mas Fagan yang semula dipenuhi amarah mendadak membatu. Wajahnya memucat. Matanya membelalak ketika darah segar mengalir dari sela pahaku, menodai lantai marmer yang dingin. “Ya Allah, Zura…” Ia berlari mendekat, berlutut di sampingku, lalu tanpa ragu mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya. Pelukannya kuat, namun aku bisa merasakan tubuhnya ikut bergetar. “Ambilkan kunci mobil saya, Bi!” perintahnya tegas pada Bi Minah. Tanpa menunggu sedetik pun, wanita paruh baya itu berlari ke meja ruang tengah dekat tangga. Tangannya gemetar saat mengobrak-abrik laci. “Ini, Tuan!” teriaknya, b
Read more