Sementara itu, di dalam kamar rawat nomor 304 rumah sakit kota, suasana sore terasa begitu tenang dan syahdu. Zara sedang duduk berlutut di samping tempat tidur besi, mengusapkan kain lap basah beraroma lembut pada lengan kiri Nenek Ajeng yang tidak terbalut perban luka bakar.Nenek Ajeng menatap wajah cucunya yang tekun bekerja dengan pandangan penuh rasa kasih. "Zara ... Kamu tidak capek merawat Nenek terus dari kemarin?"Zara mendongak, menyunggingkan senyum paling manis yang sanggup ia tampilkan di hadapan sang nenek. "Sama sekali tidak, Nek. Rasa capek Zara langsung hilang setiap kali melihat Nenek bisa tersenyum lagi seperti ini.""Nenek tahu kamu sedang memikul beban yang sangat berat, Nak," bisik Nenek Ajeng pelan, telapak tangannya yang kurus mengelus lembut helai rambut Zara. "Soal biaya rumah sakit dan pria bernama Arham itu ... Kamu tidak usah menyembunyikan apa-apa lagi dari Nenek."Gerakan tangan Zara yang sedang memegang kain lap seketika terhenti. Matanya berkaca-
Read more