Waktu berjalan sangat lambat, ia merayap, merangkak, perlahan, sangat pelan. Jarum jam bergerak, tapi terasa seperti ragu—seolah setiap detik harus meminta izin sebelum maju. Pendingin ruangan berdengung pelan, nyaris tak terdengar, cukup untuk mengingatkan bahwa dunia di luar tetap hidup, sementara mereka dalam penantian yang seolah tak berujung. Karel berdiri, duduk, lalu berdiri lagi. Gerakan yang sama diulang tanpa tujuan. Tangannya dingin, meski keringat dingin terus muncul di pelipis. Setiap kali pintu lorong terbuka, jantungnya melonjak, lalu jatuh kembali saat yang muncul bukanlah dokter yang ditunggu. Di sudut ruangan, Karel menatap lantai tanpa benar-benar melihatnya. Bibirnya bergerak sesekali, bukan doa yang terucap jelas, melainkan harapan dalam kesunyian. Sementara, ayah Alexa duduk diam, punggungnya kaku, seolah jika ia bergerak sedikit saja, sesuatu yang buruk akan runtuh sepenuhnya. Begitu juga dengan sang istri, yang hanya dapat duduk diam dengan bibir yang tan
Terakhir Diperbarui : 2023-11-04 Baca selengkapnya